Tampilkan postingan dengan label buku indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku indonesia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Januari 2016

Review: Sudut Mati oleh Tsugaeda (+Giveaway)

Judul: Sudut Mati

Pengarang: Tsugaeda
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Bentang Pustaka

Tebal : 338 halaman
Diterbitkan pertama kali :  September 2015

Format : Paperback
Target :Dewasa

Genre :Thriller Suspense
Author's Web: Click Here
Beli di : Google Playstore;  Bukabuku


Sinopsis :

Titan kembali dari Amerika Serikat setelah delapan tahun, tepat ketika Grup Prayogo milik ayahnya sedang krisis dan membutuhkan bantuannya. Selain kesulitan dalam urusan bisnis, ada ancaman dari kompetitor jahat, Ares Inco, yang memiliki keinginan menghancurkan keluarga Prayogo  untuk selamanya.

Namun Titan tak hanya menghadapi itu. Kakaknya, Titok, tak suka tersaingi olehnya di dalam Grup. Adiknya, Tiara, justru menikah dengan putra mahkota musuh. Dan mungkin ia juga telah membawa kekasih yang dicintainya ke dalam bahaya.

Titan harus menghadapi itu semua. Sementara tanpa ia ketahui, seorang pembunuh dengan kode 'Si Dokter' mengintai dan menunggu saat tepat untuk ikut campur ke dalam urusan mereka.


 Review

Note: Jangan lupa untuk membaca review ini sampai akhir, karena ada giveaway setelahnya :D

Saya teringat, sekitar bulan Agustus-September 2013, ada seorang pengarang yang menawarkan bukunya dengan genre thriller untuk direview di thread Goodreads Indonesia. Saya yang tertarik langsung komen dengan harapan bisa mendapatkan bukunya. Pucuk dicita ulam pun tiba #hasyah :P, saya beruntung mendapatkan bukunya yang berjudul Rencana Besar. Tak butuh waktu lama bagi saya untuk menyukai buku ini, well Rencana Besar bisa dibilang novel thriller suspense lokal pertama yang saya baca. Kepiawaian sang pengarang, Tsugaeda dalam menjelaskan dunia perbankan beserta konspirasinya memang saya acungi jempol (terlepas dari ada beberapa bagian yang kata teman saya yang orang perbankan, ada yang kurang). Saya bahkan berharap Tsugaeda menulis cerita lanjutan untuk Makarim Ghanim, tokoh utama Rencana Besar.

Tepatnya, dua tahun kemudian, Tsugaeda menelorkan karya baru berjudul Sudut Mati. Hati ini sempat kecewa karena kok isinya bukan tentang Makarim, tapi mengingat saya suka karya Tsugaeda, maka tidak butuh waktu lama untuk memesan. Rencana baca buku ini tertunda terus sejak tahun kemaren, mengingat kesibukan kerja saya dan baru bisa membacanya di Minggu malam. And guess what?

Sama kayak Rencana Besar, Sudut Mati berhasil membuat saya membacanya dalam satu malam, dan menarik napas dalam - dalam setelah membaca endingnya!

Senin, 29 Juni 2015

Review: My Own World - Coloring Book for Adults oleh Khalezza dan Tria. N


Judul: My Own World - Coloring Book for Adults
Illustrator: Khalezza, Tria N
Bahasa: Indonesia
Penerbit: Renebook
Jumlah halaman:  96 hal
Terbit:  Mei 2015

Format : Paperback

Genre : Nonfiksi

Target Pembaca: Semua Umur


Sinopsis :




Siapa bilang orang dewasa tak lagi bisa bermain, menikmati aktivitas yang dulu pernah membuatnya senang hingga  berjingkrak-jingkrak dan lupa waktu? Bermain  adalah aktivitas yang membuat Hidup Kita Lebih Hidup!

Selamat datang di dunia kami! Dunia Zentangle Art, dunia bermain, dunia mewarnai, dan dunia bersenang-senang. Coloring tak lagi hanya domain milik anak kecil. Ia juga (masih) milik orang dewasa.  

Di buku yang indah ini, ada 46 ilustrasi pilihan yang menantang untuk diwarnai kapan saja di mana saja. Tak perlu lagi banyak berpikir, takut salah dan keliru. Langsung saja, ambil pensil, spidol atau pena warna-mu. Ekspresikan dirimu! Ekspresikan warnamu! Ini saatnya kita bermain. 
ITS ME TIME!

 Review

"We don't stop playing because we grow old; we grow old because we stop playing."
George Bernard Shaw

Well...terakhir saya ngereview di blog itu...bulan Januari lalu X)). Aslinya saya masih ngereview sih, tapi banyakan di Goodreads, sementara blog saya isi dengan postingan non review. Kerjaan yang cukup bikin stress, belum lagi personal life yang mulai membuat perut saya sakit maag secara berkala membuat mood ngeblog jadi berkurang :(. Saya sendiri terus - terusan berada di kondisi ini, sampai suatu saat saya nemu hobi baru selain ngegame dan baca chat orang. Apa itu?

Mewarnai!

Wait, ga salah denger nih? Masa cewe yang udah gede kayak saya masih melakukan hal yang dilakukan oleh anak kecil?

Kamis, 29 Januari 2015

Review: Rahasia Sunyi oleh Brahmanto Anindito



Judul: Rahasia Sunyi
Pengarang: Brahmanto Anindito
Bahasa: Indonesia
Penerbit: Gagas Media
Jumlah halaman:  361 hal
Terbit:  January 2013

Format : Paperback

Genre : Thriller, Horror

Target Pembaca: Dewasa Muda


Sinopsis :


Lautan Angkasawan pergi ke Pegunungan Kerinci karena sebuah teka-teki.

Kirey Fowler, mantan kekasihnya, tewas dalam kecelakaan di kawasan gunung tertinggi di Sumatra itu. Lachlan Fowler, sang ayah, berharap Lautan membantunya menyibak rahasia di balik kematian anak perempuannya.
 
Di tengah belantara kemungkinan, satu per satu pintu misteri terbuka. Tapi, Lautan tidak sendiri. Sesuatu terus menghalanginya untuk menyingkap tanda tanya. Nyawanya terancam untuk sebuah jawaban...

***
 
Setelah kolaborasi bersama Rie Yanti lewat novel pertama mereka, Satin Merah, yang berpijak pada kebudayaan Sunda, kali ini Brahmanto Anindito merilis karya tunggalnya sendiri, Rahasia Sunyi. Perjalanan belum selesai. Dengan latar lokal sisi barat Sumatra, novel ini menawarkan pengalaman kultural dalam balutan thriller yang intens.

 Review

"Apa yang awalnya terlihat indah di dunia ini belum tentu indah dalam kenyataannya. Begitu juga sebaliknya. Bisa ular dan madu warnanya sama - sama kuning.

Saya sudah lupa kapan terakhir kali baca buku karya pengarang lokal. Bilang saya tidak nasionalis atau tidak ada rasa patriotisme, tapi emang selera saya banyakan buku pengarang luar sih, hahaha. Apalagi agak sulit rasanya membaca fiksi karya anak negeri sendiri, karena walau ide sudah bagus, beberapa buku eksekusinya kurang pas atau bahkan bikin saya pengen nangis saking jeleknya. Saya pun baca Rahasia Sunyi ini karena dulu saya meminjamkan buku ini untuk teman kantor yang lagi belajar nulis dan selalu "meneror" saya buat baca cerita dia X). Bingung karena tidak ada kerjaan di kantor dan juga tidak bawa buku dari rumah, akhirnya saya memilah - milah buku yang saya simpan di kantor...dan taraaa... nongollah buku ini.

Rahasia Sunyi sendiri saya dapatkan pada saat ulang tahun Gagas yang ke-10 di tahun 2013 kemaren. Kebiasaan deh suka nimbun buku dan baru baca 2 tahun kemudian X)). Melihat review beberapa teman di Goodreads rata - rata banyak yang suka. Profile pengarangnya, Brahmanto Anindito, sendiri cukup meyakinkan. Setting cerita yang berlatar di Padang dan Gunung Kerinci cukup bikin saya antusias dan genrenya yang awalnya saya duga adalah thriller suspense membuat saya tak banyak cing cong untuk langsung membacanya

Yeah...sayangnya, seperti yang saya bilang sebelumnya. Ide bagus, eksekusi meh. Totally meh!

Selasa, 19 November 2013

Review : Runaway Ran oleh Mia Arsjad




Judul : Runaway Ran
Pengarang : Mia Arsjad

Bahasa : Indonesia
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 362 halaman
Diterbitkan pertama kali : Juli 2013

Format : Paperback
Target : Dewasa
Genre : Contemporer Romance 

Beli di : Grazera, Bukukita, Bukabuku, Gramediana


Sinopsis


Katrina si anak manja yang hobi belanja online itu, sekarang harus belajar hidup irit dan mencari uang sendiri. Kebetulan, ada iklan lowongan yang di-broadcast di Blackberry. Katanya sih untuk jadi asistennya J.F. Ran, komikus pengarang 4 Hero No Zero. Tawarannya menggiurkan sih, dan berhubung kebutuhan belanja online-nya sangat mendesak, Katrina pun mengirimkan CV-nya.

Komik berjudul 4 Hero No Zero sudah tiga tahun ini booming di Indonesia. Komik nyeleneh dan kocak itu ditulis oleh J.F. Ran yang ternyata aslinya ganteng, tapi galak. Apalagi pacarnya, Viana, yang judes dan cemburuan setengah mati. Nggak heran kalau orang yang kerja jadi asisten Ran, nggak pernah bertahan lama.

Kali ini giliran Katrina yang jadi asistennya. Bakalan awet nggak ya? Kira-kira siapa yang bakalan takluk? Ran atau Katrina?


Rabu, 13 November 2013

Review : A Very Yuppy Wedding oleh Ika Natassa



Judul : A Very Yuppy Wedding
Pengarang : Ika Natassa

Bahasa : Indonesia
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 288 halaman
Diterbitkan pertama kali : Oktober 2007

Format : Paperback
Target : Dewasa
Genre : Contemporer Romance 



Sinopsis



The life of a business banker is 24/7, dan bagi Andrea, banker muda yang tengah meniti tangga karier di salah satu bank terbesar di Indonesia, rasanya ada 8 hari dalam seminggu. Power lunch, designer suit, golf di Bintan, dinner dengan nasabah, kunjungan ke proyek debitur, sampai tumpukan analisis feasibility calon nasabah, she eats them all. Namun di usianya yang meninjak 29 tahun, Andrea mungkin harus mengubah prioritasnya, karena sekarang ada Adjie, the most eligible bachelor in banking yang akan segera menikahinya. So she should be smiling, right?

Not really. Tidak di saat ia harus memilih antara jabatan baru dan pernikahan, menghadapi wedding planner yang demanding, calon mertua yang perfeksionis, target bank yang mencekik, dan ancaman denda 500 juta jika ia melanggar kontrak kerjanya. Dan tidak ada Manolo Blahnik atau Zara atau Braun Buffel yang bisa memaksanya tersenyum di saat ia mulai mempertanyakan apakah semua pengorbanan karier yang telah ia berikan untuk Adjie tidak sia-sia, ketika ia menghadapi kenyataan bahwa tunangan sempurnanya mungkin berselingkuh dengan rekan kerjanya sendiri.

Welcome to the world of Andrea Siregar, the woman with the most rational job on the planet as she is making the most irrational decisions in her own personal life.


Selasa, 08 Oktober 2013

Review : 'Till It's Gone oleh Kezia Evi Wiadji


Judul : 'Till It's Gone
Pengarang : Kezia Evi Wiadji

Bahasa : Indonesia
Penerbit : Media Pressindo
Tebal : 170 halaman
Diterbitkan pertama kali : Mei 2013
Format : Paperback
Target : Dewasa
Genre : Contemporer Romance 







Sinopsis


Saat mengenakan gaun pengantin berwarna putih dan menangkap bayangannya di cermin besar di kamarnya, hatinya pedih. Ia juga malu. Ia tidak sesuci seperti warna gaunnya. Ia telah hamil sebelum mengucapkan janji pernikahan. Alisa menekan tangan kanannya ke perut. Telapak tangannya saat itu terasa lembap. Ia berharap saat ini ia sedang bermimpi. Tetapi aroma buket bunga gardenia dan mawar di tangan kirinya membuatnya sadar. Bau wangi itu nyata, senyata apa yang terjadi sekarang pada dirinya.

Rumah tangga ternyata tidak sesederhana yang Alisa pikirkan. ia sering mendapat perlakuan tak mengenakkan dari Adam, teman hidupnya. Sampai suatu ketika ada secercah empati yang terulur ke arahnya. Dari seorang lelaki yang pernah menorehkan sejarah dalam hidupnya. Bersediakah Alisa menerimanya?
 
Review


Mungkin pembaca blog yang pernah baca review saya tentang Mahogany Hills, bertanya - tanya kenapa saya mau baca novel tentang pernikahan, lagi. Ehm, saya bukannya anti novel pernikahan kok, atau yang sinetron banget ala Mahogany Hills itu (dan alasan saya ilfil sama novel itu, sudah jelas di review saya :P). Saat Mbak Evi menawarkan novel ketiganya, 'Till It's Gone, yang bergenre domestic romance (saya jadi tahu apa artinya, setelah bertanya pada beliau :O) untuk direview, saya setuju setelah membaca sinopsisnya. Karena apa yang ditawarkan Till It's Gone cukup berbeda dengan Mahogany Hills.

Senin, 22 Juli 2013

Review : Mahogany Hills oleh Tia Widiana


Judul: Mahogany Hills

Pengarang : Tia Widiana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 344 halaman
Diterbitkan pertama kali : 23 Mei 2013
Format : Paperback
Target : Dewasa
Genre : Drama, Contemporer
Bahasa : Indonesia

Kepemilikan : Punya sendiri


Order di : Gramedia,  Bukukita, Bukabuku

Sinopsis

 

Jagad Arya dan Paras Ayunda mendapatkan kehidupan yang mungkin diharapkan oleh semua pasangan pengantin baru. Segera setelah menikah, mereka tinggal di rumah bernama Mahogany Hills, di pelosok pegunungan Sukabumi yang sejuk dan indah.

Yang membedakan Jagad dan Paras dengan pasangan pengantin lainnya adalah mereka menikah bukan karena cinta. Baik Jagad maupun Paras punya rahasia yang mereka pendam. Kesepian, amarah, dan penyesalan bercampur aduk dengan rasa rindu dan kata cinta yang tak pernah terucapkan—semua itu senantiasa menggelayuti Mahogany Hills.

Dengan caranya masing-masing, Jagad dan Paras berjuang untuk menghadapi satu pertanyaan yang pada suatu titik harus mereka jawab: Sanggupkah mereka bertahan dalam pernikahan yang tak sempurna itu?

Review

Senin, 15 Juli 2013

Review : Kedai 1001 Mimpi oleh Valiant Budi


Judul: Kedai 1001 Mimpi - Kisah Nyata Seorang Penulis yang Menjadi TKI 

Pengarang : Valiant Budi
Penerbit : Gagas Media
Tebal : 444 halaman
Diterbitkan pertama kali : 2011
Format : Paperback
Target : Dewasa
Genre : Non Fiksi
Bahasa : Indonesia

Kepemilikan : Punya sendiri

Web Pengarang : Click here
Order di :  Bukukita, Bukabuku

Sinopsis

 

DESAS DESUS
"Kita ini konon pahlawan devisa. Tapi kalau mati, ya sudah, dianggap binatang saja."
"Saya datang buat mempertebal iman, bukan jadi mainan."
"Datang ke sini itu harus siap 'dijajah'. Baik jiwa maupun raga!"
"KAMU tidak perhatikan, banyak orang MATI karena terlalu BANYAK TAHU?!"


Valiant Budi adalah seorang penulis yang tergila-gila dengan dunia Timur Tengah. Salah satu ambisinya yaitu menulis sebuah buku travel dari belahan bumi 1001 mimpi ini.

Kesempatan datang, ia akhirnya tinggal di Saudi Arabia sambil bekerja di salah satu kedai kopi internasional.

Ternyata, terjun langsung sebagai TKI membuatnya menemukan berbagai peristiwa ganjil yang tak pernah ia ingin ketahui, apalagi ikut merasakannya.

Ambisinya terkubur, berubah menjadi keinginan kuat untuk kembali tinggal di tanah air tercinta.

Buku ini berdasarkan pengalaman Valiant Budi dan beberapa rekan TKI yang bertahan hidup di Saudi Arabia dan selalu rindu Indonesia.

Review

Rabu, 16 Januari 2013

Review : Buku Ajar Koas Racun oleh Andreas Kurniawan

Judul :Buku Ajar Koas Racun
Pengarang : dr Andreas Kurniawan
Penerbit :Mediakita
Tebal : 256 halaman 
Diterbitkan pertama kali : October  2012
Format : Paperback
Target : Semua Umur
Genre : Kontemporer, Real-Life Story
Bahasa : Indonesia
Status : Pinjam orang kantor
Review di Goodreads : Click here
Beli di : Bukukita

Sinopsis


Hidup di dunia medis membuat kita (koas) memiliki satu kelebihan. Kita bisa menerapkan ilmu medis dalam melancairkan gombalan. Itu akan terlihat SANGAT KEREN.

"Mama kamu dulu ngidam lithium ya? Soalnya kalau deket kamu, mood aku yang biasanya naik-turun, sekarang jadi stabil." [SUKSES!]

 
Tapi, gombalan ala medis ini kadang memiliki efek samping yang tidak diharapkan.


"Mama kamu dulu ngidam lithium ya? Soalnya muka kamu kotak kayak batere HP." [GAGAL!]

 ***
KOAS... !!! Ini yang membuat mahasiswa Fakultas Kedokteran percaya bahwa neraka itu benar ada. Buku Ajar Koas Racun ini, selain menuturkan pengalaman yang mengundang gelak tawa, juga akan memberi pembelajaran baru dalam melewati rintangan-rintangan yang kerap menghadang koas, seperti saat menghadapi konsulen (penguji) ketika ujian

Review

Waktu saya masih kecil dulu (umur TK-SD deh), saya sering ditanyain sama orang - orang (entah itu tetangga, saudara sepupu, bulik paklik bude pakde, eyang delele) kalau udah gede mau jadi apa. Dan saya pun menjawab dengan polos :"mau jadi dokter". Bahkan sampai beberapa tahun kemudian menginjak masa SMP, jawaban saya tetap sama kalau ditanya cita - citanya apa. Orang tua saya cukup puas dengan jawaban saya saat itu. Dan sudah berandai - andai kalau anaknya bakalan jadi dokter sukses, duit banyak, dapat menantu dokter pula (plus ganteng, naik mobil jaguar, rumahnya ada kolamnya). Ugh, paket komplit KFC aja kalah, cing!

Hanya saja, saat masa SMP pelajaran Biologi dan Fisika dicampur menjadi IPA yang menurut saya sih gampang bukan main (sombong banget yak, padahal pas UAS nilainya cuma dapat 6 X) ). Dan saya kaget saat masa SMA mendapat pelajaran Biologi. Saat itulah cita - cita jadi dokter mulai goyah. Semakin goyah saat kelas dua SMA, kebetulan guru biologi saya lagi iseng dan mengadakan ujian ala Fakultas Kedokteran. Dimana soal - soal ditaruh di meja, lalu tiap murid hanya diberi waktu 1-2 menit untuk ngerjain. Saya tentu aja bengong pas lihat pertanyaan akar pohon X masuk akar dikotyl atau monokotyl. Belum selesai milih jawaban, bel yang cukup bikin detak jantung saya meningkat berbunyi dan saya harus pindah ke meja berikutnya. Sudah bisa diduga hasil ujian saya dapat nilai 2, dan guru saya cuma bisa geleng - geleng kepala melihat hasil rata - rata kelas yang bikin siapapun menangis. Sejak saat itulah saya ga mau masuk FK. Konyol? Emang. Apalagi cita - cita saya yang dari dokter lalu pengen jadi arkeologi karena terinspirasi Indiana Jones ditertawakan orangtua. Akhirnya saya pun terdampar di Teknik Sipil dan jadi tukang bangunan yang kerja di dunia perindustrian. Sungguh ga nyambung.

Oke, cukup tentang saya. Saya mengetahui buku Koas Racun ini dari reviewnya salah satu blogger BBI, bu dokter Dewi di Goodreads. I call her bu dokter, ya karena dia dokter (jayus ah). Kebetulan nih, kemaren sekretaris tempat proyek saya dihadiahin temannya buku ini, Pulang karya Leila S Chudori, dan box setnya Ika Natasha. Sukses membuat saya iri setengah mati karena mana pernah saya bernasib sama kayak dia X) . Akhirnya hari ini, di saat semua manajer pergi ke site proyek dan ketimbang saya bengong di depan komputer padahal kerjaan juga numpuk, dia berbaik hati mau minjemin dengan syarat musti dine-in.. eh baca di tempat. Saya ga kenal Andreas Kurniawan maupun alter ego Twitternya @koasracun. Saya emang bukan penggemar selebtwit sih (biar juga dibilang gak gaul). Saya juga hanyalah khalayak umum yang awam masalah kedokteran, tapi saya tersenyum dan juga ketawa membaca buku ini.

Sang @koasracun mengawali buku ini dengan perkenalan tentang Koas, alias Ko asisten, alias dokter muda (iya kali yak). Beliau memaparkan suka duka menjadi koas, tingkatan - tingkatan dalam dunia koas seperti koas, residen dan konsulen (yang jujur saya masih ga ngeh bedanya dimana). Buku ini disertai juga dengan beberapa istilah kedokteran yang walau rumit, si @Koasracun ga pelit kasih tau artinya kok. Dia juga menjelaskan beberapa fakta salah kaprah tentang kedokteran seperti :
  • Dokter ga pernah  sakit. Duh, mereka kan manusia. Dan kerjanya di rumah sakit yang notabene persebaran penyakitnya lebih ganas dan juga rentan terpapar penyakit.
  • Dokter ga takut sama hantu. Siapa bilang? Lihat point yang saya kemukakan di atas . Walau mungkin di depan kenalannya mereka ketawa pas nonton film horror penuh mutilasi macam SAW, aslinya mereka keder juga kalau nonton sendirian.
  • Tulisan dokter jelek biar ga bisa dibaca sama pasien. Yang bener karena mereka seringnya harus menulis cepat dalam waktu singkat, hal itu (tulisan jelek bak ceker ayam) tidak bisa dihindari (bener ga wahai para dokter? X) )

@koasracun juga membeberkan tipe - tipe koas, pengalamannya saat jaga malam, jenis - jenis praktikum, jenis pasien yang mereka hadapi, jenis - jenis ujian yang harus dihadapi selama masa jadi koas, dan yang bikin terenyuh, hubungan love-hate relationship mereka dengan yang namanya tidur. Saya jadi teringat saat saya ber-whatsapp ria dengan bu dokter Dewi dan Aki Erie, yang nama terakhir adalah kenalan di Goodreads. Pembicaraan semakin memanas, bahkan menjelang jam 2 pagi mereka berdua masih dengan getolnya balas WA saya, sementara saya sudah yang terancam teler di atas lapangan kapuk. Untuk Aki Erie, pasti begadang karena dia nonton bola. Lah bu dokter Dewi ngapain jam segitu? Ouch ternyata lagi jaga malam, dan esoknya pun saya masih kaget saat di Twitter, jam 9 pagi dia juga masih balas tweet saya. Kapan tidurnya tuh? :'(

Bagian yang paling lucu adalah saat @koasracun mengutarakan kekritisannya akan film... dan sinetron. Yup, saya setuju dengan dia kalau sinetron itu memang pembodohan masal. @koasracun mengupas beberapa aspek medis dalam sinetron yang tentu semua bagi dia adalah janggal. Yang paling bisa relate dengan dunia buku (apalagi romance) adalah amnesia. Sudah banyak yang memakai tema ini, dan biasanya beberapa lupa nama sendiri (tahu kan kadang ada dialog seperti "siapa aku?" "aku ada dimana?", bla bla bla). Disini @koasracun dengan sumber spesialis neurologi bilang "kalau tidak mungkin seseorang mengalami amnesia sampai melupakan data dasar seperti namanya sendiri". Nah, lho. Bisa jadi masukan nih buat mereka yang entah pengen nulis novel ada unsur mediknya atau bikin script film/drama/sinetron (lagi), berkonsultasilah dulu dengan dokter! Jangan sampai anda ditertawakan saat membuat novel dengan unsur medis yang janggal, seperti kompres dengan air panas atau CPR yang berlebihan pakai tenaga superman (ups!).

Di buku ini @koasracun mengutarakan kalau mahasiswa FK dibiasakan kritis, dan mereka adalah orang yang suka cari masalah. Saya amini aja buat ini, karena tahu kalau itu benar apalagi pas ngereview buku yang masuk kacrut (dan lalu dijitak beberapa kenalan Goodreads yang juga dokter X) ). Menjadi dokter juga bukan berarti mereka enteng jodoh, mengingat jadwal koas ga menentu. Punya pacar koas/dokter? Saran saya sih bersabarlah, hehehe. Bagian favorit dari buku ini adalah tipe - tipe mahasiswa, karena aslinya semua fakultas itu tipe mahasiswanya ya itu - itu aja. Kayak tipe mahasiswa berdasarkan tepat waktunya, dimana saya masuk tipe post time di saat jadi karyawan saat ini. Datang 30 menit setelah jam masuk kantor, padahal kosnya deket banget :)). Ada juga yang berdasarkan cara ngerjain tugas, cara presentasinya, cara bertanya pas diskusi, cara dia nanggapin pertanyaan, cara menghabiskan waktu di kampus, dan lain - lain.

Bukan berarti buku ini ga ada kekurangan. Kekurangan yang paling utama adalah adanya beberapa typos (salah ketik) walau sebenernya sih ga terlalu mengurangi kenikmatan baca. Lalu beberapa illustrasi yang penulis selipkan di beberapa bagian dengan memakai ikon troll dan meme yang biasa ada di 9gag (duh saya ga tau istilah aslinya apa). Beberapa memang tepat dan mengundang tawa, tapi ada juga yang diletakkan di tengah bagian penjelasan dan membuat saya jadi terganggu.
Saya punya teman seorang dokter (yang sebenarnya baru dilantik) yang menurut saya sih songong (ups) tapi kenalan saya di Goodreads yang dokter (seperti bu dokter Dewi, B-zee, Bea dan Putri) mereka ya baik - baik aja. Membuat saya meragukan analisa saya bahwa biasanya dokter itu sombong, hehehe. Bagi saya , tidak ada kesan sombong dari @koasracun. Hanya sarkasme (bedakan dengan omongan sombong ya) dan dia hanya mencoba mengulas kenyataan di dunia kedokteran tanpa terlalu menggurui Pada akhirnya, buku ini memberikan saya wawasan baru di dunia kedokteran, sekaligus membuat saya bersyukur ga masuk FK :)). Tapi, saya salut sama mereka yang masuk FK, dan ga berlebihan kalau saya bilang perjuangan mereka luar biasa.  Cuma, saya tetep bete kalau periksa ke dokter di Jakarta. Udah mahal, periksanya cepet pula, kadang obatnya ga manjur .(eh?)
Buat para lulusan SMA yang mau masuk FK, baca buku ini buat tahu seluk beluk di dunia kedokteran, terutama pas jadi koas dan nantinya ga kaget.
Buat para ortu yang pengen anaknya jadi dokter, baca buku ini biar bisa menyiapkan anaknya dan ga mikir yang muluk - muluk. Apalagi kuciwa anaknya ga bisa kasih mantu sesama dokter.
Buat yang sudah masuk FK atau siapapun yang kerja di dunia medis, bacalah buku ini semata untuk hiburan dan salah satu opsi untuk menahan kantuk saat jaga malam atau ngerjain tugas.
Buat khalayak umum kayak saya, bacalah buku ini sebagai tambahan ilmu, dan mengubah pandangan kita akan dunia kedokteran. Boleh juga dibaca pas lagi ga ada kerjaan atau magabut (makan gaji buta).

Buku yang menceritakan seluk beluk kedokteran sudah banyak. Kapan ya ada buku yang menceritakan seluk beluk dunia konstruksi? *garuk2 dagu*

Masuk fakultas kedokteran susah nggak sih?
Masuknya gampang kok, selama gerbang depan terbuka dan selama masih dalam jam kerja. Kalau perlu bantuan, tinggal tanya sama satpam yang jaga di depan

Kalau ujian masuknya susah nggak?
Ujian masukknya gampang. Cuma 1x ujian. Ujian biar bisa keluar sambil bawa gelar sarjana kedokteran dan gelar dokter, itu yang susah

Baca juga review buku ini dari mereka yang sudah jadi dokter ;)
Review A.s. Dewi in Through Tinted Glass


Rating Cerita :



note : maaf ga ada kopi, buat nahan kantuk pas jaga malam ;).



Senin, 17 Desember 2012

Review : Draf 1 (Taktik Menulis Fiksi Pertamamu ) oleh Winna Efendi

Judul : Draf 1 : Taktik Menulis Fiksi Pertamamu
Pengarang : Winna Efendi
Editor : Christian Simamora
Penerbit :Gagas Media
Tebal : 356 halaman
Diterbitkan pertama kali : October 2012
Format : Mass Market Paperback
Target : Semua umur
Genre : Non fiksi
Bahasa : Indonesia

Status : Punya sendiri
Beli di : Click here
Review di Goodreads : Click here


Sinopsis

Menulis itu susah? Banget.
Terutama kalau kita nggak punya komitmen kuat dan disiplin untuk itu.


Truth to be told, menulis itu gampang-gampang susah. Terkadang terasa mudah dan menyenangkan, apalagi jika ide mengalir selancar air. Namun, menulis juga dapat terasa sulit karena tanpa teknik yang benar dan loyalitas untuk kembali ke halaman-halaman yang belum rampung, tulisan kita akan terus tidak selesai atau menjadi sebaik yang kita inginkan.

Selama ini, banyak sekali teman yang bertanya kepada saya:

- Gimana sih, caranya menulis fiksi yang enak dibaca?
- Bagaimana caranya menciptakan konflik yang nggak klise?
- Gimana caranya menulis cerita dari awal sampai akhir?
- Ceritaku mandek dan nggak kelar-kelar, gimana ya supaya aku bisa menyelesaikannya?
- Bagaimana cara mengirimkan naskah ke penerbit, dan apa yang bisa kita lakukan supaya naskah tersebut 'dilirik'?
- Lalu, prosedur penerbitannya bagaimana?

Bagi kalian yang ingin tahu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas, well, this book might be the one for you.

Dan, mari bersama-sama menikmati proses menyenangkan menulis naskah fiksi pertamamu.

Review

Oke, ini kayaknya pertama kalinya saya mereview buku non-fiksi di blog ini :). Eh, ga juga ding. Benernya dulu pernah ngereview graphic novel Dua Hippo Dinamis dan itu kan sebenarnya juga termasuk non-fiksi, hehehe. Saya merasa perlu mereview buku Draf 1 karangan Winna Efendi, dengan sang editor Christian Simamora yang keduanya adalah sesama penulis Gagas, karena selain bukunya mau dipinjam teman saya merasa perlu berbagi info dan pemikiran tentang buku ini. Membaca sinopsis buku Draf 1, saya langsung menaikkan alis mata. Winna Efendi ga tanggung - tanggung bilang "menulis itu ga gampang!" . Jika pengarang buku serupa lain akan bilang "menulis itu gampang kok, semua orang pasti bisa", Winna berbicara kebalikannya dan menurut saya itu brilliant! Winna ga berusaha ngomong manis, dia berbicara tentang kenyataan secara sederhana. Menulis itu susah, apalagi kalau ga ada komitmen dan disiplin. Amin buat itu :).

Lalu isi buku ini apa? Simpel aja benernya, mulai dari pembahasan dasar tentang perbedaan fiksi dan non fiksi, penjelasan tentang apa itu genre, alur cerita, plot, dialog, pembuatan karakter, dan lain - lain. Lalu ada pembahasan tentang proses penulisan, proses self editing, proses pengiriman naskah, gimana cara menghadapi naskah yang ditolak, gimana juga kalau naskahnya diterima. Tak lupa ada informasi menarik tentang marketing buku yang bisa dilakukan oleh penulis. Semuanya digeber tuntas oleh Winna, tanpa tedeng aling - aling. Cara penyampaian Winna pun sangat enak dibaca. Winna ga menggurui, dia cuma berbagi pengalaman saja. Dan itu membuat tulisan dia masuk ke saya. Saya berulang kali bilang "oh gitu", manggut - manggut, membuat sedikit catatan di otak dan dapat banyak informasi baru. Winna juga tak lupa memberikan banyak contoh, yang kebanyakan diambil dari novel buatannya sendiri. Tapi tak lupa juga dia memberi referensi dari novel lain. Hal ini bikin saya jauh lebih paham dengan apa yang ingin dia sampaikan. Satu lagi yang saya suka adalah pembahasan dia tentang "show, don't tell" dalam penulisan buku. Saya suka kesulitan memahami tentang hal ini. Setelah membaca penjelasan Winna, akhirnya saya ngerti :D. Buku ini juga dihiasi illustrasi - illustrasi yang manis, membuat saya ga bosan bacanya.

Draf 1 jelas akan menjadi buku dalam rak keeper saya. Hahaha, bukan kiper yang penjaga gawang itu, tapi buku yang akan selamanya saya miliki. Ga akan saya kasih ke siapapun dan kalau dipinjem lalu ga dibalik - balikin, ya saya akan marah >:). Walau saya kasih buku ini rating lima mangkuk mie, bukan berarti buku ini ga ada kekurangan. Tetap ada, menurut saya. Pertama, saat pembahasan genre romance. Oke, saya ini fans romance garis keras, dan yang bikin saya malas saat Winna bikin contoh genre romance, kok cuma historical romance ajah? Kan banyak tuh, ada contemporary, romantic suspense, paranormal romance, fantasy romance dan lain - lain. Jujur ini bikin saya sepet, hehehe. Lalu, novel - novel yang dibuat contoh pembahasan disini banyakan novelnya Gagas. Oke, mungkin karena Winna adalah novelis dari Gagas, jadi maklum lah yang dijadikan referensi banyakan novelnya Gagas. Mungkin bisa jadi ajang promosi juga kali ya. Cuma akan lebih bagus kalau novel dari penerbit lain juga bisa dimasukkan contoh, kan juga bisa memperluas jangkauan (duh ga jelas nih maksud saya X) ). Oh, dan lalu ada kalimat yang aneh. Contohnya seperti ini, saat pembahasan pembuatan karakter antagonis :

" Juga, semua novel harus memiliki antagonis. Dalam novel Ai, saya nggak menggunakan karakter antagonis sama sekali. And that's okay."

Apakah ini maksudnya "Tidak semua novel harus memiliki antagonis"?. Selain itu Winna banyak memakai kata - kata dalam bahasa Inggris untuk menekankan maksudnya. Ga ada yang salah dengan itu, cuma lebih baik dia juga menyertakan artinya, terutama untuk quote - quote yang dia sampaikan di buku ini, karena ga semua orang yang baca ini paham sama bahasa Inggris! Okelah, ada Google Translate, ada kamus, ada alphalink, tapi ga semua orang serajin itu :)).

Draf 1 tidak hanya cocok dibaca oleh mereka yang ingin jadi penulis atau penulis-in-waiting (halah!) tapi juga pembaca umum. Mereka - mereka yang punya motto "I'm a reader not writer" juga akan mendapatkan informasi baru dan lebih memperdalam pengetahuan mereka tentang unsur- unsur novel. Hei, buku ini juga bisa membantu kita untuk mereview buku dengan lebih oke. Apalagi kalau kita orang yang memperhatikan plot novel, alurnnya, POV-nya dan karakterisasinya. Terimakasih untuk Winna Efendi yang sudah berbagi ilmunya. Buku ini memang tidak menjamin orang akan jadi penulis sukses, tidak menjamin saya akan jadi penulis nantinya, tapi seengganya ia membuat saya semangat untuk melanjutkan novel - novel  saya yang dulu sempat terbengkalai :).
Rating  :


Selasa, 04 Desember 2012

Guest Post : Kisah si Burung Camar

Postingan kali ini akan sedikit berbeda dengan postingan yang membahas tentang pengarang (atau penerjemah) sebelumnya. Dimana alih - alih saya menginterview mereka, saya meminta tamu kita kali ini, yaitu Nilam Suri untuk menceritakan sebuah cerita di balik karya terbarunya, Camar Biru. Yuk,semuanya, kasih applause buat Nilam dan bersiaplah membaca ceritanya yang tentunya inspiratif :)



Cerita si Burung Camar

Hai hai….


Jadi pada suatu siang, saya mendapat email dari Ren, yang menawarkan saya untuk menulis diblog-nya dan mempromosikan novel baru saya. Tentunya sebagai seorang penulis amatiran yang baru saja berhasil menerbitkan novel pertamanya saya tidak akan menolak kesempatan langka dari Ren ini. Jadi di sinilah saya, beratapkan langit senja, siap menceritakan seulas cerita di balik novel Camar Biru yang berhasil saya tulis tahun lalu.


Sepanjang hidup saya, setelah saya ingat-ingat, saya selalu lebih berhasil menyampaikan maksud saya lewat tulisan. Kata-kata sepertinya berhasil bergerak dengan lebih lincah dan leluasa ketika keluar melalui jari-jari saya dibandingkan dengan lidah. Tapi, saya tidak selalu ingin menjadi seorang penulis. Keinginan ini baru saya rasakan ketika saya duduk di dalam suatu kelas yang dipimpin oleh seorang dosen gaek yang menamai mata kuliah itu sebagai “Penulisan Populer”. Sejak hari itu, saya tahu bahwa apapun yang saya kerjakan nanti, hal itu akan selalu berhubungan dengan tulisan.


Membayangkan saya bisa menulis sebuah novel, dan berhasil MENYELESAIKAN-nya, bagi saya dulu adalah angan kosong. Sesuatu yang selalu saya inginkan, tapi tak akan pernah saya dapatkan. Karena saya sama sekali tidak percaya saya memiliki komitmen untuk melakukannya. Saya selalu berpikir bahwa seandainya saya memang akan menerbitkan buku, buku tersebut adalah Kumpulan Cerpen. Tapi hey, siapa sangka, novel saya sekarang sudah bertengger di toko buku. Kok bisa?


Karena saya saat itu adalah seorang pengangguran yang memiliki waktu terlalu banyak untuk duduk di dalam sebuah kedai kopi yang berhalaman sebentang danau.


Yep. Camar Biru berhasil saya tulis, dan selesaikan, karena saat itu saya baru saja kehilangan pekerjaan saya. Bayangkan saja, tidak memiliki pekerjaan, tidak memiliki pasangan (saat itu), dan tidak memiliki jadwal rutin bertemu teman-teman yang tentunya sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Jadi, apalagi yang bisa saya lakukan selain menulis?


Siapa sangka, kehilangan pekerjaan yang membuat saya menangis tersedu-sedu menjelang lebaran ternyata malah berbuah sebuah novel yang sekarang bertengger dengan manisnya di toko-toko buku.


Menulis Camar Biru bagi saya seperti suatu terapi panjang. Obat penenang untuk diri saya yang rasanya pada saat itu hanya bisa menghasilkan serangkaian kegagalan. Saya sangat menikmati menulisnya. Rasanya seperti melarikan diri. Bersembunyi dan rehat sejenak dari rutinitas kosong yang mengecewakan. Menulis tentang seorang gadis yang ingin menghilang, dan tentang seorang pemuda yang hanya ingin agar gadis itu terus menjadi nyata. Tentang orang-orang yang terlalu menyayangi sehingga menolak bersama. Tentang cinta sempurna yang terkadang hanya ada di kepala.


Saya hanya berharap satu hal. Ketika kalian membaca Camar Biru, saya hanya ingin kalian merasakan rasa jatuh cinta yang sama. Bukan, bukan kepada novel saya. Tapi kepada seseorang yang membuat kalian ingin terus terbangun agar bisa bersamanya.


Jadi selamat membaca, dan tentunya, selamat jatuh cinta.



 -nilam

Terimakasih untuk Nilam yang sudah mau berbagi cerita di balik pembuatan buku debutnya, Camar Biru :D. Semoga saya dan juga pembaca yang membaca kisah Nilam ini makin terpacu buat bikin novel sendiri. Dan tentu saja merasakan cinta sama seperti tokoh - tokoh di novel Camar Biru #edisiromantis ;). Kabar baiknya lagi nih, Nilam juga akan memberikan 2 (dua ) buku Camar Biru pada pengunjung blog Ren's Little Corner!  Bagi yang pengen tahu seperti apa cerita Camar Biru, berikut adalah sinopsis ceritanya :

Aku membutuhkanmu.
Kau terasa tepat untukku. Pelukanmu serasi dengan hangat tubuhku. Dan setiap bagian dari diriku sudah terlalu terbiasa dengan kehadiranmu-dengan suaramu, dengan sentuhanmu, dengan aroma khas tubuhmu. Dengan debaran yang terdengar seperti ketukan bermelodi saat kau menatapku penuh perhatian seperti itu.

Aku membutuhkanmu.
Ya cinta, ya waktumu. Dan kau sudah melihat jujur dan juga munafikku. Bahkan, di saat aku begitu yakin kau akan meninggalkanku, kau hanya menertawakan kecurigaanku dan merangkul bahuku. Sungguh heran, setelah sekian tahun pun, kau masih bertahan di sini, bersamaku.

Aku membutuhkanmu-dan bisa jadi... aku mencintaimu. Tapi, aku belum akan mengakui ini padamu. Aku belum siap meruntuhkan bentengku dan membiarkanmu memiliki hatiku....
Dan syarat mengikuti giveaway ini adalah :

1. Tinggalkan pertanyaan, atau komentar atau kesan kalian setelah membaca kisah di atas, pada Nilam. Ini adalah entri wajib :)
2. Jangan lupa menulis alamat email dan user name kalian jika memakai identitas anonim di kolom komentar.
3. Silakan share kuisnya di sosial media mana saja. Pilihan ini opsional, tidak harus dilakukan :).
4. Berdomisili di Indonesia.

Kuis berhadiah buku Camar Biru ini akan diadakan mulai hari ini dan berakhir pada hari Jumat, 7 Desember 2012 pukul 12:00 malam. Pemenang akan diundi secara random. Terimakasih sekali lagi untuk Nilam atas kunjungannya ke Ren's Little Corner. :D

image source : from Goodreads, courtesy of Nilam Suri.

Senin, 26 November 2012

Review : Bo & Jo - Ketika Suami Berusia Jauh Lebih Muda oleh Mira Rahman

Judul : Bo&Jo - Ketika Suami Berusia Jauh Lebih Muda
Pengarang : Mira Rahman, VBi Djenggotten Penerbit : Sahabat Ufuk
Tebal : 130 halaman
Diterbitkan pertama kali :  2012
Format : Paperback, Graphic Novel
Target : Remaja
Genre : Kontemporer
Bahasa : Indonesia 
Status :Numpang baca :D

Sinopsis  

Sebuah kolaborasi dua orang ilustrator, mengisahkan suka duka dalam pernikahan dengan kondisi suami yang berusia jauh lebih muda. Diinspirasi dan diadaptasi dari sebuah kisah nyata, dikemas dengan cara yang segar, santun dan masih seirama dalam konteks kekinian.

Review


Note : Ini versi lebih upgrade (alias dibagusin lagi :)) ) dari review saya di Goodreads :)

Pas saya nulis review graphic novel ini di hape lewat aplikasi Goodreads di Android (pamer nih :p), dah capek2 nulisnya, eh reviewnya hilang gara2 ditelpon pacar saya si K. Erggggghhhh!!!!! Bete banget pas itu,  rasanya dah kayak mau injak - injak  si dia aja *bercanda :)). Seperti biasa, saya numpang baca ini di Leksika. Waktu itu ada obralan novel banyak dan kebetulan nih buku plastiknya dibukain. Kayaknya kok Si Ren ini hobi banget yah numpang baca disitu? Kayak g ada kerjaan aja :)). Masalahnya bagi saya, kan pas itu lagi nungguin si K. Dan daripada bengong nyariin sepatu atau baju, lebih mendingan kalau baca aja, kan?. Soalnya menurut saya sepatu itu ga bisa dicoba tanpa dibeli lalu dimiliki. Beda sama buku. *ada yang merasa aneh dengan frase ini?*

Bo & Jo adalah edisi mainstream (diterbitkan penerbit besar, setelah sebelumnya beredar secara indie) dari "Married with Brondong" karya illustrator yang sama. Premisnya sederhana, gimana kalau seorang cewek yang sudah umur 30 tahun ke atas (dalam kasus ini 32 tahun) nikah sama cowok yang lebih muda. Ga tanggung - tanggung lho, lebih muda 7 tahun. Disini pengarangnya nyentil banget kebiasaan orang Indonesia. Belum tau A-Znya, belum dijelasin sama si Jo, tokoh utama cewek,  sudah komentar macam - macam. Mulai dari teman - teman Jo yang gaya hidupnya borjuis abis sampai keluarganya sendiri. Ngejleb juga sih pas baca ini, hahahaa. Tapi toh akhirnya Jo pun menikah dengan Bo yang dari Malang, dengan restu kedua orang tua mereka. Asal usul Bo inilah yang membuat saya ngasih 1 bintang plus dari awalnya yang cuma 3, huahahahahahaa X) #ketawasetan

Bo sendiri adalah pemuda 25 tahun yang ceplas-ceplos. Okelah, ga semua orang Malang kayak gitu kok, walau saya akuin saya juga. Bisa lihat dari beberapa review saya disini kan, hehehe.  Bagian yang paling menohok hati sebenarnya adalah saat bab Bo dan Jo membahas masalah keuangan. Teringat dengan keadaan saya ma BF saat ini (edisi curcol ini sebenarnya), dimana walau kami kerja di kantor yang sama, gaji saya jauh lebih gede dari dia. Jujur ada ketidaknyamanan masalah ini. Saya tertegun saat membaca adegan Bo yang bilang "gajiku cuma 2,5 juta" ke Jo, dan dia menyerahkan semua uang itu ke Jo. Dan gaji Jo yang 9 juta itu buat Jo sendiri. Saya langsung "nyesssss" baca ini. Hampir nangis juga. Dan malu. Selama ini saya sering bercanda sama teman kayak gini "yah gaji suami buat istri. gaji istri yah buat kita-kita dong". Tahu sih maksudnya itu hanya bercanda, tapi kok kesannya jadi kayak ga hormat sama suami? Setelah baca bab itu cuma bisa berdoa gini :"Ya Allah, seandainya saya dan BF emang jodoh dan nikah, jangan sampai masalah gaji jadi masalah pelik. Dan semoga saya ga jadi sombong."  Dan semoga juga bisa mencoba hidup sederhana seperti Jo. Amiiin (jadi berdoa disini X) )

Untuk Jo sendiri, entah kenapa saya merasakan dia itu "too good to be true" untuk seorang wanita seumuran dia. Apa karena beberapa orang seumuran Jo yang saya kenal ada yang skeptis sama pernikahan? Banyak yang menganggap karir lebih di atas segalanya daripada pernikahan? Tahu kok setiap orang beda - beda, dan itulah yang membuat saya merasa Jo jadi kayak "perfect" banget. Mungkin saya yang belum dewasa ini melihat kedewasaan Jo jadinya seperti itu :). Tapi salut sama Jo. Ketika dia menjelaskan bahwa dia ga keberatan dengan Bo yang lebih muda, karena bukankah Nabi kita, Muhammad SAW menikah dengan Khadijah yang 15 tahun lebih tua? Banyak kejadian menarik yang terjadi antara Bo dan Jo. Pertengkaran rumah tangga juga ada, lika liku kehidupan mereka setelah menikah dan hubungan dengan keluarga dan orang sekitarnya.

Novel grafis ini seolah ingin mematahkan anggapan bahwa cewek lebih tua nikah dengan cowok lebih muda, karena ga ada pilihan. Oh, dear, sakit banget kalau anggapannya seperti itu! Kalau memang yang cewek nyaman sama si cowok, why not? Ga ada masalah kan sebenarnya. Hanya anggapan orang pada umumnya itu, lebih ideal kalau cowoknya lebih tua karena dianggap sudah mapan dan dewasa. Emang sih dalam kasus beberapa artis seperti si Demi Moore-Aston Kutcher dan yang dari Indo sendiri Yuni Shara-Raffi Ahmad, kayaknya jadi kelihatan kalau hubungan cewek lebih tua-cowok lebih muda itu buruk. Dan pasti deh yang disalahin tuh, biasanya yang cewek! Saya jadi kasihan liat asumsi masyarakat yang seperti itu. Padahal kan bisa aja cowoknya yang ga dewasa. Malah selingkuh sana sini sementara yang ceweknya jadi menderita Iya ga? [-( #malahcurcollagi

Memang tidak ada pernikahan yang sempurna, begitu juga dengan Bo dan Jo. Tapi pernikahan itu yah, kalau emang sudah waktunya dan ketemu orang yang tepat, lalu Tuhan meridhoinya, pasti akan terjadi. Ga peduli sama urusan usia mau beda berapa tahun kek, yang cewek lebih tua kek, atau apalah. Graphic novel ini sangat cocok dibaca oleh remaja, supaya tahu gambaran menikah dan hidup rumah tangga kayak apa. Ga masalah kok remaja baca ini, biar mereka tahu lebih dini dan ga dibuai fantasy bakalan dijemput kesatria pakai kuda putih atau nikah sama bangsawan entah darimana #ups X). Buat yang akan menikah, apalagi yang keadaannya mirip sama si Jo, buku ini bisa banget dijadikan referensi. Banyak banget hal - hal penting yang bisa diambil dari graphic novel ini. Gambarnya juga sederhana dan enak dilihat. Berhubung saya numpang baca buku ini, janji deh saya bakalan beli buat koleksi. Dan nunjukin ke si K, siapa tahu dia jadi terinspirasi, hihihihi ^-^.



Rating Cerita




.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...