Selasa, 13 Oktober 2015

Scene on Three #7: Magic Slays

Selamat pagi dan selamat hari Selasa :D

Sudah lama saya ga ikutan meme Scene on Three yang dihost sama Bacaan B.Zee. Selain suka lupa tanggal, mood blogging yang naik turun ngalahin mood PMS juga ikut berbicara :v. Tapi, pembahasan beberapa hal yang saya alami beberapa ini membuat saya jadi teringat sebuah dialog di buku yang sudah saya baca. Ya, jangan kaget kalau lagi - lagi saya share dialog dari buku karya Ilona Andrews, hehe. Saya merasa, saya harus banget share adegan ini. Karena dialog yang ada di buku Magic Slays, sangat, sangat menggambarkan realita kehidupan saat ini, utamanya secara global dan juga di Indonesia.

Okay, ini agak serius :P. But, hey, yuk mari dicek adegan apa yang saya share di Scene on Three kali ini :):

Kamis, 08 Oktober 2015

Review: Radiance by Grace Draven


Title : Radiance
Author : Grace Draven
Languange : English
Publisher : Grace Draven
Length :  180 pages
Published: June 2013
Format : E-book
Target : Adult

Genre : Fantasy Romance
Series : Wraith Kings #1
Web: Click here
Buy : Kobo ; Smashword

Sinopsis :



~The Prince of No Value~

 Brishen Khaskem, prince of the Kai, has lived content as the nonessential spare heir to a throne secured many times over. A trade and political alliance between the human kingdom of Gaur and the Kai kingdom of Bast-Haradis requires that he marry a Gauri woman to seal the treaty. Always a dutiful son, Brishen agrees to the marriage and discovers his bride is as ugly as he expected and more beautiful than he could have imagined.

~The Noblewoman of No Importance~
 


Ildiko, niece of the Gauri king, has always known her only worth to the royal family lay in a strategic marriage. Resigned to her fate, she is horrified to learn that her intended groom isn’t just a foreign aristocrat but the younger prince of a people neither familiar nor human. Bound to her new husband, Ildiko will leave behind all she’s known to embrace a man shrouded in darkness but with a soul forged by light.

Two people brought together by the trappings of duty and politics will discover they are destined for each other, even as the powers of a hostile kingdom scheme to tear them apart.


 Review


Note: This review is copied from my Goodreads review with some editing. If you find any mistake in grammar and structure, please kindly email me at : sawamura_foxman AT yahoo DOT com , so I can correct it. Thanks! :) .

"What is it, Ildiko?" he asked. What do you see?"

His question acted as a catalyst, breaking a spell that held him beguiled and her enthralled. She open beneath him; not just her body. All of her. He sensed it in every part of him.

She twined her arms around his neck and tilted her head until her lips brushed the corner of his mouth. "My beautiful husband," she said. "I see a radiance."

I just realize when it comes to a book that have so many raving reviews, I always read it too late. I know, I know, but I have my reason. Reading a book that my friends praised over and over will make a high expectation. And if there was a thing that I hate, it's high expectation. Because if I end up dislike the book, it's like my hope was crushed, I don't know what's wrong with me because why my friend love it but I'm not, and my world had ended.

Right, those reasons are exaggerated, lol! Reading a book with a good rating is like how to trust yourself to read it, put aside your expectation and it's not easy. But, in the end you will be glad that you give it a chance to read, even the result might be opposite.

Enough with the chit chat anyway! Let's go to the review :)

Senin, 05 Oktober 2015

Review Film: The Martian

Judul : The Martian
Adaptasi dari : The Martian karya Andy Weir
Durasi film : 141 menit
Pemain :Matt Damon, Jessica Chastain, Kate Mara, Sean Bean, Chiwetel Eijofor, Michael Pena, Sebastian Stan, Kristen Wiig
Sutradara : Ridley Scott
Genre : Science Fiction
Rating : Dewasa


Review:


"In your face, Neil Armstrong!"


Dari semua genre film yang saya tonton, selain romcom/flick chick, science fiction film adalah film yang jarang banget saya tonton. Pertama, saya males kalau modelnya seperti model - model Alien, karena dikejar - kejar predator itu bikin parno. Kedua, kadang terlalu scientific, yang ujung- ujungnya saya malah ngantuk nontonnya. Mungkin film space yang saya tonton adalah Star Trek dan Star Wars, tapi keduanya juga bukan murni sci-fi. Lebih ke space opera. Sci-fi terakhir yang saya tonton adalah Gravity yang lumayan bikin depresi. Dan belum, saya belum nonton Interstellar, meskipun Nolan salah satu sutradara fave saya, tapi alasan belum nonton sudah saya kemukakan sebelumnya.

But, the hype to watch The Martian is too much, I simply must go to the cinema!

Halah :P

Eniwei, salah satu alasan saya nonton The Martian, karena ini juga diangkat dari buku The Martian karya Andy Weir. Jadi bisa sekalian saya review di blog ini untuk filmnya XD. Sesuai dengan kebijakan saya yaitu, mending nonton filmnya dulu baru ntar baca bukunya, saya juga belum menyentuh buku The Martian sama sekali. Hypenya sebenarnya sudah sangat terasa sejak tahun lalu, terutama saat The Martian menjadi best book Goodreads Choice 2014 untuk kategori science fiction. Yang kenal saya, pasti tahu kalau saya males banget baca buku dengan hype tinggi. Tapi, saat satu persatu teman yang saya percaya penilaiannya selama ini dalam mereview buku juga menyukai The Martian...saya pun tidak ragu untuk hari Sabtu kemaren bela - belain ke Blitz Grand Indonesia untuk menonton film ini. Lucunya, saat nonton, sebelah kiri saya adalah keluarga yang terdiri dari emak - emak gaoel, suaminya dan anaknya plus cukup keras juga ngomongnya. Terus di sebelah kanan adalah pasangan orang pacaran. Saya pun ngebatin, awas nih pada rame pas filmnya dimulai --". Parahnya, sebelum film dimulai ada iklan si "sesuatu" yang bikin semua penghuni bioskop ketawa ga karuan. Yah, lumayan buat hiburan :)). Tirai bioskop pun dibuka, film mulai bergulir dan....

I hereby declared that The Martian is awesoooomeeeeee!!!! *o*

Senin, 21 September 2015

Review: The After Dinner Mysteries oleh Tokuya Higashigawa


Judul: The After Dinner Mysteries
Judul Asli: Nazotoki wa Dinner no Ato de
Pengarang: Tokuya Higashigawa
Penerjemah:Khairun Nisak
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Haru

Tebal : 291 halaman
Diterbitkan pertama kali :  Maret 2014

Format : Paperback
Target : Remaja

Genre : Misteri, Humor
Series: After Dinner Mysteries, buku ke-1
Beli di : Bukukita ; Bukabuku; Owl Bookstore


Sinopsis :
“Menyelesaikan kasus sepele seperti ini saja tidak bisa, apakah Tuan Putri sebenarnya bego?”

Kenapa ada mayat bersepatu bot di kamar yang berlantai kayu?
Kenapa ada racun dalam botol anggur yang masih tertutup rapat?
Kenapa ada mayat yang tinggi badannya bisa menyusut?

Hosho Reiko adalah putri tunggal pemilik Grup Perusahaan Hosho yang kaya raya. Gadis ini harus menyelesaikan berbagai kasus pembunuhan yang misterius itu bersama atasannya, Komandan Kazamatsuri. Sialnya, Komandan Kazamatsuri ini tidak bisa diandalkan!

Reiko yang belum lama menjadi penyelidik di Kepolisian Kunitachi akhirnya hanya bisa mengeluh pada pelayannya, Kageyama.

Namun, pelayan tampan ini justru mengejeknya habis-habisan. Tapi, mau bagaimana lagi…. Hanya Kageyama yang bisa memecahkan misteri kasus-kasus pembunuhan itu dengan analisis jitunya.

Nikmati tingkah konyol mereka dalam tujuh cerpen komedi detektif ini!


 Review

"Maaf, Tuan Putri.... Kalau Anda tidak tahu kebenaran kasus sepele seperti ini, apakah Tuan Putri sebenarnya bego?"
-Kageyama-

Pernahkan asisten rumah tangga kalian (atau pembantu) atau dalam hal ini butler, mengatakan hal seperti itu pada kalian? Untuk Hosho Reiko, sayangnya, iya. Dan ini reaksinya


Ok, tidak apa - apa, aku tenang... Reiko menarik napas dalam - dalam sebentar, lalu kembali menghadap ke arah Kageyama, dan membuka mulut dengan hati - hati.
"Kupecat kau! Harus dipecat! Pokoknya pecat! Pecat pecat pecat pecat pecat! Pecat pecat pecat pecat pecat!!


Lebay ya :)), tapi bisa diterima sih. Nah, sebelumnya mari teman - teman pengunjung blog Ren's Little Corner saya ajak berflashback ria sedikit.

Saya membeli buku The After Dinner Mysteries (TADM) ini setahun yang lalu (kebiasaan nimbun :v), karena, alasan pertama adalah saya suka covernya yang bergaya manga. Sebelum menjadi avid reader dalam artian baca buku fiksi, saya adalah penggemar manga kelas wahid. Salah satu genre manga kesukaan saya adalah misteri dan saya melahap lembar - demi lembar Detektif Conan, Kindaichi, C.M.B..pokoknya yang berbau kasus dan detektif. Tapi di sisi lain, pengalaman saya dengan novel karya orang Jepang tidak banyak, bahkan bisa dibilang zero. Memang sih, saya ada Tokyo Zodiac Murder, pinjaman dari Tantri, cuma mungkin akan dibaca kalau Tantri sudah menagih saya aja (semoga Tantri tidak baca blog post ini ya #uhuk). Jadi, tidak butuh waktu lama bagi saya untuk membeli TADM karena faktor cover bagus dan genre misteri. Walau nyatanya, butuh waktu lama untuk membuka halamannya :v.

Rabu, 16 September 2015

Review: Silent in the Grave oleh Deanna Raybourn


Judul: Silent in the Grave
Judul Terjemahan: Rahasia Terpendam
Pengarang: Deanna Raybourn
Penerjemah:Lily Mayanti Boynton
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 493 halaman
Diterbitkan pertama kali :  2015

Format : Paperback
Target : Dewasa

Genre : Historical Romance, Misteri
Series: Lady Julia Grey, buku ke-1
Web Pengarang: Click here

Beli di : Bukukita;  Bukabuku


Sinopsis :
Sir Edward Grey mendapat surat ancaman sesaat sebelum ia ambruk dan meninggal di kediamannya di London. Saat itu terjadi Julia, istrinya, dan para tamu undangan yang hadir di meja makan menjadi saksi.

Semua mengira Edward meninggal karena sebab alami. Tetapi, Nicholas Brisbane datang menemui Julia dan mengatakan bahwa Edward meninggal karena dibunuh.

Bertekad menyelidiki kasus pembunuhan Edward, Julia mengabaikan peringatan Brisbane bahwa usahanya akan sia-sia. Perlahan ia menemukan banyak petunjuk yang membawanya pada kenyataan pahit, dan membawa si pembunuh semakin dekat dengannya.


 Review

Sangat tidak tepat jika mengatakan aku berkenalan dengan Nicholas Brisbane di samping jenazah suamiku. Perlu kutegaskan, saat itu Edward masih meregang nyawa di lantai.


Apa yang membuat saya yang sepertinya makin jarang membaca historical romance ini untuk kemudian membeli buku pertama seri Lady Julia Grey, Silent in the Grave? Bahkan ngga butuh waktu lama untuk mengeluarkannya dari daftar timbunan padahal banyak buku - buku lain yang menjerit - jerit minta dibaca. The answer is simple. Misteri. 

Berlatar belakang Inggris era pemerintahan Ratu Victoria (atau yang lebih dikenal dengan Victorian Era), Silent in the Grave sudah dibuka dengan pembukaan yang cukup mencekam dimana Lady Julia Grey mendapati suaminya, Sir Edward Grey terkena serangan jantung saat santapan makan malam di rumah mereka, Grey House. Layaknya janda yang berduka, maka Julia pun memasuki masa berkabung selama setahun yang membosankan sembari menerima ucapan belasungkawa dari kerabat dan bangsawan lain yang disampaikan dengan setengah hati. Hidup Julia yang cenderung konstan berubah saat detektif partikelir bernama Nicholas Brisbane mengatakan kalau Edward bukan mati karena sebab alami, namun dibunuh! Nicholas yang ternyata disewa oleh Edward sendiri ini mengatakan jika sebelum tewas, Edward menerima banyak surat ancaman dan meminta Nicholas untuk menyelidiki siapa pelakunya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...