Kamis, 27 Agustus 2015

Review: The Ghost Bride oleh Yangsze Choo

Judul: The Ghost Bride
Judul Terjemahan: Pengantin Arwah
Pengarang : Yangsze Choo
Penerjemah : Angelic Zaizai
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Qanita
Jumlah halaman :  486 hal
Terbit : Oktober 2014

Format : Paperback

Genre : Historical Romance, Fantasy, Horror
Target Pembaca: Dewasa Muda

Web Pengarang: Click Here




Sinopsis :




"Pada suatu malam, ayahku bertanya apakah aku mau menjadi pengantin arwah..."

Li Lan, putri tunggal sebuah keluarga yang bangkrut, mendapat lamaran dari keluarga Lim yang kaya raya dan berkuasa. Namun, calon suaminya adalah lelaki yang telah meninggal secara misterius, dan pernikahan ini dilakukan untuk menenangkan arwah penasarannya. Mengerikan memang, tapi tidak ada jalan lain untuk menjamin masa depan Li Lan.

Setelah kunjungannya ke mansion keluarga Lim, Li Lan mulai dihantui oleh calon suaminya dan dia tidak bisa lagi tidur tenang. Sedikit demi sedikit, Li Lan tertarik ke dunia arwah yang tidak hanya dihuni oleh para hantu lapar dan arwah pendendam, tapi juga para iblis penjaga berwujud banteng. Li Lan harus mengungkap rahasia kelam tentang keluarga Lim dan keluarganya sendiri, jika dia tidak mau terjebak di dunia arwah selamanya.

 Review


Note: Mengandung beberapa spoiler. Read at your own risk
 
Saat pertama melihat buku The Ghost Bride diterjemahkan oleh Qanita, jujur saya suka sama cover terjemahannya. Sempat masuk wishlist dan senang juga saat penerjemahnya memberikan buku ini buat saya baca. Hehe, makasih banyak ya Zaizai :* Terus terang saya sempat parno mau baca Ghost Bride karena ada elemen hantunya. Saya suka bayangin bayang - bayang gelap di apartemen itu kayak bisa gerak sendiri dan mengingat saya suka tidur sendirian, takutnya di sebelah ada orang lain yang bukan orang, hahahaha XD.
 
Nyatanya? Cerita The Ghost Bride ini malah ga nakutin. Sama sekali. Halah, saya merinding disko aja ngga :v. Adanya saya malah pengen nabokin si tokoh utamanya Li Lan. Tokoh utama cewek ini, sudah sangat naif, sembrono pula. Entah kenapa sikapnya kadang mengingatkan saya sama Bella Swan. Bahkan hubungan dia dengan Er Lang, pria yang membantunya selama berada di Padang Arwah,  kok agak2 mirip Bella-Edward ya. Dimana Li Lan ini damsel in distress banget dan Er Lang itu knight in a shining armor dia. Romance di buku ini emang gampang ditebak sebenarnya, sejak awal Li Lan ketemu sama Er Lang, saya sudah tahu sama siapa Li Lan bakal melabuhkan (eaaa, melabuhkan... emangnya kapal? :v) hatinya. Apa berarti The Ghost Bride ada love trianglenya layaknya novel YA yang sering banget pake trope membosankan ini? Ada kok, tapi ya seperti yang saya bilang, hasil akhirnya sudah bisa ketebak tanpa saya harus spoiler parah. Bahkan keputusan Li Lan di akhir cerita juga bisa ketebak. Seandainya dia memilih pilihan yang lain, mungkin bakalan bittersweet. Adanya malah ceritanya ini ngambang :|. Yang ternyata emang disengaja sama pengarangnya, karena setelah saya baca sesi Q&Anya, akan ada lanjutan The Ghost Bride.

Eniwei, bukan berarti buku ini jelek kok. Buktinya bisa masuk GR Choice Award 2013....err, bukan itu maksudnya sih :)). Mengesampingkan si Li Lan yang plin plan (hey, it's rhymes!), menarik banget sebenarnya buat mempelajari kebudayaan negara yang bolak - balik mencuri kebudayaan Indonesia (eaa :v) yang jadi setting cerita ini. Karena biasanya cerita tentang kulture China bersettingnya di China juga. Nah ini malah di Malaya, nama lama Malaysia. Kemiripan beberapa kultur budaya, termasuk hantunya, dengan di Indonesia itu menarik buat dibaca.

Terus saat Li Lan berada di Padang Arwah, itu juga bagus. Bikin ceritanya seru dan deg - degan. Tapiiiii, pas Li Lan lagi - lagi masuk drama queen mode on gara - gara Tian Bai -cowo sepupu Lim Tian Ching yang pengen Li Lan jadi pengantin arwahnya dan Li Lan pun naksir juga- mau dinikahin, jadi bikin bete. Hadeeeh, ni cewek. Makin hadeh lagi setelah kehadiran Er Lang :|. Sebenarnya wajar kalau mengingat Li Lan juga masih 17 tahun, masih muda dan belum ada pengalaman, jadi banyak banget tindakan bodohnya di buku ini. Cuma ya, karena cerita di buku ini semuanya dari sudut pandang dia, saya harus ngurut dada buat sabar-sabarin baca cerita Li Lan -_-"
 
Tambahan nilai positif untuk mengimbangi kelabilan Li Lan, selain kebudaan Malaya, ada juga beberapa nilai feminis yang ada di buku ini. Utamanya tentang pernikahan. Jaman dulu jika sudah berumur 18 tahun dan belum nikah, maka kayaknya dunia akan kiamat. (sebenarnya sampai sekarang juga masih, hanya batas usianya sudah bergeser). Yangsze Choo benar- benar  bisa menggambarkan kerisauan dan kegalauan tentang hal itu dalam sosok Amah, pengasuh Li Lan yang sudah kayak ibu Li Lan sendiri, tapi kadang juga bisa menjengkelkan. Ya, buku ini emang menguji kesabaran saya, sebesar - besarnya X).

Bagi saya sih, yang bagus paling cuma Er Lang doang, hahahaha. Apa ini sama seperti orang yang baca Twilight (emang ngga bisa saya ngga bandingin buku ini dengan Twilight), dimana mereka antipati sama Bella, tapi sukanya sama Edward. Bedanya? Er Lang itu way wayyy better than Edward. Walau songong, minimal tidak emo atau self destruktif :v. Dulu waktu saya pertama kali mengenal Er Lang di Kera Sakti, kesan yang ada sih biasa aja. Apalagi Er Lang masuk kategori tokoh yang "nyaris antagonis". Tapi saat baca Er Lang versi komik yaitu di Houshin Engi karya Ryuu Fujisaki (atau Fengshen Yanyi) sebagai Youzen, emang bener kalau Er Lang ini ganteng dan juga narsis, karena Youzen pun seperti itu :)).

Terjemahannya sendiri bagus, as expected from the translator (ini aku jujur yeee Zai, bukan karena emang dikasih bukunya, hahaha XD). Nyaris tidak ada typo sama sekali, jadi proofreader dan editornya top markotop. Emang ada beberapa istilah yang menurut saya kenapa ngga dibikin versi bahasa Indonesianya aja (kayak trance...emang ngga ada padanan katanya ya?). Tapi selebihnya oke lah. Cuma yang jadi masalah, kertas yang dipakai. Pakai kertas koran, lho! Jadi berasa gelap- gelapan saat baca buku ini apalagi lampu di kubikel kantor saya itu  ngga begitu terang. Akibatnya, mata jadi sakit nih >.<. Lain kali bisa lho Qanita, untuk pakai kertas yang agak bagusan dikit gitu.

Oh, iya! Saat mengarungi ranah Goodreads untuk melihat review - review lain, ternyata saya baru tahu kalau ada bagian yang disensor juga, yaitu bagiannya Er Lang bersama Li Lag saat di Padang Arwah. Saat tahu alasannya disensor, malah saya jadi penasaran kenapa sampai disensor segala, apa yang begitu vulgarnya sampai dihaluskan saja mungkin tetep kadar hawtnya terasa? #eaaa. Kayaknya mesti baca versi aslinya, soalnya asli penasaran dot com adegannya kayak gimana. Mungkin bagi saya sih biasa aja #heh :))). Eniwei, saya sih sudah dikasihtahu, dan yap..biasa aja. Tapi emang bikin fantasy melanglang buana kemana - mana karena "kepolosan" adegan itu :))).

Kalau teman - teman suka nonton film - film hantu China jaman 90-an (guilty pleasure banget, hehehe), bakal bisa menikmati buku ini. Ditambah dengan kultur budaya Malaya yang kaya, petualangan Li Lan yang mendebarkan di Padang Arwah, plus adanya bumbu romance. Cuma, sabar ya baca tokoh utama ceweknya. Kalau ngga, pasti pingin jitak juga kayak saya, hihihihi :))



Story  Rate

Saya memberi The Ghost Bride ini:


Dan untuk sensualitasnya:

Ada adegan ciuman...dan ya emang ada yang disensor walau kalau saya boleh berpendapat sih, benarnya bisa dihaluskan sedemikian rupa kok, nyahaha XD.

5 komentar:

  1. Hihi. Aku kebayangnya Er Lang itu yaaa cowok banget yang kayak di Kera Sakti atau Nacha di TV. Tapi di sini malah kayaknya cowok cantik gitu. Kebayang ga sih kalo dunia arwah beneran kayak gitu? males banget ya. Masa yang kaya di sini, kaya juga di sono walau jahat. Trus pejabatnya bisa disogok juga gitu. Halah!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di buku ini Er Lang mirip Youzen yang di komik Hoshin Engi sih Na. Emang asli narsis ma cowo cantik kok, hahaha.

      Kayaknya gambaran dunia arwah di mitologi China seperti itu. Jadi inget film-film China jaman dulu ya

      Hapus
  2. Lembaga sensor di sini :))

    Semoga pemerintah ngehapus pajak buat buku atau kertas ya...jd kualitas bisa dinaikin tanpa harus mengorbankan harga. Di sini... masih bentuk kertas aja kena pajak. Udah jadi buku, dipajakin lagi :)) #sedih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seandainya ada transparasi kenapa kertas saja kena pajak :(.

      Kalau yang kayak tempat hiburan kenapa kok pajaknya dihilangkan, katanya sih udah kena pajak daerah *kok ini jadi ngomongin pajak*

      Hapus
  3. kena pajak mgkn spy org mikir2 lg d bt nebang pohon *sok tau :p

    wuah ada adegan yg di sensor ternyata dr bk ini, sama d klo gt dgn bk unravel me nya tahereh jg di sensor, pdhl biasa aja wkwkwkwk

    BalasHapus

Saya menghargai setiap komen/opini yang diberikan. Silakan untuk tidak setuju dengan review/opini saya tapi mohon disampaikan dengan sopan ya :)
Saya berhak menghapus komentar yang tidak nyambung dengan isi blog atau spamming (jangan sertakan link blog kamu/ link apapun di kolom komentar, kecuali untuk giveaway/reading challenge).
Karena banyaknya komen anonim tanpa identitas, maka opsi anonim saya tiadakan.
Terimakasih sudah mau mengunjungi dan meninggalkan komentar di blog saya :).


I value your comment/opinion. You can agree to disagree with my post/opinion, but please write your comment in good manners.
I have a right to delete your comment if its out of topic and/or spam (please do not include your blog/any link, except for giveaway/reading challenge).
Because of so many anonymous comment without identity, I disable the option.
Thank you for your visit and comment :).

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Just Curious Where U From ;)