Jumat, 09 November 2012

Review : Lelaki Terseksi Di Dunia oleh Julie James

Judul : Lelaki Terseksi di Dunia
Judul Asli : Just The Sexiest Man Alive
Pengarang : Julie James
Penerbit : Elex Media Komputindo
Tebal : 440 halaman
Diterbitkan pertama kali : 9 November 2011
Format : Paperback
Target : Dewasa
Genre : Contemporary Romance
Bahasa : Indonesia
 
Status : Pinjam teman (thanks to Mbak Dian Aesha)
Website : Julie James

Review in other site : Goodreads

Sinopsis  

Ketenangan Taylor Donovan tak pernah terusik. Di ruang sidang, ia tak pernah membiarkan pihak lawan membuatnya gugup. Dalam kehidupan pribadi, ia tak pernah membiarkan pria mana pun membuatnya terguncang-termasuk perselingkuhan mantan tunangannya.

Jadi ketika ia ditugasi membantu ‘Lelaki Terseksi Di Dunia’ versi majalah People mempersiapkan peranan dalam film thriller hukum laris barunya, ia menolak terjatuh dalam pesona sang playboy Hollywood tersebut. Bahkan meski aktor itu adalah Jason Andrews.

Editor’s Note
Lucu, cerdas, dan tentu saja ... romantis!

Review


Saya punya kecenderungan. Dimana jika ada suatu buku yang penggemarnya buanyaaak dan kasih bintang 4 atau 5 atau 7 atau yang pokoknya bagus banget kata mereka, saya malah berpikir sebaliknya. Oke, ga semua buku kok. Tapi kok kejadian sering banget ya? Apa saya bukan mainstream? Ini juga yang saya rasakan saat membuka halaman pertama "Lelaki Terseksi Di Dunia". Karya debut dari Julie James, yang dulunya selain pengacara juga penulis nafkah film. Maka jadilah LTDD ini (saya singkat aja daripada kepanjangan). Banyak yang menyukainya, menganggapnya lucu dan fresh. Menggabungkan dunia hukum dan Hollywood, dua dunia yang bertolak belakang tapi juga saling berhubungan. Harusnya ini bikin saya tertarik kan? Awalnya sih, iya. 

Jadi cerita LTDD ini berawal dari kisah seorang pengacara sukses Taylor Donovan yang pindah dari  Chicago ke Los Angeles untuk meniti karir. Di saat sedang mempersiapkan kasus gugatan pelecehan seksual dari suatu perusahaan pada karyawannya, Taylor dipanggil oleh sang bos, Sam yang memberinya tugas yang tak pernah dipikirkan Taylor sebelumnya. Taylor harus membimbing aktor yang disebut - sebut sebagai "Lelaki Terseksi di Dunia" (versi orang Amrik tentu), yaitu Jason Andrews yang sudah menyandang titel itu selama tiga kali berturut - turut. Film baru Jason mengharuskan pria itu berakting menjadi pengacara, dan Taylor diharapkan bisa membantu akting Jason senatural mungkin. Tugas yang mudah bagi Taylor yang bersifat kuat, walau dia jengkel kenapa harus dirinya. Pertemuannya dengan Jason pun tak berjalan mulus, karena Jason milih mangkir dari janji temu dan main judi di Las Vegas. Tapi setelah mereka bertemu, Jason menyadari bahwa Taylor adalah satu - satunya wanita yang tidak mempan dengan pesonanya.

Dimulailah latihan akting Jason sebagai pengacara sembari dibantu Taylor yang juga merevisi naskah. Dari situ juga Taylor mengenal dunia Hollywood dengan segala kegemerlapannya. Meskipun jengkel dengan Jason dan begitu juga sebaliknya, mereka jadi mengenal satu sama lain lewat dialog - dialog mereka yang saya akui cukup lucu dan cerdas. Walau akhirnya tertarik, baik Taylor dan Jason sama - sama memendam perasaan. Jason bahkan sengaja membuat cemburu Taylor, dengan menggandeng Naomi Cross, lawan mainnya. Padahal itu aslinya hanya pura - pura. Taylor pun malah kencan dengan Scott Casey, aktor Australia yang menganggap Jason cuma pria tua yang eranya harus sudah selesai. Di satu sisi, Taylor terancam terekspos ke media karena paparazzi pernah mendapatkan foto dirinya yang tak sadar ingin mencium Jason saat mereka di Las Vegas. Walau identitasnya tak ketahuan dan membuat dia dinamai "Wanita Misterius" tapi Taylor takut jika terungkap identitasnya, juri dan hakim yang mengusut kasusnya akan menganggapnya tidak kredibel. Saat Taylor mengalami kecelakaan mobil, saat itulah mereka menjadi dekat kembali. Tapi Taylor yang pernah terluka, walau tak dia perlihatkan, karena mantan tunangannya yang selingkuh masih tak mau mengakui perasaannya pada Jason? Sanggupkah Jason sebagai lelaki terseksi di dunia meyakinkan Taylor untuk memilihnya? Apakah dibutuhkan lebih dari keseksian dan ketenaran sebagai aktor untuk membuat gadis itu menjadi miliknya?

Bagi saya, LTDD ini tidak jelek, tapi juga bukan buku yang membuat saya ingin membacanya lebih dari satu kali. Julie James bukan pengarang baru bagi saya. Jauh sebelum Elex menerbitkan LTDD, saya sudah baca karyanya dari seri Attorney/FBI, A Lot Like Love (disini diterjemahkan jadi "Serasa Cinta".) Saya sendiri waktu itu suka baca A Lot Like Love karena tante Julie menulis seorang karakter wanita kaya tapi tidak menyebalkan layaknya orang kaya, contohlah si Paris Hilton. Inilah yang membuat saya punya ekspektasi saat membaca LTDD, semoga saja sebagus A Lot Like Love. Sayangnya, saya harus kecewa.

Pertama, dari segi cerita sendiri saya sudah merasa ke"lebay"annya, terutama dari sisi Jason Andrews. Saya jauh lebih suka membaca saat Taylor menjadi pengacara, jadi saya bisa tahu proses di ruang sidang seperti apa. Walau tentu saja tidak bisa dijadikan patokan. Sebaliknya, gambaran Hollywood di buku ini membuat saya berulang kali mendengus, dan ketawa yang lebih ke arah nyindir aja. Saya suka kok pas baca buku, terus si pengarang memasukkan tokoh yang benar - benar ada ke dalam bukunya. Tapi itu kalau di buku historical fiction. Bayangkan saja gimana saya bolak balik memutar mata saat pengarang menyebut nama artis yang masih hidup sampai saat ini. Mulai dari Kate Beckinsale dan Eva Green, sutradara terkenal Steven Sodenberg. Belum lagi bandingin si Jason Andrews sama George Clooney dan Brad Pitt. Lalu penyebutan barang - barang branded mulai mobil, perhiasan, cottage, delele. Oke, mungkin biar aura Hollywoodnya kerasa. Tapi saya akui, saya ga terlalu suka yang kayak gini.

Bagi saya sendiri penokohan Jason Andrews sendiri sudah terlalu lebay. Kelewat sempurna, yang dari meraih Oscar, filmnya ditonton sampai enam kali, meraih gelar "The Sexiest Man Alive" sampai tiga kali. Inilah yang bagi saya merasa keseksiannya jadi tidak ada. Ditambah sikap arogan yang mungkin tante Julie ingin menggambarkan "ini loh aktor sukses, sifatnya tuh kek gini", saya jadi ilfil seilfil - ilfilnya. Tidak peduli bahwa si Jason Andrews ini digambarkan tinggi, tegap, berambut hitam dan matanya yang  biru kobalt menatap dengan tajam. Saya ngga deg - degan tuh! Mungkin karena bagi saya pria rambut hitam dengan mata biru terseksi di dunia (novel) itu cuma Roarke seorang :)) (dan juga Raphael dari novelnya Nalini Singh). Saya sulit simpati sama Jason, karena selain menjengkelkan (atau istilah saya sih, gedeg bener!), sifatnya kayak anak kecil padahal umurnya dah hampir 40!

Untunglah ada Taylor yang bagi saya cukup menyelamatkan novel ini. Saya suka dengan karakterisasi Taylor yang sebenarnya tipikal wanita karir. Dengan hati kuat tapi lebih ke keras kepala dan juga bagi orang lain mungkin arogan. Awalnya saya sempat keganggu dengan betapa dinginnya si Taylor ini, tapi dedikasi pada pekerjaannya yang membuat saya kagum. Sayangnya saya tidak merasakan chemistry antara Jason dan Taylor. Saya cukup suka dengan dialog "berantem" antara mereka yang lucu dan asyik diikuti. Beberapa bahkan membuat saya tersenyum simpul. Tapi, setelah beberapa bab saya merasa hubungan mereka jadi ga asyik aja. 

Konflik yang ada di buku ini juga sudah jamak ditemui di banyak film drama komedi. Temanya sudah klise. Membaca LTDD membuat saya seolah baca skrip naskah, alih - alih novel. Make sense, karena Julie James dulunya penulis naskah. Tapi kan dua hal itu berbeda. Klimaksnya pun terasa datar. Saya tak bisa merasakan kegelisahan Taylor dan Jason yang saling suka tapi malu mengakui. Akhir ceritanya pun yang Hollywood sekali. Untungnya karakter pendukung di buku ini seperti Jeremy, teman Jason; Val dan Kate, teman Taylor lalu kolega Taylor di kantor pengacara membuat buku ini masih menarik untuk diikuti. Masalah lain lagi adalah dari segi cover! Di buku Taylor dideskripsikan berambut cokelat gelap, seperti warna kastanye. Tapi kenapa yah, saat melihat cover, saya merasa kok tuh cewek mirip Taylor Swift? Gara - gara namanya sama - sama Taylor? Saya sarankan sih bagian cover harusnya crosscheck dengan editor untuk masalah cover, karena hal ini kan fatal banget. Salah deskripsi rambut tokoh utama!

Saya jadi berpikir, apa kebanyakan baca genre paranormal romance dan fantasy membuat saya tidak bisa menikmati LTDD yang notabene adalah genre kontemporer. Tapi kemaren saya baca Playing for Keeps karya R.L. Matthewson dengan genre sama dan saya sampai guling - guling di kasur karena ga kuat nahan tawa. Bahkan buku itu jadi favorit saya. Lalu saya pun liat review teman, bahwa bagi dia buku ini adalah buku Julie James terlemah yang dia baca. Hmm, mungkin karena debut kali ya? Bagi pembaca yang suka sama cerita ringan dan ala Hollywood, dan ga perlu mikir keras, maka LTDD boleh dijadikan pilihan. Tapi bagi saya yang menginginkan lebih dari itu, saya khawatir bahwa judul "Lelaki Terseksi Di Dunia (novel)" hanyalah pemanis, secara bagi saya Jason sama sekali ga ada seksi - seksinya :)).

Favorite Quote 

"Tidak ada tangisan dalam bisbol"

Rating Cerita




Sensualitas
Hanya ada adegan ciuman saja, yang bagi saya tidak terlalu "panas" (aih!). Adegan olahraga tempat tidurnya sendiri tidak eksplisit, terjadi mendekati akhir cerita. Itu juga yang cuma "gadis itu nakal sekali.." "Jason menjadi nakal.." Errrrr :)))

14 komentar:

  1. Waktu baca ini (saya baca ebook-nya) saya juga ga sreg sama si Jason. Malah sama temannya (jeremy ya?), tapi ga diceritain banyak.. hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh, tetep sama Jason kok Mbak :D... Ternyata ga cuma aku yang ga suka Jason :))

      Hapus
  2. jason nya kok kedengeran rada 'menye menye' y,,,,*halah,,,bahasa mana tw*

    emang jason digambarin nya lebay bgt y kak Ren??

    pdhl aq dah mulai suka dr liat cover ni novel,,,cewek nya kaya taylor swift,,,hehe :-P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menye2? Ga juga sih, lebih ke arogan aja. Cuma gaya nulisnya Julie James disini berkesan lebay menurutku

      Hapus
    2. hhehehe....menye2 tw cuma menurutku kok kak Ren...:P

      Hapus
  3. Hihihi...sama Ren, karena buku ini hype nya gede, aku jd ilfil bacanya. Ampe skr belum dibaca pdhal ebooknya udah punya lama

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ilfil karena hypenya? :D Penggemar dia banyak sih, dan kayaknya mengagung2kan dia, hehehe. Mungkin karena ini novel debut dia. Tapi dulu aku baca A Lot Like Love, yah oke aja ga sampe yang "Bagussss". BTW, entar kalau baca ebook, liatin adegan ranjangnya yah, aku kok merasa kayaknya disensor di buku ini :P

      Hapus
  4. aku belum bacaaa.. heheh..

    tapi novel terj terbitan elex memang belum kubaca semua, bersama dengan terbitan oak :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kenapa Liz? Kalau terjemahan sih, Elex udah bagus kok :)

      Hapus
    2. beneran udah bagus, ya, terjemahannya? sebenernya tertarik beberapa judul novel Elex, tp ya itu tadi, kadang baca beberapa komen teman yg bilang terj.nya ancur. jadi mlipir..
      tapi kalau memang sudah bagus, kayanya mau coba deh.
      terutama yg dari maya banks :) suka sama sinopnya. ren udah baca?

      Hapus
  5. Aku baca review yg lain pada kesengsem tapi cuma mba Ren yg ilfil.. =))

    Aku sendiri sampe skg blm sempet bava ini karena bukunya sold out terus, ckck.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya emang beda dari yang lain >:D. Temanya sih selain klise juga aku kurang suka sama penggambaran dunia Hollywoodnya. Too much branded things sama nama celebrity bertebaran. Aneh aja buat aku

      Hapus
  6. kalau mau baca novel terjemahan elex, ada di link apa y? tolong bantuannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau link sih tidak tahu, maaf ya :). Mungkin bisa nyari di google playstore, siapa tahu ada yang jual ebook edisi terjemahannya

      Hapus

Saya menghargai setiap komen/opini yang diberikan. Silakan untuk tidak setuju dengan review/opini saya tapi mohon disampaikan dengan sopan ya :)
Saya berhak menghapus komentar yang tidak nyambung dengan isi blog atau spamming (jangan sertakan link blog kamu/ link apapun di kolom komentar, kecuali untuk giveaway/reading challenge).
Karena banyaknya komen anonim tanpa identitas, maka opsi anonim saya tiadakan.
Terimakasih sudah mau mengunjungi dan meninggalkan komentar di blog saya :).


I value your comment/opinion. You can agree to disagree with my post/opinion, but please write your comment in good manners.
I have a right to delete your comment if its out of topic and/or spam (please do not include your blog/any link, except for giveaway/reading challenge).
Because of so many anonymous comment without identity, I disable the option.
Thank you for your visit and comment :).

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Just Curious Where U From ;)