Selasa, 11 April 2017

Random Thoughts: Sorry, I Don't Read Popular Book


Holla! :D

Random Thoughts is back setelah sekian lama tidak ada kabarnya XD..dan sebenarnya postingan ini tidak bisa dibilang random thoughts, karena sebenarnya ada temanya. Dimana postingan ini untuk tema "Tips/Pengalaman Pembaca" sebagai salah satu event #BBIHUT6 Marathon posting. Tapi isinya tetap random kok XD. 

Sebelumnya, apa sih Random Thoughts itu? Ini adalah sebuah postingan yang bersifat non opini  yang akan menanyakan pada pembaca blog tentang topik tertentu. Topiknya random, tapi masih berhubungan dengan buku tentunya ;). Dan waktu postingannya sendiri juga random. Yah, when the mood strikes, atau kebetulan saya dapat "aha!" moment. Topik yang akan dibahas di Random Thoughts edisi kali ini adalah:


"Maaf, saya tidak baca buku Populer/Mainstream"

Ehem..judulnya mungkin sangat terkesan...sombong? Tapi, percayalah, ini ada hubungannya dengan apa yang akan saya ceritakan dan ini juga terinspirasi dari kisah nyata :')

Alkisah pada suatu hari, si empunya blogger, Ren, sedang asyik bercengkerama di kantornya (duh bahasanya XD). Nah, kebetulan saya sedang bahas masalah buku. Teman saya sebelumnya minta tolong saya untuk membeli buku dari penulis berinisial I, mumpung ada diskon. Yang kemudian berlanjut dengan percakapan:

Teman A: Emang ga baca buku ini?
Ren (R): Engga, sis. Kebetulan dulu dah pernah baca karya pengarang itu dan aku ga suka

Lalu..teman saya yang lain, katakanlah B tiba - tiba menimbrung:

Teman B: Mba Ren mah ga baca buku - buku yang kayak begitu. Dia juga ga baca bukunya si D (salah satu penulis terkenal Indo juga :P)
R: Hehehe...emang ga tertarik sih
Teman B: Bukunya Mba Ren banyak yang kita ga tahu soalnya. Kalau buku - buku populer kayaknya ga dibaca deh.
Teman A: (mengangguk)
R: (cuma senyum, tapi senyumnya pahit. Terus melipir)

Well....saya sering mendengar curhatan teman - teman blogger atau sesama pembaca buku, dimana lingkungan mereka bukanlah lingkungan yang doyan membaca buku. Di kantor ataupun keluarga saya juga bukan tipe yang pembaca buku, kecuali untuk keluarga saya, adik saya masih suka baca komik dan novel (dan suka nodong saya buat beliin). Makanya di kantor saya suka banget minjemin buku, rekomendasiin buku. Tapi...gimana kalau ternyata saya malah semacam dibilang tidak baca buku - buku karya penulis populer. Apalagi penulis lokal populer macam Tere Liye, Ika Natassa, Dee, Aan Mansyur, Ziggy Y, dll. Atau karya populer macam Dear Nathan, Trilogy Jingga, bukunya Pram, dll dsb.

Saya  sadar, my reading taste is simply different. Saya juga tahu, kebanyakan buku yang saya bahas di blog maupun Goodreads juga tidak banyak yang tahu. Did I give it a damn? Sebelumnya sih engga, saya termasuk yang tidak terlalu peduli sama omongan orang. Tapi, tapi, saya akuin, yang dibilang teman saya di kantor, agak bikin saya jadi baper :'). Seakan rasanya, saya itu kayak eksklusif, tidak baca buku yang dibaca temen kantor saya ini atau ga baca buku - buku yang sering ada di rak best seller..atau buku karya penulis lokal yang lagi ngehits. Apakah itu...bikin saya jadi kayak sombong? :(

Saya sendiri selalu berharap, baik untuk orang lain maupun diri sendiri, untuk selalu mencoba menghargai selera baca orang. Tidak terhitung banyaknya orang yang mungkin mereka sadar, mungkin juga engga, semacam "mencela" genre - genre buku yang saya baca. Mungkin saya juga ga sadar melakukannya. Saya berpikir...apakah emang memilih untuk tidak baca buku yang sedang ngehits, simply because I'm not interested enough, itu aneh? Sampai sekarang saya juga tidak bisa menjawabnya, apalagi dengan kejadian yang baru saja saya alami di kantor. Saya berusaha melupakannya...tapi, tetep saja kepikiran, huhuw :').

Bagaimana dengan teman - teman?

Pernahkah dianggap aneh karena tidak baca buku yang sedang populer? Atau karena genre favenya tidak seperti pembaca kebanyakan? Bagaimana reaksi kalian atau bagaimana menghadapinya?

Spill your random thoughts!! :D


28 komentar:

  1. Kadang, malas juga baca buku yang ngehits. Apalagi yang best seller banget. Terus ditanya kenapa nggak baca? Bikin jawaban muter-muter, tapi alasan aslinya sederhana: malas dengan keriuhan.

    Tapi, masih sering kepo juga sih. Lol.

    BalasHapus
  2. Saya yang dasarnya pembaca novel genre apa pun, jadi lumayan gampang terpengaruh. Tetapi, saya tidak mengharuskan membaca buku yang hits atau populer juga. Apa lagi sekarang ini bermunculan buku-buku dari penerbit baru yang secara kualitas juga bagus. Sehingga bacaan saya mulai merambah ke berberbagai genre. Soal yang dialami Kak Ren, wajar kok memilih bacaan yang sesuai kesukaan. Kan sebenarnya pembaca itu punya kesukaan buku dan genre yang beda-beda. Yang penting dari membaca adalah menikmati bacaan itu sendiri bukan?

    BalasHapus
  3. Hana termasuk baca buku populer sih tp bukan yg Indonesia,biasa yg populer di goodreads. Hana juga banyak blm baca buku penulis yg kakak sebut di atas.. Simply dari sinopsisnya aja ga minat . Hehehe.. Atau penasaran tp setelah baca review/bab 1nya jadi ga penasaran lagi.. Heheh
    I feel you Kak Ren.. Hana waktu jaman kuliah sneg bgt,temen2 hana pada suka baca tp ternyata selera bacanya beda. Hahahahha

    I think what you did is good. You brave enough to be comfortable with your choice

    BalasHapus
  4. Kalo aku malah nggak tahu mana yang populer mana yang nggak, kak, wkwk.. Yang penting kalo aku suka, kubaca.. Tapi kalo nggak, ya ada aja alasan nundanya..

    Dulu, juga sering ngerasa nggak cocok seleranya bacaanku dengan yang lain, tp pas udh kuliah aku nemu satu orang, yang juga sahabat paling dekat, dan kami saling mempengaruhi bacaan..

    Btw, aku suka Tere Liye dan Pram, hehe.

    BalasHapus
  5. Masalah selera aja kok. Aku sih suka pake banget bukunya yg inisial I itu, tapi kalo inisial D aku cuma suka buku #1 nya aja aku nyerah di #2.... As long as you read, it doesn't matter what you read. Kecuali buku sesat sih, tapi itu story for another time πŸ˜‚

    BalasHapus
  6. T= Teman aing
    A= Aing

    T: *tiba2 muncul entah darimana* Wen, kamu punya buku xxx nggak? Pinjem dong. (buku populer, super duper, amat sangat populer)
    A: wah, nggak punya.
    T: Lha, bukannya kamu suka baca buku? Masak buku xxx aja nggak punya? *tiba2 menghilang kembali entah kemana*

    BalasHapus
  7. Beberapa temanku memandangku dengan tatapan terpana ,, "Gokil juga selera nih orang, buku Ika dn best seller lokal nggak dia baca". Yang dibaca cuma yang ada best selling New York Times aja ;D wkwkwk. Namanya juga selera kak, nggak bisa maksain mereka sama dengan kita begitu juga sebaliknya

    BalasHapus
  8. Kalo aku sih, cenderung baca yang ada aja. Dalam artian, ada kok novel yang aku suka banget tapi yang lain nggak suka. Untuk novel populer sendiri aku biasanya nunggu hype-nya turun. Tapi nggak semua diikutin sih....

    BalasHapus
  9. Aku ga selalu ngikutin novel populer. Kalau bs dibaca via Scoop atau Bookmate, biasanya saya langsung nyicip. Kalau ga suka ya ga dilanjutin.
    Beda kalau yg nulis itu masuk dalam autobuy list. Meski kadang bukunya harus lewatin "seleksi timbunan" dulu...hehe

    BalasHapus
  10. Hihi sama kak .... pernah ada pertanyaan gini,
    "Neng pernah baca buku ini?"

    "Ehm nggak. Kenapa?"

    "Masa sih nggak pernah? Lagi hits ini. Masa pecinta buku nggak tahu."

    x__x

    Bikin baper iya kak. Seriusan!!!

    bedanya saya bukannya nggak baca buku yang lagi populer atau booming buaaanngget.Tapi kebetulan aja genre buku yang lagi terkenal itu bukan tipe bacaan saya. Coba dch di suruh baca gone girl atau the girl on the train, bakal saya baca walaupun entar hasilnya nggak suka. Karena emang bacaan saya ya disitu.

    BalasHapus
  11. Halo, kak. Huehu aku baca tulisan ini jadi teringat sama diri sendiri.
    Aku sendiri juga tipe orang yang ngga suka baca buku best seller, penulis best seller atau bahkan buku yang lagi rame diomongin orang.

    Tapi ngga apa-apa sih, aku merasa nyaman ajah ketika aku ngereview buku yang aku baca dan banyak orang ngga tau. Komentar nyebelin temen-temen saat berusaha minjem buku populer yang mereka kira bakal ada di rak buku sudah biasa hahaha.
    Apalagi saya tipe pembaca yang pemilih--bisa nunggu berjam -jam di website buku untuk pesan buku walau akhirnya buku itu masuk timbunan dulu

    BalasHapus
  12. Aku baca buku sih sesuai selera. Kadang buku populer kadang enggak. Tapi biasanya sih, kalo boomingnya karena dibeli & dibaca jutaan orang atau dijadiin film lokal, aku nggak tertarik. Kalo boomingnya diganjar penghargaan aku kepo & tertarik.
    Aku setuju banget kalo orang kan punya genre kesukaan sendiri² dan penulis kesayangan sendiri²... mau buku populer atau enggak yg penting kan sama² suka baca. Agama aja nggak boleh dipaksakan apalagi genre bacaan, ye kan? :))

    BalasHapus
  13. ya sering sih. tapi aku kembalikan semua itu ke diri masing2 aja. selera kan beda2 soalnya.

    BalasHapus
  14. Ah, cuek aja lah Ren. Orang2 yang suka ngikuti tren ato hal2 berbau populer emang kadang kesannya mengintimidasi, yah walo mungkin sebenarnya mereka ga sengaja sih. Dan kita jadi kebawa baper, karena kok ga sama ma yang lain? Berbeda itu memang sulit, heuheuheu *curhat*

    BalasHapus
  15. Kalau aku malah sebaliknya, dianggap aneh (oleh teman serumah) karena bacaan yang terlalu mengikuti selera kebanyakan, :D. Tapi aku baik-baik saja kok hidup serumah dengan orang yang memiliki selera baca berbeda. Kadang dia merekomendasikan novel sastra yang lebih "berat" dan tidak populer. Hal paling penting adalah dukungan untuk terus beli buku, hahaha.

    Aku sih melabeli diri sendiri dengan omni-reader, pembaca segala, yang terbuka dengan beragam genre. Spontan mengikuti intuisi aja. Kadang baca karena cover belakang buku atau cover depan yang menarik, atau pernah baca novel dari penulis yang sama sebelumnya. Kadang blogwalking baca review dari book blogger supaya yakin mau beli atau nyari pinjeman aja. :D

    BalasHapus
  16. Pernah dianggap aneh karena ga baca buku populer, tapi pernah juga dianggap aneh karena baca buku populer hahaha

    Jadi ceritanya kan temen-temenku banyak cowok ya, nah mereka itu boro-boro suka baca novel. Nah, suatu hari pernah pas lagi nunggu kumpul-kumpul ama mereka aku nunggu sampai baca buku. Ini kejadiannya pas masih awal kuliah, belum segila ini jadi coretpenimbuncoret pembaca buku. Nah, pas lagi nunggu sambil baca itu ada seorang temen yang komentar "Ih bacamu buku cengeng ya". Lupa pas itu baca buku apa, kayaknya novel Winna atau Windry deh. Pokoknya novel lokal populer. Habis dia bilang gitu, aku bilang "Lha emang kenapa? Aku ini yang baca" terus dia diem dan bilang "Iya juga sih"

    Pas masa-masa awal itu masih banyak yang ngeliat aku aneh karena suka baca. Secara temen-temenku lebih suka ngegame dota atau game lain ya hahaha. Tapi ya aku ga terlalu peduli sih, toh aku ga ngusik mereka dan mereka ga ngusik aku. Tapi ya terus ga lama kemudian (eh lama ding kayaknya, setahunan adalah) temenku yang komentarin aku baca novel cengeng mendadak datang dan bilang, "Eh ternyata novel cengeng ga jelek ya, bagus banget malah. Aku bacanya tersentuh" dan mulai cerita soal novel Winna yang dia baca (aku masih inget penulisnya karena membekas banget dia ini). Ya gimana ga membekas kalo sebelumnya dia ngomong gitu trus ga lama komentar gitu. Hahahah.

    *ini malah ngelantur*

    Yah intinya sih berlapang dada aja mbak kalau dianggap aneh, udah biasalah ya. Pas pulang kampung aja aku bawa novel dikomentarin "Baca novel mulu, dapat apa sih?" sama keluarga sendiri (bukan keluarga kandung sih, keluarga kandung mah udah tau betullah aku doyan coretmakancoret baca buku), tapi ya rasanya tetep sakit :(

    Tapi ya lama-lama mereka juga ga komentar apa pun haha. *lha ngelantur lagi*

    Udah ah daripada makin ngelantur. Intinya berlapang dada dan doakan saja mereka mbak XD

    BalasHapus
  17. Kalau aku sendiri, membaca buku itu masih aku batasi dengan melihat-lihat genre dan reviewnya terlebih dahulu. Soalnya tidak semua buku bisa masuk ke dalam rumahku. (tahulah maksudku)
    Serta membaca buku berdasar kepopulerannya kata lainnya mengikuti sensasi dan trend, menurutku itu juga bukan salah satu berpikir bijak yang perlu aku terapkan. Karena bagaimanapun baca buku itu untuk mengambil hikmah dari isinya, bukan karena populerannya. Tidak logis sekali.
    Sayangnya sebagian besar orang melihat kebalikan dari pernyataanku. Melihat trend tanpa di serap dulu apa baikya.
    Sebagai bukti yg sudah aku teliti, ada juga lho buku populer namun isinya sangat kontraks dengan betapa populernya si buku. Jadi intinya, berpikir bijak sebelum menetapkan beli buku itu perlu.

    BalasHapus
  18. Ada seorang penulis populer, bukunya laris, penggemarnya banyak. Suatu hari, kubeli bukunya, kubaca, ternyata gak kusuka. Hari yg lain, ada GA berhadiah buku lain penulis tsb, ku iseng2 ikut dan menang (hahaa). Sampai skrg hadiahnya belum kubaca bahkan lupa narohnya di mana -,- Jadinya tiap ada GA berhadiah buku yg tidak sesuai seleraku, mending ku gak ikut biar kesempatan menang org lain yg memang lbh berminat lebih besar.
    Ini cuma masalah selera, kak. Anti mainstream gpp 😁

    BalasHapus
  19. Ada seorang penulis populer, bukunya laris, penggemarnya banyak. Suatu hari, kubeli bukunya, kubaca, ternyata gak kusuka. Hari yg lain, ada GA berhadiah buku lain penulis tsb, ku iseng2 ikut dan menang (hahaa). Sampai skrg hadiahnya belum kubaca bahkan lupa narohnya di mana -,- Jadinya tiap ada GA berhadiah buku yg tidak sesuai seleraku, mending ku gak ikut biar kesempatan menang org lain yg memang lbh berminat lebih besar.
    Ini cuma masalah selera, kak. Anti mainstream gpp 😁

    BalasHapus
  20. Aku juga suka baca novel yang enggak famous-famous banget dikalangan orang-orang deketku. Kadang jadi sedih sendiri sih ya, enggak ada yang bisa diajak ngomong tentang ceritanya, fangirling, dan lain-lain.
    Tapi ya kadang aku juga baca buku yang populer tapi gak sampek ngidolain sih ya. Temenku itu sampai ada yang sedih gara-gara aku enggak baca novelnya Tere LiyeπŸ˜‚

    BalasHapus
  21. Mungkin novel bacaanku biasa aja dan aku mengakui itu, ga seperti kebanyakaan orang. Aku bahkan sering iri dengan buku-buku yang dibaca orang lain, yang nge-hits baik penulis lokal atau pun luar. Tapi balik lagi ke diri sendiri sih akhirnya, selera tiap orang kan berbeda-beda dan kita harus menghargai itu. Percuma ngikutin arus tapi kita ga sreg sama bacanya, yang ada bacaan ga selesai-selesai karena dibaca terpaksa. Lagi pula feel-nya belum tentu bisa didapat, seperti seseorang yang diminta untuk melakukan pekerjaan yang tak disukainya, pekerjaan tak akan cepat selesai dan bawaannya kesel terus ketika mengerjakannya.

    Aku suka bacaan yang biasa aja, ga memerlukan hits atau enggaknya penulis tersebut, selama aku menyukainya aku baca. Hits atau enggaknya buku dan penulisnya ga mempengaruhiku, beli buku juga butuh pertimbangan kan, ga asal nge-hits terus dibeli aja. Ga perlu ikut-ikutan arus kok :) :)

    BalasHapus
  22. Ya Akui itu,
    Banyak selera orang berbeda-beda,
    Aku malahan lebih suka baca buku tentang siksa kubur dari pada buku yg lainya,,

    Kadang risih klo kita ga sama dgn mereka
    Padahal kan kebtuhan para pembaca buku beda ga bisa sama :v

    BalasHapus
  23. Ah iya, saya pernah!! bahkan itu disampaikan teman instagram saya (bukan seseorang yg kenal betul dengan saya). Waktu itu saya menanyakan dimanakah toko buku online yang dapat dipercaya. Dia menjawab dimana-mana hampir sebagaian besar toko yang ia pernah beli aman dan dia merekomendasikan beberapa toko langganannya. Lalu komentar pun bertambah menjadi begini, "oh, iya kemarin saya re-share akun yang lagi lepas kolpri lho mbak. kok ga ikutan? Lumayan cuma ganti ongkir". lalu saya menuliskan, "iya mbak di sana bukunya tidak ada yang saya cari. jadi walaupun pakai ongkir saya ingin berhemat dan lebih baik dipakai oleh pembaca yang lebih membutuhkan." Memang pada akhrinya teman saya paham kalau saya sedang mencari buku tertentu tapi label bahwa saya terlalu pemilih sudah terbaca dari komentarnya mengenai 'saya tidak respon ada bagi-bagi kolpri'. Sebenarnya, saya pernah kecewa dengan buku-buku bestseller. Dari situ saya merasa harus selalu cek dahulu buku apa yang ingin dibeli tanpa harus memperhatikan rating dari para pembaca.

    Kalau dibilang sombong tentang perbedaan preferensi terhadap buku populer, menurutku itu tidak benar. Tiap orang punya kebutuhan atas apa yang ingin dibacanya. Sombong itu ketika saya merendahkan pembaca genre lain lebih buruk dari genre yang saya baca, lebih merasa diri sendiri lebih elegan bacaannya, dsb. Namun bukan berarti saya tidak suka semua yang menjadi bacaan populer. Kalau Tere Liye disebut penulis populer, maka saya pun menyukai beberapa buku jenis ini meskipun tidak seluruh buku beliau. Jadi, jangan merasa 'gak enak' ya Mbak karena berbeda. So, be happy :)

    *maaf kalau komen saya terkesan curcol XD

    BalasHapus
  24. Ah, tidak apa-apa, Ren. Berbeda itu unik, bagus. Saya juga bacanya milih-milih. Buku favorit saya juga nggak banyak yang baca. Tidak baca buku populer bukan berarti sombong. Lagipula kebanyakan buku populer bikin ekspektasi melonjak dan malah bikin kecewa akhirnya.

    Di lingkungan saya juga nggak banyak yang suka baca. Membaca buat saya hobi yang sepi. Untung saya introvert, senang sendiri. Setelah baca, diskusi sendiri di blog dan baca-baca review di goodreads. Susah soalnya cari teman baca yang seleranya sama, hehehe... Saya juga males rekomendasi dan bahas buku ke orang, soalnya suka diabaikan. Malah ditanya ngapain sih baca? Yah, sudahlah....

    BalasHapus
  25. Biasa aja sih, hehe soalnya beberapa buku yang populer dan aku ndak baca memang karena aku nggak doyan sama ceritanya. Lebih baik baca yang sesuai selera (dan sesuai isi kantong) 'kan?

    BalasHapus
  26. Halo mbak Ren,aku juga tipe reader yg cuma baca buku2 yang menarik buatku kok. Aku sendiri nggak terlalu tertarik dgn buku2 populer baik dalam ataupun luar negeri,dan aku sendiri bukan tipe yg ambisius ngikuti trend. Mau itu buku,fashion,dsb.
    Jadi sah2 aja sih menurutku mau baca buku populer atau nggak,semua kan tergantung selera masing2. Belum tentu apa yg populer memuaskan selera baca,dan belum tentu juga apa yg nggak populer jadi pilihan kilat.
    Sepertinya bukan cuma terkait SARA,tapi terkait selera masing2pun kita harus bisa saling menghormati dgn sesama ya :D

    BalasHapus
  27. to be honest Ren.. aku juga sama kayak kamu..
    aku tidak ikut jalur mainstream kayak teman-teman lain.. kalaupun baca cukup pinjam saja tidak sampai pada tahap koleksi. entah sejak kapan aku punya selera buku seperti itu. aku hanya percaya bahwa pada buku yang tidak mainstream atau dibilang receh pun pasti akan ada banyak hikmah yang bisa kita petik. dan juga biasanya alur ceritanya terkesan lebih halus dan realistis meskipun itu fiksi.
    tenang Ren.. you're not alone..hehe

    BalasHapus
  28. Aku sendiri tidak pernah mematok buku yang kubaca harus populer atau tidak. Tapi terkadang, aku menemukan buku yang di covernya terdapat label sudah dibaca 4,5 juta kali di suatu aplikasi, tapi hasilnya...mengecewakan.

    BalasHapus

Saya menghargai setiap komen/opini yang diberikan. Silakan untuk tidak setuju dengan review/opini saya tapi mohon disampaikan dengan sopan ya :)
Saya berhak menghapus komentar yang tidak nyambung dengan isi blog atau spamming (jangan sertakan link blog kamu/ link apapun di kolom komentar, kecuali untuk giveaway/reading challenge).
Karena banyaknya komen anonim tanpa identitas, maka opsi anonim saya tiadakan.
Terimakasih sudah mau mengunjungi dan meninggalkan komentar di blog saya :).


I value your comment/opinion. You can agree to disagree with my post/opinion, but please write your comment in good manners.
I have a right to delete your comment if its out of topic and/or spam (please do not include your blog/any link, except for giveaway/reading challenge).
Because of so many anonymous comment without identity, I disable the option.
Thank you for your visit and comment :).

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Just Curious Where U From ;)