Senin, 11 Januari 2016

Random Thoughts: Second Chance

 

Random Thoughts is back!!! Woohoooo!!
*tiup terompet sisa Tahun Baru, tebar confetti*

Oke, ini lebay :P. Tapi, mengingat tahun 2015 saya kering ide, dan bahkan postingan Random Thoughts terakhir adalah di tahun 2014, maka ini kabar baik (buat saya :D). Well, apa sih Random Thoughts itu? Ini adalah sebuah postingan yang bersifat non opini  yang akan menanyakan pada pembaca blog tentang topik tertentu. Topiknya random, tapi masih berhubungan dengan buku tentunya ;). Dan waktu postingannya sendiri juga random. Yah, when the mood strikes, atau kebetulan saya dapat "aha!" moment. Topik yang akan dibahas di Random Thoughts edisi kali ini adalah:

"Second Chance"

yang saya dapat idenya saat lagi di kamar mandi :v. Saya sebelumnya pernah ngepost Random Thoughts tentang ""Menceraikan" Pengarang", dan topik kali ini walau bisa dirasa sama dengan topik ""Menceraikan" Pengarang", sebenarnya ada banyak perbedaannya :D. Well, second chance disini bukan tema "kesempatan kedua" yang sering ada di novel romance ya, walau kalau boleh jujur, ini tema kesukaan saya :P. Second Chance disini maksudnya adalah...memberikan kesempatan kedua pada karya suatu pengarang.


Sebagai pembaca, kita sering menemukan judul yang merupakan karya debut seorang pengarang, atau buku suatu genre yang tidak pernah kita coba sebelumnya. Atau, well, suatu waktu membaca buku karya pengarang yang tidak pernah kita baca sebelumnya sama sekali. Nah, ada kalanya kita suka banget karya pengarang itu dan langsung mencari karya dia yang selanjutnya. Tapi, ada juga saat dimana kita sayangnya tidak bisa menikmati buku itu, sampai dengan tahapan kapok, enggan baca karyanya yang lain walau ditodong pistol (ini lebay lagi :P), atau.....berusaha memberinya kesempatan kedua dengan harapan buku karya si pengarang yang lain mungkin lebih bagus. Atau dalam pikiran kita "ah, masih debut ini. Masih belum mateng gaya nulisnya. Let's give her/his a chance".

Saya lumayan sering mengalaminya.

Ada dua tipe second chance disini. Yang pertama, second chance yang berakhir bahagia dan yang kedua, second chance yang berakhir "sudah cukup sampai disini saja hubungan kita." Eits, ini saya masih ngomong tentang buku yang dibaca ya, bukan hubungan romansa. Apalagi hubungan dengan mantan #eh. 

Untuk tipe second chance yang pertama, ini artinya buku selanjutnya yang dibaca ternyata bagus dan malah bikin ketagihan untuk mengikuti karyanya yang lain. Kalau bagi saya, ini buku - bukunya Kristen Callihan dan Ilona Andrews yang buku awalnya bagi saya biasa saja dan lanjutannya luar biasa! :D. Nah, untuk yang kedua, ini buku yang sudah diberi kesempatan kedua, ternyata ya emang gaya penulisnya tidak cocok! Mau gimana juga, tetap tidak bisa menikmati karya - karyanya. Bagi saya, ini adalah buku Johanna Lindsay, yang bikin saya enggan baca buku - buku dia yang lain. Terlepas dari fansnya yang memuja - muja, saya sih, sekali kapok ya kapok >.<!!

Apa ada buku yang tidak saya beri second chance? Ya, tentu saja ada! Terutama buku yang saya rate 1*, hahaha. Kalau buku awalnya saja saya ngga suka, kenapa juga saya mesti masokis dengan mencoba karyanya yang lain. Walau banyak yang bilang ke saya untuk melanjutkan buku kedua Fifty Shades of Grey, bagi saya cukuplah saya menderita baca  buku pertamanya saja. Walau banyak yang suka buku Ika Natassa,bagi saya yang sudah baca buku pertama dia dan ngga suka, kenapa juga harus baca buku yang lain, apalagi pas tahu gaya nulisnya ya sama aja, hehehe :P. Saya pun jadi agak males baca buku - buku Amore, setelah sekali baca buku di lini ini dan ternyata ngga suka. Pun ada juga yang saya lupa, atau memilih untuk mending baca buku karya pengarang fave yang pasti saya seneng aja. 

Nah, bagaimana dengan teman - teman?

Adakah karya seorang pengarang yang kamu beri kesempatan kedua dan lalu jadi suka karya - karyanya yang lain? Atau malah ada yang sudah kamu kasih kesempatan, tapi ternyata ya memang tidak cocok gaya nulisnya? Ada juga ngga buku yang kamu kapok membacanya sehingga jadi tidak mau baca buku lain karya pengarang itu?

Spill your random thoughts!! :D

7 komentar:

  1. Ikutan Komen ya kak :D. Aku pernah baca buku dari seorang pengarang yang berakhir kapok membaca buku karya dia lagi. Awalnya aku nggak terlalu suka dengan buku pertamanya Arini Putri terus baca lagi buku keduanya karena kavernya bagus dan berharap buku keduanya ini nggak terlalu maksa koreanya eh ternyata tetep nggak suka.

    Jadi sekarang aku menghindari banget buku-buku penulis indonesia yang bercitarasa korea :D

    BalasHapus
  2. Hihi aku biasanya kasih kesempatan kedua kalo yang aku ga suka adalah ceritanya. Misalnya untuk Windry Ramadhina, aku ga suka cerita Montase, tapi gaya berceritanya aku suka. Jadi, pas aku nemu novel barunya dan kayaknya ceritanya menarik, aku coba baca dan ternyata suka. Masalahnya cuma di tema ternyata. Kalo kayak Johanna Lindsey, aku ga suka gaya ceritanya, cukup sekali abis itu baybay..

    BalasHapus
  3. Ada! Bukunya Cassandra Clare. Iya The Mortal Instruments itu. Pas baca buku pertamanya aku gak suka banget. Jadi anti dan lain sebagainya. Tapi komunitas baca nampaknya seru banget waktu fangirlingan tokoh2nya. Jadi kuputuskan untuk kasih kesempatan kedua untuk karyanya. Dan setelahnya aku masih mungkin akan baca karya2nya yang lain. Ada lagi Vampire Academy nya Rachelle Mead, meski selesai baca serinya, aku gak mau baca karya2nya yang lain. Ada pengarang fantasy karya anak negri Ther Melian yang juga akan kuberi kesempatan kedua dengan menyelesaikan serinya. Setelah baca banyak buku dengan berbagai genre, aku memang jadi lebih toleran terhadap karya2 penulis.

    BalasHapus
  4. Ada! Ada! Aku baca bukunya Dwitasari yang Raksasa Dari Jogja, kapok ngga ketulungan. Meskipun dia nerbitin buku lagi, sebisa mungkin aku ngehindarin. Eh tapi, Raksasa Dari Jogja dibikin film loh, cuma kayaknya filmnya dirombak abis -kalo ngeliat dari trailernya sih-, mudah-mudahan sih ngga kayak bukunya, masih agak ragu buat nonton filmnya. Terus sama bukunya Colleen Hover, aku agak kesel sama sequelnya The Slammed, Point of Retreat, padahal lumayan suka sama The Slammed. Akhirnya agak males baca lagi, tapi di coba tuh buat baca karyanya yang lain judulnya Maybe Someday, eh sama sama bikin keki. Yaudah sampe sekarang ngga baca bukunya yang lain, hmm mungkin bukan jodoh.

    BalasHapus
  5. Ada, dong. Yang paling aku inget sih bukunya Kristen Proby. Aku baca buku dese mungkin dua tahun lalu dan aku inget pas baca kesel banget sama plot-nya. Saking keselnya, sampe ogah deh ngelanjutinnya alias DNF. Semenjak itu jadi nggak tertarik sama sekali buat buku-bukunya yg lain, no matter how many times my friends suggesting them. *dor* Tapi kalo aku pribadi sih, ada second chance yang (well, karena aku memang self-proclaimed masokis; dalam dunia perbukuan aja lo ya.. Hayoloh, aku suka banget baca buku-buku yang sudah ketahuan plot-nya bakal bikin makan ati dan emosi, dari penulis yang sama pula) bakal teteup aku baca karena emang gemesh dan pengin bejek-bejek karakternya, seperti buku-buku Sarah Morgan atau Lynne Graham, basically klasik Harlequin atau M&B. Haha. Baca itu pasti bikin sumpah serapah, tapi tetep aja baca dan cari judul baru lagi. Emang bener, selera orang itu beda-beda, ya.. Muehehe.

    BalasHapus
  6. Hmmm... sekali kau mengecewakanku, tiada maaf--eh, kesempatan kedua--bagimu!
    Wekekekeke...

    Bercanda deng.

    Tapi kayaknya aku memang hampir tidak pernah memberikan kesempatan kedua untuk penulis yang karya pertamanya tidak kusuka (terlepas dari itu karya debut atau bukan). Lagipula aku juga biasanya "main aman" dengan memilih karya penulis yang memang kusuka ^^

    BalasHapus
  7. Waduh, kalau ditanya seperti begini mah banyak. Tahun 2015 saja author 'baru' (new-to-me authors) aku bisa 100 orang. Jadi pasti ada tuh kasus2 author second chance, yang buku pertamanya ngga begitu naksir tapi terus jadi kesengsem atau sebaliknya.

    BalasHapus

Saya menghargai setiap komen/opini yang diberikan. Silakan untuk tidak setuju dengan review/opini saya tapi mohon disampaikan dengan sopan ya :)
Saya berhak menghapus komentar yang tidak nyambung dengan isi blog atau spamming (jangan sertakan link blog kamu/ link apapun di kolom komentar, kecuali untuk giveaway/reading challenge).
Karena banyaknya komen anonim tanpa identitas, maka opsi anonim saya tiadakan.
Terimakasih sudah mau mengunjungi dan meninggalkan komentar di blog saya :).


I value your comment/opinion. You can agree to disagree with my post/opinion, but please write your comment in good manners.
I have a right to delete your comment if its out of topic and/or spam (please do not include your blog/any link, except for giveaway/reading challenge).
Because of so many anonymous comment without identity, I disable the option.
Thank you for your visit and comment :).

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Just Curious Where U From ;)