'Kamis, 30 Oktober 2014

September & Oktober : New Author Reading Challenge


Selamat pagi jelang siang ^_^.

Semoga teman - teman masih semangat ya dipenghujung bulan Oktober ini. Yang sudah gajian, selamat gajian dan menghabiskan uangnya, hehehe. Yang belum, sabar yaa..siapa tahu besok ditransfer :P. Jakarta sekarang lagi mendung, jadi agak ngantuk nih. Waktu yang pas ya buat tidur atau.. baca buku dong :D.

Terimakasih bagi teman - teman yang sudah mengupdate RC periode bulan Juli & Agustus. Semoga masih pada semangat ikutan RCnya, apalagi tinggal dua bulan lagi RC ini berakhir :). Seperti biasa, tiap dua bulan sekali saya membuka postingan untuk update progress baca dan kali ini silakan mengupdate progress baca kalian dari bulan September dan Oktober.

Untuk mengupdate RC kali ini :
- Silakan membuat satu postingan blog yang berisi buku - buku yang dibaca dari bulan September - Oktober 2014.
- Jika ada buku untuk RC ini yang kamu review, silakan tautkan juga link reviewnya di postingan blog kamu.
- Jangan lupa untuk memberikan keterangan waktu baca pada wrap up post. Contohnya :
#1 Judul buku - Nama Pengarang (September/Oktober)

- Masukkan link postingan blog tersebut ke linky yang saya buat. Formatnya:

Nama Blogger/Akun - Nama blog/Goodreads (September - Oktober)

- Mohon jangan memasukkan link review per buku di linky, karena akan menyulitkan perhitungan jumlah buku yang dibaca pada periode September & Oktober 2014
- Apakah boleh memasukkan buku yang dibaca bulan Januari - Agustus? Boleh, tapi jumlah buku yang dibaca pada periode tersebut tidak akan dimasukkan dalam undian
- Tidak punya blog? Jika sebelumnya kamu mendaftar dengan menggunakan akun Goodreads, masukkan shelf khusus yang dibuat untuk RC ini ke linky (jika link kepanjangan, bisa pake bit.ly atau aplikasi semacamnya untuk memendekkan link agar bisa masuk ke linky). Jangan lupa juga untuk menge-set waktu baca bukunya.

Linky akan saya buka mulai hari ini sampai dengan tanggal 7 November 2014. Akan diambil 3 pemenang untuk periode update progress kali ini dengan masing - masing pemenang mendapatkan buku pilihannya dengan nominal 50ribu rupiah. Dua pemenang akan diundi secara random, sementara satu pemenang akan saya undi berdasarkan kategori tertentu. Untuk periode bulan ini, silakan jawab pertanyaan saya ini di kolom komentar jika ingin diundi untuk mendapatkan hadiah :

Saya adalah penggemar cover buku :). Nah, selama RC ini ada ngga cover buku karya pengarang baru yang bikin kalian pengen mencoba baca buku itu terlepas dari sinopsisnya? Boleh banget share link untuk cover buku yang kamu anggap keren itu lho :D

Terimakasih bagi para peserta yang berpartisipasi, saya tunggu link update progressnya :). Jika ada yang masih bingung atau kurang jelas, jangan segan untuk bertanya ya.

Nantikan juga GA di blog Ren's Little Corner dalam rangka blogoversary :D






'Selasa, 28 Oktober 2014

Review: Fangirl oleh Rainbow Rowell


Judul: Fangirl 
Pengarang : Rainbow Rowell
Penerjemah : Wisnu Wardhana.
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Spring

Jumlah halaman :  455 pages
Terbit :November 2014

Format : Paperback

Genre : Contemporer
Target Pembaca:Remaja

Web Pengarang: Click Here
Buy Links: Owl Bookstore, Bukabuku


Sinopsis :



Cath dan Wren—saudari kembarnya—adalah penggemar Simon Snow. Oke, seluruh dunia adalah penggemar Simon Snow, novel berseri tentang dunia penyihir itu. Namun, Cath bukan sekadar fan. Simon Snow adalah hidupnya!

Cath bahkan menulis fanfiksi tentang Simon Snow menggunakan nama pena Magicath di Internet, dan ia terkenal! Semua orang menanti-nantikan fanfiksi Cath.

Semuanya terasa indah bagi Cath, sampai ia menginjakkan kaki ke universitas. Tiba-tiba saja, Wren tidak mau tahu lagi tentang Simon Snow, bahkan tak ingin menjadi teman sekamarnya! Dicampakkan Wren, dunia Cath jadi jungkir balik. Sendirian, ia harus menghadapi teman sekamar eksentrik yang selalu membawa pacarnya ke kamar, teman sekelas yang mengusik hatinya, juga profesor Penulisan Fiksi yang menganggap fanfiksi adalah tanda akhir zaman.

Seolah dunianya belum cukup terguncang, Cath juga masih harus mengkhawatirkan kondisi psikis ayahnya yang labil. Sekarang, pertanyaan buat Cath adalah: mampukah ia menghadapi semua ini?


 Review


"Inti dari fanfiksi," katanya, "adalah bahwa kau harus berada di alam semesta orang lain. Menulis ulang aturannya. Atau membengkokkannya. Ceritanya tidak perlu berakhir ketika Gemma Leslie sudah lelah menulisnya. Kau bisa tetap berada di dunia ini, dunia yang kau cintai, selama yang kau inginkan, selama kau memikirkan cerita baru..."


Rainbow Rowell adalah satu dari nama pengarang yang suka seliweran di timeline maupun newsfeed Goodreads saya. Beberapa memuja Eleanor & Park, beberapa menyukai Fangirl ataupun karyanya yang lain. Saat tahu Penerbit Spring membuka tawaran untuk mereview Fangirl, saya tidak membuang banyak waktu dan langsung meng-email mereka. Syukurlah saya terpilih, walau dalam hati saya sedikit deg- degan. Karena saya itu anti mainstream, dan buku yang hypenya yang terlalu banyak biasanya malah bikin saya kurang bisa menikmati. Beberapa hari kemudian, buku ini pun datang, dan saya menelan ludah karena tebalnya. Belum lagi fontnya yang kurang bersahabat. Tapi, saya toh tetap baca.

Fangirl bukanlah buku yang akan bikin pembaca jatuh cinta sejak halaman pertama, tapi ini buku yang akan membuat mereka berpikir.

'Senin, 20 Oktober 2014

Review: Painted Faces oleh L.H. Cosway


Judul  : Painted Faces
Pengarang : L.H. Cosway
Bahasa : Inggris
Penerbit : self-published

Tebal :  355 halaman
Diterbitkan pertama kali :14 Desember 2012

Format : e-book
Target Pembaca: Dewasa

Genre : Contemporary Romance

Web Pengarang : Click Here 




Sinopsis :

Come forth with an open mind, for an unconventional tale of love..

Dublin native Freda Wilson considers herself to be an acquired taste. She has a habit of making offensive jokes and speaking her mind too often. She doesn't have the best track record with first impressions, which is why she gets a surprise when her new neighbour Nicholas takes a shine to her.

Nicholas is darkly handsome, funny and magnetic, and Freda feels like her black and white existence is plunged into a rainbow of colour when she's around him. When he walks into a room he lights it up, with his quick wit and charisma. He is a travelling cabaret performer, but Freda doesn't know exactly what that entails until the curtains pull back on his opening night.

She is gob-smacked and entirely intrigued to see him take to the stage in drag. Later on, Nicholas asks her if she would like to become his show assistant. Excited by the idea, she jumps at the chance. Soon she finds herself immersed in a world of wigs, make-up and high heels, surrounded by pretty men and the temptation of falling for her incredibly beautiful employer.

In this story of passion and sexual discovery, Nicholas and Freda will contend with jealousy, emotional highs and lows, and the kind of love that only comes around once in a lifetime.

**Not suitable for younger readers. Contains some strong language and scenes of a sexual nature.**



Review

Dalam perkenalan saya dengan genre New Adult (NA) -genre yang saya antara mau coba dan ngga karena saya itu anti sama yang namanya mainstream, haha- beberapa buku sudah saya baca. Beberapa saya suka, beberapa ngga. Saya suka menghindari genre ini karena saya kurang suka drama dan juga cerita angst yang banyak ditawarkan oleh novel - novel NA. Tapi, ada satu judul yang sudah sejak lama menarik perhatian saya yaitu Painted Faces. Teman - teman Goodreads saya banyak yang memuja muji buku ini (ada yang ngga juga sih). Dan karena saya gampang penasaran orangnya, saya pun akhirnya baca buku yang heronya adalah....drag queen. Alias waria. Blurbnya saja sudah unik lho, jadi walau butuh setahun lebih setelah buku ini digembar-gemborkan, akhirnya saya baca juga deh

Freda Wilson, akrab dipanggil Fred, seorang gadis usia 25 tahun dengan body issue (siapa sih yang ngga sekarang, saya aja iya :v), dimana dirinya merasa kalau badannya kegemukan untuk ukuran orang Irlandia (walau dia bilang kalau di Amerika sizenya sih size 10, aka Large aja), cuma seorang freelance yang kerjanya memanggang cupcakes dan jadi volunter untuk charity. Hidupnya yang datar - datar aja berubah ketika Fred bertemu dengan tetangga apartemennya yang ganteng. Pake banget. Fred cuma bisa ngebatin saat si tetangga baru minta dipanggil dengan nama "Vivica Blue", walau akhirnya Fred tahu kalau nama aslinya adalah Nicholas Turner. Teman kamar Fred yaitu Nora, ngga pake basa - basi menunjukkan ketertarikannya pada Nicholas. Tapi entah kenapa Nicholas cuma tertarik sama Fred, karena dada Fred gede. Iyes, Nicholas ini ternyata breast-man :v (silakan digoogle lah, hahaha), dan juga manwhore aka playboy aka PK (penjahat kelamin) :)).

Nicholas yang ngerayu Fred buat having sex malah ditampik habis-habisan sama Fred, dan akhirnya mereka memutuskan buat jadi teman baik (walau Nicholas masih tetep pengen bobo bareng sama Fred). Fred lalu tahu kalau Nicholas adalah seorang penyanyi club, dan cowok itu mengundang Fred datang ke clubnya, yang langsung disamber sama Nora karena cewek itu kan naksir Nicholas. Malam pun tiba, Fred, Nora dan Hank, teman Fred yang gay (yep, typical emang) pergi ke club dan... terkejutlah Fred saat melihat Nicholas di panggung...

'Selasa, 14 Oktober 2014

Menulis Review Dalam Bahasa Inggris? Why Not???

Sudah lama saya ngga menulis rubrik opini ataupun random thought, atau apapun yang masih berhubungan dengan buku tapi bukan review. Banyakan malah nulis meme, yah biar blognya ngga berdebu aja sih :v. Kebetulan malam Minggu kemaren saat saya scroll chat di WA Bajaj Jabodetabek, saya nemu bahasan tentang twit @kurawa. Saya ngga follow dia, walau suka baca tweetnya yang mungkin bagi beberapa orang kontroversial. Kebetulan tadi malam dia membahas tentang kasus WNI yang dimutilasi di NZ (pasti pada tahu lah ya), yang berujung pada pembahasan tentang bule hunter, kawin sama bule dll. Salah satu follower dia lalu memberi link blog binibule. Nah, saya inget dulu pernah baca blog ini, karena salah satu teman FB yang juga BBI yaitu Amanda pernah share blog dia juga. Sang empunya blog yaitu Ailtje (yang ternyata orang Ngalam kayak saya. Ga tahu Ngalam? Tinggal dibalik aja ;D) kebetulan suaminya bule dan tulisan - tulisan dia banyak membahas tentang kehidupan bersama suaminya, tinggal di Irlandia (aiiih mauuuu!! *0*) dan juga "kegemesannya" sama budaya dan perilaku orang Indonesia.

Lah...terus apa hubungannya sama buku, Ren?

Bentar..belum selesai nih introductionnya ;D

Setelah beberapa artikel, saya nemu artikel dia yang berjudul Bahasa Inggris Medok. Disini saya mulai tertarik, mengingat saya suka baca buku bahasa Inggris dan juga menulis review dalam bahasa yang sama walau grammar dan struktur "mbuh lah bener tidaknya". Dia mencantumkan sebuat tweet yang tulisannya:

"if u can't say things gramatically correct in english please don't make your comment publically in english it will just show how stupid you are".

Ouch!

Radar sensi saya langsung berbunyi "ngiung, ngiung, ngiung", dan membawa saya berkelana ke masa 3 tahun silam #halahlebay. Saya masih ingat review pertama yang saya tulis dalam bahasa Inggris dan panjaaang adalah review tentang Dark Lovernya J.R.Ward. Saya waktu itu tidak kepikir nulis dalam bahasa Inggris. Saat itu saya hanya ingin melontarkan rasa frustasi karena covernya yang sungguh bikin saya nangis dan meneror milis GPU dalam jangka waktu yang lama (Maaf ya Mba Dharma, momod saat itu X)) ). Responnya sendiri cukup bagus, dan entah kenapa sejak saat itu saya aktif menulis dalam bahasa Inggris. Pikir saya, toh temen Goodreads ini banyak bener yang orang bule, dan saya juga baca buku bule. Make sense toh kalau saya nulis review bule?

Sampai saat saya nulis review Nicholas di Goodreads dan salah satu orang tak dikenal menertawakan review saya. Maksud dia mungkin baik, yakni mengoreksi grammar dan struktur saya yang salah. Tapi, karena dilakukan dengan mengejek, saya cuma bisa elus dada aja. Saya balas komen dia dengan tenang (walau hati perih dan meluncur menuju lautan luka dalam #ciee), dan berterimakasih atas koreksinya. Yang tidak saya sangka, banyak teman yang membela saya habis - habisan. Saat itu juga kebetulan saya lagi ultah, dan mereka semua membesarkan hati saya. Bilang sama saya bahwa untuk orang yang bahasa nativenya bukan bahasa Inggris, "you're doing good". Brebes mili? Ya iya, hahaha :'). Walau saya tahu mungkin mereka bilang gitu biar saya merasa lebih baik, tetep aja saya terharu dong :)).

Tapi, ternyata masalah nulis review dalam bahasa Inggris ini masih berlanjut. Saya masih ingat dengan jelas kejadian itu. Saat sedang scroll linimasa Twitter, saya melihat beberapa orang mengejek sebuah review yang ditulis dalam bahasa Inggris, bilang grammar dan strukturnya suck, dll. Saya tahu mereka, mereka tahu saya dan saya tidak mau negative thinking bahwa review yang dimaksud adalah review saya. Hanya saja, jikapun itu bukan review saya yang dimaksud, tetap saya tidak suka dengan kelakuan orang - orang ini. 

KENAPA HARUS MENGEJEK JIKA KAMU BISA MEMBETULKAN GRAMMAR ORANG YANG SALAH DENGAN BENAR DAN SANTUN???

#capslockjebol

Saya bukan native, saya belajar bahasa Inggris selama ini selalu otodidak, dan setelah dua kejadian di atas, sudah beberapa orang mengejek grammar dan structure saya yang kacau (salah satunya ada di review FSoG yang terkenal itu). Saya tidak habis pikir, orang bule ngejek grammar saya acakadut? Oke deeh, dia emang ahli dalam hal itu (walau aslinya saya tahu juga beberapa bule yang nulis reviewnya acakadut. Oh, well). Tapi, sesama orang Indonesia? Mentang - mentang bisa bahasa Inggris, lalu ngejek koleganya yang masih belajar hanya karena dia mampu? Kenapa tidak dibenarkan saja sih? 

Saya tahu mungkin akan sangat bikin frustasi ketika kita ahli dalam suatu hal dan melihat orang lain ngga bisa melakukan hal itu dengan baik. Hei, saya juga pernah ngalamin hal itu kok. Tapi apa lantas itu jadi dasar untuk ngejek mereka yang masih belajar? Bukannya mereka yang mengejek dan juga mereka yang menulis review dalam bahasa Inggris juga sama - sama belajarnya? Apa tipikal orang Indo buat saling jegal? Mbuh deh, saya ngga mau sok jadi psikolog. Tapi terus terang itu bikin saya kesel. 

Punya pengalaman diejekin grammarnya lebih dari satu kali, membuat saya jauh lebih apresiasi sama sesama temen sejawat yang nulis dalam bahasa Inggris. Kalau menilik sama tweet yang dicantumkan Mbak Ailtje di blog dia, berarti kalau ngga bisa bahasa Inggris ya ngga usah ngomong? Sempit amat pemikirannya. Ini sama aja dengan kalau kita ngga bisa bahasa Indonesia yang baik dan benar, ngga ngerti EYD, ya ngga usah nulis review? Lah, review juga ngga dikirim ke majalah, koran, dll. Reviewer dan blogger yang saya tahu juga tidak dibayar, semata - mata mereview karena suka, karena ingin meluapkan  perasaannya setelah baca buku. Kenapa  reviewnya baru dianggap review kalau tata bahasanya baik dan sesuai EYD?

Nonsense! And it's totally BS!

Sama saja 'kan dengan menulis review dalam bahasa Inggris. Toh review untuk sendiri, kenapa harus diejek gitu lho? Bukan berarti saya anti kritikan sih. Setiap saya menulis review bule di blog ini, saya selalu kasih note kalau ada yang nemu kesalahan grammar dan struktur, silakan email saya (dan selama ini baru Erdeaka saja yang ngelakuin. Hehe, thanks a lot loh girl ;) ), pasti bakalan saya ubah dengan senang hati. Bahkan dulu saat Ally dan Teh Peni benerin review bule saya via email, saya sangat bersyukur. Ini lho yang saya maksud. Anda-anda yang mungkin self-proclaimed Grammar Nazi atau emang pinter nyerocos bulenya, bisa kan ngoreksi dengan cara yang lebih bisa diterima ketimbang ngejekin orang? Toh, kita sama - sama belajar.

Lalu, ada juga sih yang saya amati selama ini. Review saya yang diejek grammarnya pasti review negatif! It's a low blow! Setuju ngga setuju boleh, tapi ngga lantas harus sakit hati buku favoritenya direview negatif terus nyerang struktur tulisan si reviewer! Dan bagi saya juga itu sangat childish. Lucu kan kalau buku favorit saya direview negatif sama orang terus saya nyerang dia "ih, ih, apa sih ini reviewnya ngga sesuai EYD. SPOKnya ngga bener. Strukturnya kacau." Padahal saya sendiri nulis juga ngga bener, wkwkwkwk. Jadi kelihatan kalau saya jengkel kan? 

Kemaren pun ada bahasan di grup PNFI di FB yang saya ikuti, yang intinya gimana cara menulis review dalam bahasa Inggris. Yang saya lakukan adalah, saya kasih semangat sama yang bertanya. Dan itu juga yang akan saya lakukan sama pembaca blog yang masih ragu buat menulis review dalam bahasanya bule, yaitu:

JANGAN TAKUT

Ya, itulah kunci pertama dalam mencoba mereview dalam bahasa bule. Takut cuma bikin kamu diam di tempat. Takut cuma bikin kamu tidak akan pernah mencoba. Jadi, mulailah menulis review dalam bahasa Inggris sepatah dua patah kata. Lalu menjadi satu dua kalimat, dan berkembang menjadi satu paragraf. Lama - kelamaan kamu akan sadar bahwa kamu sudah menulis banyak. Percayalah, itu adalah pengalaman yang sangat menyenangkan. Tapi, jalan kamu tidak berhenti sampai di situ saja. Karena saya pun masih sering baca - baca review lama, membacanya keras - keras dalam hati, lalu memperbaikinya sedikit demi sedikit. Bagi saya mereview dalam bahasa Inggris adalah sebuah proses pembelajaran yang tidak akan pernah berhenti. Selama saya masih baca buku dalam bahasa Inggris, selama itu juga saya akan ngereview dalam bahasanya wong bule.

So, writing review in English? Kenapa ngga gitu loh? Yuk, mulai menulis dalam bahasa Inggris. Awali dengan yang sederhana dan lama - lama kita akan terbiasa. Dan kalau ada orang yang ngejek grammar kamu, cuekin dan kasihani aja deh ;).

Note: postingan ini dipersembahkan untuk Felita dan Astri Nardi yang saya lihat sudah mulai mereview dalam bahasa Inggris. You're doing good, girls! Keep the good job! :)

'Senin, 13 Oktober 2014

Scene on Three #6: Risky Business

Selamat pagi dan selamat hari Senin :D

Sebenarnya hari ini saya sudah nulis sesuatu "ocehan" buat dipost di blog. Tapi tadi malam, sang empunya meme Scene On Three yaitu B-Zee, mention saya di Twitter kalau tanggal 13 itu waktunya Scene on Three. Jadi ocehan itu saya post besok saja, hehehe. Lagian saya sudah lama juga ga ikutan memenya B-Zee ini. Agak sulit juga sih milih - milih adegan yang memorable buat saya, mengingat mood mereview di blog lagi naik - turun. Untung sih, akhirnya kepilih juga adegan di suatu buku yang bagi saya sih..."gue banget".

Yuk dicek adegan apa yang saya share di Scene on Three kali ini:


 "I have to concentrate and wear glasses, but yes, I can read shapes, colors and individual letters. You could hold up a single letter right now and if I had my glasses on, I could tell you what it is and remember it. I can remember two-and three- letter words for the most part, too. But it's like my brain in this black hole. The words go in and they just disappear."

"Glasses? I'd like to see them."

He sighed, frustated. Clearly, he'd been hoping to avoid this part. But he was a good sport. He reached into the back of the casette box and pulled out a glasses case. From it, he pulled a pair of stylish, black framed, thick lensed glasses and slid them on.

From the moment they touched his face, Allison knew she approved. He looked sexy in them. Really sexy.

He looked at her, serious and searching. She smiled back, loving those cute, thick, nerdy glasses on gruff, testosterone-dripping Theo. She had no choice. She had to kiss him

Adegan di atas adalah percakapan antara sang tokoh utama cewe dan cowo di buku berjudul Risky Business. Nah kedua orang ini, Allison dan Theo awalnya musuhan, tapi akhirnya mereka mau kerja sama buat mengurus penginapan mereka. Kenapa kok saya suka banget sama adegan di atas. Yah, karena bagi saya tuh, cowok yang ngga biasa pake kacamata, lalu pake kacamata itu HAWT BANGET! *o* Entah kenapa ketampanan mereka bertambah dua kali lipat. Apalagi sekarang itu kan masa - masa dimana kutu buku atau nerds or geeks dianggap sexy.

Ngga percaya?

Coba deh kamu bandingkan aktor yang ngga biasa pake kacamata dan lalu dia pake. Pasti deh somehow keliatan ganteng. Benedict Cumberbatch pake kacamata? Oh, ganteng! Tom Hiddleston pake kacamata,? Oh, keren! Apalagi suami saya, si K kalau pake kacamata bikin saya jadi pengen #sensorsensorsensor XP


Pengen ikutan meramaikan meme Scene on Three? Ini dia caranya :

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).
Bagaimana menurut kalian dengan adegan yang saya pilihkan di atas? Apakah kalian setuju dengan alasan saya kenapa memilih adegan tersebut? Kebetulan saya sudah mereview Risky Business ini di blog . Bagus lho bukunya, padahal saya biasanya ga gitu suka baca contemporary romance :)

'Jumat, 03 Oktober 2014

Friday's Reccomendation #41


Sama seperti minggu kemaren, meme edisi 41 juga telat :v. Oh well, saya lupa kalau Jum'at itu waktunya meeting sama klien yang baru saja ditinggal direkturnya bulan ini (hehe, you got the hint, right? ;D). Biasanya sih, saya ga diajak. Sayang tadi waktu mau masuk ruangan kantor setelah beli sarapan, pak Bos memergoki saya dan langsung menyuruh saya masuk ke mobil dengan ucapan "Ikut rapat ya. Kamu pake make-up di mobil aja". Jyaaah :v 

Jadi, lagi - lagi memenya baru bisa diposting sore ini ;_;. Tapi, semoga masih banyak yang mau ikutan ya, hehehe :D.
Dan ini buku yang saya rekomendasikan untuk meme edisi kali ini: 



Pacific Rim- The Movie Novelization
Sinopsis : Goodreads


Kenapa saya rekomendasikan?

Saya sudah mereview di Goodreads dalam bahasa Inggris (bisa dibaca di sini).

Tahun kemaren, tepat pada akhir musim panas di Amrik, ada satu film yang cukup mengguncang dunia dalam artian khusus. Film itu cukup meninggalkan bekas di hati saya, karena baru kali ini saya ngeliat film robot - robot gede ala Gundam tapi yang bikin orang Amrik. Bukan berarti sebelumnya Amrik ga pernah bikin film robot sih. Tapi film tentang apocalypse dan robot ala Gundam plus Evangelion ini yang bikin saya kepincut sama Pacific Rim. Plus...dada bidang dan perut six pack Raleigh Beckett yang diperankan oleh Charlie Hunnam #hualah! :v

Filmnya sih standar aja, dan cheesy, but in a good way, wakakak. Dan setelah nonton filmnya, saya baru tahu kalau ada graphic novel yang menceritakan masa - masa saat Kaiju menyerang dan pengembangan Jaeger . Yeah, kalau nonton Pacific Rim, pasti tahu deh apa yang saya bicarakan XD. Nah, ternyata ada versi novelnya juga yang dikarang sama Alex Irvine. Alex Irvine ini sudah terkenal di Indonesia dengan novelisasi serial Supernatural yang diterbitkan sama Elex disini. Udah nonton Pacific Rim atau belum, novel ini sangat saya rekomendasikan untuk dibaca. Bagi yang sudah baca, novel ini bakal jelasin banyak hal yang hilang dari filmnya, bahkan menurut saya bagusan novelnya ketimbang filmnya sendiri. Tentu saja, saya juga rekomen novel ini buat diterbitkan di Indonesia, mengingat fans film ini juga lumayan banyak :D.


Pengen ikutan meme Friday's Recommendation? Ini rulesnya :

1. Tulis buku yang ingin kamu rekomendasikan. Kategori buku yang akan direkomendasikan bisa memilih dari kategori di bawah ini :
a. Buku yang ingin diterjemahkan di Indonesia 
b. Buku yang sudah terbit di Indonesia, dan ingin kamu rekomendasikan ke pembaca.
Jangan lupa menulis alasan kamu merekomendasikan buku itu ya
2. Jika kamu sudah pernah me-review buku yang ingin kamu rekomendasikan itu, taut balikkan ke link reviewmu ya
3. Pasang button Friday's Recommendation, jangan lupa di taut balikkan ke blog Ren's Little Corner
4. Masukkan link Friday's Recommendation ke kolom komen yaaa :D
5. Jangan lupa untuk blogwalking ke blog - blog lain :)
6. Waktu meme adalah bi-weekly.Jadi, meme berikutnya akan dipost di hari Jum'at, dua minggu setelah meme yang terakhir :).

Sebagain info, meme Friday's Recommendation selanjutnya akan tayang pada tanggal 17 Oktober 2014.  Yuk, ditunggu link FRnya dan share buku apa yang teman - teman rekomendasikan minggu ini :D

'Senin, 29 September 2014

Review Film: The Maze Runner

Judul : The Maze Runner
Adaptasi dari : The Maze Runner karya James Dashner
Durasi film : 113 menit
Pemain :Dylan O'Brien, Kaya Scodelario, Thomas Brodie-Sangster, Will Poulter, Ki Hong Lee, Aml Ameen
Sutradara : Wes Ball
Genre : Post Apocalypse
Rating : Remaja


Review:

Biasanya, kalau ada film based on books yang saya ingin tonton, pas hari film itu diputer, atau 1-2 hari setelahnya saya selalu langsung capcus ke bioskop terdekat. Sayangnya, butuh waktu lebih dari 2 minggu bagi saya untuk nonton The Maze Runner (TMR), karena di Kalibata Mall, filmnya adalah film lokal semua. Ngga, bukannya saya ngga dukung film lokal, soalnya ini kan masalah selera. Tapiiii...please deh, masa di semua bioskop sudah mejeng poster TMR dan hanya Kalibata, bioskop yang setia menemani saya dalam menikmati film - film semasa saya di Jakarta tega mengkhianati saya sih? #hahalebay :)) Syukurlah hari Minggu kemaren akhirnya saya kesampaian juga nonton TMR di Hollywood XXI :'D.

Saya belum pernah baca buku TMR, sama seperti Percy Jackson : Sea of Monster, The Mortal Instrument : City of Bones The Hunger Games : Catching Fire, dan Divergent. Sebenarnya saya pun nonton TMR karena hype teman - teman di grup PNFI (Penggemar Novel Fantasy Indonesia), terutama Maryana yang kayaknya suka banget sama buku ini. Tanpa ekspektasi apa - apa, selain juga tidak baca spoiler maupun diskusi tentang film ini, saya pun mulai menonton adegan pertama TMR yang...gelap - gelapan. Oke, sumpah, adegan pertamanya emang gelap :v. Tapi, penonton lalu dikenalkan dengan tokoh utama kita yaitu Thomas (Dylan O'Brien). Thomas tidak tahu siapa dirinya dan kenapa dirinya ada di dalam sebuah kotak. Saat membuka mata, dia disambut dengan gerombolan pemuda tanggung nan kinyis (cuma satu aja sih :D) yang menyebut daerah mereka tinggal sebagai The Glade. Awalnya mereka menamai Thomas dengan panggilan "Greenie" alias "Buncis Hijau" karena Thomas belum ingat namanya.

Copyright

Isi blog ini adalah hak cipta dan milik Ren. Sinopsis dan cover buku diambil dari Goodreads. Image selain cover diambil dari Google dengan mencantumkan sumber gambar. Dilarang meniru atau menyadur isi blog ini tanpa mencantumkan sumbernya. Plagiat will get bitten by karma!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Blogoversary

Get your own free Blogoversary button!

Would love your comment and vote ^_^

Just Curious Where U From ;)