Rabu, 26 Maret 2014

Review Film : Divergent



 Judul : Divergent
Adaptasi dari : Divergent karya Veronica Roth
Durasi film : 139 menit
Pemain : Shailene Woodley, Theo James, Zoe Kravitz, Ashley Judd, Kate Winslet, Jai Courtney, Ansel Elgort, Maggie Q
Sutradara : Neil Burger
Genre : Fantasy, Dystopia
Rating : Remaja

 


Review:

Sama seperti Percy Jackson : Sea of Monster, The Mortal Instrument : City of Bones dan The Hunger Games : Catching Fire, saya juga ngga baca bukunya Divergent. Saya sadar bahwa mending ngga baca bukunya dulu, biar bisa nikmatin film karena diri ini yang rada perfeksionis pasti bakalan banding-bandingkan terus antara versi film dan buku. Tapi, ternyata ada baiknya juga kalau saya baca Divergent dulu, karena abis nonton film ini saya malah bertanya - tanya karena banyak hal yang bikin saya jadi garuk - garuk kepala saat nontonnya :P.



Oke, saat Divergent ini sudah mulai tayang minggu lalu, saya semacam ada "trouble in paradise", jadi ngga sempat nonton di hari pertama. Plus weekend kemaren, suami saya K sakit, jadi nonton pun ditunda :'(. Syukurlah Selasa kemaren, mengingat saya udah bete dengan kerjaan akhirnya saya ngajak K untuk nonton setelah pulang kerja. Ngga ada kejadian - kejadian aneh menjelang nonton (biasanya ada X) ) dan bioskop juga ngga terlalu penuh, walau saya sempat ngeluh karena waktu nontonnya pas banget ma waktu Sholat Maghrib :|


Cerita Divergent ibaratnya seperti perpaduan The Hunger Games dan Harry Potter , plus banyak element yang banyak ada di novel YA. Jadi, jangan heran kalau saya akan banyak bandingin ceritanya dengan novel YA lain ya. Khas film Summit, yang juga ngeluarin Twilight, Divergent ini dihiasi background musik dan lagu - lagu yang super catchy,duh remaja banget deh pokoknyah :P. Tidak seperti THG yang beraroma suram, Divergent ini termasuk yang biasa - biasa aja. Setelah perang, Chicago dikelilingi pagar, yang saya ngga ngeh apa coba alasannya, melindungi dari apa, dll, tapi ya udah saya kesampingkan aja disini.

Masyarakat Chicago dibagi menjadi 5 faksi berdasarkan sifat dasar manusia,  demi menjaga perdamaian. Faksi -faksi itu adalah Abnegation (selfless, menjadi anggota pemerintahan), Amity (kind, menjadi petani dsb) , Candor (honest, menjadi hakim), Erudite (intelligent, menjadi ilmuwan) dan Dauntless (brave, menjadi prajurit, menjaga keamanan masyarakat). Tentu saja kalau yang sudah baca dan nonton Harry Potter, langsung klik lah ya, bahwa faksi di Divergent ini sedikit banyak kepengaruh dari sistem kelas di Hogwarts. Bahkan Dauntless itu Gryffindor banget!! Lalu, ada yang namanya Divergent, alias Kelainan, yaitu mereka yang punya lebih dari 1 sifat atau punya kelima sifat. Yang pasti Divergent ini dianggap berbahaya karena ngga bisa dikendalikan.

Tokoh utama kita ada Beatrice Prior (Shailene Woodley) yang awalnya masuk di Faksi Abnegation, dan ortunya juga anggota dewan. Setelah diuji, ternyata Beatrice dikasihtahu Tori (Maggie Q), orang yang mengujinya kalau sifatnya ada 3, yaitu Abnegation, Erudite dan Dauntless. Dengan kata lain Beatrice adalah Divergent, dan Tori ingin Beatrice diam saja. Saat Ujian penentuan Faksi, Beatrice memilih Dauntless, sementara kakaknya, Caleb (Ansel Elgort) malah memilih Erudite. Walau begitu ortu mereka berdua pasrah aja. Seneng rasanya ngelihat ortu yang perhatian sama anaknya ya :')


Karena memilih Dauntless, maka Beatrice masuk ke markas Dauntless. Dauntless ini faksi paling keren menurut saya. Kedatangan mereka aja udah heboh banget, naik kereta dan lompat langsung aja dari kereta :O. Ga butuh waktu lama, Beatrice sudah dapat teman, yaitu Christina (Zoe Kravitz), Al dan Edward, yang menurut saya ini wajahnya kok ya sama semua :| . Sementara salah satu anak baru (aka Initiate) bernama Peter ngejekin Beatrice mulu dengan nama Stiff (kaku), soalnya cewe itu kesannya bosenin. Saat ujian masuk markas, Beatrice berinisiatif buat lompat ke lubang gelap, dan ternyata di bawahnya dipasang jaring. Dan...Beatrice ketemu sama Four (Theo James), cowo yang nanti jadi instrukturnya (dan juga pacarnya, tapi ini nanti aja lah ya :P).


Beatrice pun memilih nama Tris sebagai identitas barunya, dan dimulailah pelatihan super duper keras supaya Tris diterima di Dauntless. Repotnya, salah satu pemimpin Dauntless yaitu Eric (Jai Courtney) itu sadis dan kejam banget! Eric bilang kalau Tris dkk ada di bawah ambang batas maka mereka akan keluar dari Dauntless dan jadi Factionless (Non Faksi), semacam kaum pariah lah. Tris pun mati - matian biar dirinya lolos, dan disinilah saya suka sama proses Tris jadi kuat. Jadi ngga instan kayak Katniss yang udah jago aja panahannya, pun ngga lembek kayak Bella :P. Walau ada bagian yang bikin saya mikir, kayak waktu Tris dihajar sama Peter sampai pingsan, tapi setelah dia sadar dan ikutan "War Game" bareng Four, si Tris dengan jagonya manjatin Bianglala. Lah ini kok hebat banget Trisnya? :O


Tapi yah dikesampingkan lagi deh. Lulus ujian fiksi, Tris ikutan ujian mental. Beruntung Four yang ngurus ujiannya Tris, karena Four pun juga menyadari kalau Tris adalah Divergent. Setelah sebuah kejadian yang bikin Tris terguncang, dia dan Four pun jadi dekat. Benih - benih asmara pun timbul #eaaa X)). Bahkan Four pun ngebantu Tris buat manipulasi ujiannya. Sayangnya, ternyata ada semacam konspirasi antara Dauntless dan faksi Erudite yang dipimpin Jeaniene (Kate Winslet) buat ngehancurin Abnegation, dan Tris dibantu Four pun berusaha nyelamatin ortunya.

Yah, intinya cerita Divergent sih seperti yang saya kasih tahu di atas, dan itu juga saya berusaha nyingkat karena untuk film dengan durasi 2 jam lebih, cerita Divergent ini cukup padat. Sayangnya sih, awal - awalnya cukup bikin boring juga, terutama masa pelatihan Tris di Dauntless. Walau pelatihan dia bikin gregetan sih, soalnya awalnya Tris emang lemah gitu, bikin saya pengen nampol si Eric ma temen - temennya yang lain karena kejam banget ma Tris >.< . Memang ada beberapa hal yang bikin saya heran, kayak Tris yang jadi jago banget habis dihajar, dirinya yang menjadi pusat perhatian. Tapi, yah, namanya juga tokoh utama XD.

 

Yang saya suka lagi adalah romance antara Tris sama Four. Saya rada heran ada yang bilang romancenya banyak, padahal menurut saya tuh dikit banget. Emang sih chemistry Tris dan Four ga "sedasyat" Edward-Bella (yang bikin saya hoeks2), soalnya Tris dan Four ini berjalan apa adanya, ngga buru - buru dan sewajarnya lah. Si Four aja awalnya malah dingin banget ke Tris, tapi ngga kayak Edward yang "aku mau tapi aku menghindarimu, karena kau bla bla bla", proses pendekatan Four ke Tris sangat alami. Dari semua pasangan di novel YA yang saya tonton, saya suka sama Four-Tris ini, kedua setelah Katniss-Peeta tentunya :).

Sayangnya, saya tetep ngga sreg sama pemilihan Theo James buat Four! Memang sih, banyak yang bilang Theo itu keren, dan saya akui juga kalau cowok itu emang ganteng (walau saya masih suka Benedict Cumberbatch, as a fellow British actor, uhuk2). Tapi tetep aja ketuaan. Oke lah, Si Shailene sendiri aslinya ya ketuaan buat Tris, tapi wajahnya yang polos itu cocok banget, dan di luar dugaan aktingnya lumayan juga sebagai Tris. Sementara wajah Theo mah borooos abis. Sama kayak kasus Ben Barnes pas jadi Caspian, walau Ben ketolong ma baby facenya. Lalu, dari segi akting, saya malah sukaan Jai Courtney yang jadi Eric. Dapat aja gitu sadis ma songongnya Eric, sementara Theo awalnya masih kaku pas jadi Four. Walau lama - lama dia udah mulai masuk ke karakternya. Layaknya film YA sekarang, ngga afdol kalau ngga ada nama - nama besar, makanya heran juga lihat Kate Winslet yang biasanya main film kelas Oscar (dan film uhuk2 :P) main di Divergent. Kesan angkuhnya sebagai Jeaniene sih dapat, tapi saya lebih suka kalau Tilda Swinton yang main sebenernya. Sementara karakter pendukung yang lain, cukup numpang lewat, walau saya suka Christina yang dimainkan Zoe Kravitz. BTW, si Zoe ini anaknya Lenny Kravitz yang jadi Cinna di THG lho. Asyik ya bapak ma anak sama - sama main di film YA terkenal :D.



Dari segi cerita, hmm memang Divergent ini perpaduan banyak cerita YA deh. Yang paling mencolok bagi saya  sih bukan The Hunger Games yang sama - sama dystopia, tapi pembagian faksinya. Saya kurang sreg juga sama pembagian faksi di Divergent, kayaknya serba nanggung gitu. Apa iya orang cuma punya satu sifat dasar menonjol, lalu yang Divergent dianggap kelainan, padahal menurut saya sih semua orang itu ya Divergent, alias sifatnya adalah perpaduan sifat - sifat yang ada di faksi. Lalu juga Ujian penentuan Faksinya ngga dijelaskan dengan mendalam, mungkin karena keterbatasan waktu. Lalu, ngga jelas juga umurnya si Tris dan yang lain itu berapa. Yang bagi saya tetap berujung pada fakta bahwa Theo James itu ketuaan buat Four, dan adegan dia ciuman plus mesra-mesraan sama Tris bikin saya mikir, enak bener nih si Shailene bisa grepe - grepe si Theo :)).



Aniwei, pendapat saya dan suami saya, K terpecah untuk film Divergent ini. K sendiri bilang kalau dirinya lebih menyukai THG, dan ngamuk sama saya karena ngga bilang kalau Divergent itu film remaja X). Yang saya balas "lah THG ma Catching Fire itu juga film remaja lho!", dan K balas lagi "masih bagusan Catching Fire pokoknya. Divergent bosenin!". Pantesan K diem aja disamping saya waktu nonton, karena kalau dia suka filmnya, dia bakalan komen macem2 :P. Tapi, dari saya sendiri sih, saya cukup menikmati Divergent. Dan banyaknya pertanyaan setelah nonton film ini, bikin saya jadi pengen baca bukunya.

Jadi, yang masih ragu buat nonton Divergent, saya saranin sih nonton aja deh :). Ini lumayan bagus dan menghibur kok, dan walaupun menurut saya banyak plotholesnya, tetap menarik buat diikuti. Plus kalau kalian juga suka tokoh cewek yang kuat, bakalan suka lah sama Tris. Si Shailene aktingnya bagus juga , ngga kalah sama Jennifer Lawrence (Katniss) . Dan juga kalau pengen liat yang ganteng - ganteng (dalam artian udah dewasa banget) ada Theo James yang bisa ditonton, yang menurut saya walau ketuaan (lagi!) at least dia masih mendingan ketimbang Robert Pattinson (Edward)  atau Jamie Campbell Bower (Jace) :))




Movie Rate 

 

Sensuality Rate

 

Ada adegan ciuman yang cukup intens, dan jelas bukan buat konsumsi anak kecil. Yang bikin saya heran, karena tadi malam ada aja gitu yang bawa anak bayi buat nonton ini -___-"

8 komentar:

  1. Weehehehehe. Ayooo baca bukunya mbaak xD
    lebih seruuu ;p
    Waktu awal, aku juga agak ragu sama Four, tapi waktu nonton dan denger suaranya. OMG saya ga berhenti cekikikan wahahaha xD

    BalasHapus
  2. Bukunya pun banyak plotholes-nya :))

    Dijamin nggak puas dengan buku pertama, tapi nggak tahu apa kak Ren bakal tahan dengan sekuelnya. Soalnya saya hanya tahan hingga buku dua dan bacanya saja sambil lompat-lompat (?)

    Aku setuju sama kak K, THG series sih emang jauh lebih much better (bukan merk snack) xD

    BalasHapus
  3. AHhh... suka sama Theo James. Karakternya kuat, gak menye2 kayak Edward yang sook dingin itu.

    nB: Lebih suka divergent drpd THG, apalagi di mockinjay (out of topic) udah gak ada Hunger gamesnya lagi -_-.

    http://starlibrary.wordpress.com/

    BalasHapus
  4. Saran aja dehh... Mending jgn baca buku nya mba.. Jleb ending nya.. Ga bgt.. Haha.. Malahan berharap bgt movie nya better dan bedaaaaaaaa bgt ma buku.. Pkonya buku ke tiga yg namanya allegiant tuh baca nya bkin kerut kerut di jidat

    BalasHapus
  5. Dan saya baru komentar di sini

    Ya ampun telatttttt bangetttt MEMESSSS
    Oke, kalau mbak lirik PP email saya, maka akan ngeh kalo saya DVG fansgirling dan TRIAShippers ( Tris-Tobias ) emot mata lope2

    Saya mau ikutan komen banyak buat filmnya mengingat saya udah baca muahahahahahha puluhan kali bahkan saya kasih 4 mangkok dah.

    1.Dari segi cinematography dulu dah, saya kasih 4 mangkok. kenapa????? karena SESUAI BANGET bahkan melebihi EKSPETASI SAYAAAAAAAAA...hahahhahaha meskipun bayangin awalnya Dauntless harusnya agak gelam mpe mojok di dasar tanah gtu . Tapi over all bagus banget, efek penggambaran chicago di masa depan yang telah hancur. Lalu bangunan2 abnegation yang bener2 (kata di buku : so boredddd) saking miripnya sampe bisa nyasar kalo ga dinomorin wkwkwkwkwk. Semua terasa real and nyata.

    2. Scoring : ini saya kasih 4,7. Junkie XL sukses buat saya mencak2 dan nari2 dan mewek dan ketawa. Lalu suara Ellie Goulding di beberapa scene, di mana di melakukan semacam seriosa yang membuat saya merinding abis dan menangis di scene....ehem...emaknya tris.

    3. Scene : Saya kasih 4,5. Favorit saya ada 5.
    a) Feeris Wheel. ( YA AMPUN SAYA FANS BERAT FEERIS WHEEL DARI DULU!! >_<)
    b) Kiss scene...( OH MY...OH....OH...oke, nggak jelas ini, abaikan)
    c) Ketika Tris meluncur dari ketinggian setelah kemenangan timnya dalam games ( harusnya ada karakter penting yang di skip di film pertama tapi yasudahlah ya, gpp)
    d) When Tris mother..... oh GOD, I Cried so louddd huks :.((((
    e) Tris fight with Tobias. Ini jelas melebihi ekspetasi saya dari buku. Karena di buku fight scene kurang panjang muehehehehhe

    4) Character : Jujur ya, saya sering kesal bila ada yang membanding2 kan DVG dengan (maaf sebelumnya) Twillight, bukannya apa2 Helloooo genrenya aja bedaaaa. Kalo mau bandingin dari segi pendapatan its okelah tapi dari apapun jelas ga bs disamain dong, orang jenis cerita aja beda ibarat kata DVG steak, Twillight nasi timbel. Nah loh hahhaa. Dari sini saya SANGAT AMAT SETUJU SAMA MBAK REN XD
    Jadi kemana2 kan. Tentang karakter saya mau bilang bahwa Tris JAUH BERBEDA dari kebanyakan karakter lain, bahkan dari Katniss everdeen ( karena banyak yang nyamain) Tris itu MEMILIH UNTUK menjadi seorang petarung, dari karakternya yang berfisik lemah ( bukan mental, karena secara mental jelas Tris kuat, gak menye2) di sinilah saya sangat menyukai Beatrice Prior, karakternya tumbuh berkembang menjadi kuat, tegar, selfish memang, namun dia belajar dan tahu apa yang akan dan dia inginkan. Yang saya suka lagi, Tris ga butuh diselamatin, yang ada dia menyelamatkan Tobias ( Fight scene with Tobias remember) dia ndak butuh superhero nolong dia apabila mendadak ada mobil mau nabrak dia, dia juga ndak butuh keajaiban punya kekuatan supernatural biar bisa jadi kuat. Dia kuat karena keinginan.
    Tentang chermistry dengan Tobias. Jujur di antara pasangan Clary-Jace, dan Peeta-Katniss, saya paling suka Tris-Tobias. Karena mereka saling melengkapi. Tobias membuat dan mengasah Tris menjadi kuat, Tobias memberikan kepercayaan-kepercayaan pada Tris dan yaakin tris mampu ( meski sering beranterm):3 Pada intinya Tobias ini versi yang banyak di cari wanita di dunia nyata ( makin nyeleneh)
    Dan saya suka Tobias karena dia mampu membuktikan DIA BISA MENJADI TIDAK SEPERTI YANG ORANG BAYANGKAN setelah masa lalunya yang suram. Dia mampu tumbuh, bangkit, dan berjuang dari sakit di masa lalu.
    Over all, semua karakter dalam DVG membuat saya terpukau. Kecuali satu ( nggak sop iler) saya benci banget ma karakter ini, dan dia bukan Eric, peter, ataupun Jeanine sekalipun ( yang udah baca lengkap pasti tahu dan saya tetep nggak sop iler ) hahahhaha.
    Last but not least. DVG layak baca dan tonton. Saya memberi mangkuk 4 plus setengah deh hahahha jadinya 4,5 mangkuk.

    Makasih buat mbak ren maaf kalo komen saya kepanjangan, maklum DVG sejati hahahahhaha :)
    BE BRAVE ! AND CALM DOWN. Because Dauntless Cake on the way... :3

    BalasHapus
  6. Menurutku filmnya lumayan sih kak, kalau rating dari aku cukup 3,5 aja deh. Soalnya menurutku lebih seruan THG.
    Sama kayak kak Ren, menurutku Fournya ketuaan. Padahal waktu baca bukunya aku berpikir kalau Four itu cakep banget. Tapi ternyata >_< aaargghhh! (abaikan)
    Thanks buat reviewnya kak..

    BalasHapus
  7. Aku baru nonon XD Kwawakwak *telat. Yah akhir tahun lah dapat upeti dari temen.

    Aku awalnya penasaran buat denger OSTnya SPECTRUM yang dibikin ama Zedd. Kecewa coz ternyata cuma jadi lagu ending >< *huuh

    Aku suka Theo hoee, wajahnya kaya yg jadi Harry Osbourne di Spiderman XD

    Ya, buat aku pembagian faksi berdasarkan sifat itu maksa abis. Dan alasan pembagian faksi serta dystopiannya nggak ada. Ini bakal ada sekuelnya nggak sih, filmnya?

    Kalau buat aku Tris jago manjat bianglala bukan karena kuat sih. Tapi lebih karena nekad XD Jadi well, aku suka karena dia proses kuatnya lumayan kaya Naruto. Dari bawah banget heuheuheu


    *malah lum nonton Hunger Games sama sekali .__. *upeti, mana upeti

    BalasHapus
  8. Kalau saya sih, bukunya lebih keren, walau endingnya bikin galau. Saya jatuh cinta sama karakter Four yg ada dibuku ketimbang di filmnya. Sebaliknya malah cinta sama Eric versi film ketimbang di bukunya.
    Lagi nunggu Insurgent tayang nih.

    Bahas Edward sedikit, saya tu kok ngga suka ya kalau diperanin sama Robert Pattinson, lebih gagahan yg ada dibukunya daripada di film, menurut saya, cocoknya yg peranin Edward itu si Sebastian Stan, hehe...

    BalasHapus

Saya menghargai setiap komen/opini yang diberikan. Silakan untuk tidak setuju dengan review/opini saya tapi mohon disampaikan dengan sopan ya :)
Saya berhak menghapus komentar yang tidak nyambung dengan isi blog atau spamming (jangan sertakan link blog kamu/ link apapun di kolom komentar, kecuali untuk giveaway/reading challenge).
Karena banyaknya komen anonim tanpa identitas, maka opsi anonim saya tiadakan.
Terimakasih sudah mau mengunjungi dan meninggalkan komentar di blog saya :).


I value your comment/opinion. You can agree to disagree with my post/opinion, but please write your comment in good manners.
I have a right to delete your comment if its out of topic and/or spam (please do not include your blog/any link, except for giveaway/reading challenge).
Because of so many anonymous comment without identity, I disable the option.
Thank you for your visit and comment :).

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Just Curious Where U From ;)