Senin, 27 Juni 2016

Review: And Then There Were None - Sepuluh Anak Negro


Judul: And Then There Were None
Judul Terjemahan: Sepuluh Anak Negro, Lalu Semuanya Lenyap
Pengarang: Agatha Christie
Penerjemah: Mareta
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Gramedia

Tebal : 264 halaman
Diterbitkan pertama kali : Maret 1984

Format : Paperback
Target : Remaja Dewasa

Genre :Mystery
Series: Stand-alone


Sinopsis :

Sepuluh orang diundang ke sebuah rumah mewah dan modern di Pulau Negro, di seberang pantai Devon. Walaupun masing-masing menyimpan rahasia, mereka tiba di pulau itu dengan penuh harapan, pada suatu sore musim panas yang indah.

Tetapi tiba-tiba terjadi serentetan kejadian misterius. Pulau itu berubah menjadi pulau maut yang mengerikan. Panik mencekam orang-orang itu ketika mereka meninggal satu demi satu... satu demi satu...

Novel Agatha Christie yang paling mencekam dan menegangkan!
Cerita detektif tanpa detektif!

 Review


"...Banyak pembunuh gila adalah orang - orang yang tenang, tak dicurigai. Orang - orang yang menyenangkan."

Saya terbilang jarang baca novel detektif atau mistery, dan satu - satunya novel detektif yang saya rajin ikuti adalah seri In Deathnya J.D.Robb. Banyak sekali anak BBI yang penggemar Agatha Christie (AC), tapi pengaruhnya belum sampai ke saya. Mungkin karena bukunya AC itu banyak dan saya bingung harus mulai dari mana. Sejujurnya, saya sudah pernah baca buku AC saat SMA kelas dua. Waktu itu di Perpus sekolah ada satu buku AC dengan judul Ledakan Dendam, sebuah novel misteri dengan latar belakang Mesir Kuno yang walau sebenarnya saya sudah lupa ceritanya, tapi isinya begitu membekas di benak. Saya juga dulu suka baca Detektif Conan (sudah berhenti karena makin gaje) dan Kindaichi (masih mengikuti), dua komik yang jelas - jelas kena pengaruh Agatha Christie. Saya sendiri direkomendasikan And Then There Were None, yang di Indonesia ada dua versi judul terjemahan, Sepuluh Anak Negro dan Lalu Semuanya Lenyap. Mengingat bukunya juga lumayan langka, beruntung saya dapat pinjeman dari Bu Dokter Dewi. Thanks a lot! :D

Reaksi saya habis baca buku ini? Satu kata saja.

EDAN!!!


Rasanya semua penggemar AC sudah pernah baca buku ini. Atau minimal jika kamu adalah penyuka genre misteri, setidaknya tahu buku ini dan menyempatkan membacanya. Diterbitkan pertama kali pada tahun 1939 dan diterjemahkan pertama kali di Indonesia pada tahun 1984(saya lahir aja belum! :D), And Then There Were None memang brillian pada masanya. Dan menurut saya pun masih brilian hingga hari ini. Mengusung embel - embel "cerita detektif tanpa detektif", buku ini menceritakan sepuluh orang yang diundang ke Pulau Negro. Mereka adalah Justice Walgrave, Vera Claythorne, Phillip Lombard, Jenderal Macarthur, Emily Brent, Anthony Marston, Dokter Amstrong, Tuan Blore (yang pertama kali memperkenalkan diri dengan nama Davis), dan Rogers serta Nyonya Rogers selaku pengurus rumah. Semuanya mengklaim telah diundang oleh Tuan Owen yang misterius. Siapa sangka, jika sepuluh orang ini harus meregang nyawa satu per satu, mati karena membayar dosa mereka sendiri. 

Yang jadi pertanyaan adalah, siapa pembunuh mereka? Karena kesepuluh orang ini semuanya tewas, tidak ada satupun yang selamat. Di sinilah menurut saya sisi uniknya dan membuat saya melihat darimana selama ini Kindaichi mendapat idenya. Yang suka baca komiknya, pasti tahu kalau kasus - kasus yang ditangani Kindaichi kebanyakan selalu berlokasi di pulau/tempat/rumah terpencil yang seringnya diputus dari dunia luar. Walau memang kesannya jadi monoton sih :P. Di buku ini, AC dengan piawai menuntun pembacanya berusaha menebak - nebak, siapa pelaku yang sebenarnya. Ketegangan begitu terasa, apalagi setelah yang tersisa hanya tiga orang saja. Saya yang baca buku ini dalam keadaan temaram, jadi ikut bergidik. Tenang, di buku ini tidak ada hantunya, tapi saya sendiri menganggap And Then There Were None tidak kalah mengerikannya dengan buku atau film genre horor. Suspensenya sangat kental, dan saya berusaha menebak, siapa dari sepuluh orang ini yang mengayunkan sabit kematian.

Sebenarnya, jika jeli, pelakunya dari awal memang menuju ke orang "itu". Tapi Ren, katanya semuanya mati? Betul, dan saya pun sempat terkecoh. Tapi memang ada beberapa petunjuk yang membuat saya curiga pada satu orang, terlihat dari tindak tanduknya dan juga alasannya kenapa datang ke Pulau Negro. Tenang saja, buku ini bukan berarti tidak ada penyelesaiannya. Karena AC menyelipkan epilog yang menjelaskan bagaimana pembunuhan di Pulau Negro ini berjalan. Satu aspek lagi yang bikin saya "ya ampun, bisa - bisanya orang ini mikir kesana XD". 

And Then There Were None juga jadi mengingatkan saya sama serial Dexter. Alasan si pembunuh membunuh semua orang di Pulau Negro adalah "untuk membenarkan yang salah", untuk menghukum mereka yang melakukan kejahatan yang tak tersentuh hukum. Ini sebenarnya adalah bahan diskusi yang bagus. Apakah tindakan seenaknya si pelaku bisa dibenarkan? Pelaku sendiri membunuh tiap orang di Pulau Negro dengan urutan besarnya dosa yang dilakukan masing - masing. Membuat saya berpikir, untuk orang yang mati dengan urutan kesembilan dan kesepuluh, sebenarnya apa yang menentukan besarnya dosa mereka? Inilah yang membuat saya merasa bahwa AC ingin menunjukkan walaupun si pelaku ingin menghukum mereka yang tak bisa dihukum, pada akhirnya tindakannya adalah tindakan orang gila.

Saya tidak mau berpanjang - panjang mereview buku ini. Yang jelas, jika penyuka genre misteri, kurang afdol rasanya jika belum membaca And Then There Were None. Dan review ini akan saya akhir dengan sajak Sepuluh Anak Negro yang terkenal itu :D:

Sepuluh anak Negro makan malam;
Seorang tersedak, tinggal sembilan.
Sembilan anak Negro bergadang jauh malam;
Seorang ketiduran, tinggal delapan.
Delapan anak Negro berkeliling Devon;
Seorang tak mau pulang, tinggal tujuh.
Tujuh anak Negro mengapak kayu;
Seorang terkapak, tinggal enam.
Enam anak Negro bermain sarang lebah;
Seorang tersengat, tinggal lima
Lima anak Negro ke pengadilan;
Seorang ke kedutaan, tinggal empat.
Empat anak Negro pergi ke laut;
Seorang dimakan ikan herring merah, tinggal tiga
Tiga anak Negro pergi ke kebun binatang;
Seorang diterkam beruang, tinggal dua.
Dua anak Negro duduk berjemur;
Seorang hangus, tinggal satu.
Seorang anak Negro yang sendirian;
Menggantung diri, habislah sudah.



Trivia

- Judul asli And Then There Were None sendiri adalah Ten Little Niggers, yang lumayan  rasis. Sajak Sepuluh Anak Negro sendiri sepertinya merupakan versi lain dari Ten Little Injuns:
"Ten little Injuns standin' in a line,
One toddled home and then there were nine;
Nine little Injuns swingin' on a gate,
One tumbled off and then there were eight.
Eight little Injuns gayest under heav'n.
One went to sleep and then there were seven;
Seven little Injuns cuttin' up their tricks,
One broke his neck and then there were six.
Six little Injuns all alive,
One kicked the bucket and then there were five;
Five little Injuns on a cellar door,
One tumbled in and then there were four.
Four little Injuns up on a spree,
One got fuddled and then there were three;
Three little Injuns out on a canoe,
One tumbled overboard and then there were two.
Two little Injuns foolin' with a gun,
One shot t'other and then there was one;
One little Injun livin' all alone,
He got married and then there were none"

Pada tahun 1945, sajak yang mengandung unsur "negro" diganti dengan kata Indian, karena kata "negro" dianggap rasis.

- Versi adaptasi And Then There Were None ada banyak. Bahkan dari tanah air pun ada, yaitu dengan judul Pesantren Impian yang naskahnya ditulis oleh Asma Nadia. Untuk versi terbaru adalah versi BBC:




Saya sendiri pengen nonton versi yang ini, karena selain ada Aidan Turner (uhuk :P), ceritanya sendiri kabarnya cukup patuh dengan buku, namun dengan beberapa perubahan. Tinggal nunggu waktu mudik nanti, biar saya bisa donlod serialnya :P (maklum ada wifi di rumah ortu , hihihi)

Story  Rate

Rating untuk And Then There Were None ini adalah: 




7 komentar:

  1. Adaptasi yang ada Aidan Turner nya keren bingiiiiiits ren.. Hehe.. Tonton deh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ini mau donlod rencananya :D

      Hapus
  2. Sudah baca Buku Catatan Josephine-nya Agatha Christie?
    Tidak seintens 10 Anak Negro ini tapi lumayan loh untuk bikin terkejut dan geleng-geleng kepala. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum baca. Wah makasih rekomendasinya :D

      Hapus
  3. Eh, adakah adaptasi versi BBC? Baru tau.
    Aku lupa baca buku AC yang mana saja atau apakah cuma buku ini saja? Haha..

    Oia, selain itu aku juga udah lama gak baca Detective Conan lagi. Makin gak jelas dan kelamaan. Udah bosan.
    Mungkin kalau ntar tamat baru baca lagi. Bacanya pun cuma ending aja. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Adaptasi BBC termasuk yang masih baru :)

      Kalau Conan, wah udah terlalu lama ga ngikutin. Lebih milih Kindaichi sekarang karena banyak stand alone casenya

      Hapus
    2. sudah ntn yg BBC? hrs ntn tu...
      bagusss.... cast ny ok semua actingnya,,hehe...

      Hapus

Saya menghargai setiap komen/opini yang diberikan. Silakan untuk tidak setuju dengan review/opini saya tapi mohon disampaikan dengan sopan ya :)
Saya berhak menghapus komentar yang tidak nyambung dengan isi blog atau spamming (jangan sertakan link blog kamu/ link apapun di kolom komentar, kecuali untuk giveaway/reading challenge).
Karena banyaknya komen anonim tanpa identitas, maka opsi anonim saya tiadakan.
Terimakasih sudah mau mengunjungi dan meninggalkan komentar di blog saya :).


I value your comment/opinion. You can agree to disagree with my post/opinion, but please write your comment in good manners.
I have a right to delete your comment if its out of topic and/or spam (please do not include your blog/any link, except for giveaway/reading challenge).
Because of so many anonymous comment without identity, I disable the option.
Thank you for your visit and comment :).

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Just Curious Where U From ;)