Pages

Kamis, 31 Mei 2012

Review : Sang Pencuri dari Eddis oleh Megan Whalen Turner

Judul : Sang Pencuri dari Eddis
Judul Asli : The Thief
Pengarang : Megan Whalen Turner
Penerbit : Gramedia Pustaka UtamaTebal : 360 halaman
Diterbitkan pertama kali : Juni 2011Format : PaperbackTarget : Remaja
Genre : Fantasy
Bahasa : Indonesia
Seri : The Queen's Thief
Buku ke- : 1
Status : Punya sendiri
Website Pengarang: Megan Whalen Turner


Sinopsis


“Aku bisa mencuri apa saja.”

Terlalu banyak membual membuat Gen berakhir di penjara sang Raja, kemungkinannya berhasil kabur sangat kecil. Ketika penasihat Raja, sang Magus, memerlukan bantuan Gen untuk menyelesaikan misi rahasia yang sepertinya mustahil dilakukan, Gen terjerumus dalam petualangan yang tak terduga.

Dia harus mencuri harta terpendam dari kerajaan lain.

Bagi sang Magus, Gen hanya sekadar alat. Tapi Gen adalah penipu ulung dan si cerdik yang punya rencana tersendiri.



“Melewatkan kisah pencuri ini adalah kejahatan.”---BCCB


*) The Thief telah meraih penghargaan Newbery Honor Book, ALA Notable Book & ALA Best Book for Young Adults



Review
Terlalu banyak membual. Itulah kesalahan terbesar Gen, pencuri yang mengakui bisa mencuri apapun di dunia ini. Yah, jangan salah kalau Gen masuk penjara Raja Sounis karena dia membual di kedai anggur, sembari memamerkan benda yang dia curi di ruangan Raja. Semua orang berharap Gen bisa melarikan diri di penjara, tapi yang bersangkutan masih saja terdiam disana untuk sekian lama. Lalu kebebasan pun datang, tapi dengan harga yang mahal. Magus, penasihat Raja Sounis, ingin Gen mencuri benda yang hanya ada dalam legenda dan konon merupakan hadiah dari para dewa - dewi. Sebuah batu yang dijuluki Hadiah Hamiathes. Orang yang mempunyai batu ini akan mempunyai kekuasaan atas Sounis, dan dua negara tetangganya, Eddis dan Attolia.

Gen pun lalu melakukan perjalanan dengan Magus, dua murid Magus, Sophos dan Ambiades. Serta pengawal Sophos, Pol. Mereka harus pergi ke Attolia melalui Eddis , karena menurut Magus, Hadiah Hamiathes ada di kuil Dewi Hephastea yang berada di daerah Attolia. Perjalanan mereka yang bersifat rahasia cukup menyulitkan Gen yang terluka karena rantai pengikat di penjara, tapi dia harus mencuri Hadiah Hamiathes. Jika ingin menikmati kebebasannya, membuktikan keahliannya sebagai Pencuri paling handal di Sounis, atau gagal dan nyawa yang jadi taruhannya.

Membosankan. Itulah perasaan saya setelah membaca buku ini. Entah karena tidak mood atau apa, saya kurang menikmati petualangan Gen dan teman seperjalanannya. Bagian pertamanya bikin boring, sedikit menarik saat bagian pencurian. Sayangnya karena sudah keburu malas, saya jadi ga terlalu excited pas tahu siapa identitas Gen yang sesungguhnya. Bahwa dia bukan pencuri biasa, dan lebih dari sekedar pencuri yang doyan membual tentunya. Gen sebenarnya cerdas dan licik. Namun sudut pandang orang pertama di buku ini yang diceritakan dari Gen, bikin saya sulit menyukai tokoh ini. Gen kebanyakan kerjaannya hanya minta makan kalau lapar, mengeluh terus - terusan, dan merasa dia adalah orang paling menderita sedunia. Tidak bisa menyalahkan juga, karena perlakuan Magus dan muridnya Ambiades cukup kejam pada Gen. Hanya rasanya kadang Gen terlalu berlebihan dan penjabarannya terlalu bertele - tele.

Setting buku ini cukup menarik. Berlatar belakang daerah Byzantium, dipengaruhi oleh legenda Yunani, tapi memiliki nafas modern. Dibuktikan dengan adanya jam saku dan pistol. Jadi era berapakah dunia Gen ini? Tidak jelas. Dari cerita Gen, kita tahu ada tiga negara yang berseteru, Sounis, Attolia, dan Eddis selaku negara netral. Disini juga dijelaskan kepercayaan yang mereka anut. Dimana sistem kepercayaannya sama saja dengan dunia nyata. Jika suatu negara dijajah, maka kepercayaan penjajah akan menggantikan kepercayaan lama. Bagian yang saya paling suka tentu saat baik Magus maupun Gen menceritakan legenda dewa - dewi, yang mirip sekali dengan legenda Yunani. Hanya saja dimodifikasi.

Kekurangan buku ini adalah tidak adanya peta dunia. Aneh bukan, suatu novel fantasy tidak ada peta. Saya jadi sulit bayangin Sounis itu dimana, Eddis mananya Sounis, dan lain - lain. Lalu deskripsi tokoh yang kurang jelas. Saya ga tau umur Gen berapa, seberapa tua si Magus, apakah Gen ini masih remaja umur 15 tahun atau lebih. Jadi sulit membayangkannya, kan? Nama ratu dan rajanya juga terkesan dibuat simple. Raja Sounis ya bernama Sounis, Attolia dan Eddis yang dipimpin oleh ratu, masing - masing nama pemimpinnya juga bernama sama dengan negaranya. Typo pasti ada, dan beberapa terjemahan ada yang kurang pas atau hilang, jadinya malah berasa aneh.

Saya sendiri emang merasa buku ini bikin ngantuk, walau akhirnya saya paksa bacanya. Karena buku ini adalah bagian dari "Posting Bersama BBI 2012" dengan tema "Buku Terbitan Gramedia PustakaUtama". Lagian saya juga udah beli, sayang kan kalau ga dibaca. Sayang juga karena kurang bisa menikmatinya. Dari review - review yang saya baca, lanjutan buku ini yaitu, "The Queen of Attolia" dan "The King of Attolia" cukup bagus, dan diceritakan dari sudut pandang orang ketiga. Semoga saja nanti saya bisa menikmati kelanjutan cerita Gen, si Pencuri.

(note : Judulnya sendiri sebenarnya spoiler berat. Karena sebenarnya tidak ada yang tahu Gen berasal dari mana.)
Trivia:

Megan Whalen Turner dalam buku ini menjelaskan bahwa dia sedikit banyak terpengaruh oleh Legenda Yunani. Dimana "Bumi" dan "Langit" yang merupakan orang tua para dewa, adalah "Gaea" dan "Uranus" . Alih - alih Zeus, beliau memodifikasi Hephaestus, dewa suami Aphrodite dan termasuk dewa tingkat rendah yang ahli pertukangan, menjadi Hephastea, ratu para dewa. Nama lain Hephaestus adalah Vulcan, dan itulah kenapa istana dan kuil Hephastea ada di pegunungan. Legenda - legenda dalam buku "Sang Pencuri dari Eddis" memang banyak yang mirip - mirip dengan legenda Yunani. Walau favorit saya adalah legenda Eugenides, dewa para Pencuri, yang sebenarnya adalah separuh manusia separuh dewa.
(image source : mythindex.com)


Favorite Quote :

" Satu peluru tampaknya melepaskan serpihan yang tajam, "kata sang magus. "aku khawatir pecahan itu telah menyayat wajahmu."

"Ketampananku hilang." Aku menghela napas.

Rating Cerita


Rabu, 30 Mei 2012

Intermezzo : Wishlistku di Hari Rabu

Saya tahu beberapa blog punya semacam meme atau posting bersama bernama "Wishlist Wednesday". Dimana mereka menuliskan buku - buku yang ada di semacam daftar keinginan (wishlist) mereka dan mempostingnya setiap hari Rabu. Well, saya ga pernah sih ikut semacam meme kayak gitu, apalagi saya tipikal orang yang update blog di saat lagi pengen saja. Sama sekali bukan blogger panutan ya, ha ha ha.

Walau tidak ikutan, saya juga pengen bikin daftar wishlist saya. Kalaupun kenapa diposting hari Rabu, yah anggaplah kebetulan saja :P. Daftar wishlist ini terbagi menjadi dua, yaitu buku terjemahan dan bahasa Inggris. Yuk, mari cek apa saja yang bikin saya ga sabar buat dapet bukunya dan baca secepatnya.

Buku Terjemahan

Divergent - Veronica Roth



Sinopsis :

Satu pilihan, menentukan apa yang harus kau percaya

Satu pilihan, memastikan siapa yang kau turuti, selamanya

Chicago, usai perang nuklir yang menghancurkan dunia. Pada usia 16, setiap orang harus mengambil pilihan yang akan menentukan seluruh jalan hidupnya.

Beatrice memilih meninggalkan Faksi Abnegation yang tanpa pamrih untuk bergabung dengan para pemberani di Faksi Dauntless. Meninggalkan orangtuanya, membuang namanya untuk hidup bersama faksi yang baru. Beatrice menjadi Tris, berharap menemukan jati dirinya bersama para Dauntless. Namun, Tris harus lulus inisiasi terlebih dulu agar bisa diterima. Tak ada jalan kembali. Tak lulus inisiasi berarti Tris akan bergabung dengan orang-orang yang terbuang. Hidup menggelandang.

Berhasilkah ia bertahan di komunitas yang kadang kebrutalan dianggap sama dengan keberanian?


Buku yang hypenya terlalu gede menurut saya. Apalagi digadang - gadang jadi The Next Hunger Games, atau mirip - mirip THG. Walau menurut saya mirip Harry Potter deh untuk faksi - faksinya. Divergent sudah diterbitkan oleh Penerbit Mizan Fantasy (dan saya masih belum bayar, padahal udah PO #infogapenting)

I've Got Your Number - Sophie Kinsella


Sinopsis :

Cincin pertunanganku hilang... :( Padahal cincin itu sudah menjadi milik keluarga Magnus selama tiga generasi. Gimana dooong?! :(

Gara-gara beberapa gelas sampanye di acara amal, hidup Poppy kacau-balau. Bukan saja cincinnya hilang pada hari dia akan bertemu dengan calon mertua, ponselnya pun ikut raib, padahal nomornya sudah dia sebarkan ke seluruh staf hotel yang ikut mencari cincin itu. Ketika dilanda kebingungan, tahu-tahu dia menemukan ponsel di tempat sampah. Aha! Karena sudah dibuang, ponsel itu jadi milik publik, bukan?

Sayangnya, si pemilik ponsel, Sam Roxton, tidak senang. Dia mau ponselnya kembali, dan dia sebal Poppy membaca pesan-pesannya serta ikut campur dalam hidupnya. Bayangkanlah betapa ruwet hidup Poppy di antara kesibukan mempersiapkan pernikahan, meneruskan SMS dan e-mail, juga menyembunyikan tangan kirinya dari Magnus serta orangtuanya…

Gara- gara nonton Confession of a Shophaholic kemaren waktu pulang kampung ke Malang (telat banget yah), saya jadi penasaran sama Sophie Kinsella. Sayangnya seri Shopaholic udah langka. Tapi syukurlah bukunya yang terbaru I've Got Your Number sudah diterjemahkan oleh Gramedia. Menarik untuk membaca bukunya, apalagi ini pertama kalinya saya baca novelnya Sophie Kinsella.


Buku Bahasa Inggris

Lethal Rider - Larissa Ione

Sinopsis :

They're here ... They're ride...The Four Horsemen of the Apocalypse

Born of a match between good and evil, four siblings stand between hell's minions and everything they want to destroy. They are the Lords of Deliverance, and they have the power to ward off Doomsday . . . or let it ride . . .

Thanatos, the most deadly Horseman of the Apocalypse, has endured thousands of years of celibacy to prevent the end of days. But just one night with the wickedly sexy Aegis Guardian, ReganCooper, shatters centuries of resolve. Yet their passion comes with a price. And Thanatos must face a truth more terrifying than an apocalypse-he's about to become a father.

Demon-slayer Regan Cooper never imagined herself the maternal type, but with the fate of the world hanging in the balance she had no choice but to seduce Thanatos and bear his child. Now, as the final battle draws closer and his rage at being betrayed is overshadowed by an undeniable passion for the mother of his child, Thanatos has a life-shattering realization: To save the world, he must sacrifice the only thing he's ever wanted-a family.


Ahhhh, saya beneran pengeeen banget baca ini. Yah selain covernya adalah model favorite saya, Paul Marron (tetep deh.), Larissa Ione dan buku - bukunya sudah masuk dalam daftar "wajib beli" bagi saya. Apalagi membaca review - review yang cukup memuji buku ini di Goodreads. Lethal Rider adalah buku ketiga seri Lords of Deliverance. Buku keduanya Immortal Rider, pernah saya review. Dan untungnya buku ini sudah terbit, jadi ga perlu nunggu lama. Cuma, karena ini buku impor, rasanya menunggu 2-3 minggu lagi sudah jadi siksaan :'(.

Jadi inilah wishlist saya untuk minggu ini, yang membuat saya guling - guling (halah) ga sabar buat baca. Untuk teman - teman pembaca blog, punya wishlist untuk minggu ini? Atau buku apa yang kamu ga sabar buat baca? Jangan malu - malu buat share disini ya :D

Selasa, 29 Mei 2012

Opini : Gaya Menulis Review

Ini hanya semacam opini pribadi atau basa basi aja, karena sudah lama ga ngeblog dan juga bingung mau ngeblog tentang apa, hehehe. Bisa juga dibilang curahan hati.

Beberapa hari ini, salah satu teman di Goodreads mengkomentari review saya yang cukup "sadis" tentang sebuah buku (bisa dilihat di link ini, tapi pakai bahasa Inggris) Dia bilang bahwa saya cukup sopan dan ga "jahat" banget saat mengkritik betapa boringnya buku yang saya baca. Saya jadi tertegun. Padahal untuk ukuran mengkritisi, saya ini sebenarnya cukup sadis (sampai pernah dibully dulunya). Tapi orang lain melihatnya bisa jadi berbeda.

Di hari lain, beberapa orang mengatakan saya selalu menulis review yang lucu dan bikin mereka ketawa. Lucunya lagi yang bilang tentang ini adalah teman - teman yang saya kenal di GR, FB, dan Twitter, yang domisilnya semua di US. Saya jadi mikir lagi, apa yang dianggap biasa sama teman - teman di Indonesia, malah dianggap lucu sama mereka.

Saya lalu menyadari bahwa gaya menulis review saya sangat berbeda di Goodreads dan di blog. Di blog saya terkesan formil, kurang bercanda, teratur ; dimana bisa dilihat bahwa review saya selalu punya susunan tertentu, mau nyindir pun mikir - mikir, karena bisa jadi nanti ada yang tersinggung pas baca review saya. Sementara di Goodreads, saya cenderung bebas. Saya bisa berkata semau saya tanpa terpaku oleh susunan review di blog. Saya bisa nyindir seenaknya sendiri pakai bahasa Inggris, bikin semacam casting tokoh - tokohnya, pakai emoticon yang lucu - lucu. Walau untuk yang terakhir ini saya tinggalkan, karena banyak yang ikutan. Hahaha, saya kan ga mau sama gitu :D.

Akhirnya saya sampai pada keputusan, bahwa jauh lebih fun mereview di Goodreads, karena saya mereview tanpa beban. Mungkin juga karena saya suka ngereview asal - asalan, kadang hanya bilang " bagus neh buku", "keren bangeeet!", "haduh heronya bikin mimisan parah!". Sementara saya ga bisa seperti itu pas ngereview di blog. Karena rentang pembacanya jauh lebih luas daripada Goodreads. Di Goodreads kan, yang baca review cuma orang yang kenal saya aja , sementara di blog, pembaca dari Sabang sampai Merauke bisa baca. Mana mungkin saya kasih mereka review yang "ngasal"?

Apakah ini berarti saya jadi malas ngereview di blog? Nggak juga, hanya saya merasa kurang "fun" saja saat melakukannya. Saya jujur aja, setiap membuat review di blog, selalu berpikir apakah review yang saya tulis ini cukup menarik? Apakah bisa memancing pembaca untuk berkomentar? Apakah reviewnya kepanjangan? Yah banyak sekali hal - hal yang saya pikirkan saat mulai mengetik review di blog. Mungkin ini juga yang membuat saya terkesan jarang mengupdate di blog. Selain beberapa hal yang sudah saya sebutkan di atas, buku yang saya review di blog juga kebanyakan yang belum beredar di Indonesia. Alias buku bahasa Inggris.

Postingan ini sebenarnya hanya semacam sedikit "pelampiasan" atas apa yang saya pikirkan akhir - akhir ini? Untuk pembaca setia blog ini, apakah gaya menulis review saya sudah oke? Apakah kepanjangan? Atau terlalu formil dan kaku? Lalu untuk buku - buku yang direview, apa lebih memilih yang terjemahan atau bebas saja?

Pendapat teman - teman akan sangat membantu bagi saya untuk membuat blog ini lebih baik =). Dan terimasih banyak sudah meluangkan waktu untuk mendengarkan curhat colongan saya di siang hari ini.

Senin, 14 Mei 2012

Pemenang Giveaway Rahasia Kegelapan

Sebelumnya saya minta maaf atas keterlambatan pengumuman kuis >.<. Ini gara - gara saya mendadak harus perjalanan dinas ke site yang antah berantah, jadinya koneksi internet lewat PC ga ada. Ga bisa update blog kan akhirnya :(

BTW, sebelumnya, terima kasih buat semua yang sudah berpartisipasi di giveaway dan interview dengan Angelic Zaizai. Baik saya maupun Zaizai terharu membaca komentar dan pertanyaan teman - teman (Zaizai tidak ngomong masalah ini, tapi saya yakin dia pasti terharu :)) #maksa). Terimakasih juga buat rekan - rekan penerjemah yang sudah mampir, teman - teman yang mendoakan agar Zaizai dan blog ini sukses :D

Tanpa banyak omong lagi, inilah 2 (dua) pemenang kuis yang beruntung mendapatkan Rahasia Kegelapan karya Gena Showalter :

Adhisty
Rizka Felyna Drogo

Selamat!! Tunggu email dari saya ya, ditunggu balasannya selama 48 jam. Kalau tidak dibalas, maka akan diambil pemenang yang lain, hehehe.
Nantikan giveaway dan kejutan selanjutnya di bulan Juni! :D

Senin, 07 Mei 2012

Review : Chronicle oleh Shienny M.S


Judul : ChroniclePengarang : Shienny M.S
Penerbit : Elex Media KomputindoTebal : 473 halaman
Diterbitkan pertama kali : 2011Format : PaperbackTarget : Remaja
Genre : Fantasy
Bahasa : Indonesia
Seri : Ther Melian
Buku ke- : 2
Status : Punya sendiri
Website : Ther Melian
Review buku pertama, Revelation : Klik disini

Sinopsis


Setelah rahasia identitas Aelwen diungkap Rion, Vrey terombang-ambing di antara dua pilihan yang sama menyakitkannya. Memaafkan Aelwen, walaupun dusta yang telah ditumpuknya dan membuat hati Vrey terluka, atau menyerahkan seseorang yang telah menjadi sahabatnya selama tiga tahun kembali pada nasib yang membuat Aelwen melarikan diri dari masa lalunya.

Sementara itu, Valadin bertekad menuntaskan misinya, apa pun akibatnya. Dia harus menaklukkan Templia-Templia yang tersisa untuk mendapatkan Relik Elemental sambil terus berupaya menghindari kecurigaan bangsanya sendiri. Tapi semua itu tidak sebanding dengan kenyataan pahit yang menanti Valadin. Dia harus kembali berhadapan dengan Vrey untuk merebut kembali Relik Safir.

Kali selanjutnya, mereka harus memilih; mengenang masa lalu yang manis, atau saling bertarung demi masa depan yang diimpikan masing-masing. Kejar-mengejar dan pertarungan kedua belah pihak tak terelakkan lagi, KISAH mereka pun berlanjut...

Review
Melanjutkan kisah Vrey dan Valadin di Revelation, kini sang pengarang, Shienny M.S mengajak pembaca untuk mengetahui nasib mereka berdua setelahnya. Berhubung ini buku kedua, maka jebakan betmen aka spoiler sudah pasti ada di mana - mana, karena itu saya menyarankan buat baca buku pertamanya, Revelation dulu ;).

Vrey ternyata tidak bernasib na'as seperti yang diungkapkan di Revelation, walau saya sudah tahu ga mungkin yang namanya tokoh utama masa mati di awal - awal gitu. Setega - teganya pengarang, ga mungkin pokoknya (maksa). Vrey yang selamat dari serangan Eizen, salah satu kawanan Valadin, di gunung Ash, dirawat luka - lukanya oleh Rion dan Aelwen. Walau dalam keadaan terluka, Vrey berhasil mencuri Relik Safir yang mengandung kekuatan petir. Selain itu sayap Nymphnya akhirnya berhasil dibuat menjadi jubah. Hanya saja kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, karena Rion mengetahui identitas Aelwen.

Aelwen yang lembut dan sudah menjadi teman dekat Vrey selama 3 tahun ternyata menyimpan rahasia besar. Aelwen bukanlah pelajar Acolytes (atau penyembuh) seperti yang Vrey kira. Aelwen aslinya juga bukan wanita tulen. Sebelum anda - anda sekalian bengong dan mengira apakah Aelwen banci, identitas aslinya adalah seorang pangeran bernama Leighton yang merupakan pewaris kerajaan Granville. Yah si Aelwen aka Leighton, sedikit banyak mengingatkan saya sama Makoto Amano dari W-Juliet. Penggemar komik, apalagi serial cewek, pasti tahu deh.

Dari sini plot semakin rumit dan seru. Leighton, Rion dan Vrey berpisah di kerajaan Lavanya. Leighton harus mencegah kawanan Valadin yang ingin merebut Relik Elemental Air yang berada di bawah istana Kerajaan Lavanya, dibantu dengan salah satu putri raja, Ascha dan pengawalnya Desna. Disisi lain, Vrey dan Rion malah ditangkap dan disiksa di penjara. Usai pertempuran di Lavanya, Leighton yang menuju Granville terkejut mendengar kabar itu, dan terpaksa meminta bantuan orang yang paling tidak ingin dia temui, yaitu Valadin. Vrey nantinya juga akan mengetahui asal - usul dan keluarga aslinya, bertemu dengan saudari kembar yang membencinya, dan satu pertemuan tak terduga dengan orang dari masa lalunya. Dan yang lebih terpenting lagi, walaupun Vrey berharga bagi Valadin, sepertinya dia harus menerima kenyataan bahwa mereka akan selalu menjadi lawan. Jika Valadin masaih bersikeras mengumpulkan 7 relik elemental, tidak peduli berapa banyak nyawa yang harus dikorbankannya...

Bagi saya, Chronicle ini sudah lebih bagus dan kompleks daripada buku pertamanya, Revelation. Jika Revelation beraroma game RPG, dan bahasanya gaul sekali, Chronicle sudah memenuhi syarat novel fantasy (menurut saya tentunya :P). Bahasanya sudah luwes, mengalir dengan lancar, plotnya pun tersusun rapi. Dipaparkan satu demi satu dengan baik dan enak dibaca. Jika di buku pertama, plot seolah terbagi dua antara Valadin dan Vrey, maka di buku kedua walau masih sama, tidak terasa aneh dibaca.

Penambahan karakter dan wilayah juga tidak sia - sia. Malah nyaris tidak ada tokoh numpang lewat (kecuali bagian yang mati dibunuh ya :P) disini. Semuanya penting. Hanya saja, rasanya pengarang suka banget memberi nama tokoh - tokohnya (dan tempat) pakai akhiran "a". Seperti "Ascha", "Desna","Ilzara". Penamaan tokoh - tokohnya sih sudah bagus, hanya beberapa kurang nyaman dilafalkan di lidah, misalkan "Laruen", lebih enak kalau "Lauren" sebenarnya. Bagi penggemar romance, yah bersyukurlah karena sudah ada tanda - tanda kesana, ha ha ha. Tidak terlalu kentara, masih dalam tahap malu - malu kucing, tapi sudah ditulis dengan bagus menurut saya yang pakar romance ini ;D (ngakunya).

Yang membuat saya kagum (sekaligus bete) disini adalah keberanian Shienny untuk lagi - lagi membuat ending yang mengambang. Strategi bagus untuk membuat pembacanya tetap penasaran dengan seri selanjutnya, dan beberapa akan cakar - cakar tembok karena tidak sabar menunggu (untung saya baca setelah sudah tamat semua). Kekurangannya mungkin masih dalam penggunaan kata "kamu", yang jujur bikin saya agak risih bacanya, tapi tidak terlalu banyak kali ini. Dan penggunaan huruf besar semua, saat tokoh berteriak dan marah. Sebenarnya tidak perlu sampai seperti itu sih, karena dengan penulisan dan tanda baca yang tepat, pembaca tetap bisa tahu kok.

Anyway, setelah semua yang saya jabarkan di atas (kelebihan dan kelemahan), Shienny membuktikan dirinya sebagai salah satu penulis novel fantasy yang patut diberi perhatian. Dihiasi dengan illustrasi bikinannya sendiri yang tidak kalah bagusnya dengan komikus kawakan sekalipun, plot yang membuat pembacanya tidak bisa berhenti (dalam kasus saya, ga bisa tidur!), karakter - karakter yang magis dan dunia yang mengagumkan, maka Chronicle adalah jawaban bagi mereka yang mencari novel fantasy yang mengasyikkan dan seru!

Trivia
:


Jika di buku pertama, ada komodo sebagai salah satu alat transportasi di dunia Ther Melian, salah satu binatang dari Indonesia, di buku ini Shienny juga tidak lupa sekali lagi menyertakan unsur bangsa sendiri. Setelah komodo, sekarang ada gajah. Tapi gajah sepertinya sudah terlalu familiar ya. Di Chronicle ini yang paling mencolok adalah festival lampion, yang merupakan salah satu kebudayaan China, tapi juga terkenal di Indonesia.
Selain festival lampion, pasar apung di Kerajaan Lavanya juga langsung mengingatkan saya pada pasar apung di Banjarmasin. Kerajaan Lavanya yang dikelilingi air, sedikit membuat saya teringat pada Venesia yang juga sama - sama memiliki wilayah yang mayoritasnya terendam air


Rating Cerita

Jumat, 04 Mei 2012

Review : Bloodfever oleh Karen Marie Moning

Judul : Bloodfever
Pengarang : Karen Marie Moning
Penerbit : Delacorte Press
Tebal : 349 halaman
Diterbitkan pertama kali : 2007
Format : Mass Market Paperback
Target : Dewasa
Genre : Urban Fantasy
Bahasa : Inggris
Seri : Fever atau The Chronicles of MacKayla Lane
Buku no : Dua
Status : Punya sendiri.

Web Pengarang
Order di : Bookdepository
Review buku ke 1 : Darkfever


Sinopsis

I used to be your average, everyday girl but all that changed one night in Dublin when I saw my first Fae, and got dragged into a world of deadly immortals and ancient secrets. . . .

In her fight to stay alive, MacKayla must find the Sinsar Dubh -a million-year-old book of the blackest magic imaginable, which holds the key to power over the worlds of both the Fae and Man. Pursued by assassins, surrounded by mysterious figures she knows she can't trust, Mac finds herself torn between two deadly and powerful men: V'lane, the immortal Fae Prince, and Jericho Barrons, a man as irresistible as he is dangerous.

For centuries the shadowy realm of the Fae has coexisted with that of humans. Now the walls between the two are coming down, and Mac is the only thing that stands between them.


Review

Sebelum membaca review saya untuk Bloodfever, ada baiknya baca review untuk buku pertama, Darkfever di sini . Karena saya menjelaskan cukup banyak latar belakang seri ini di Darkfever, dan Bloodfever ini terjadi beberapa waktu setelah buku pertamanya, jadi akan ada beberapa spoiler untuk buku pertama. MacKayla Lane, ingin balas dendam karena kematian kakak tersayangnya, Alina. Tak pernah Mac menyangka dendamnya itu akan menyeretnya ke Dublin,Irlandia. Bertemu dengan Jericho Barrons pria misterius dengan agenda misterius, dan bertemu mahkluk yang selama ini hanya ada di dongeng, Fae.

Setelah kejadian di Darkfever, Mac tahu siapa pembunuh Alina, walau dia sendiri tidak terlalu yakin. Polisi Irlandia mencurigainya, dan setelah bertemu Barrons, polisi itu ditemukan tewas. Atasan si polisi, Inspektur Jayne mencurigai Mac dan Barrons yang membunuh polisi itu. Disisi lain, rekan Barrons di toko buku Barrons's Books and Baubles, Fiona, membenci Mac. Fiona bahkan berniat membunuh Mac dengan membiarkan toko dalam keadaan gelap dan terbuka, sehingga Shade, fae Unseelie yang menakutkan, masuk dan menyerang Mac. Barrons yang murka lalu memecat Fiona.

Seolah masalah tidak pernah berhenti, ayah Mac datang ke Dublin dan memohon putrinya untuk pulang. Lalu adik Rocky O'Bannion yang tewas di buku pertama, Derek, mencurigai Mac ada di belakang kematian sang kakak. V'Lane, pangeran Fae dari pihak Seelie meminta Mac membantunya mencari Sinsar Dubh, buku magis dengan sihir kegelapan milik Fae Unseelie. V'Lane bahkan mengajak Mac ke Faery, dunia yang waktunya berjalan lebih lambat dari dunia manusia, mempertemukannya dengan ilusi Alina, agar Mac bersedia berpihak pada Seelie. Hal yang membuat Barrons marah besar, sampai ingin mentattoo Mac dengan sihir khusus. Agar gampang dicari tentunya.

Jika di buku pertama, Mac dan Barrons mendapatkan salah satu Hallows milik para Fae Seelie, yaitu tombak Longinus, di buku ini Mac menemukan dua Hallows. Satu adalah Amulet legendaris yang dikejar Barrons dan Mac di Wales, namun malah dicuri. Satunya lagi adalah Sword of Lugh, dipegang oleh seorang gadis kecil, Dani O'Malley. Dani ini ternyata sama dengan Mac, sama - sama sidhe-seer, orang yang bisa melihat Fae. Dani memberitahu Mac, tembok antara dunia manusia dan Fae runtuh sehingga Fae bisa menyelinap ke dunia manusia. Dari Dani jugalah Mac bertemu Rowena, pemimpin para sidhe-seer dan tahu masa lalu Mac. Mac tidak bisa percaya pada siapapun. Barrons memanfaatkannya untuk mendapatkan Hallows dan Sinsar Dubh, V'Lane ingin Mac berpihak pada kaum Seelie, dan Rowena ingin Mac berpihak pada kaum sidhe-seer. Semuanya memiliki agenda sendiri, dan Mac merasa dia hanyalah pion catur yang digerakkan kesana kemari. Apalagi setelah musuh lama Mac, yang dia kira telah mati sebelumnya, justru datang mencari Mac dan berniat membunuhnya.

Bagi saya Bloodfever lebih lambat daripada Darkfever, perburuan Hallowsnya kurang intense kalau dibandingkan buku pertama. Gaya penceritaannya tetap lambat, semuanya tetap dari sudut pandang Mac. Pembaca bisa benci-cinta sama Mac, walau Mac sudah lebih dewasa dari pada saat dia pertama kali datang ke Dublin, mengubah penampilan dari cewe barbie menjadi cewe beringas (rambut blonde panjangnya dipotong jadi pendek dan diwarnai hitam), tapi Mac tetap dipenuhi keragu-raguan. Barrons yang menjadi tumpuan hidup Mac selama di Dublin juga ga banyak membantu. Tetap misterius, tetap menyembunyikan banyak hal. Bikin Mac semakin frustasi.

Saya merasa Mac kadang terlalu bergantung pada Barrons untuk menyelamatkannya saat berhadapan dengan para Unseelie yang jahat, tapi Mac juga jarang mempercayai Barrons. Yah, Barrons terlalu sok misterius masalahnya :P. Ada juga beberapa adegan dimana Barrons bersikap terlalu keras pada Mac. Walau tidak sampai pada tahap bikin saya ilfil. Mungkin karena Macnya juga menjengkelkan saat itu. Tidak ada romansa di buku ini, walau ada petunjuk kesitu. Meskipun demikian, tetap menarik membaca hubungan antara Mac dan Barrons, yang benci tidak, suka juga tidak.

Kelebihan Bloodfever dibanding buku pertama adalah munculnya karakter - karakter baru yang akan mendukung jalan cerita nantinya. Seperti Rowena, Dani O'Malley, Ryodan, kenalan Barrons, dan klan MacKeltars (yang setahu saya ada di seri Highlandernya Karen Marie Moning juga). Hubungan Mac dan V'Lane di buku ini juga lebih banyak dimana mereka berdua mencapai semacam kesepakatan. V'Lane harus mengurangi sensualitasnya sehingga Mac tidak harus selalu lepas baju jika ada V'Lane :)). Peran Seelie dan Unseelie dikupas lebih dalam di buku ini, sejarah mereka perlahan - lahan diterangkan. Misteri pembunuh Alina sebenarnya juga masih belum mencapai titik terang, walau Mac sudah mengira siapa pembunuhnya. Kenapa dan mengapa Alina dibunuh, masih belum jelas. Di belakang buku disediakan glosarium. Atau lebih tepat dibilang jurnal pribadi Mac. Disini Mac menjelaskan istilah - istilah dan karakter - karakter di sekitarnya. Sangat membantu pembaca untuk memahami dunia Fever.

Pembaca yang sudah membaca Darkfever, jelas akan tidak sabar membaca Bloodfever. Sedangkan mereka yang masih baru, saya sarankan untuk membaca buku pertamanya,karena ceritanya berkesinambungan. Yang jelas, bagi mereka yang ingin membaca tentang dunia Fae yang lebih dewasa dan kompleks, wajib baca seri Fever ini! Dan dengan kabar seri ini akan difilmkan, semoga saja penerbit Indonesia mau menerjemahkan buku ini dan buku - buku selanjutnya.

Trivia:

- Istilah Fae sendiri sama dengan fairy atau faery. Walau artinya sama - sama peri, jika fairy di bayangan kita lebih mirip - mirip Tinkerbellnya PeterPan, Fae biasanya lebih mirip seperti elf. Berwujud manusia dewasa, bertelinga lancip, tampan/cantik, menarik tapi Fae lebih penuh tipu daya. Fae lebih banyak dikenal di mitologi Irlandia, Scotlandia dan Norse. Fae di dunia Fever adalah bagian dari Tuatha de Danann atau orang - orang keturunan dewi Danu. Tuatha de Danann dibagi menjadi dua, yaitu Seelie dan Unseelie. Arti Seelie adalah "bahagia", "keberuntungan" dan "diberkati", mereka mewakili sisi terang. Unseelie adalah kebalikannya, artinya adalah "kesedihan", "kesialan" dan "terkutuk" Seelie dan Unseelie sendiri berasal dari bahasa Inggris Kuno, sœl dan esœlig. Seelie di dunia Fever dipimpin oleh Ratu dan pendampingnya. Usia yang abadi membuat mereka harus meminum substansi dari "The Cauldron" untuk menghapus memori dan memulai hidup baru. Unseelie dipimpin oleh Raja dan selirnya, hanya saat ini mereka tidak punya pemimpin, karena sang Raja menghilang. Di dunia nyata, mitos Seelie dan Unseelie ada di salah satu karangan Shakespeare, A Midsummer Night's Dream. Sedangkan salah satu buku yang juga membahas tentang Fae adalah The Iron King karya Julie Kagawa.

- Tombak Luisne, senjata Mac yang digunakan untuk memburu para Unseelie, sejatinya adalah Tombak Longinus, yang dipakai untuk menusuk Yesus pada saat penyalibannya. Tombak ini termasuk benda suci, dan dipakai inspirasi untuk Karen Marie Moning sebagai salah satu Hallows milik Seelie. Selain Tombak Longinus, salah satu Hallows milik kaum Seelie adalah amulet magis legendaris yang dipakai oleh orang - orang terkenal dalam sejarah seperti Boudicca, Joan of Arc dan Napoleon. Amulet itu hanya bisa dibangkitkan oleh orang yang berkemauan kuat.

Source : Wikipedia, image dari situs Obsidian Portal
Tautan

Favorite Quote :
Diterjemahkan bebas dari buku aslinya :

Ayah pernah berkata, ada tiga macam orang di dunia ini : mereka yang tidak tahu apapun, dan tidak tahu kalau mereka tidak tahu ; mereka yang tidak tahu tapi tahu apa yang tidak mereka ketahui; dan mereka yang tahu dan tahu berapa banyak hal - hal yang mereka tetap tidak tahu.

Hal yang rumit, aku tahu. Aku pikir aku akhirnya lulus dari mereka yang tidak tahu sama sekali ke mereka yang tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Rating Cerita


Sensualitas

Ada sedikit adegan nudity, tapi tidak ada adegan intim. Hanya adegan ciuman antara Barrons dan Mac menjelang akhir cerita. (akhirnyaaaaa... hiks!)

Selasa, 01 Mei 2012

Review : Eon, Lahirnya Sang Punggawa Naga oleh Alison Goodman

Judul : Eon, Lahirnya Sang Punggawa NagaPengarang : Alison Goodman
Penerbit : Mizan Fantasy 

Tebal : 577 halaman
Diterbitkan pertama kali : Maret 2012 

Format : Paperback 
Target : Remaja
Genre : Fantasy
Bahasa : Indonesia
 

Seri : Eon
Buku ke- : 1
Status : Punya sendiri
Website : Alison Goodman

Sinopsis

Dalam dunia yang penuh dusta, sebuah kebenaran bisa sangat mematikan…


Di bawah didikan keras seorang Master yang ambisius, Eon dilatih untuk menjadi Punggawa Naga—seorang penguasa yang mampu mengendalikan air dan angin untuk melindungi Negara. Tapi selama dia berlatih dan bertahan menghadapi saingannya, dia harus menjaga sebuah rahasia kelam. Rahasia yang bisa membahayakannya dan bisa membuatnya kehilangan nyawa.

Setelah sebuah upacara pentasbihan, hubungannya dengan kedua belas naga telah menyeretnya ke dalam dunia Pengadilan Kerajaan yang sangat berbahaya. Dan sejak masuk ke dunia pengadilan, dia menemui musuh terkuatnya, Lord Ido. Seiring dengan persaingan yang semakin memanas, Eon semakin tertekan karena rahasia kelamnya semakin muncul ke permukaan. Diwarnai dengan berbagai kasi pertarungan seru, petualangan Eon akan membuat kita tenggelam dalam dunia para punggawa Naga.

Best Fantasy Novel, Aurealis Award (2008) ● Honour Book, James Tiptree Jr. Award (2008) ● Notable Book, CBCA Awards (2009) ● Nomine NSW Premier's Literary Awards (2009) ● Nomine Victorian Premier's Literary Awards (2009) ● Nomine Western Australian Premier's Literary Awards (2008) ● ALA Best Book for Young Adults (2009) ● Bank Street College Best Book of the Year (2009)

“Kisah petualangan ini penuh intrik, persahabatan, pertarungan dan keajaiban aliansi…buku ini pemenang sejati”—Kirkus Reviews

“Warna baru dalam genre fantasi. Kisah yang ditulis dengan cerdas dan menyegarkan ini benar-benar menggigit dari halaman pertama” —The Times, London


Review
Eon, seorang bocah laki - laki cacat berumur 12 tahun, mencoba peruntungannya untuk menjadi Murid dari Punggawa Naga Tikus yang baru. Eon melakukannya karena ambisi Gurunya, mantan Punggawa Naga Harimau, Bangsawan Brannon yang ingin kembali ke masa jayanya dan bergelimang harta jika Eon terpilih menjadi murid Punggawa Naga. Sayangnya, dengan kondisinya yang cacat, Eon harus sering menerima caci maki, dianggap iblis, dan kesulitan dalam melakukan latihan tempur. Eon yang sudah berusaha keras, harus menerima kenyataan bahwa Naga Tikus tidak memilih dirinya. Hanya saja, terjadi sesuatu yang tak pernah diduga baik oleh Eon maupun Punggawa Naga yang lain. Karena Naga Kembar yang sudah hilang selama 500 tahun justru memilih Eon menjadi Punggawa Naganya yang baru!

Eon yang sekarang menyandang gelar Lord, harus menyesuaikan diri dengan status barunya sebagai Punggawa Naga Kini dia dielu-elukan akan membawa keberuntungan pada Kaisar, karena kemunculan Naga Kembar. Eon harus berhati - hati dalam memainkan permainan politik di lingkungan Kaisar. Dia diharapkan memberikan loyalitasnya pada Kaisar, untuk melawan adik sang Kaisar yang ingin merebut tahta, yaitu High Lord Sethon. Sethon bukannya tidak punya pendukung, karena Punggawa Naga Tikus yang Bangkit bersamaan dengan Eon, yaitu Lord Ido, yang juga menjadi pemimpin Dewan Naga, mendukungnya. Ido yang mempunyai ambisi yang kuat (dan Naga Tikus miliknya adalah Penjaga Ambisi) bertekad akan menyingkirkan siapa saja yang menghalangi niatnya menguasai kerajaan, termasuk Eon. Untungnya Eon memiliki rekan - rekan yang mendukungnya. Salah satunya adalah Ryko, Penjaga Bayangan dan pendukung Kaisar, Rilla pelayan Eon yang setia dan Putri Dela, seorang Contraire. Contraire adalah pria yang bertingkah laku sebagai wanita, mungkin kalau disini sama dengan banci. Hanya Contraire memiliki status yang tinggi dan diagung - agungkan.

Eon pun memberikan loyalitasnya pada Kaisar, dan bahkan menjalin persahabatan dengan Kygo, sang Putra Mahkota. Namun dia menyadari bahwa dia tidak bisa mengendalikan naganya sendiri. Naga Kembar kerap meminta nama asli Eon, yaitu Eona. Tidak ada yang tahu kalau Eon sebenarnya perempuan, kecuali gurunya Dan Eon selalu berusaha menekan sisi femininnya, dan menonjolkan sisi maskulin, agar semua orang tidak tahu jati dirinya yang asli. Karena Punggawa Naga perempuan itu tidak pernah ada, dan jika Kaisar tahu, Eon akan dihukum mati. Sayangnya, pada saat tes kemampuan mengendalikan badai, Ido yang mengambil alih kekuatan Eon, mengetahui identitas Eon yang asli. Ido memaksakan kehendaknya pada Eon, berusaha memiliki tubuh Eona dan kekuatannya, untuk menguasai kerajaan. Sanggupkah Eon atau Eona menggagalkan usaha Ido? Sanggupkan Eon menguasai kekuatan naganya? Dan yang paling penting menjaga agar identitas aslinya tidak terungkap?

Saya sangat menikmati cerita Eon. Apalagi melihat penulis dari Australia mengambil ide mitologi China, yang saya rasa sangat fresh. Alison Goodman mengambil naga, makhluk yang diagung-agungkan , dengan shio, zodiak dari China, dan membuat kerajaan China versinya sendiri. Ada 12 naga dalam dunia Eon, masing - masing mewakili 12 arah mata angin, memiliki warna yang berbeda, dan penjaga sifat - sifat manusia. Eon, yang merupakan punggawa Naga Kembar, mewakili sisi Timur, dan merupakan penjaga Kebenaran. Suatu ironi, karena hidup Eon penuh dengan kebohongan yang dia buat untuk menutup jati dirinya.

Permainan politik yang dihadapi Eon juga membahayakan dirinya. Bayangkan, Eon yang masih 12 tahun (atau 16 tahun, umur aslinya) harus membuat kepentingan penting yang menyangkut banyak orang, mempelajari tata krama istana kerajaan, beradu argumen dengan orang - orang yang lebih tua dan bermartabat seperti Kaisar. Untungnya Eon tidak sendiri dalam menghadapi semua itu. Disini karakter pendamping seperti Ryko, Putri Dela, Rilla, semua mendapat porsi penceritaan yang pas. Mungkin hanya karakter Kygo, sang pangeran dan para Lord Punggawa Naga yang kurang diceritakan.

Bicara tentang karakter, selain Eon, Alison Goodman juga membuat tokoh antagonis yang benar - benar licik dan jahat. Lord Ido penuh dengan ambisi, dan di usianya yang ke 24, dia berniat menguasai kekaisaran. Saya memiliki perasaan cinta-benci ke Ido. Benci dengan ambisi dan karakternya (juga penampilannya yang walau dikatakan tampan, tapi jenggotnya berminyak. Ih, big no no, deh! :P), tapi juga terpesona. Mungkin dia mirip - mirip karakter "bad boy" di novel - novel YA, hanya Ido ini sudah pria dewasa. Interaksinya dengan Eon, walau tidak sehat, bikin saya berdebar - debar dan mengharap lebih diantara mereka, hehehe. Hanya saja, Ido memang terkesan memaksakan kehendak pada Eon, walaupun mendekati akhir cerita ada perkembangan menarik untuk karakter Ido. Membuat saya jadi ingin mengetahui nasibnya di buku selanjutnya.

Alison Goodman seolah ingin menyampaikan, bahwa perempuan juga mempunyai hak dan kesetaraan gender. Saya merasa si pengarang berusaha menyampaikan pandangan feminisnya melalui Eon, namun tidak memaksa. Bagaimana Eon yang berusaha menjadi pria, padahal dirinya adalah wanita. Sang pengarang seolah mengatakan bahwa tidak ada yang salah menjadi wanita, wanita pun bisa merubah dunia, wanita juga bisa menjadi penasihat raja, seperti yang ditunjukkan dalam karakter Putri Jila, selir Raja yang pintar dan bijaksana. Eon atau Eona memang masih muda, dia terkesan buta dengan segala permainan politik dan kekuasaan. Tapi Eona tidak menyerah, bahkan cacatnya tidak menghalanginya untuk selalu berusaha dengan baik.

Penggemar high fantasy, mitologi China, karakter perempuan yang kuat dan penggambaran dunia yang sangat rumit namun menawan, wajib membaca buku ini. Dan saya juga tidak sabar untuk membaca lanjutan Eon, Eona. Semoga aja Mizan tetap memakai cover asli Eona yang catchy abis itu.

Trivia:

- Tidak seperti kebudayaan barat yang kebanyakan menganggap naga itu jahat dan harus dibinasakan, kebudayaan timur justru menyanjung para naga sebagai dewa dan penjaga mereka. Bahkan Kaisar di China sendiri menganggap dirinya adalah keturunan para naga yang mendiami langit. Tak heran kalau mereka juga dijuluki Putra Langit. Naga China diceritakan bisa mengontrol hujan, danau, sungai dan laut. Mereka juga bisa menolak spirit jahat, melindungi para orang yang tak bersalah dan simbol keselamatan. Banyak lukisan yang menggambarkan mereka memegang mutiara yang menyala terang. Maka penggunaan mutiara di novel Eon ini memang berdasarkan pada hal itu. Naga dalam bahasa China, disebut "long". Ada 9 jenis naga di China, dengan keahlian dan identitas yang berbeda. Perbedaan naga China dan naga barat, walaupun sama - sama berkaki empat dan memiliki badan mirip reptil, naga barat lebih terlihat seperti kadal raksasa dan memiliki sayap. Sementara naga China mirip ular, dengan tanduk rusa, surai harimau, cakar elang, dan sisik seperti ikan yang berkilauan.

- Salah satu aspek menarik dari Eon, selain naga, adalah penggunaan shio. Shio, seperti yang kita tahu adalah lambang zodiak dari China. Terdiri dari 12 hewan suci, masing - masing menguasai 5 elemen, dan siklusnya akan berulang tiap 60 tahun. Tidak seperti zodiak dari Barat, shio berlaku tiap 1 tahun. Di dunia Eon, naga - naga shio ini mempunyai warna- warna unik dan penjaga sifat - sifat manusia.

Source : Wikipedia



Favorite Quote :

- Aku menegakkan dudukku, dengan cemas mengamati ketiga pria yang ada di sekeliling meja. Aku tidak mengerti ide kesetaraan ini. Selalu ada pangkat, bahkan diantara para budak sekalipun. Itu adalah sifat alamiah manusia

- Ada pepatah yang mengatakan bahwa karakter seseorang yang sesungguhnya akan tampak dalam kekalahan. Kupikir itu juga akan tampak dalam kemenangan.

- "Para dewa sudah terbahak - bahak." kataku, " jika tidak, bagaimana mungkin masa depan sebuah kerajaan berada di pundakku?"

Rating Cerita


Sensualitas
Tidak ada yang berbahaya sebenarnya. Hanya ada dua kali adegan ciuman, antara Ido dan Eon (Eona), dimana hal itu dilakukan Ido dengan paksa, namun bikin saya cukup berdebar - debar :)) . Aspek romancenya sendiri tidak terlalu eksplisit, bahkan nyaris tidak ada.