Selasa, 04 Oktober 2016

Review Film: Miss Peregrine's Home for Peculiar Children


Judul : Miss Peregrine's Home for Peculiar Children
Adaptasi dari : Miss Peregrine's Home for Peculiar Children oleh Ransom Riggs
Durasi film : 132 menit
Pemain :Asa Butterfield, Eva Green, Ella Purnel, Judi Dench, Samuel L Jackson
Sutradara : Tim Burton
Genre : Fantasy
Rating : Remaja


Review:

Rasanya...seperti sudah lama saya tidak update blog, dan juga lama engga bikin film review XD. Film adaptasi buku yang terakhir saya ulas adalah The Maze Runner: Scorch Trial. Sebenarnya setelahnya pun ada beberapa judul film adaptasi buku yang saya tonton seperti The Jungle Book, namun seperti biasa, alasan "waktu kurang" jadi penyebabnya :P.  Cuma nih, kalau dipikir - pikir film adaptasi dari buku saya rasa kok rada berkurang ya. Yang saya ingat paling cuma The Jungle Book, BFG, Alice Through Looking Glass, dan beberapa judul yang mungkin saya kelewat aja ingatnya. Untungnya, di bulan Oktober ini ada film Miss Peregrine's Home for Peculiar Children. Film ini juga semacam ajang "comeback"nya Tim Burton, setelah di Alice Through Looking Glass, dia hanya menduduki peran produser saja.

Menonton Miss Peregrine's...rasanya fresh buat saya. Di tengah gempuran adaptasi novel dystopia yang lumayan bikin depresi (tapi pundi - pundi studio mengalir deras),  Miss Peregrine's hadir dengan menggabungkan unsur fantasy dan sedikit horror. Memang sih, kalau hanya melihat trailernya sekilas, beberapa penonton akan mengira ini film horror, dimana saya juga. Apalagi, ini Tim Burton gitu loh. Saya mikirnya ini bakal kayak Dark Shadow, dimana pemeran Miss Peregrine, Eva Green juga maen di dalamnya. Abis nonton, hmm, Miss Peregrine ini jadi semacam campuran antara Alice in Wonderland dan Dark Shadow. Gothic iya, colorful juga iya :D.



Ceritanya sendiri sebenarnya cukup sederhana, walau ada beberapa element sci-fi juga di dalamnya yang menuntut sedikit pemikiran. Jake Portman (Asa Butterfield), baru saja kehilangan kakeknya, Abe (Terrence Stamp). Jake sampai stress karena mengira monster yang membunuh kakeknya, mungkin cuma delusi, sampai akhirnya dengan usulan dari psikiaternya, Jake ditemani sang ayah pun pergi ke Wales. Ngapain ke Wales? Karena sebelum wafat, Abe berwasiat ke Jake untuk mencari Miss Peregrine di Wales.

Suasana awal film emang terasa suram dan "basah", mirip sama keadaan pulau di Wales yang Jake kunjungi. Tapi...ketika akhirnya Jake bisa ketemu Miss Peregrine, langsung berubah colorful deh :D. Jadi Miss Peregrine ini bukan orang biasa. Dia adalah Ymbrine, manusia dengan kemampuan khusus yang bisa menjadi burung dan bisa mengendalikan waktu. Miss Peregrine adalah pengasuh anak - anak "peculiar", mereka yang punya kekuatan superhuman. Tak cuma pengasuh, Miss Peregrine juga pelindung mereka, karena musuh peculiar adalah Hollow. Hollow yang bisa berubah menjadi monster dengan tentakel dan berwujud raksasa suka memangsa mata anak - anak peculiar supaya mereka bisa abadi. Karena itulah, Miss Peregrine membuat suatu lingkaran waktu atau loop. Dimana dia akan memanipulasi waktu, mengulang hari yang sama terus menerus, yaitu 3 September 1943. Semuanya untuk menjaga peculiar dari kejaran Hollow.

Saat pemimpin Hollow, Tuan Barron (Samuel L Jackson) menculik Miss Peregrine, kedamaian anak - anak peculiar pun terancam. Jake yang berjanji pada Miss Peregrine untuk menjaga para peculiar, menyusun rencana untuk menyelamatkan Miss Peregrine. Dengan dibantu para peculiar, Emma (Ella Purnell), Olive, Enoch, Fiona, si kembar aneh, Horace, Millard, Hugh dan Claire, mereka harus berpacu dengan waktu, karena tanpa loop, para peculiar ini akan menua dengan cepat. Jake menganggap dirinya sendiri bukan peculiar. Tapi, dia akan tahu kalau pendapatnya ternyata salah.

Rasanya, film ini memang comebacknya Tim Burton yang lumayan, setelah dia cukup mengecewakan di Dark Shadow. Saya suka sama penceritaan peculiarnya, dimana semua anak - anak mendapat kesempatan menunjukkan kemampuan mereka. Walau memang ada yang menonjol, seperti Emma yang mengendalikan udara, dimana adegan dia saat membersihkan kapal karam itu kereeeen banget XD. Lalu ada Olive yang bisa mengendalikan api, Enoch yang bisa mengendalikan benda mati, Horace dengan kemampuan proyeksi mimpi dan recognition, Fiona yang bisa menumbuhkan tumbuhan dengan cepat, dll. Eva Green pun menurut saya cukup sukses jadi Miss Peregrine, walau menurut saya beberapa adegan dia agak lebay. Tapi, minimal dia ga maen peran seksi lagi XD. Sayangnya, saya ga ngerti kenapa Tuan Barron harus diperankan Samuel L. Jackson. Beberapa adegan comic reliefnya doski bikin penonton sekitar saya ketawa. Tapi saya nanggapinnya datar aja gitu. Emang sih, Miss Peregrine's ini film remaja, yang laiknya film remaja lain, butuh aktor dewasa yang terkenal biar mendongkrak penonton. Karena pemeran peculiarnya, yang sudah main lumayan banyak hanyalah pemeran Emma saja. Asa disini juga kelihatan sudah tumbuh gede. Tidak terlihat emonya seperti di Ender's Game :3.


Saya merasa kalau film ini ada sedikit underlying messagenya, salah satunya adalah tentang mental illness. Rasanya seperti, orang kalau stress, mengalami halusional, atau dementia, adalah hal yang sangat buruk. Ini terlihat dari sikap ayah Jake yang menganggap stressnya Jake itu semacam beban. Padahal Jake jelas butuh dukungan, dan memang selama ini apa yang dibilang kakeknya, para peculiar dan monster itu memang benar. Intinya, jangan pernah menganggap remeh mental illness, atau mengabaikannya. Pesan yang lain adalah, para peculiar terlalu dilindungi oleh Miss Peregrine dengan loopnya. Kedatangan Jake, membuat mereka lebih berani menggunakan kekuatannya untuk menghadapi para Hollow. Jake juga menyadari kalau dia sebenarnya punya kelebihan. So, tiap orang, walau merasa dirinya biasa, sebenarnya dia juga punya "peculiarity"nya sendiri. Jadi, jangan mudah putus asa XD. Oh ya, ada romancenya juga sih, tapi bagi saya malah manis deh romance antara Jake dengan Emma. Ga berlebihan pokoknya :D.

Buku Miss Peregrine's Home for Peculiar Children sendiri sudah diterjemahkan di Indonesia oleh Gramedia, dengan harga yang lumayan bikin nangis :'). Saya sendiri belum membaca bukunya, sebuah "policy" yang memang saya terapkan untuk film adaptasi dari buku. Menurut beberapa teman, perubahan ceritanya cukup signifikan, seperti kemampuan Emma dan Olive yang ditukar (jadinya "Peculiar yang Tertukar" ya :v). Ending filmnya sendiri menurut saya cukup unik. Seolah ceritanya sudah selesai, tapi bisa saja ada sekuel kalau misalnya laris manis :P.

Belum nonton? Yuk nonton Miss Peregrine's Home for Peculiar Children! :D




Movie Rate 


Sensuality Rate

 

Ada adegan ciumannya, walau menurut saya sih, kadarnya biasa. Oh ya, jangan bawa anak kecil ya nonton ini, karena beberapa adegan jump-scarenya cukup bikin jantung mendadak disko :P

3 komentar:

  1. Kemudian saya bingung apakah cukup nonton filmnya saja ataukah kudu pake banget beli bukunya yang harganya uwow itu. Thanks ulasannya, Ren.

    BalasHapus
  2. Worth every penny. Habis nonton film ini pengen baca bukunya..

    BalasHapus
  3. Ihh, jadi pengen nonton filmya :o

    BalasHapus

Saya menghargai setiap komen/opini yang diberikan. Silakan untuk tidak setuju dengan review/opini saya tapi mohon disampaikan dengan sopan ya :)
Saya berhak menghapus komentar yang tidak nyambung dengan isi blog atau spamming (jangan sertakan link blog kamu/ link apapun di kolom komentar, kecuali untuk giveaway/reading challenge).
Karena banyaknya komen anonim tanpa identitas, maka opsi anonim saya tiadakan.
Terimakasih sudah mau mengunjungi dan meninggalkan komentar di blog saya :).


I value your comment/opinion. You can agree to disagree with my post/opinion, but please write your comment in good manners.
I have a right to delete your comment if its out of topic and/or spam (please do not include your blog/any link, except for giveaway/reading challenge).
Because of so many anonymous comment without identity, I disable the option.
Thank you for your visit and comment :).

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Just Curious Where U From ;)