Rabu, 12 Maret 2014

Random Thoughts : "Menceraikan" Pengarang

 

Niatnya sih, seengganya sebulan sekali saya posting  Random Thought. Sayang idenya lagi kering kerontang, dan saya malah jadi kebanyakan "curhat" di postingan Opini X)). Nah, pasti penasaran dengan apa itu Random Thought? Ini adalah sebuah postingan yang bersifat non opini  yang akan menanyakan pada pembaca blog tentang topik tertentu. Topiknya random, tapi masih berhubungan dengan buku tentunya ;). Dan waktu postingannya sendiri juga random. Yah, when the mood strikes, atau kebetulan saya dapat "aha!" moment. Nah, pengen tahu apa tema "Random Thought" hari ini ? Yuk, mari :

"Menceraikan" Pengarang

Okeh, judulnya emang rada "lebay". Saya sih ingin pakai istilah lain selain "menceraikan" ini, tapi jujur kata - kata yang terlintas di benak saya semuanya ngga ada yang cocok. Sebelum kalian malah tambah bingung, maksud saya disini adalah:

"Adakah pengarang yang kamu suka banget bukunya, tapi di kemudian hari kamu malah jadi bosan baca karya dia dan meninggalkannya?"



Ada kalanya kita dulu ngefans bangeeeet sama pengarang A. Kita melahap buku - bukunya sampai habis, ngga sabar buat menanti karyanya yang terbaru. Malah, kalau perlu jadi yang no satu diantara semua penggemar yang udah baca buku itu dan membuat yang lain iri sama kita. Tapi, namanya juga manusia, selalu ada perubahan. Tiba - tiba kita mendapati bahwa karya pengarang A sudah ngga sebagus dulu lagi, dan akhirnya kita jadi malas baca buku dia.

Ada banyak alasan untuk ini, dan saya akan membagi alasan saya kenapa sih, saya memilih untuk "menceraikan" pengarang?

# Si pengarang mulai lapar tidak fokus.

Ini biasanya terjadi dalam serial. Awalnya saya ngikutin semua buku - bukunya, menunggu dengan sabar. Tapi, kok lama - lama ceritanya mulai ngga jelas sih? Mana tokohnya kebanyakan pula. Kesal dengan perkembangan yang ngga meyakinkan ini, akhirnya malah baca karya pengarang lain.

Contoh kasus : J.R.Ward. Jujur saya ngga ngerti ini maunya J.R.Ward apa. Ceritanya makin aneh, dan saya berhenti di buku #7 bertahun - tahun yang lalu.  Saya emang kumpulin buku - buku dia sih, cuma masih males aja mau baca lagi.

#Kelamaan menunggu

Sama kayak alasan diatas, terjadi juga dalam serial. Karena kelamaan menunggu akhirnya ketika bukunya sudah keluar, malah jadi malas buat nerusin.

Contoh kasus : Inheritance karya Christoper Paolini. Kayaknya saya nungguin buku ini sejak tahun 2009, dan kabarnya juga simpang siur. Belum lagi saya kena spoiler buat endingnya. Walau buku ini udah di tangan, saya jadi enggan untuk membacanya.

#Gaya menulis berubah

Gaya menulis pengarang udah ngga asyik lagi buat diikuti. Awalnya ceritanya lucu banget, lalu lama - lama kok jadi hambar yah? Belum lagi pengarangnya mendadak jadi religius, atau malah nulis genre lain yang bukan favorit kita

Contoh kasus : Sandra Hill. Saya agak males baca buku karya dia yang terbaru, karena beliau coba nulis di genre Paranormal Romance. Padahal saya lebih suka kalau dia nulis genre Time Travel.


#Memaksakan kehendak

Ini sebenarnya kayak saya maksain diri buat baca apa yang dibaca orang lain. Padahal apa yang bagus buat orang lain, belum tentu bagus buat saya juga. Nah, disini saya tidak berhenti hanya di satu buku, tapi masih kasih kesempatan buat buku selanjutnya. Yang ternyata  ya, bukan selera saya juga.

Contoh kasus : Bukunya Johanna Lindsey. Kapok, saya kapok pokoknya! X))

#Lupa

Ini sih alasan yang manusiawi. Kadang saking banyaknya timbunan, kita jadi terpaksa "menceraikan" pengarang kesukaan, karena malah keasikan baca yang lain. Bedanya, ini nantinya kita tetep balik baca buku pengarang itu. Cuma entah kapan.

Contoh kasus : Banyak, hahaha!

Bagaimana dengan teman - teman? Apakah kalian pernah "menceraikan" pengarang tertentu ? Dan apa alasan kalian jadi males baca buku pengarang itu lagi?

Spill your random thought! :D

16 komentar:

  1. Kalau aku, biasanya justru karena si pengarang mulai terasa monoton, alias memakai formula yang itu-itu aja, jadinya ngebosenin... Contoh kasus, Dan Brown. Suka banget sama Da Vinci Code dan Angels and Demons, dan menurutku dia adalah salah satu pionir penulis thriller konspirasi yang mengangkat isu-isu sensitif yang seru. Tapi setelah baca Deception Point, Digital Fortress, Lost Symbol dan Inferno, aku mulai capek dan bosen. Ketebak semua alurnya. Tapi tetep aja, sampai sekarang belum tega untuk benar-benar "menceraikan" si Brown.
    Kasus serupa terjadi juga sama Sophie Kinsella, yang sebelumnya adalah salah satu pengarang favoritku. Buku-bukunya seger dan lucu.. Terutama Shopaholic serries. Tapi sejak beberapa buku terakhir Shopaholic (terutama Mini Shopaholic), aku mulai bete sama gayanya Kinsella yang itu-itu aja, karakternya pun nggak berkembang. Humornya mulai kerasa basi. Akhirnya, dua buku terakhirnya (meskipun non Shopaholic), belum aku baca sampai sekarang. Entah deh apakah bakal "rujuk" lagi sama Kinsella atau engga XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau untuk Dan Brown, aku masih belum nyerah Mbak :D. Walau plotnya standar dan tipikal, pengetahuan dia buat dunia seni itu keren banget soalnya. Jadi anggaplah sambil jalan - jalan bacanya XD.

      Sophie Kinsella aku belum baca bukunya, mungkin suatu saat semoga bisa baca Shopaholic :)

      Hapus
  2. Aku belum pernah menceraikan pengarang favorit aku sih, tapi terus terang sempet 'hilang rasa' mau baca Enid Blyton yang versi anak asrama karena rasanya, karakternya itu2 lagi deh. Nama berulang, kisah berulang, waduh!
    Tapi aku masih suka Lima Sekawan. Jadi, enggak cerai-cerai banget, sih.
    Terus, aku sekarang terus terang lagi jarang baca buku pengarang favorit karena lagi mau cari suasana baru. Lagi selingkuh, aku diceraikan gak ya nanti? *random thought juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama ama Chei, baca Enid Blyton itu harus dikasih jeda lama. Tahun lalu sempat pengen baca Lima Sekawan sampai habis, tp baru nyampe buku 4 udah bosan. Itu baru Lima Sekawan. Tema yang sama juga ada di seri petualangan EB lainnya.

      Tapi kalau beberapa tahun kemudian pasti nyari lagi deh:)

      Hapus
    2. Pasti diceraikan deh si Chei #random :P

      Mungkin kayak Mbak Desty gitu yah, saat ini kita "cerai"kan, tapi beberapa tahun kemudian mendadak jadi ada perasaan nostalgia dan malah "rujuk" deh :)

      Hapus
  3. Hehe.. Aku nggak mau memakai istilah "menceraikan" sih, kesannya kok jadi anti baca karya si penulis lagi. Mungkin cuma memutuskan untuk "break" sampai ada karya-karya penulis yang menarik hati. Kayak Sitta Karina.. dulu pas aku baca Hanafiah series aku suka banget, tapi waktu baca Magical Seira kok... ee~ng.. Lalu entah kenapa pas sekarang Dunia Mara udah terbit, aku belum mood beli. Trus Sarah Dessen juga. Tapi ini bukan karena bosen sih. Lebih ke cuma memilih buku yang sinopsisnya menarik buatku. Kalo nggak menarik, aku nggak minat baca.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku pake istilah menceraikan juga karena keinspirasi sama thread di GR yang bahas topik ini kok Na :). Tapi emang ada yang kasusnya sampe ekstrim, yaitu jadi ngga mau baca lagi.

      Hapus
  4. Pernah ngalamin Mbak. Contohnya si Dan Brown. Gara-gara Deception Point, aku jadi males nerusin ke buku lain. Ada juga Stephenie Meyer. Dulu kan aku suka banget sama The Host (iya bener, aku cuma suka buku itu dari semua bukunya), katanya mau ada sekuel. Eeh, ternyata nggak konsisten dan sampai sekarang ngambang tuh. Kadang aku kehilangan mood pas tengah-tengah baca sebuah seri, kayak Black Dagger Brotherhood, Vampire Academy, dsb. Padahal aku suka Richelle Mead, tapi setelah 4 buku VA aku males nerusin. Tapi nggak 'cerai' banget sih, kayaknya aku mulai mood baca Bloodlines.
    Aku tetep setia sama beberapa pengarang, misalnya Meg Cabot atau Nalini Singh atau JD Robb.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh, another people that want to "divorce" Dan Brown. Tapi aku masih suka, kayaknya emang gedek aku ini :)

      Hapus
  5. Aku perbah ngalaminnya... Contohnya Jennifer L. Armentrout, mungkin bagi sebagian orang mereka suka sama karyanya Jennifer, aku awalnya juga. Itu mulai berubah waktu aku sadar kalau yang dibilang orang-orang lain itu benar. Kalau ide-ide ceritanya ngambil dari novel-novel yang sama udah terkenal duluan.

    Banyak yang bilang kalau Obsidian banyak hal-hal yang mirip sama Twilight, dan aku sadar. Banyak juga yang bilang kalau Half Blood mirip-mirip Vampire Academy. Orang-orang luar pada bilang kalau Jennifer itu plagiat, tapi mereka nggak punya bukti kuat karena walaupun banyak kesamaan tapi kemasannya beda.

    Aku sih nunggu karya-karyanya yang benar-benar original. Tapi waktu orang luar nemuin karyanya yang original, banyak yang gak suka. Coz karakter utamanya terlalu Perfect, dan mereka berpikiran kalau karakter yang benar-benar perfect itu gak ada. Justru ketidaksempurnaan yang membuat karakter itu bagus.

    Tapi bagi mereka (termasuk aku) yang suka sama kakrakter-karakternya yang seksi, ya masa bodoh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku sendiri setelah baca Onyx males baca buku ketiganya Opal :) nganggur tuh bukunya karena belum mood
      akhirnya aku rujuk lagi sama Jennifer, tapi pake persona dia yang lain si J. Lynn itu. J. Lynn sejauh ini kebanyakan bukan pararom (kecuali Unchained sama White Hot Kiss). Beda lho gaya antara Jennifer sama J. Lynn

      Hapus
  6. Contoh pengarang yang 'dicerai' itu Dante. Ga kuat baca karena ilustrasinya (di edisi yang ku pinjam), kutaruh lagi dan sampai sekarang belum pernah sentuh lagi Divine Comedy. Sebelumnya semangat kalau dengar judul itu, ternyata 'not really my taste'. Satu lagi adalah F.S.Fitzgerald *uhuk*. Dua kali merasa dikhianati di This Side of Paradise (ga suka endingnya) dan Great Gatsby (sama) akhirnya ga pernah coba-coba lagi deh baca bukunya. Waktu awal buku itu rasanya banyak pengharapan, terus diinjek-injek gitu aja. Emang lagi musim yang begituan sih tahun-tahun segitu, tapi once again, not my taste.

    Ternyata benar-benar sedikit pengarang yang kucerai. Hahaha. Kayanya gara-gara jarang baca buku seri ya?

    BalasHapus
  7. Saya cerai dengan Masashi Kishimoto!! Udah cukup dia bunuh2in karakter favorite saya di Naruto D"X
    Sekarang saya baru menikah dengan buku2 Kasie West..

    BalasHapus
  8. saya berhenti baca buku2nya Tere Liye sejak ayahku (bukan) pembohong dan daun yg jatuh tidak pernah membenci angin. Padahal dulu karya2 dia adalah bacaan wajib saya. Entah kenapa saya agak kurang cocok dg 2 buku itu dan negeri para bedebah yang sudah ada sekuelnya pun blm saya baca2, masih tersegel rapi. Tiba-tiba saja saya merasa bosan dengan tulisan dan cara penyampaian beliau. Mungkin suatu saat bakal rujuk.

    BalasHapus
  9. Hallo, salam kenal. Saya sama kaya' mbak Cut Lilizrusnata, cerai sama Tere Liye. Dulu saya suka banget sama tulisan beliau yang "Hafalan Shalat Delisa", jadinya nunggu tulisan beliau berikutnya. Nah, ternyata di buku berikutnya yang saya temukan yaitu "Moga Bunda Disayang Allah", ceritanya menurut saya maksa banget. Alhasil saya jadi anti banget sama tulisan Tere Liye. Kalau ada buku-buku baru karangan beliau, melirikpun saya tidak mau. Sampai akhirnya beberapa waktu yang lalu saya dikasih buku sama saudara, bukunya Tere Liye yang "Ayahku (Bukan) Pembohong" sama "Amelia". Yah, karena sudah dikasih, ya saya coba baca juga.. Eh, ternyata kok ya bagus. Sepertinya saya akan masih memberi kesempatan kepada bang Tere untuk memikat saya dengan bukunya, kalau bukunya sudah ada di tangan saya. Kalau untuk menyediakan diri mencari dan membeli buku beliau, sepertinya saya belum mau.

    BalasHapus
  10. Saya ikut random thougt ya kak.
    Dari jaman remaja sampai sekarang hampir jadi calon emak2, Meg Cabot selalu menjadi penulis favorit saya. Entah kenapa, tulisannya di genre manapun enak banget buat dibaca. Walaupun akhirnya saya memilih 'break' dulu saat mengikuti seri Princess Diary karena bosan ceritanya ga selesai2. Tapi masih belum tega buat menceraikannya >_<

    Yang sudah pasti saya ceraikan adalah James Dashner, penulis TMR. Buku pertama sih keren banget, tapi sekuelnya bener2 bikin boring. Apalagi di buku ketiga (yang jadi malas saya sentuh).
    Begitu pula dengan JK Rowlling. Seri HP nya bener2 memukau saya sampai akhir. Tapi terpaksa harus saya ceraikan sejak beliau menulis Casual Vacancy dan The Cuckoo's Calling. Jalan ceritanya membuat saya frustasi dan menyerah tanpa selesai membaca.
    Berharap beliau meneruskan menulis novel fantasi saja.

    BalasHapus

Saya menghargai setiap komen/opini yang diberikan. Silakan untuk tidak setuju dengan review/opini saya tapi mohon disampaikan dengan sopan ya :)
Saya berhak menghapus komentar yang tidak nyambung dengan isi blog atau spamming (jangan sertakan link blog kamu/ link apapun di kolom komentar, kecuali untuk giveaway/reading challenge).
Karena banyaknya komen anonim tanpa identitas, maka opsi anonim saya tiadakan.
Terimakasih sudah mau mengunjungi dan meninggalkan komentar di blog saya :).


I value your comment/opinion. You can agree to disagree with my post/opinion, but please write your comment in good manners.
I have a right to delete your comment if its out of topic and/or spam (please do not include your blog/any link, except for giveaway/reading challenge).
Because of so many anonymous comment without identity, I disable the option.
Thank you for your visit and comment :).

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Just Curious Where U From ;)