Senin, 23 Maret 2015

Review Film: Insurgent


Judul : Insurgent
Adaptasi dari : Insurgent karya Veronica Roth
Durasi film : 119 menit
Pemain : Shailene Woodley, Theo James, Zoe Kravitz, Ashley Judd, Kate Winslet, Naomi Watts, Jai Courtney, Ansel Elgort, Maggie Q, Miles Teller
Sutradara : Robert Schwentke
Genre : Dystopia
Rating : Dewasa
 




Review:

Tahun 2015 lumayan adem ayem dalam hal nonton film bagi saya. Emang sih di Februari kemaren orang pada heboh nonton film yang ngga diputer di Indonesia (you know what movie that I mean), tapi saya mah baca bukunya aja ga suka ngapain pula nonton filmnya, hahaha. Saking butanya saya dengan perkembangan film Holiwud dan cuma ngeh kalau ntar Avengers baru bakal tayang di bulan Mei, saya sampai lupa kalau lanjutan dari film Divergent, yaitu Insurgent tayang bulan ini. Sama seperti Divergent, saya juga belum baca buku Insurgent (halah, Divergent aja belum kesampaian bacanya XD). Sebuah pengalaman nonton film yang menurut saya lebih oke ketimbang baca bukunya dulu, karena bisa jauh lebih menikmati film dan juga membuat penasaran baca bukunya :).

Aslinya sih, saya males nonton Insurgent dan memilih untuk menunggu donlodan :v. Apalagi saya dan suami saya, K, berencana nonton Insurgent pada malam minggu (kencan juga ceritanya :v :v), dimana saya kaget melihat harga tiket. Lima puluh ribu per orang! Makin tidak filmiawi aja ini harga tiket bioskop :|. Memang saya ga nonton di bioskop sekelas Senayan atau Pejaten Village yang merupakan mall terdekat. Tapi melihat harga tiket bioskop mahal di Kalibata Mall cukup bikin "disitu saya merasa swedih" :'(. Saya merutuk dalam hati, this movie better worth its expensive ticket!  Apalagi gara - gara saya telat ngantri, kami dapat tempat duduk barisan depan. Hadeuh -.-

But enough with the chit-chat, apa film ini emang worth it tiketnya yang mahal? Bagi saya sih...yah lumayan :v



 

Adegan Insurgent melanjutkan langsung dari ending Divergent, jadi sangat dianjurkan untuk menonton Divergent dulu. Review ini juga akan mencakup beberapa spoiler dari film sebelumnya. So, Tris (Shailene Woodley) bersama kekasihnya Four (Theo James), kakaknya Caleb (Ansel Elgort) dan teman sesama Dauntless, Peter (Miles Teller) kabur dari serangan faksi gabungan Erudite dan Dauntless ke Abnegation. Tris sendiri sering bermimpi buruk, dimana dia merasa trauma karena kehilangan orang tua, terutama sang bunda yang sangat disayanginya. Tris juga merasa bersalah karena telah membunuh sahabatnya sendiri. Para buronan ini bersembunyi di tempat kaum Amity yang mengutamakan kedamaian. Sayangnya pelarian mereka tidak lama karena Eric (Jai Courtney), rekan sejawat Four menemukan mereka dan Peter juga berkhianat.

Di tengah perjalanan, Tris harus berpisah dengan Caleb yang tidak tahan dengan pelarian mereka dan bertemu dengan Factionless aka grup Tanpa Faksi. Sempat berkelahi dengan anggota Tanpa Faksi, Four menyelamatkan mereka dengan menyebut nama aslinya, Tobias Eaton dan mereka pun dibawa ke tempat Tanpa Faksi. Ternyata pemimpin grup Tanpa Faksi, yaitu Evelyn (Naomi Watts) adalah ibu Four. Four menolak mentah - mentah tawaran Evelyn untuk menyerang Erudite karena itu berarti akan menimbulkan perang sipil dan bersama Tris pergi ke faksi Candor untuk meminta bantuan.  Disana mereka bertemu kembali dengan kawan - kawan Dauntless mereka yang juga memberontak.

Di Candor, Tris dan Four harus melewati tes dengan serum kejujuran untuk memenangkan dukungan pemimpin Candor. Berbeda dengan Four yang berhasil melewati tes dengan mulus, Tris justru kesakitan karena rasa bersalah membuatnya melawan serum dan akibatnya terpaksa membeberkan kejujuran yang membuat teman Tris, Christina (Zoe Kravitz) terluka. Sayangnya, setelah Amity, Candor pun diserang oleh Erudite. Tiap orang ditembak dengan device yang membuat mereka akan bunuh diri jika Tris tidak menyerahkan diri. Merasa dirinya adalah bom waktu, Tris pergi ke Erudite tanpa memberitahu Four. Disana dia bertemu lagi dengan orang yang bertanggung jawab atas semua kejadian di sekitar Tris, Jeanine (Kate Winslet). Jeanine rupanya ingin Tris untuk melakukan simulasi atas kotak yang ditemukan di rumah orangtua Tris dan wanita itu percaya kalau di dalam kotak itu tersimpan pesan dari Pendiri komunitas mereka. Tris yang murni Divergent harus melewati lima simulasi agar tidak ada lagi orang yang terbunuh. Tapi, kali ini sepertinya Tris lah yang akan terbunuh terlebih dahulu jika dia tidak bisa menuntaskan simulasi itu.

 

Bagi saya, Insurgent jelas lebih seru ketimbang Divergent yang bagi saya cukup boring. Penuh dengan aksi dan juga drama, walau saat saya melihat review orang lain banyak yang mengeluhkan porsi dramanya, bagi saya porsinya sudah sangat pas. Kali ini saya acungkan jempol sama Shailene karena bisa masuk banget dengan peran Tris. Tris disini tidak cengo, semacam plin - plan dan naif seperti di Divergent. Banyaknya kematian di sekitarnya dan juga trauma mendalam karena membunuh membuat Tris berubah. Hal pertama adalah memotong rambutnya sependek mungkin, yang bikin saya bersorak. Yes, akhirnyaaaaa ada juga heroine YA action movie dengan rambut pendek! Saya dulu emang pernah bahas kenapa kok YA heroine rata - rata berambut panjang. Apa ga takut rambutnya kesangkut, hihihi :P. Tris juga terlihat cukup remaja, pas dengan usianya yang masih 17 tahun, cmiiw. Jika membandingkan dengan The Hunger Games, saya emang merasa kalau Jenlaw itu terlalu dewasa untuk Katniss. Mungkin juga rambut pendek Tris bikin dia kelihatan segar namun juga rapuh. Menggambarkan sisi remajanya dengan seutuhnya

Walau begitu, ada beberapa hal yang cukup mengganggu bagi saya. Yang terasa adalah perubahan Tris yang menurut saya terlalu drastis. She become too bloodthirsty! Awal film memperlihatkan betapa Tris gampang sekali kehilangan kendali. Saya paham kalau itu sebenarnya akibat dari depresi yang dirasakan Tris, tapi tetap saja saya merasa kurang sreg :s. Untunglah ya, Tris punya Four yang bisa jadi pegangan hidup. Tanpa Four bisa jadi Tris makin terombang - ambing ga karuan. Saya sendiri cukup suka dengan interaksi Four dan Tris. Tidak lebay, dan its nice to see Four is so devoted to Tris. Bagi saya, ini manis dan emang harusnya seperti itu. Sempat ada issue bakalan ada love triangle dalam sosok Edgar, yang kata temen saya sih aslinya ga ada di buku. Nyatanya? Ga ada love triangle sama sekali. Membuat Insurgent cukup berbeda dengan seri YA lain yang kadang terlalu berat di sisi percintaan dan membuat saya rolling eyes sampai mata hampir copot :P.


Saat melihat film ini dirating dewasa, saya mikir apakah nanti Tris dan Four will go wild and dirty :P, atau mereka bakal ciuman setiap 5-10 menit sekali kayak si Bella Soang dan Edcul di Twilight. Dan... konten seksualnya biasa aja bagi saya, dimana adegan bercinta Tris dan Four disensor abis aka fade to black, hahahaha :v. Yang membuat film ini dirate dewasa adalah konten kekerasannya yang luar biasa untuk ukuran film YA. Memang hampir sama dengan THG, dimana saling bunuh menjadi salah satu konten, tapi THG is about survival. Bukan berarti di Insurgent, pembunuhannya bukan untuk survival juga, tapi saya lumayan kaget melihat Tris atau Four bisa dengan dinginnya membunuh orang meskipun itu musuh mereka.

Dari segi akting, tiap aktor dan aktris sudah memberikan yang cukup terbaik. Saya tetap merasa kalau Theo James itu masih ga cocok jadi Four simply because he's too oooooold :)). Adegan saat dia bertemu dengan ibunya bikin saya ngikik karena alih - alih kayak ibu dan anak, Four dan Evelyn malah kayak kakak adik :v. Walau gitu akting Theo ga buruk, chemistry sama Shailene lumayan dapet dan sepanjang film saya mikir kenapa Theo mengasuransikan pat-patnya, padahal bagi saya bagian itu ngga istimewa :v #disambitfanstheojames. Saya sempat bingung saat melihat Evelyn pertama kalinya, merasa pernah melihat cewe ini entah dimana. Dan saat melihat kredit bergulir, barulah saya ngeh kalau Naomi Watts yang main. Jujur saya ga kepikiran ke Naomi, karena biasa melihatnya dengan rambut blonde. Walau udah mau 50 tahun, baik Naomi Watts sama Kate Winslet tetap cantik :*.

Kalau saya biasa aja liat Theo James, saya malah seneng liat Jai Courtney yang menurut saya lebih tamvan *_*. Sayang emang Jai jadi antagonis, tapi emang wajah dia tipikal antagonis, hahaha. Walau gitu saya tetap suka liatnya :*. Sayang sekali pemeran lain cukup numpang lewat, utamanya para Dauntless, walau untuk faksi Candor, Amity dan juga Tanpa Faksi cukup memberi kontribusi. Scene stealer di film ini justru Peter! Awalnya menyebalkan, Peter justru jadi kuda Trojan dengan plot twist yang cukup mengagetkan. Pengembangan karakternya sangat bagus dan Miles Teller pun memerankannya dengan ciamik :D.


Adegan favorit saya ada dua dan semuanya tentang Tris. Yang pertama saat Tris diuji dengan serum kejujuran di Candor dan akting Shailene tuh dapet banget disitu. Tersiksa, penuh perasaan bersalah, membuat penonton jadi merasa iba. Lalu adegan saat Tris melakukan simulasi kotak Divergent. Wow, full of CGI dan membuat feel sci-finya sangaaat terasa. Sangat unik melihat bagaimana Tris melewati semua simulasi, terutama saat simulasi Amity, simulasi yang cukup penting bagi Tris untuk perkembangan karakternya. Endingnya sendiri bikin saya cuma "he?". Hint, its very much alike The Maze Runner! Saya sendiri mendengar kalau endingnya cukup berbeda dengan buku, yang membuat saya merasa harus baca bukunya (kalau ingat :v). Tapi melihat endingnya saya cuma bergumam. First, Harry Potter Sorting Hat, then The Hunger Games. Now, The Maze Runner. Duh, Veronica Roth, apa originalitas itu hal yang asing bagimu? -.-.

Eniwei, walau emang banyak kemiripan dengan seri YA lain, toh Insurgent bagi saya tetap menghibur. Bagi saya ini juga lebih bagus dari Divergent dan yah, tiket 50rebu itu cukup worth it, hihihi. Kalau suka Divergent, mesti banget nonton Insurgent :). Cuma, bagi yang ortu,  please don't bring your baby or children! Sumpah, ganggu banget denger suara anak kecil atau bayi merengek di bioskop -_-. Karena ratingnya dewasa, ga usah juga bawa anak kecil lah, karena males juga denger "eh, eh tutup matamu, ga boleh liatnya!" pas adegan ciuman. Hadeh noraknyaa -.-. Adegan ciuman ga boleh liat, tapi ada adegan kekerasan dibiarin aja. Indonesia, Indonesiaa :v (sedikit curhatan :P)




Movie Rate 


Sensuality Rate

 

Ada adegan ciuman yang cukup intens dan juga adegan ranjang. Tapi disensor :v

12 komentar:

  1. Belum nyentuh yang Divergent. Tapi pengen langsung sikat yang Insurgent. Wkwk :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa nonton Divergent dulu karena ceritanya nyambung :)

      Hapus
  2. Aduh reviewmu benar-benar menggoda. Pengen nontooooooooooooooooooon XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo nonton mumpung tiket di Malang murah2 :))

      Hapus
  3. Udah nonton. Ahh setuju dengan Mbak Ren. Aktingnya Shailene itu bagus, ekspresinya pas banget. Dan endingnya selain mirip The Maze Runner juga (entah kenapa) berasa mirip The Giver 😅

    BalasHapus
  4. Wah, pengakuan Tris malah bikin iba ya di film? Baguslah soalnya kalau yang di buku bikin saya jengkel dan empet banget sama Tris :)))))

    Oh iya, ini yang dibahas kebanyakan Tris dan Theo, eh, Tobias, kemana ya si Caleb? Apa perannya cuman dikit? Di buku dia bikin twist yang nggak cukup tak terduga :))

    BalasHapus
  5. masih mau nonton sih Mbak (nunggu The Other One selesai kuis nih ceritanya). Aku nye-skipping baca Insurgent, Divergent juga. Dari bukunya sih lumayan menarik, emang lebih banyak action-nya.
    Aku setuju sama Mbak Ren. Theo emang bodinya yahud, tapi ketuaan buatku -___- ceritanya Four kepala dua aja belum, ini Theo udah mau big 3-oh (apa udah ya?)

    BalasHapus
  6. Serius deh. Tobias versi film jauhhh lebihh so sweeet dari bukunya (sekedar kasih tau mbak ren biar kepo) wkwkwkw. Saya pribadi merasa Insurgent baik film dan buku juga yang terbaik dari tiga kisah yang dihasilkan mbak roth (sotoy allegiant aja belon tayang wkwkwkwk) Porsi drama dan aksi juga sudah pas, kalo dibanyakin dramanya ntar jadinya insurgencella.

    Soal Theo. Yahhhh saya fans dia sih tapi harus ngaku kalo emang ketuaan wkwkwkwk. Tapi gpp lah buat alasan saya tereak2 di bioskop.
    Makasih atas repiewnya mbak ren :)

    BalasHapus
  7. Selalu menarik baca review murni film tanpa pembanding dari buku.

    kotak Divergent itu nggak pernah ada di buku Ren. Dan baik Tris dan Four versi film lebih likeable dan mature daripada versi buku yang suka berantem.

    Aku waktu selesai baca Insurgent juga kaget karena mirip enading The Maze Runner, entah yang mana duluan.



    BalasHapus
  8. Kalau belum pernah baca novelnya,filmnya memang bagus banget,tapi karena aku dah baca novelnya lebih dulu,malah kecewa lihat filmnya.Terlalu banyak improvisasi sehingga jalan ceritanya agak melenceng dari novelnya.Adegan penyerangan markas Erudite lebih seru di novel daripada filmnya.Mending mbak Ren baca novelnya juga.Walaupun menurutku Divergent hanya bagus di awal,karena endingnya mengecewakan.

    BalasHapus
  9. Emang endingnya yang bener tu bagaimana? apa ini tidak cukup membuat penasaran tentang kenapa mereka diasingkan? dan ada apa diluar tembok sana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maksudnya apaan yak? Belum baca bukunya, jadi ga tahu ending buku gimana, tapi ada yang bilang cukup berbeda endingnya.

      Hapus

Saya menghargai setiap komen/opini yang diberikan. Silakan untuk tidak setuju dengan review/opini saya tapi mohon disampaikan dengan sopan ya :)
Saya berhak menghapus komentar yang tidak nyambung dengan isi blog atau spamming (jangan sertakan link blog kamu/ link apapun di kolom komentar, kecuali untuk giveaway/reading challenge).
Karena banyaknya komen anonim tanpa identitas, maka opsi anonim saya tiadakan.
Terimakasih sudah mau mengunjungi dan meninggalkan komentar di blog saya :).


I value your comment/opinion. You can agree to disagree with my post/opinion, but please write your comment in good manners.
I have a right to delete your comment if its out of topic and/or spam (please do not include your blog/any link, except for giveaway/reading challenge).
Because of so many anonymous comment without identity, I disable the option.
Thank you for your visit and comment :).

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Just Curious Where U From ;)