Rabu, 15 Januari 2020

Ren's Memorable Books in 2019 and 2020 Bookish Resolution

Hallooo ^_^

Walaupun sudah semakin jarang ngeblog, sayang rasanya kalau saya tidak posting buku - buku favorit saya pada tahun 2019. Saya juga sadar kalau postingan ini ditulis justru 15 hari setelah tahun baru. Tapi memang awal 2020 ini terasa berat, tidak hanya buat saya, tapi juga untuk banyak orang ya. Mulai dari bencana banjir di Jabodetabek pas pada tanggal 1, dimana rumah saya ga kena banjir sih, tapi akses keluar masuk perumahan semuanya kena dampak banjir. Pun, listrik pun dimatikan saat itu, jadi saya mau nyalain laptop pun tidak bisa (apalagi hape saya mati total, hahaha). Setelahnya saya mesti menulis laporan tutup tahun, audit dll. Fyuh, belum apa - apa sudah banyak halangan untuk ngeblog. 

Yang paling berat, Jum'at minggu lalu, saya kehilangan teman kantor saya untuk selama - lamanya. Rasanya sampai sekarang saya masih tidak percaya :(. Saya teringat waktu saya dan almarhumah duduk bersebelahan dan sering bercanda. Teringat waktu dia tanya - tanya buku apa yang bagus. Saya juga masih ingat sempat chat via WA 3 hari sebelumnya dan waktu itu saya sama sekali tidak ada firasat apa - apa kalau teman saya akan meninggal. Karena almarhumah teman saya ini sedang cuti melahirkan, saya sempat bertanya kapan dia akan melahirkan dan menunggu kabar baik darinya. Saya memang merasa iman saya semakin berkurang dari hari ke hari untuk sebuah alasan personal, tapi seengganya saya yakin teman saya saat ini sudah tenang and she will go to Heaven :').

Anyway...back to the topic. Saya memutuskan menulis postingan ini karena saya akhirnya bisa menyelesaikan Goodreads Reading Challenge lagi setelah gagal total pada tahun 2018 ^^;. Saya tentunya pengen bisa menulis statistic buku - buku yang saya baca seperti pada postingan tahun 2014 yang super niat itu. Namun, karena buku yang saya baca juga ga sampai ratusan dan kebanyakan juga re-read, akhirnya saya urungkan. Saya memutuskan untuk menulis postingan yang biasa - biasa saja, hehehehe.

Seperti biasanya, tiap tahun Goodreads selalu merilis fitur books in year, dan ini books in year saya di tahun 2019:


Sama seperti tahun - tahun sebelumnya, saya sebenarnya tahun ini banyakan re-read, apalagi untuk serial yang buku - buku awalnya saya baca sudah lama sekali. Seperti buku pertama seri Guild Hunter karya Nalini Singh, yang saya baca tahun 2011an. Itu seperti...8 tahun yang lalu, hahaha. Tidak heran kalau saya jadi banyak yang lupa dengan ceritanya :D. Sebenarnya pun, walau di Goodreads dibilang saya baca 50 buku, itu karena saya hanya memasukkan vol 35 dan vol Gaiden untuk serial manga 7 Seeds! Jadi, jumlah buku yang saya baca bukan 50, tapi 83. Well, saya tahu ada beberapa pendapat yang bilang komik bukan buku, tapi saya sih bodoh amat :P. Salah satu alasan kenapa saya makin dikit bacanya di tahun 2019 pun -selain alasan malas, ga mood, dan banyak kerjaan- adalah saya lebih banyak baca manga genre smut (alias erotic manga :)) ) di website Renta! Sungguh website ini adalah kiriman dari surga buat penggemar smut manga seperti saya, hahaha. Suatu saat saya akan coba ulas tentang Renta! ini deh. Walau agak deg - degan juga ntar takut kalau endingnya kena blokir, huhuhuw :P.

Terhitung di tahun 2019, saya banyaka re-read dan binge read serial paranormal romance dan steampunk romance, dua genre favorit saya. Serial yang saya baca antara lain adalah:
London Steampunk & London Steampunk: Blueblood Conspiracy - Bec McMaster
Moonshadow Trilogy - Thea Harrison

Demonica & Demonica Underworld - Larissa Ione

Guild Hunter - Nalini Singh

Saya bisa bilang kalau pengalaman baca saya di tahun 2019 sangat menyenangkan. Saya juga mendapati kalau binge reading itu lebih sesuai untuk saya yang akhir - akhir ini suka gampang lupa cerita yang dibaca. Re-read membuat saya ingat kenapa saya menyukai buku judul ini dan itu, dan binge read bikin saya lebih bisa menikmati cerita secara keseluruhan. Walaupun begitu, selain binge reading serial, saya juga baca beberapa judul yang stand alone. Saya pun saat ini jadi banyak baca buku - buku tentang keuangan. Karena saya sadar, kalau mau hobi beli buku saya berjalan lancar, maka pendapatan juga harus lancar dong :)).

Untuk buku - buku yang memorable bagi saya, here it is!:



Thea Harrison adalah pengarang favorit saya, dan walau sekarang sudah jadi penulis self-pub, kualitas tulisannya tetap terjaga. Saya menyukai Spellbinder, selain karena Harrison memberikan twist yang menarik pada legenda Arthurian yang udah jamak dipakai, saya suka momen - momen romantis yang ada di buku ini.


Steampunk itu genre yang hit and miss buat saya, tapi serial London Steampunk ini ga terlalu banyak element steampunknya, jadi saya lebih bisa menikmati. Saya suka semua buku dalam seri London Steampunk dan spin offnya, Blueblood Conspiracy, walau tentu ada beberapa judul yang bagi saya biasa saja. Favorit saya adalah My Lady Quicksilver dan To Catch a Rogue. Yang pertama, karena troupe enemy to lover itu favorite saya banget dan karena Ami pernah bilang kalau adegan fave dia di buku itu adalah adegan "button", yang pas saya baca, saya jadi "ooooh...." :)). Sementara kalau To Catch a Rogue, karena heronya itu tipikal beta hero super sweet. Beginilah kalau kebanyakan baca yang heronya model2 bossy, hero model cinnamon roll itu seperti angin segar bagi saya, hehe.
Saya tahu kalau Tokyo Zodiac Murder sudah diterbitkan terjemahannya di tahun 2012 dan saya pinjem buku ini dari Tantri pun sudah lama. Karena saya merasa punya utang buat balikin, akhirnya saya baca juga. Tokyo Zodiac Murder mengingatkan saya akan komik Kindaichi, terutama dengan pembunuhan ruang tertutup dan kasus yang (awalnya) cukup kompleks. Untuk novel yang awalnya ditulis tahun 80an, tentu saja Tokyo Zodiac Murder akan terasa sangat "jadul", pun kasusnya ga akan mungkin bisa dieksekusi di masa sekarang. Tapi justru disitulah pesonanya.


Saya ga bisa buat ga masukin serial komik 7 Seeds karya Yumi Tamura, karena plotnya yang kompleks dan karakterisasinya yang mendalam. Yumi Tamura memang seolah ingin menceritakan bagaimana manusia bertindak pada saat - saat kritis, terutama saat dunia berakhir, like literally kiamat. Dunia 7 Seeds memang kembali ke jaman purba setelah ditabrak meteor, dan karakter - karakternya berusaha bertahan hidup dengan caranya masing - masing. Tidak ada yang benar - benar hitam dan putih di 7 Seeds, pembaca mau ga mau bakal gregetan saat membaca tiap lembarnya. Sayang sekali Elex tidak melanjutkan terjemahannya, dan berhenti di vol 26. Jadi ya, mau ga mau saya baca versi scanlationnya yang ternyata sudah terbit lengkap, plus 1 vol tambahan.


Saya paling suka saat pengarang itu mau mengambil risiko dan memberikan karakter di novelnya sebuah tantangan atau perubahan nasib yang cukup fundamental. Larissa Ione juga salah satu pengarang fave saya dan saya masih inget dulu saya cekikikan dengan kenalan di forum buku saat membahas buku beliau yang cukup "hot". Reaper ini seperti titik kulminasi untuk semua serial Demonica yang Ione tulis dan saya ga sabar buat baca kelanjutan kisahnya. Saya sih rekomen untuk mulai membaca buku Pleasure Unbound, karena meskipun kontennya emang hot banget, plot ceritanya sendiri sangat menarik untuk diikuti.


Setiap tahun, setiap ada buku terbaru dari Guild Hunter karya Nalini Singh rilis, saya selalu baca cepat setelah bukunya sampai. Sayangnya, saat saya tahu kalau buku Archangel's Prophecy endingnya cukup gantung dan saya tuh paling males sama ending ngegantung, saya menahan untuk membaca Prophecy dan menunggu sampai lanjutannya Archangel's War rilis. Tapi, ternyata saya juga lupa sama cerita di buku - buku awal, hahaha. Maka di akhir tahun 2019 kemaren, saya memang melakukan re-read dan binge read serial Guild Hunter. Pengalaman ini bikin saya jadi makin jatuh cinta lagi sama dunia Guild Hunter yang dibuat Singh. Apalagi ternyata walau endingnya cukup ngegantung, Archangel's Prophecy jadi favorit saya. Bahkan buku selanjutnya, Archangel's War saya baca berkali - kali sampai bukunya agak lecek padahal baru juga beli ^^;. Ga berlebihan rasanya kalau menurut saya, Archangel's Prophecy itu berasa Infinity War, sementara Archangel's War adalah Endgame. Iya, ini referensi MCU, tapi itulah yang saya rasakan setelah membaca dua buku itu. Rasa puas yang tidak bisa digambarkan XD.

Bagaimana dengan blogging di tahun 2019?

Well..tidak terlalu menggembirakan karena nyatanya saya masih belum mood juga ngeblog (tapi julid di Twitternya jalan terus). Namun, setidaknya saya menulis dua postingan review di blog dan itu bagi saya sudah cukup bagus. Saya juga tidak akan berjanji apakah di tahun 2020 akan lebih aktif ngeblog. Karena ya..masalah mood lagi, hahaha. 

Resolusi baca buku di tahun 2020?



Saya sudah set reading challenge di Goodreads dan tetap komit di angka 50. Walaupun begitu sampai hari ini saya juga belum baca apa - apa, hahaha (iya, tolong abaikan "1 book behind schedule" itu :P). Tapi, setidaknya saya tetap menjalankan Project Baca Buku Cetak yang sudah saya buat dari sekian tahun dan akan tetap jalan sampai saya menghabiskan timbunan saya *which is...infinite*. Oh ya, tahun ini saya memutuskan untuk ikutan reading challenge hore - horenya WAG Joglosemar. Bagi yang berminat ikutan RC yang tidak terlalu mengintimidasi dan tidak perlu review juga ini, bisa cek banner ini yah:


Di samping reading challenge Goodreads, Project Baca Buku Cetak dan RC Joglosemar, saya setidaknya punya beberapa resolusi baca yaitu:
- Minimal selesai baca semua buku Lord of the Rings! Come on, saya tuh khatam berkali - kali nonton filmnya, bahkan survive saat baca The Silmarillion. Kenapa bisa - bisanya saya belum baca LOTR sampai sekarang sih?
- Minimal mulai baca buku The Way of Kingsnya Brandon Sanderson. 1200an halaman buku..here I come!!
- Binge reading semua buku Kate Danielsnya Ilona Andrews. Mengingat serialnya sudah tamat, jadi ini waktu yang tepat untuk re-read buku 1-4 dan kemudian binge reading sisanya.
- Binge reading semua bukunya Jim Butcher, mulai dari seri Harry Dresdennya. Sekali - sekali saya pengen baca buku yang murni urban fantasy dengan sedikit romance.
- Menghabiskan timbunan (ini sih setiap tahun juga seperti ini deh ya resolusinya :)) )

Apakah bisa terlaksana? Semoga saja bisa. I mean, tahun kemaren pun saya bisa komit baca 50 buku (+ 33 vol komik), jadi semoga tahun ini juga syukur - syukur saya bisa baca 50 judul buku dan kalau bisa lebih.

Selamat tahun baru 2020 teman - teman pembaca blog Ren's Little Corner. Saya tahu awal tahun ini dimulai dengan cukup berat, tapi saya juga berharap semoga buku - buku yang saya baca tahun ini akan bikin saya senang dan mungkin...mungkin bikin rajin ngeblog lagi :).

Selasa, 01 Oktober 2019

Review: Stardust oleh Neil Gaiman

Judul: Stardust
Judul Terjemahan: Serbuk Bintang
Pengarang: Neil Gaiman
Penerjemah: Femmy Syahrani
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 256 halaman
Diterbitkan pertama kali : Februari 2007

Format : Paperback
Target Pembaca : Dewasa

Genre : Fantasy


Sinopsis :

Ini dongeng untuk orang dewasa. Alkisah, di padang-padang rumput Inggris yang tenang, lama berselang, ada sebuah desa kecil yang selama 600 tahun berdiri di atas tonjolan batu granit. Di sebelah timur desa itu ada tembok batu yang tinggi. Itu sebabnya desa itu dinamai desa Tembok. Di desa itu, pemuda Tristran Thorn jatuh cinta pada si cantik Victoria Forester. Dan di sini pula, pada suatu senja bulan Oktober yang dingin, Tristran membuat janji pada si gadis. Janji gegabah yang membawanya berkelana ke negeri di balik tembok, menyeberang padang rumput, masuk ke Negeri Peri. Dan di sana dimulailah petualangan paling mendebarkan dalam hidupnya.

 Review

Dua hari berturut - turut ngeblog..apakah ini pertanda Ren bakal rajin ngeblog? Hmm...saya sih ga mau janji muluk - muluk haha, dan akan tetap ngeblog when the mood strikes atau ada buku yang memang bisa ditulis reviewnya dengan cukup oke. Kalau ga ada..ya balik hibernasi lagi XD. Oke, cukup bercandanya. Sama seperti Tokyo Zodiac Murder, saya pun baca Stardust karena dulu pinjem bukunya punya teman saya, Iestea. Tidak enak hati karena sudah pinjam sampai bertahun - tahun, mau tidak mau dibaca juga. Padahal saya pinjam Stardust barengan Good Omens, tapi malah Good Omensnya sudah dibaca sejak lama. Entah kenapa tidak baca Stardust saat itu. Mungkin karena bagi saya ending Good Omens agak "kentang"...dan ternyata Stardust ini juga rada "kentang" bagian akhirnya, hehe.

Dari semua review teman di Goodreads yang saya baca, nyaris semuanya membandingkan dengan versi filmnya. Hal ini wajar, karena versi terjemahannya sendiri juga hampir berbarengan terbitnya dengan jadwal rilis filmnya. Sama - sama tahun 2007 (wow, 12 tahun yang lalu! Dan pemeran Yvaine, Claire Danes masih awet cantiknya sampai sekarang, lol). Rata - rata pun sudah menonton filmnya dulu, dimana menurut saya ternyata beda buku sama filmnya BANYAK banget. Jadi review ini lebih ke perbandingan buku dan film. Expect spoiler if you not read the book yet or watch the movie (tapi filmnya mah sering diputer lho, hahaha. Plus terjemahannya udah cetul)
 
Again, fair warning...review ini akan full spoiler. Jadi read at your own risk ya :)

Senin, 30 September 2019

Review: The Tokyo Zodiac Murder oleh Souji Shimada

Judul: The Tokyo Zodiac Murder
Judul Terjemahan: Pembunuhan Zodiak Tokyo
Pengarang: Souji Shimada
Penerjemah: Barokah Ruziati
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 360 halaman
Diterbitkan pertama kali : Desember 2012

Format : Paperback
Target Pembaca : Dewasa

Genre : Misteri, Thriller


Sinopsis :

Pada suatu malam bersalju tahun 1936, seorang seniman dipukuli hingga tewas di balik pintu studionya yang terkunci di Tokyo. Polisi menemukan surat wasiat aneh yang memaparkan rencananya untuk menciptakan Azoth—sang wanita sempurna—dari potongan-potongan tubuh para wanita muda kerabatnya. Tak lama sesudah itu, putri tertuanya dibunuh. Lalu putri-putrinya yang lain serta keponakan-keponakan perempuannya tiba-tiba menghilang. Satu per satu mayat mereka yang termutilasi ditemukan, semua dikubur sesuai dengan prinsip astrologis yang diuraikan sang seniman.

Pembantaian misterius itu mengguncang Jepang, menyibukkan pihak berwenang dan para detektif amatir, namun tirai misteri tetap tak terpecahkan selama lebih dari 40 tahun. Lalu pada suatu hari di tahun 1979, sebuah dokumen diserahkan kepada Kiyoshi Mitarai—astrolog, peramal nasib, dan detektif eksentrik. Dengan didampingi Dr. Watson versinya sendiri—ilustrator dan penggemar kisah detektif, Kazumi Ishioka—dia mulai melacak jejak pelaku Pembunuhan Zodiak Tokyo serta pencipta Azoth yang bagaikan lenyap ditelan bumi.

Kisah menarik tentang sulap dan ilusi karya salah satu pencerita misteri terkemuka di Jepang ini disusun seperti tragedi panggung yang megah. Penulis melemparkan tantangan kepada pembaca untuk membongkar misteri sebelum tirai ditutup.

 Review

Jadi...setelah nyaris dua tahun saya hiatus....hey, I'm back (for now). Do you miss me, dear my blog reader? (hahaha, pede XD).

Terakhir saya mereview adalah bulan Maret 2017, dan yang menarik ternyata buku terakhir yang saya review di blog adalah Year of the Hyenas (Tahun Anjing Hiena) yang bergenre misteri. Suatu kebetulan kah kalau saya hari ini mereview The Tokyo Zodiac Murder (Pembunuhan Zodiak Tokyo)? Hmm..sebenarnya buku ini dibaca karena mau saya balikin ke Tantri setelah bertahun - tahun saya pinjam, hahaha. Bukunya bahkan sudah menguning di beberapa tempat. Saya jadi ga enak hati sama Tantri, walau yang bersangkutan saat saya WApri sih bilang gapapa. Maaf ya Tan :'(. Selama hiatus ngeblog, saya bukannya ga baca buku sama sekali lho. Masih, masih baca. Cuma saya banyakan review di Goodreads dengan bahasa Inggris (yang tentu masih jauh dari sempurna). Tapi, saat kemaren bertegur sapa dengan Rahib Tanzil di grup WA BBI (yang sekarang juga mati suri, sama seperti BBI sendiri), saya agak terharu dengan dukungan Rahib yang walau tahu selera saya cukup "aneh", dia tetap menyemangati agar menulis reviewnya di blog. Terimakasih banyak ya Rahib!

Well...intermezzo done, jadi ini sedikit kesan saya setelah membaca Tokyo Zodiac Murder


Jumat, 21 Juni 2019

Pemenang New Author Reading Challenge (and nope...I'm still on hiatus, lol!)


*take a peek...*

Hallo, selamat pagi/siang/sore/malam (tergantung kapan kamu baca blog post ini, lol) semuanya. Dilihat - lihat ternyata postingan terakhir saya di awal Januari 2018 ya, hahaha. Anyway, I want to make some confessions. Jadi, masih inget kan kalau saya pernah ngadain reading challenge new author, yang walau cukup sukses dan berjalan 3 tahun, akhirnya saya tiadakan karena kesibukan dan juga mood blogging yang makin turun. Saya bener - bener minta maaf yang setulus - tulusnya karena butuh 3,5 tahun lebih buat ngumumin pemenangnya ;__;. Apalagi banyak teman - teman yang ikutan NARC ini juga beberapa saya kenal dan kondisi blognya mungkin hampir sama kayak saya. Udah ga serajin dulu, atau ya ganti platform. How time flies so fast and how many things had changed! Saya jadi kangen masa - masa rajin blogging dan blogwalking dulu, tapi ya life goes on.

Nah, enough ramblings, saya akan umumkan para blogger/pembaca yang beruntung mendapatkan hadiah berupa buku dari saya. Mengingat inflasi dan harga buku naik, maka nominal hadiahnya juga saya naikkan dari nominal semula XD.  Without further ado, cekidot!:

Pemenang Kategori Update Progress Bulanan Periode Sep-Des 2015 (nominal hadiah Rp 100000/orang):

Amanda (mndshl.wordpress.com)
Yuki (yukiyuchan.blogspot.com)
Ariansyah ABO (ariansyahabo.blogspot.com)
Afifah (imaginarybookcorner.blogspot.com)
Jiah (jeru-ji.blogspot.com)
Ira (irasbooks.blogspot.com)


Pemenang Kategori Maniac Level (nominal hadiah Rp 215000):
 
Desty (www.destybacabuku.com)
 
 

Pemenang Kategori Khusus (nominal hadiah Rp 125000/orang):
 
 Ira (irabooklover.wordpress.com)
Jun (feedmebook.blogspot.com)
Dian Putu (dianputu26.blogspot.com)
Orinthia (orinthiaandbooks.blogspot.com)
Cindy (readbetweenpages.blogspot.com)
Sabrina (sabrinazheng.blogspot.com)
Rizky M (www.rizkymirgawati.com)
 

Pemenang Kategori Pembaca Terbanyak (nominal hadiah Rp 300000):
 
 Indah Treez (threezstacks.blogspot.com)

SELAMAT!! Saya akan mengubungi via email/twitter/WA, dan dibalas ya gaes XD. 
 
Apakah kedepannya Ren masih tetep hiatus ngeblog? Kayaknya sih....masih hahaha XD
 
Terus apa bakal ada giveaway dll? Hmm...saya ga mau janjiin, walau sebenarnya saya emang udah decluttering banyak buku pasca pindahan ke Depok, tapi saya agak bingung mau ngebagi di blog atau Twitter atau FB atau malah di grup WA, lol. Tapi yang jelas buku - buku itu bakal saya kasihkan karena ya lemari saya udah ga cukup. 
 
Akhir kata, maaf karena kelamaan ngumumin dan makasih banyak buat teman - teman yang udah ikutan RC New Author. Bagi yang belum beruntung, semoga ntar suatu saat dapat yang lebih baik lagi dan selamat buat yang udah menang, saya tunggu balasannya ya :D. 

Selasa, 02 Januari 2018

Ren's Memorable Books in 2017 and 2018 Wish

Well...hello there.

Sedikit awkward rasanya mulai blogging lagi, apalagi terakhir saya ngeblog di Ren's Little Corner adalah postingan yang isinya tentang saya hiatus (Hiatus for Now). Tahun 2017 memang rasanya kayak permen nano - nano buat saya. Aka...ga jelas, lol! Ada masa - masa naik turun, masa ga jelas, masa yang bikin saya merasa depresi (bisa dibaca di postingan ini). Saya mengakui bahwa fase hiatus ini emang bener - bener saya hiatus, dalam artian bahkan saat momen penting bagi saya yaitu ultah saya sendiri dan anniversary blog ini, saya sama sekali TIDAK posting apapun. 

But, old habit die hard, dan rasanya tidak lengkap jika saya tidak menutup akhir tahun (walau ya saya tahu postingan ini sangat telat karena pas liburan tahun baru kemaren saya malas buka laptop, hehehe) dan membukanya kembali di awal tahun 2018. Walau resolusi pribadi saya tak pernah berubah (dalam artian selama bertahun - tahun selalu menuliskan "ingin berat badan berkurang minimal 5 kg:))"), saya berharap resolusi blogging di tahun 2018, lebih baik dari tahun 2017. Hehe, don't we all? Moga - moga ga jadi wacana semata ya :P *famous last words*

Saya akan memulai postingan ini dengan pencapaian baca selama tahun 2017. Berbeda dengan minat blogging, minat baca saya syukurlah masih baik. Saya dengan bangga menyatakan kalau saya sukses menamatkan Goodreads Reading Challenge!


Yha..cuma 50 buku emang dan ga semuanya full buku, ada graphic novel, bahkan novelette. Tapi, hey, it's still an achievement. Paling engga saya bisa komit dengan tantangan baca sejak awal. Tidak mengurangi sedikit pun dan tidak menambah juga endingnya (karena waktunya mepet). Goodreads sendiri merangkum statistik baca saya pada tahun 2017 seperti ini:

 

The good news...buku yang baca tahun 2017 LEBIH banyak daripada tahun 2016. Lucunya, jumlah halamannya nambahnya ga terlalu banyak. Saya sendiri lebih banyak re-read di tahun 2017, sebuah pengalaman baca yang mengasyikkan dan bikin saya sadar dengan semakin bertambahnya usia, banyak buku dari serial yang saya ikuti saya sudah lupa ceritanya :P. Asyiknya re-read ini, saya jadi dapat pandangan baru dan seringnya pengetahuan baru karena mungkin saat awal - awal dulu saya bacanya cepet banget. Ada juga sih yang bikin saya ngebatin "kok dulu ngeratenya tinggi bener??"

Nah sekarang ini beberapa buku yang jadi buku - buku paling memorable bagi saya:


Ilona Andrews did it again! Trilogy Hidden Legacy bener - bener mengukuhkan posisi mereka sebagai penulis genre urban fantasy paling ngehits. Walau Hidden Legacy lebih ke paranormal romance dan trope romancenya emang banyak banget (cowo alpha billionaire, a nobody heroine), bukan Ilona Andrews namanya kalau ga bisa bikin trope yang basi jadi asyik lagi. Saya ga akan pernah lelah buat merekomendasikan mereka, utamanya kalau kamu suka buku fantasy dengan tokoh utama cewe yang keren.


Girl in the Dark adalah novel dengan twist paling ngehe yang pernah saya baca. Ga butuh waktu lama buat saya untuk koleksi karya Akiyoshi sensei yang lain (walau bacanya ya nanti2 lagi :P)


Siapa yang menyangka saya bakal suka Crazy Rich Asians. Walau saya tidak rate tinggi, tapi buku ini jelas memorable buat saya. Kegilaan hidup para orang kaya dan juga pengenalan yang lebih mendalam terhadap kultur orang - orang keturunan China, yang surprisely, mirip - mirip sama orang Indo. Versi filmnya akan tayang tahun ini, tapi saya ga akan pasang ekspektasi tinggi deh.


Sebagai installment terakhir salah satu seri favorit saya yaitu Elder Races, Thea Harrison bener - bener total di Shadow's End. Buku pendahulunya, yaitu Midnight's Kiss dan Kinked juga saya suka banget. Serial ini patut diikuti lho kalau kamu fans genre paranormal romance. Saya tahu temanya rada sensitif, karena ada unsur "cheating", tapi unsur itu dihandle dengan sangat baik kok. Saya merasa ini salah satu buku paling romantis yang saya baca tahun ini 


Tahun 2017 pun masih didominasi oleh genre fantasy dan paranormal romance, walau saya mendapat kejutan yang manis di genre misteri. Saya mengakhiri tahun ini dengan membaca Murder of the Orient Express, yang sayangnya karena saya udah nonton versi film dulu jadi suspensenya agak berkurang. Tapi bukan berarti saya kapok baca karya - karya Agatha Christie. Kalau kamu ada rekomendasi novel - novel Agatha Christie yang oke, kasihtahu ya :D




Resolusi di tahun 2018?

Hmm..kalau berkaca pada resolusi yang saya bikin di tahun 2017...jujurnya semuanya gagaaaal XD. Ga ada satupun yang kejadian, mulai dari baca buku Raden Mandasia atau lanjut baca buku LOTR dan Brandon Sanderson. Sepertinya tahun 2018 ini akan tetap sama dengan tahun 2017, dimana saya juga akan banyak re-read. Untuk Goodreads Reading Challenge 2018, masih tetap sama dengan 2017, yaitu:


Engga muluk - muluk, tapi siapa tahu nanti bisa nambah :D. Saya juga tidak akan ikut reading challenge yang lain, karena sadar komitmen belum begitu banyak, hehe. Untuk utang - utang saya, trust me saya ga lupa. Semoga saya bisa melunasinya ya tahun ini ^^;. Blogging? Semoga saya bisa kembali on track untuk ngeblog, baik itu postingan review maupun postingan non review.

Selamat Tahun Baru 2018. Jangan lupa bahagia ya teman - teman! May your years filled with so many wonderful and awesome books! :D
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Just Curious Where U From ;)