'Selasa, 03 Februari 2015

January Monthly Wrap Up & Winner Announcement



Selamat hari Selasa, teman - teman pengunjung Ren's Little Corner! :D. Sebenarnya saya ingin bikin postingan wrap up ini di akhir bulan Januari kemaren atau pas tanggal 1 Februarinya. Tapi karena kedua tanggal itu jatuh saat weekend dan saya kalau weekend ga buka blog, maka baru sempet bikin sekarang deh :P. Monthly Wrap Up ini rencananya akan saya buat untuk rekap buku yang saya baca untuk project pribadi dan reading challenge, jumlah komen yang masuk untuk project donate for comments dan....sekalian ngasihtahu pemenang reading challenge. Jika ada ^.^.

Nah, kali ini untuk buku yang saya baca bulan Januari ini. Saya memiliki project pribadi yaitu Project Baca Buku Cetak, dimana saya membaca buku cetak yang sudah lama tersimpan di lemari. Target saya adalah 50 buku cetak untuk tahun ini dan di bulan Januari saya sudah baca...11 buku. Hehehe lumayan sudah mencapai sekitar 20% dari target (karena saya anak teknik, jadi ngomong angka :P). Ini buku - buku yang saya baca bulan ini:

'Jumat, 30 Januari 2015

Review: Stolen Songbird oleh Danielle L. Jensen



Judul : Negeri Troll Yang Hilang
Judul Asli : Stolen Songbird
Pengarang : Danielle L. Jensen
Penerjemah : Nadya Andwiani
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Fantasious

Tebal :  493  halaman
Diterbitkan pertama kali : Oktober 2014

Format : Paperback
Target Pembaca:Remaja

Serial : The Malediction Trilogy, buku ke-1
Genre : Misteri
Web Pengarang : Click Here
Beli di : Bukukita


Sinopsis :


Apa troll merasakan hal yang sama dengan manusia? Apa troll mengenal kesedihan, kemarahan, atau kebahagiaan? Bisakah troll mencintai troll lain? Atau apakah batin mereka sedingin batu yang mengubur mereka di bawahnya?

Cécile de Troyes mengira masa depannya ada di panggung-panggung megah di Trianon. Ia yakin kariernya sebagai penyanyi bersuara merdu akan cemerlang begitu ia meninggalkan Goshawk’s Hollow. Namun, hal tak terduga menyergapnya, menyeretnya ke sebuah negeri yang selama ini hanya pernah didengarnya dari dongeng lama. Tak ada mimpi seburuk membuka mata dan menyadari bahwa ia diculik ke sebuah kota yang terkubur di bawah reruntuhan gunung. Kota yang dipenuhi oleh makhluk… troll.

Kaum troll mengira Cécile bisa menjadi salah satu kunci melenyapkan kutukan penyihir yang melingkupi Kota Trollus selama lima abad. Kutukan yang membuat mereka tak mampu keluar dari kungkungan Gunung Terlupakan. Kutukan yang membuatnya terikat dengan pangeran troll angkuh bernama Tristan. Ia pikir hidupnya lebih baik berakhir, sampai ketika ia mulai menyadari rahasia-rahasia terselubung yang ada di kota itu. Ia sadar, jika ia melibatkan diri lebih jauh dengan segala intrik kaum troll, semua tak akan pernah sama lagi. Namun, terkadang, harus ada yang melakukan hal yang tak terbayangkan.

Mampukah Cécile bertahan dan menguak rahasia negeri troll? Kau pikir kau sudah tahu tentang kaum troll? Tunggu sampai kau menyelesaikan petualangan ini

 Review



Tepat sebelum tengah hari, seluruh Trollus diperingatkan tentang bencana yang akan datang oleh gelegar guntur yang bergema. Ketika berton - ton batu yang tak terhitung banyaknya meluruhi lembang, puluhan ribu troll mengangkat tangan dan sihir untuk melindungi diri mereka, dan dengan melakukannya, menciptakan perisai kolektif yang melindungi kota saat batu itu menghalangi langit.

Menjelang akhir 2014 kemarin, linimasa Twitter dan newsfeed Facebook saya diramaikan dengan buku terbitan Fantasious yang baru berjudul Stolen Songbird. Saya sih sudah tahu buku ini sejak lama dan bahkan pernah ikutan giveawaynya di Goodreads walau sayang kurang beruntung. Covernya yang berwarna hijau terlihat mewah dan blurbnya bikin saya penasaran. Karena...troll. Yes, troll menjadi unsur utama di buku ini dan juga love interest dari sang tokoh utama. Penasaran kan? Apalagi promosi Fantasious yang cukup besar, membuat saya pun menaruh buku dengan judul terjemahan Negeri Troll yang Hilang ini di daftar wishlist saya untuk event Secret Santa. Seneng juga saat Santa memilih buku ini :D, berharap apakah ekspektasi saya akhirnya terbayar, apa buku ini emang beneran bagus seperti yang dibilang teman - teman saya.

Dan, setelah saya menutup halaman terakhir buku ini, agak kecewa rasanya karena ekspektasi saya ga terbayar :(.

'Kamis, 29 Januari 2015

Review: Rahasia Sunyi oleh Brahmanto Anindito



Judul: Rahasia Sunyi
Pengarang: Brahmanto Anindito
Bahasa: Indonesia
Penerbit: Gagas Media
Jumlah halaman:  361 hal
Terbit:  January 2013

Format : Paperback

Genre : Thriller, Horror

Target Pembaca: Dewasa Muda


Sinopsis :


Lautan Angkasawan pergi ke Pegunungan Kerinci karena sebuah teka-teki.

Kirey Fowler, mantan kekasihnya, tewas dalam kecelakaan di kawasan gunung tertinggi di Sumatra itu. Lachlan Fowler, sang ayah, berharap Lautan membantunya menyibak rahasia di balik kematian anak perempuannya.
 
Di tengah belantara kemungkinan, satu per satu pintu misteri terbuka. Tapi, Lautan tidak sendiri. Sesuatu terus menghalanginya untuk menyingkap tanda tanya. Nyawanya terancam untuk sebuah jawaban...

***
 
Setelah kolaborasi bersama Rie Yanti lewat novel pertama mereka, Satin Merah, yang berpijak pada kebudayaan Sunda, kali ini Brahmanto Anindito merilis karya tunggalnya sendiri, Rahasia Sunyi. Perjalanan belum selesai. Dengan latar lokal sisi barat Sumatra, novel ini menawarkan pengalaman kultural dalam balutan thriller yang intens.

 Review

"Apa yang awalnya terlihat indah di dunia ini belum tentu indah dalam kenyataannya. Begitu juga sebaliknya. Bisa ular dan madu warnanya sama - sama kuning.

Saya sudah lupa kapan terakhir kali baca buku karya pengarang lokal. Bilang saya tidak nasionalis atau tidak ada rasa patriotisme, tapi emang selera saya banyakan buku pengarang luar sih, hahaha. Apalagi agak sulit rasanya membaca fiksi karya anak negeri sendiri, karena walau ide sudah bagus, beberapa buku eksekusinya kurang pas atau bahkan bikin saya pengen nangis saking jeleknya. Saya pun baca Rahasia Sunyi ini karena dulu saya meminjamkan buku ini untuk teman kantor yang lagi belajar nulis dan selalu "meneror" saya buat baca cerita dia X). Bingung karena tidak ada kerjaan di kantor dan juga tidak bawa buku dari rumah, akhirnya saya memilah - milah buku yang saya simpan di kantor...dan taraaa... nongollah buku ini.

Rahasia Sunyi sendiri saya dapatkan pada saat ulang tahun Gagas yang ke-10 di tahun 2013 kemaren. Kebiasaan deh suka nimbun buku dan baru baca 2 tahun kemudian X)). Melihat review beberapa teman di Goodreads rata - rata banyak yang suka. Profile pengarangnya, Brahmanto Anindito, sendiri cukup meyakinkan. Setting cerita yang berlatar di Padang dan Gunung Kerinci cukup bikin saya antusias dan genrenya yang awalnya saya duga adalah thriller suspense membuat saya tak banyak cing cong untuk langsung membacanya

Yeah...sayangnya, seperti yang saya bilang sebelumnya. Ide bagus, eksekusi meh. Totally meh!

'Senin, 26 Januari 2015

Review: Written in Red oleh Anne Bishop



Judul: Written in Red
Pengarang: Anne Bishop
Bahasa: Inggris
Penerbit: Roc
Jumlah halaman:  498 hal
Terbit:  4 Maret 2014

Format : Paperback

Genre : Urban Fantasy
Series: The Others, buku #1 
Target Pembaca: Dewasa Muda

Web Pengarang: Click Here
Buy Links : Periplus ; Open Trolley ; Bookdepository ; Amazon Google Play



Sinopsis :



No one creates realms like "New York Times "bestselling author Anne Bishop. Now in a thrilling new fantasy series, enter a world inhabited by the Others, unearthly entities--vampires and shape-shifters among them--who rule the Earth and whose prey are humans. 


As a "cassandra sangue," or blood prophet, Meg Corbyn can see the future when her skin is cut--a gift that feels more like a curse. Meg's Controller keeps her enslaved so he can have full access to her visions. But when she escapes, the only safe place Meg can hide is at the Lakeside Courtyard--a business district operated by the Others. 

Shape-shifter Simon Wolfgard is reluctant to hire the stranger who inquires about the Human Liaison job. First, he senses she's keeping a secret, and second, she doesn't smell like human prey. Yet a stronger instinct propels him to give Meg the job. And when he learns the truth about Meg and that she's wanted by the government, he'll have to decide if she's worth the fight between humans and the Others that will surely follow.

 Review

"The terra indigene arent's animals who turn into humans or humans who turn into animals. They are really something unknown that learned how to change into a human shape because it suited them. They gained something from the human form, whether it was standing upright or having the convenience of fingers and thumbs just like they gained from the animal form they absorbed"


Waktu tahun 2013 yang lalu, banyak teman Goodreads saya, terutama yang fans genre fantasy memuja-muji buku pertama dari serial baru karya Anne Bishop, Written in Red. Sebelumnya, saya sudah direkomendasi sama salah satu teman GRI Malang, Idan, untuk baca karya Anne Bishop yang lain yaitu Daughter of Blood. Kata dia, saya pasti suka karena ada BDSMnya, yang langsung saya bales "bukannya itu kesukaanmu ya? :))". Berbeda dengan Daughter of Blood yang murni dark fantasy, Written in Red ini bergenre urban fantasy (UF) dan sebenarnya beberapa element di dalamnya sangat familiar bagi saya yang sudah kenyang baca buku UF. Ditambah dengan hype yang sangat tinggi, membuat saya cukup sangsi untuk memulai baca buku ini. Apalagi saat pertama keluar, format yang ada adalah hardcover. Kan mihil :P. Akhirnya menunggu setahun kemudian, saya beli versi mass marketnya, dan itu juga belum kebaca XD. Sampai pada Sabtu kemaren Goodreads mengadakan acara Goodreads Nathional Readathon dan saya kebetulan juga ngambil buku yang udah lama nangkring di lemari ini. Jadi, saya buang jauh - jauh keraguan saya dan mulai membaca :D
 
Dunia di Written in Red adalah dunia yang sama dengan bumi kita dan bernama Namid. Awal buku ini sudah dijelaskan sejarah tentang Namid, dimana Namid menciptakan banyak makhluk, salah satunya adalah manusia. Sayangnya, manusia harus survive untuk hidup di Namid, karena makhluk ciptaan Namid yang lain yaitu terra indigene alias penghuni bumi atau lebih dikenal dengan nama The Others sudah lebih dulu tinggal. Dan the Others ini menganggap manusia sebagai mangsa, daging untuk dimakan. Maka perebutan kekuasaan antara manusia dan the Others pun tak terelakkan, dengan The Others yang keluar sebagai pemenang. Manusia harus berhati - hati agar bisa bertahan hidup namun tetap saja ada beberapa yang berniat menguasai lahan yang dimiliki The Others. Untuk beberapa saat kedua pihak ini berdamai walau dalam ketakutan dan cerita pun dimulai ketika Meg Corbyn, seorang cassandra sangue, peramal yang bisa melihat masa depan dengan mengiris kulitnya sendiri sampai berdarah kabur dari tempatnya berada.
 

'Rabu, 21 Januari 2015

Review: The Lightning Thief oleh Rick Riordan

Judul: The Lightning Thief
Judul Terjemahan: Pencuri Petir
Pengarang : Rick Riordan

Penerjemah : Femmy Syahrani
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Hikmah
Jumlah halaman :  455 pages
Terbit : Des 2008

Format : Paperback

Genre : Fantasy
Seri: Percy Jackson & The Olympians, #1 
Target Pembaca: Semua umur

Web Pengarang: Click Here
Link buy:  Bukukita



Sinopsis :

Percy Jackson—dua belas tahun, penderita disleksia—hampir dikeluarkan dari sekolah asramanya ... lagi. Tetapi itu hanya sedikit saja dari sekian masalah yang menantinya. Monster-monster dan dewa-dewi dari Gunung Olympus tampaknya berebutan keluar langsung dari buku pelajaran Sejarah Yunani milik Percy. Lebih parah lagi, Percy telah membuat beberapa di antara mereka marah besar. Petir asali milik Dewa Zeus telah hilang dicuri, dan Percy adalah tersangka utamanya.

Kini Percy dan dua orang kawannya hanya punya waktu sepuluh hari untuk mencari dan mengembalikan benda keramat tersebut dan mendamaikan kembali perang yang hampir pecah di Gunung Olympus. Tetapi tantangannya jauh lebih berat dari itu, Percy akhirnya harus berhadapan dengan kekuatan mengerikan yang bahkan lebih hebat dibandingkan pada dewa sendiri.

 Review

"Laut tak suka dikekang"

Sejak saya bergabung dengan grup Penggemar Novel Fantasy Indonesia aka PNFI di Facebook dan juga ikutan rame di grup WA mereka, saya udah sering melihat betapa banyak orang suka dengan serial Percy Jackson. Mungkin saya termasuk yang telat baca bukunya, padahal saya nonton baik film pertamanya The Lightning Thief maupun yang kedua Sea of Monster. Banyak orang bilang kalau filmnya, terutama yang pertama, sangat - sangat berbeda dengan bukunya. Bikin saya mikir seberapa banyak sih bedanya? Dan beda kasus sama Eragon yang begitu buruknya sampai film kedua aja tidak dibikin, Percy cukup beruntung karena karirnya di dunia film masih lanjut. Walau yang saya denger sih, film ketiganya tidak jadi dibikin.

Saya sendiri beruntung mendapatkan buku The Lightning Thief (TLT) ini waktu sedang perang rebutan buku di event IRF tahun 2013 lalu :D. Cetakan pertama lho, yang covernya masih anak - anak banget, hihihi. Bukunya pun agak lecek, tapi syukurlah masih bisa dibaca. Melihat penerjemahnya...oh ternyata Mba Femmy yang nerjemahin. Saya mikir sih, at least terjemahannya bagus, walau saat baca - baca review di Goodreads banyak yang mengeluhkan terjemahannya. Agak ragu sih, tapi sudah lah, mulai baca aja :v.

Selesai hanya dalam 1 hari, mengingat saya kalau baca buku terjemahan memang lebih cepat ketimbang baca buku Eng (gaya :v), saya akui dua hal:
1. Banyak yang diubah dari filmnya. BANYAK BANGET.
2. Terjemahannya walau mengalir, emang bener kalau....ANEH BANGET. Kenapa? Nanti akan saya jelaskan setelah ini

Eniwei...review saya ini lebih ke membandingkan apa yang ada di film dan yang di buku, mengingat saya sudah nonton filmnya. Jadi, akan banyak mid spoiler bertebaran ya :)

'Senin, 19 Januari 2015

Reading Challenge 2015 Master Post


Sama seperti tahun sebelumnya, tahun ini pun saya cukup masokis dengan mengikuti beberapa RC. Selain RC yang saya host sendiri yaitu New Authors Reading Challenge 2015 dan project pribadi Project Baca Buku Cetak, saya juga mengikuti beberapa RC grup Goodreads dan dari sesama member BBI. Senangnya sih, beberapa RC ini overlapping. Agak malesnya sih, bikin master post, hahahaha XD. Tapi gapapa lah, ini master post bisa sekalian buat tracking progress baca saya, melengkapi track progress yang sudah saya lakukan di Goodreads dengan membuat shelf khusus.

Untuk RC dari sesama BBI-ers yang pertama adalah Read Big Challenge



yang dihost oleh bundanya Oryz, Alvina di Mari Ngomongin Buku. RC ini "diwaris"kan dari Mba Dessy yang sebelumnya sempat ngehost di tahun 2013 dan absen sepanjang 2014. Ini sih salah satu RC kesukaan saya, karena jangan menyebut diri anda kutu buku jika belum baca buku bantal >:D. Deskripsi buku bantal nan tebal nan sexy ini adalah buku yang memiliki jumlah halaman di atas 500 halaman. Ini lebih banyak 50 halaman dari RC Chunkster Books yang saya ikuti di Goodreads yang mensyaratkan 450 halaman. Okelah, terjemahan dengan jumlah halaman 500 hal itu kecil lah buat saya (sombong :v), tapi baca buku Eng dengan tebal lebih dari 500 itu benar - benar tantangan! 

'Senin, 12 Januari 2015

Review: Furies of Calderon oleh Jim Butcher

Judul: Furies of Calderon
Pengarang : Jim Butcher
Bahasa : Inggris
Penerbit : Ace
Jumlah halaman :  504
Terbit :  Oktober 2009

Format : Paperback

Genre : Fantasy
Series: Codex Alera, buku #1 
Target Pembaca: Dewasa Muda

Web Pengarang: Click Here
Buy Links : Periplus ; Open Trolley ; Bookdepository ; Amazon Google Play



Sinopsis :



"For a thousand years, the people of Alera have united against the aggressive and threatening races that inhabit the world, using their unique bond with the furies - elementals of earth, air, fire, water, and metal. But now, Gaius Sextus, First Lord of Alera, grows old and lacks an heir. Ambitious High Lords plot and maneuver to place their Houses in positions of power, and a war of succession looms on the horizon." 

Far from city politics in the Calderon Valley, the boy Tavi struggles with his lack of furycrafting. At fifteen, he has no wind fury to help him fly, no fire fury to light his lamps. Yet as the Alerans' most savage enemy - the Marat - return to the Valley, he will discover that his destiny is much greater than he could ever imagine. Caught in a storm of deadly wind furies, Tavi saves the life of a runaway slave named Amara. But she is actually a spy for Gaius Sextus, sent to the Valley to gather intelligence on traitors to the Crown, who may be in league with the barbaric Marat horde. And when the Valley erupts in chaos - when rebels war with loyalists and furies clash with furies - Amara will find Tavi's courage and resourcefulness to be a power greater than any fury - one that could turn the tides of war


 Review


"Events are stirring all over Alera. I can feel it in my bones, girl. The march of feet, the restless migration of beasts. Already the behemoth sing in the darkness of the western coast, and the wild furies of the north country are preparing a cold winter this year. A cold winter..." The First Lord drew in a breath and closed his eyes. " And voices speak loudly. Tension gathers in one place. The furies of earth and air and wood whisper everywhere that something dangerous is abroad and that the peace of our land has enjoyed these past fifteen years nears its end. Metal furies honed the edges of swords and startle smiths at the forge. The rivers and the rains wait for when they shall run red with blood. And fire itself burns green of a night, or blue, rather than in scarlet and gold. Change is coming." - Gaius Sextus, First Lord of Alera


Saya sudah lupa kapan tepatnya terakhir kali membaca buku dengan genre high fantasy. Bener - bener murni fantasy tanpa atau hanya sedikit romance, mengingat bacaan saya 90% semuanya adalah romance. Padahal saat saya masih agak alergi baca romance, bacaan saya banyakan fantasy. Mulai dari Harry Potter ke Eragon. Lalu Bartimaeus Trilogy. Oke, agak dikit emang :v. Buku fantasy terakhir yang saya baca adalah The Winter King yang masuk kategori high fantasy, tapi lebih fokus ke romance. Sementara serial Temeraire yang sangat saya suka lebih masuk ke historical fantasy. Adapun The Golem and The Jinni yang jadi salah satu buku terbaik saya di tahun 2013 juga lebih pas masuk ke historical fantasy. Sungguh saya kangen baca yang pure high fantasy.

Yang akhirnya membawa saya memilih buku Furies of Calderon, buku pertama serial Codex Alera. Pengarangnya, Jim Butcher, tidak asing bagi saya. Thanks to Mba Indah Threez yang bikin saya baca buku pertama seri Dresden Files, Storm Front dan jadi ngefans ma si Harry Dresden. Jadi, saya udah tahu gaya nulis Jim Butcher gimana. Bedanya, jika di Dresden Files dia memakai gaya penulisan orang pertama, maka di Codex Alera semuanya memakai POV orang ketiga dan banyak sudut pandang. Bedanya lagi, jika Dresden adalah urban fantasy, maka Codex Alera adalah murni fantasy. Usia tokohnya pun juga berbeda, si Harry udah 30an sementara tokoh utama serial ini Tavi of Calderon masih 15 tahun. Masih unyu. Tapi bukan lantas buku ini jadi unyu. Malah sebaliknya, ceritanya sangat, sangat kompleks.

Copyright

Isi blog ini adalah hak cipta dan milik Ren. Sinopsis dan cover buku diambil dari Goodreads. Image selain cover diambil dari Google dengan mencantumkan sumber gambar. Dilarang meniru atau menyadur isi blog ini tanpa mencantumkan sumbernya. Plagiat will get bitten by karma!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Blogoversary

Get your own free Blogoversary button!

Would love your comment and vote ^_^

Just Curious Where U From ;)