Rabu, 01 Februari 2017

Review: Crazy Rich Asians oleh Kevin Kwan

Judul: Crazy Rich Asians
Judul Terjemahan: Kaya Tujuh Turunan
Pengarang: Kevin Kwan
Penerjemah: Cindy Kristanto
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Gramedia

Tebal : 480 halaman
Diterbitkan pertama kali : Juni 2016

Format : Paperback
Target Pembaca : Dewasa

Genre : Chiclit
Series: Crazy Rich Asians, #1
Web Pengarang: Kevin Kwan
Link to Buy: Gramedia


Sinopsis :

Ketika Rachel Chu, dosen ekonomi keturunan Cina, setuju untuk pergi ke Singapura bersama kekasihnya, Nick, ia membayangkan rumah sederhana, jalan-jalan keliling pulau, dan menghabiskan waktu bersama pria yang mungkin akan menikah dengannya itu. Ia tidak tahu bahwa rumah keluarga Nick bagai istana, bahwa ia akan lebih sering naik pesawat pribadi daripada mobil, dan dengan pria incaran se-Asia dalam pelukannya, Rachel seperti dimusuhi semua wanita.

Di dunia yang kemewahannya tak pernah terbayangkan oleh Rachel itu, ia bertemu Astrid, si It Girl Singapura; Eddie, yang keluarganya jadi penghuni tetap majalah-majalah sosialita Hong Kong; dan Eleanor, ibu Nick, yang punya pendapat sangat kuat tentang siapa yang boleh—dan tidak boleh—dinikahi putranya.

Dengan latar berbagai tempat paling eksklusif di Timur Jauh—dari penthouse-penthouse mewah Shanghai hingga pulau-pulau pribadi di Laut Cina Selatan—Crazy Rich Asians bercerita tentang kalangan jet set Asia, dengan sempurna menggambarkan friksi antara golongan Orang Kaya Lama dan Orang Kaya Baru, serta antara Cina Perantauan dan Cina Daratan.

 Review


Tiada tempat di dunia ini dapat ditemukan orang - orang yang lebih kaya daripada orang Cina

Ibn Batuta (Abad Keempat Belas)
 
Saya tuh selalu ingat saat - saat masih rajin main game Summoners War (Kang Opan pasti tahu :), ada suatu waktu dimana seorang atau lebih player yang bisa summon natural born 5 aka monster super langka yang bikin banyak orang salty (alias iri), termasuk saya. Nah, setelahnya,  pasti akan ada yang ngomong:

"this dude must be crazy rich/ those asian rich/ those chinese rich kid!, bla de bla"

Saya awalnya ya heran dong...hubungan crazy rich ma asian apaan sih? Dalam pemahaman saya yang dangkal ini, kayaknya kami yang  Asian ini orangnya biasa - biasa aja deh. Dan kenapa mesti orang Asia yang dituduh "crazy rich?". Bukannya player Amrik atau Eropa paymentnya lebih gede yang harusnya dibilang kaya ya. Beli in-game goods yang harganya bikin saya pengen nangis (sekitar 10$ paling murah dan paling mahal 100$. Coba dikurskan rupiah, dan coba beli itu dalam beberapa waktu), bagi mereka ga susah kan. Why accused us Asians??

Pertanyaan saya baru kejawab lah pas tahu ada buku ini, wkwkwkw XD. Betapa saya terlalu memandang rendah bangsa Asia, atau mungkin saya terlalu memandang rendah bangsa gue sendiri, Indonesia, cuma karena ga bisa beli in-game goods aja :P. Tapi, sepengetahuan saya, emang untuk game model RPG mobile seperti Summoner Wars, kalau mau sukses ada istilah P2W aka Pay To Win. Simpelnya? Modalnya mesti banyak. Dan ya, emang yang top player biasanya dari Asia, dengan monster bagus. Tapi tentunya mereka ngga cuma modal doku aja :D.

Nah, intermezzo selesai, mari beralih ke buku Crazy Rich Asians yang diterjemahkan  Kaya Tujuh Turunan ini. 
 
Saya bukan penggemar buku yang nebar banyak "branded things/goods" atau nebar nama seleb. Alasan pertama yang bikin saya ga suka buku A Very Yuppy Weddingnya Ika Natassa, dan alasan kedua kenapa juga agak males baca bukunya Julie James. Nah disini lucunya. Saya sama sekali NGGA KEBERATAN baca begitu banyak merek - merek barang mewah, nama desainer yang saya aja cuma tahunya Alexander McQueen, nama perusahaan hi-tech, nama bilioner, nama pulau eksotis, nama artis A-Z. Semua dilebur jadi satu oleh Kevin Kwan, diramu dengan sangat edannya! Inilah gilanya Crazy Rich Asians, saking gilanya, saya ngga tahu lagi mana yang beneran emang ada sama mana yang cuma karangannya si Kevin. Saya cuma bisa melongo, ngikik, lalu melongo lagi. Saya akan terkesan membandingkan (dan emang iya), tapi inilah yang saya rasa kurang dari buku AVYW, jika memang mau menggambarkan kehidupan hedon, ya jangan separuh - separuh. Jangan cuma tempelan aja. Go ahead!! 

Kalau saya bisa rangkumin Crazy Rich Asians dalam tiga kata: Outlandish, outrageous, highly charming. - baeklah ini jadi 4 kata deh :P.

Awal membuka buku Crazy Rich Asians, agak sedikit mengintimidasi. Bayangkan, halaman pertamanya sudah dihiasi silsilah keluarga yang menjadi fokus utama buku ini yaitu keluarga Young, T'Sien dan Shang. Itu juga sudah ada tulisan "disederhanakan". Memang agak bikin jiper awalnya, tapi lama - lama saya juga jadi hafal sendiri tanpa harus bolak - balik lihat silsilah keluarga. Buku ini ngga ada apa - apanya dibandingkan The Silmarillion kok :P. Crazy Rich Asians sejatinya berfokus pada beberapa POV karakter utama dan beberapa pendukung. Yang utama jelas pasangan Nick Young dan Rachel Chu, yang kabar kedatangannya sudah bikin gempar seantero keluarga sendiri. Lalu ada sepupu Nick, Astrid Leong-Teo yang modis abis, selalu dipanggil "The Goddess" gara - gara selera fashionnya luar biasa tapi ternyata punya masalah rumah tangga pelik. Kemudian, ada Eleanor Young, ibu Nick yang keberatan Nick nikah dengan Rachel. Ada POV dari keluarga Goh, dimana anak mereka, Peik Lin adalah kawan Rachel dan jadi pendukung Rachel di masa sulit. Mungkin menurut saya bagian paling ngga penting adalah bagiannya Edison Cheng, yang menurut saya ditulis Kevin Kwan untuk menunjukkan kesombongan orang kaya. Tapi jujur aja, dari semua tokoh, Eddy ini yang paling saya malas bacanya.


"...Ingat, ini Asia, dan kesan pertama begitu mengecoh. Kau tahu sebagian besar orang Asia menyembunyikan uang mereka. Yang kaya bahkan lebih ekstrem. Banyak dari orang - orang terkaya disini berusaha untuk tidak mencolok, dan seringnya, kau tidak akan pernah tahu kau berdiri di sebelah miliarder."
 
Bukan berarti Crazy Rich cuma pamer banyak istilah borjuis atau pamer kehidupan orang kaya yang bikin saya cuma bisa melongo ya. Sejatinya, novel ini juga ngebahas culture orang China. Saya tahu, betapa buruknya sentimen penduduk negara saya ke China dan saya sendiri ngga mau kayak gitu. First thing, itu racist. Second, saya juga ada keturunan China dari nenek dari pihak Bapak saya. Why I must hate them tho? Malah saya lihatnya orang China aslinya ya ngga jauh beda juga sama orang Jawa, apalagi masalah jodoh. Toh generasi tuanya juga sama konservatifnya ma ras lain kalau udah nyangkut JODOH. Di Crazy Rich Asians, Kevin menunjukkan betapa "bibit, bebet, bobot" itu juga berlaku buat masyarakat China, dalam hal ini di sosok Eleanor Young. Saking keponya sama Rachel, Eleanor bela- belain nyelidikin Rachel, mulai dari latar belakang dan masa lalunya, yang akibatnya malah jadi kacau. Menyebalkan ya, tapi di sisi lain juga bisa dimengerti kok sebenernya. Kevin Kwan juga menunjukkan bahwa, mau sesukses apapun, kalau belum nikah, ya dianggap ngga sukses. Apalagi kalau cewek:
 
"Disini, tidak begitu. Tak peduli seberapa sukses kita, masih tetap ada tekanan yang sangat besar bagi para gadis untuk menikah. Disini, tak jadi soal seberapa suksesnya seorang wanita secara profesional. Dia tidak dianggap lengkap sampai menikah dan punya anak."
 
 
 Quite familiar, huh? Budaya keluarga besar Nick yang kepoan dan suka ikut campur, akan bikin pembaca yang emang bangsa Asia, bakal senyum sendiri, karena emang "buset, ini keluarga gue juga gini nih!". Makanya ngga heran kalau Rachel yang ABC (American Born Chinese, istilahnya keluarganya Rachel) shock, karena gegar budaya sama budaya orang China asli dan jauh lebih shock lagi karena tahu Nick keluarganya "crazy rich".

Walau gitu, ada beberapa pesan positif juga sih. Di balik begitu menyebalkannya keluarga Nick, dengan selalu menghitung "berapa sih jumlah harta calon menantu/calon anggota baru keluarga", di sisi lain mereka berusaha untuk ngga berlaku kayak orang kaya lho!. Malah cenderung ditutup - tutupin, terutama cabang keluarganya Nick sendiri. Emang sih, Nick itu bagi saya jadi sangat too good to be true, dan Crazy Rich Asians sendiri sejatinya cuma ala - ala cinderella story. Tapi kalau Nick juga sama songongnya dengan saudaranya yang lain, ya jadi ngga ada ceritanya kan? :P. Rachel sendiri menurut saya, walau tidak ada tendensi drama queen, tokoh ini rasanya...sedikit datar. Karakter fave saya sih tetep si Astrid, yang jalan hidupnya sangat pelik. Oh ya, keluarga Nick kan tinggal di Singapura, dan Nick dengan kawannya bisa sangat keras kepala kalau sudah masalah makanan. Mereka bisa berantem sendiri hanya untuk memastikan makanan jualan penjual siapa atau restoran apa yang paling otentik. Selain itu juga banyak diselipkan tentang negara Singapura, sampai bagaimana kehidupan mereka yang ditanggung pemerintahnya. Sampai ada guyonan kenapa si Mark Zuckenberg sampai pindah ke Singapura XD.
 
Kevin Kwan sendiri dengan unik menyisipkan bedanya orang China rantau sama orang China daratan, dan juga friksi antara OKL (orang kaya lama) ma OKB (orang kaya baru). Terkait OKB, memang dimana - mana sama sih, yang paling menonjol pasti noraknya :P. Buku ini emang eye opening banget buat saya dan mungkin juga buat pembaca yang lain yang ingin tahu budaya orang China atau pengen tahu emang sekaya apa sih para Crazy Rich ini? Saya baca novel ini dalam satu malam dan termasuk ngga bisa berhenti, karena emang Crazy Rich Asians is crazy fun! Dan kalau kalian mikir si Kevin Kwan kebanyakan ngarang pas bikin novel ini, well, Crazy Rich itu loosely based his own family. Yep, keluarganya juga termasuk orang kaya lama di Singapura, bokapnya dokter ahli bedah ternama, bibinya aktris klasik Taiwan, dan siapa yang tahu ada "sepupu/bibi/paman" kaya raya yang doski punya. Plus pengalaman Kevin bekerja di majalah fashion serta dunia entertainment, ngga heran pengetahuannya luas banget. Apa beberapa bagian di buku ini cuma fiksi yang dikarang? Kevin Kwan bilang "sometimes, truth is stranger than fiction".
 
Crazy Rich Asians diterbitkan tahun 2013 (cukup lama yah!) dan akan dibuat filmnya lho! Well, film model gini emang rawan rasisme, dengan produser akan bikin film dengan casting "caucasian", padahal jelas - jelas orangnya Asia semua. Tapi, Kevin Kwan sendiri bilang kalau castnya akan orang Asia semua. Jadi penasaran siapa yang akan memerankan Nick (yang dalam bayangan saya kok Takeshi Kaneshiro mulu, aduh ketauan jadul!), Rachel dan keluarga Young-Tsien-Shang ini. Gramedia sendiri menerbitkan buku ini di tahun 2016, dengan terjemahan yang menurut saya sudah oke dan enak dibaca. Sayangnya TYPOnya BUANYAK dan bertebaran. Cukup bikin kenikmatan membaca jadi sedikit terganggu yang juga bikin saya mengurangi sedikit ratingnya karena terkesan buku ini kejar terbit. Walau begitu, saya suka baca footnotenya yang menghibur. Jadi ingat footnote ala Good Omen.

Anyway, saya sangat rekomendasi Crazy Rich Asians! Jangan jiper lihat silsilah keluarga atau begitu banyaknya istilah borjuis di dalamnya, karena sebenarnya kebanyakan isinya bergaya komedi satir kok XD. Gramedia juga sudah menerbitkan kelanjutan Crazy Rich Asians, yaitu China Rich Girlfriend (diterjemahkan jadi Kekasih Kaya Raya). Sementara buku ketiganya, yang juga jadi buku terakhir, Rich People Problem, akan terbit tahun ini. Jadi ngga sabar, mau segila apa Kevin Kwan kali ini :D.




Story  Rate

Rating untuk Crazy Rich Asians ini adalah: 


Dan untuk sensualitasnya:
 
Ada beberapa istilah seksual, tapi tidak eksplisit

3 komentar:

  1. Target pembaca dewasa, apa ada bagian2 vulgar dan bikin kipas2 kak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maksud dewasa disini lebih ke butuh pemikiran lebih dalam saja. kalau terkait kevulgarannya, ga ada yang kipas - kipas kok. Ga eksplisit. Biasa aja.

      Hapus
  2. Buku ketiganya terbit tahun ini apa diterjemahkan tahun ini mbak? Aku baru kelar baca China Rich Girlfriend nih,kirain itu udah novel terakhir eh ternyata bukan, kesel banget! Penasaran lanjutan kisah Rachel. Mau beli buku ketiganya yg masih bahasa Inggris eh harganya mahal banget :(

    BalasHapus

Saya menghargai setiap komen/opini yang diberikan. Silakan untuk tidak setuju dengan review/opini saya tapi mohon disampaikan dengan sopan ya :)
Saya berhak menghapus komentar yang tidak nyambung dengan isi blog atau spamming (jangan sertakan link blog kamu/ link apapun di kolom komentar, kecuali untuk giveaway/reading challenge).
Karena banyaknya komen anonim tanpa identitas, maka opsi anonim saya tiadakan.
Terimakasih sudah mau mengunjungi dan meninggalkan komentar di blog saya :).


I value your comment/opinion. You can agree to disagree with my post/opinion, but please write your comment in good manners.
I have a right to delete your comment if its out of topic and/or spam (please do not include your blog/any link, except for giveaway/reading challenge).
Because of so many anonymous comment without identity, I disable the option.
Thank you for your visit and comment :).

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Just Curious Where U From ;)