Selasa, 14 Oktober 2014

Menulis Review Dalam Bahasa Inggris? Why Not???

Sudah lama saya ngga menulis rubrik opini ataupun random thought, atau apapun yang masih berhubungan dengan buku tapi bukan review. Banyakan malah nulis meme, yah biar blognya ngga berdebu aja sih :v. Kebetulan malam Minggu kemaren saat saya scroll chat di WA Bajaj Jabodetabek, saya nemu bahasan tentang twit @kurawa. Saya ngga follow dia, walau suka baca tweetnya yang mungkin bagi beberapa orang kontroversial. Kebetulan tadi malam dia membahas tentang kasus WNI yang dimutilasi di NZ (pasti pada tahu lah ya), yang berujung pada pembahasan tentang bule hunter, kawin sama bule dll. Salah satu follower dia lalu memberi link blog binibule. Nah, saya inget dulu pernah baca blog ini, karena salah satu teman FB yang juga BBI yaitu Amanda pernah share blog dia juga. Sang empunya blog yaitu Ailtje (yang ternyata orang Ngalam kayak saya. Ga tahu Ngalam? Tinggal dibalik aja ;D) kebetulan suaminya bule dan tulisan - tulisan dia banyak membahas tentang kehidupan bersama suaminya, tinggal di Irlandia (aiiih mauuuu!! *0*) dan juga "kegemesannya" sama budaya dan perilaku orang Indonesia.

Lah...terus apa hubungannya sama buku, Ren?

Bentar..belum selesai nih introductionnya ;D

Setelah beberapa artikel, saya nemu artikel dia yang berjudul Bahasa Inggris Medok. Disini saya mulai tertarik, mengingat saya suka baca buku bahasa Inggris dan juga menulis review dalam bahasa yang sama walau grammar dan struktur "mbuh lah bener tidaknya". Dia mencantumkan sebuat tweet yang tulisannya:

"if u can't say things gramatically correct in english please don't make your comment publically in english it will just show how stupid you are".

Ouch!

Radar sensi saya langsung berbunyi "ngiung, ngiung, ngiung", dan membawa saya berkelana ke masa 3 tahun silam #halahlebay. Saya masih ingat review pertama yang saya tulis dalam bahasa Inggris dan panjaaang adalah review tentang Dark Lovernya J.R.Ward. Saya waktu itu tidak kepikir nulis dalam bahasa Inggris. Saat itu saya hanya ingin melontarkan rasa frustasi karena covernya yang sungguh bikin saya nangis dan meneror milis GPU dalam jangka waktu yang lama (Maaf ya Mba Dharma, momod saat itu X)) ). Responnya sendiri cukup bagus, dan entah kenapa sejak saat itu saya aktif menulis dalam bahasa Inggris. Pikir saya, toh temen Goodreads ini banyak bener yang orang bule, dan saya juga baca buku bule. Make sense toh kalau saya nulis review bule?

Sampai saat saya nulis review Nicholas di Goodreads dan salah satu orang tak dikenal menertawakan review saya. Maksud dia mungkin baik, yakni mengoreksi grammar dan struktur saya yang salah. Tapi, karena dilakukan dengan mengejek, saya cuma bisa elus dada aja. Saya balas komen dia dengan tenang (walau hati perih dan meluncur menuju lautan luka dalam #ciee), dan berterimakasih atas koreksinya. Yang tidak saya sangka, banyak teman yang membela saya habis - habisan. Saat itu juga kebetulan saya lagi ultah, dan mereka semua membesarkan hati saya. Bilang sama saya bahwa untuk orang yang bahasa nativenya bukan bahasa Inggris, "you're doing good". Brebes mili? Ya iya, hahaha :'). Walau saya tahu mungkin mereka bilang gitu biar saya merasa lebih baik, tetep aja saya terharu dong :)).

Tapi, ternyata masalah nulis review dalam bahasa Inggris ini masih berlanjut. Saya masih ingat dengan jelas kejadian itu. Saat sedang scroll linimasa Twitter, saya melihat beberapa orang mengejek sebuah review yang ditulis dalam bahasa Inggris, bilang grammar dan strukturnya suck, dll. Saya tahu mereka, mereka tahu saya dan saya tidak mau negative thinking bahwa review yang dimaksud adalah review saya. Hanya saja, jikapun itu bukan review saya yang dimaksud, tetap saya tidak suka dengan kelakuan orang - orang ini. 

KENAPA HARUS MENGEJEK JIKA KAMU BISA MEMBETULKAN GRAMMAR ORANG YANG SALAH DENGAN BENAR DAN SANTUN???

#capslockjebol

Saya bukan native, saya belajar bahasa Inggris selama ini selalu otodidak, dan setelah dua kejadian di atas, sudah beberapa orang mengejek grammar dan structure saya yang kacau (salah satunya ada di review FSoG yang terkenal itu). Saya tidak habis pikir, orang bule ngejek grammar saya acakadut? Oke deeh, dia emang ahli dalam hal itu (walau aslinya saya tahu juga beberapa bule yang nulis reviewnya acakadut. Oh, well). Tapi, sesama orang Indonesia? Mentang - mentang bisa bahasa Inggris, lalu ngejek koleganya yang masih belajar hanya karena dia mampu? Kenapa tidak dibenarkan saja sih? 

Saya tahu mungkin akan sangat bikin frustasi ketika kita ahli dalam suatu hal dan melihat orang lain ngga bisa melakukan hal itu dengan baik. Hei, saya juga pernah ngalamin hal itu kok. Tapi apa lantas itu jadi dasar untuk ngejek mereka yang masih belajar? Bukannya mereka yang mengejek dan juga mereka yang menulis review dalam bahasa Inggris juga sama - sama belajarnya? Apa tipikal orang Indo buat saling jegal? Mbuh deh, saya ngga mau sok jadi psikolog. Tapi terus terang itu bikin saya kesel. 

Punya pengalaman diejekin grammarnya lebih dari satu kali, membuat saya jauh lebih apresiasi sama sesama temen sejawat yang nulis dalam bahasa Inggris. Kalau menilik sama tweet yang dicantumkan Mbak Ailtje di blog dia, berarti kalau ngga bisa bahasa Inggris ya ngga usah ngomong? Sempit amat pemikirannya. Ini sama aja dengan kalau kita ngga bisa bahasa Indonesia yang baik dan benar, ngga ngerti EYD, ya ngga usah nulis review? Lah, review juga ngga dikirim ke majalah, koran, dll. Reviewer dan blogger yang saya tahu juga tidak dibayar, semata - mata mereview karena suka, karena ingin meluapkan  perasaannya setelah baca buku. Kenapa  reviewnya baru dianggap review kalau tata bahasanya baik dan sesuai EYD?

Nonsense! And it's totally BS!

Sama saja 'kan dengan menulis review dalam bahasa Inggris. Toh review untuk sendiri, kenapa harus diejek gitu lho? Bukan berarti saya anti kritikan sih. Setiap saya menulis review bule di blog ini, saya selalu kasih note kalau ada yang nemu kesalahan grammar dan struktur, silakan email saya (dan selama ini baru Erdeaka saja yang ngelakuin. Hehe, thanks a lot loh girl ;) ), pasti bakalan saya ubah dengan senang hati. Bahkan dulu saat Ally dan Teh Peni benerin review bule saya via email, saya sangat bersyukur. Ini lho yang saya maksud. Anda-anda yang mungkin self-proclaimed Grammar Nazi atau emang pinter nyerocos bulenya, bisa kan ngoreksi dengan cara yang lebih bisa diterima ketimbang ngejekin orang? Toh, kita sama - sama belajar.

Lalu, ada juga sih yang saya amati selama ini. Review saya yang diejek grammarnya pasti review negatif! It's a low blow! Setuju ngga setuju boleh, tapi ngga lantas harus sakit hati buku favoritenya direview negatif terus nyerang struktur tulisan si reviewer! Dan bagi saya juga itu sangat childish. Lucu kan kalau buku favorit saya direview negatif sama orang terus saya nyerang dia "ih, ih, apa sih ini reviewnya ngga sesuai EYD. SPOKnya ngga bener. Strukturnya kacau." Padahal saya sendiri nulis juga ngga bener, wkwkwkwk. Jadi kelihatan kalau saya jengkel kan? 

Kemaren pun ada bahasan di grup PNFI di FB yang saya ikuti, yang intinya gimana cara menulis review dalam bahasa Inggris. Yang saya lakukan adalah, saya kasih semangat sama yang bertanya. Dan itu juga yang akan saya lakukan sama pembaca blog yang masih ragu buat menulis review dalam bahasanya bule, yaitu:

JANGAN TAKUT

Ya, itulah kunci pertama dalam mencoba mereview dalam bahasa bule. Takut cuma bikin kamu diam di tempat. Takut cuma bikin kamu tidak akan pernah mencoba. Jadi, mulailah menulis review dalam bahasa Inggris sepatah dua patah kata. Lalu menjadi satu dua kalimat, dan berkembang menjadi satu paragraf. Lama - kelamaan kamu akan sadar bahwa kamu sudah menulis banyak. Percayalah, itu adalah pengalaman yang sangat menyenangkan. Tapi, jalan kamu tidak berhenti sampai di situ saja. Karena saya pun masih sering baca - baca review lama, membacanya keras - keras dalam hati, lalu memperbaikinya sedikit demi sedikit. Bagi saya mereview dalam bahasa Inggris adalah sebuah proses pembelajaran yang tidak akan pernah berhenti. Selama saya masih baca buku dalam bahasa Inggris, selama itu juga saya akan ngereview dalam bahasanya wong bule.

So, writing review in English? Kenapa ngga gitu loh? Yuk, mulai menulis dalam bahasa Inggris. Awali dengan yang sederhana dan lama - lama kita akan terbiasa. Dan kalau ada orang yang ngejek grammar kamu, cuekin dan kasihani aja deh ;).

Note: postingan ini dipersembahkan untuk Felita dan Astri Nardi yang saya lihat sudah mulai mereview dalam bahasa Inggris. You're doing good, girls! Keep the good job! :)

20 komentar:

  1. Berbicara dengan bahasa asing bukan suatu hal yang mudah. Alangkah sempit pemikiran orang menertawakan kekeliruan grammar. Sekedar info saja, bahkan native speaker pun banyak yang grammarnya berantakan. Saya mereview dengan bahasa Inggris sejak 2011. Saya yakin dalam tulisan saya pasti masih banyak kesalahnnya.

    Tapi, orang yang salah bukan untuk diejek. Ada banyak cara untuk membantu si penulis, misalnya mengirim pesan pribadi lewat email dsb. Tidak perlu lah didepan umum. Toh kalo ada yang mengejek kita didepan umum, itu murni karena ego si pengejek. Nggak usah dimasukin dalam hati, bukan anda yang salah, salahkan si pengejek kenapa punya kepribadian yang.. yah... nggak bagus-bagus amat.

    Mungkin perlu ditegaskan juga, apalagi kalo si pengejek brani-braninya beraksi di blog (baca: rumah) kita. It's your blog, you're rule. Nggak ada yang maksa mereka berkunjung, kalo nggak suka, they're free to go.

    Great post!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you Citra :). Aku pantang sebenarnya menghapus komen orang karena ingin menghargai semua pendapat, tapi kalau komennya sudah kelewatan sih langsung aku hapus,hahaha :P.

      Hapus
    2. Tetap semangat ya, mbak Ren! Biasa lah, kerikil-kerikil kecil itu memang selalu ada. Lucunya, sejauh yang saya tau, orang yang sok mengejek ketidaksempurnaan grammar orang lain biasanya malah cuma bisa satu bahasa.

      Ditunggu review Englishnya ya mbak Ren! :)

      Hapus
  2. Hahahaha ironis sekali si tweeter nulis begitu, padahal spelling-nya salah tuh (>_<)
    (jadi inget si komen belagu di reviu Ren di goodreads dulu itu)

    Setuju, mending banget kalau dia ngebantu; ngajarin kata / kalimat yang tepat kek, daripada asal nyuruh orang diem.
    Aku sendiri terus terang takut nulis review dlm bhs Indo karena EYD ku pokoknya parah banget. Kalau ngomong aja kadang masih diketawain (T__T) makanya saluuut banget sama orang yg bisa nulis artikel/review/etc. dalam bahasa yg masih dipelajarin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu yang komen dulu guru sih, dan juga author ternyata :P

      Lho, gapapa lah nulis dalam bahasa Indonesia. EYDku selama ini apa ya bagus sih? Ya, ngga juga :D. Pede aja deh :)

      Kadang kita ngetawain orang yang ngomong dalam bahasa kita tapi dia terpatah - patah ngomongnya, karena kita anggapnya lucu. Padahal itu ngaruh juga ya buat dia :( #selfreminder

      Hapus
  3. Emmm... itu tulisan si Ailtje: "...please don't make your comment publically in english " >> Memang ada kata 'publically' ya? Setahuku sih publicly (cmiiw). Nah, kalo belum bisa nulis dalam bhs Inggris dgn grammar yg sempurna, jangan sok ngatain orang lain yg masih banyak salahnya juga dong! *ngomong sama mbak Ailtje*

    Sama denganmu, aku suka buka2 review2 lama, dan memperbaiki (sambil merasa malu) grammar yang salah. Tapi makin lama, perbaikan yg diperlukan makin sedikit, menandakan ada perbaikan kemampuanku. Dan yang penting, orang bule ada yang baca & komentar kok di post-ku, berarti bisa dimengerti dong? Dan bukankah itu yang terpenting, bisa mengkomunikasikan ide/opini kita ke pembaca? Toh blog bukanlah kelas bahasa...

    Terus semangattt! ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu yang nulis bukan Mba Ailtjenya, Mba Fanda. Dia cuma ngutip ngetweet orang aja kok. Biar ngga salah paham, hehehe :D

      Iya, bahkan di Goodreads juga reviewku pun di-like dan dicomment, artinya mereka paham maksudku, dan itu yang bikin aku tetep semangat nulis dalam bahasa Inggris.

      Semangat juga Mba Fanda :D

      Hapus
  4. waaah, review bhs inggrisku belum pernah dikritik, ren. malah aku pikir, jangan2 gak ada yg baca. hahahahiks... kadang sengaja aku salah2in, gada yg kritik juga. hahhaha. kayaknya kalo aku dikritik aku bakal seneng2 aja, walopun si pengkritik ngasi taunya ngeselin. lol.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga yang benerin cuma 1 -2 orang kok :). Lah aku taruh review bahasa Inggrisku di blog ini aja yang baca dikit :P. Tapi gapapa lah, tetep nulis. Pengalamanku dengan pengkritik yang ngeselin (baca: ngejek pake banget) udah sering sih, itu kenapa aku nulis postingan ini.

      Hapus
  5. Posting yang benar-benar membesarkan hati. Saya suka baca buku bahasa Inggris (khususnya buku2 YA yang bahasanya nggak ribet) tapi belum berani nulis review pake bahasa bule. Kapan-kapan mulai nulis review pake bahasa bule deh. :')

    BalasHapus
  6. Aku sependapat, Ren. Bisa ngomong baik2 kok kalo mau ngoreksi. I'm a self-proclaimed grammar nazi, tapi ada rule-nya juga. Justru aku seneng liat orang2 yang niat belajar & latihan bahasa Inggris. Mistakes are part of learning. God knows I've made enough mistakes to last a lifetime. And I'll keep making and learning from them!

    Yang aku ga suka adalah ketika orang2 sok2an ng-Inggris. Want to sound posh and sophisticated with little knowledge of English grammar? Wow, that would totally yield opposing results. One would look like an ignorant person (wouldn't call it foolish or stupid)! And I hate it when people chalk mistakes up to anything but their laziness when they're teachers. One quick look at their dictionary app would've made a difference. If you're too lazy to check, just say so! Don't defend yourself by saying that you're on an informal platform and therefore can forgo grammar. I've encountered that once before. Teaching when one can't make a sentence right, I can't understand that.

    Before I over-rant, I'm just gonna say, I can be your beta if you want. I've been a beta for college students (a colleague, my sister), my friends back in school (uni), etc. I wouldn't mind. Usually, beta-ing gets my brain working. I learned a lot of things that way too.

    BalasHapus
  7. Bukannya TKP WNI yang dimutilasi itu Brisbane, Aussie ya, kak? ._.

    Saya sendiri sampai sekarang masih belum berani menulis review panjang dalam bahasa Inggris. Tapi bukan takut dicela sih, lebih karena saya agak sedikit perfeksionis ._.

    Tapi setuju semua dengan apa yang ditulis dengan, kak Ren. Terutama yang bagian koreksi. Saya biasanya mentweet "kegalauan" dalam bahasa Inggris dan punya teman yang baik yang sering sekali membetulkannya :'D

    BalasHapus
  8. Makasih mba Ren atas dukungannya.... aku setuju banget sama Mba Ren, bahwa sebaiknya mereka2 yg fasih dlm bhs Inggris lebih baik mengajari dan mengoreksi grammar kita bukannya malah mengejek. Jadi kita semakin pintar dan bersemangat bukannya down. Aku menargetkan buku2 yang kubaca dalam bahasa Inggris akan kureview dlm bahasa Inggris, jujur ni mba review ku dalam bahasa native kebanyakan singkat, abis kadangan aku bingung mau ngomong apa buka kamus dulu cari, klo dalam bahasa Indonesia kan bisq cap cip cus, tanpa mikir. Cuma aku mau maju dan lancar bahasa Inggris. Dari yang awalnya aku sama sekali ga pernah baca buku import, sampai mencoba satu buku dan ga selesai2 sampai pada akhirnya sekarang aku menikmati membaca buku Inggris. Cuma memang untuk menceritakannya dalam review itu sering kali macet...aku sering bertanya dlm hati bener ga ya grammar ku, makanya aku tulis di profil GR ku, bahwa klo aku salah dalam grammar harap dimaklumi karena aku masih belajar.
    Mengenai bule2 yg nge bully mba dulu, mereka menertawakan mba yg inggrisnya pas2an ktnya.. tp masih mending mba jauhhhhhh dari mereka, karena mba bisa bahasa mereka sedikit banyak mengerti..lah, sedangkan si bule itu apa bisa bahasa Indonesia sedikitpun.... pokoknya mba ren inspirasi banget buatku... yg jelas bikin aku PD terus membaca buku inggris.. ^^ makasih mba ...kita ttp sama2 semangat :)

    BalasHapus
  9. Baca buku English aja saya gak mudeng mbak >.< gimana mau review?!! hahaha

    BalasHapus
  10. Menarik blog post hari ini ... jujur, gw dari dulu ngga begitu perduli sama grammar dalam tulisan review. Gw dari dulu tau kalau harus pasang muka tebel kalau nulis review dalam bahasa Inggris. Dan selama ini belum pernah sampai dihina dina sih. Ada pernah sekali atau dua kali diingetin, tapi mereka paham gw bukan native speaker kali ya. ATAU ... karena review gw juga bukan dari buku2 populer jadi ngga ada yang baca juga hahaha

    BalasHapus
  11. aku belajar baca buku bahasa inggris dulu, kalau review belum berani >.<

    BalasHapus
  12. Kalau aku sih biasanya pake tahap sebelum dipublish. Pertama, yang jelas tulis aja dulu, atau ketik, semua yang pengen dicurhatin. Setelah edit mengedit, di cek spellingnya di Ms.Word. Terakhir di cek grammarnya di Gingger Page. Biar lebih yakin aja.

    Kalo kata dosenku, "kalau memang bisa diusahakan, cobalah pake grammar yang bener". Bener sih, kita kan juga ngga boleh blas masa bodoh mau bener apa engga. Yah, di cek sana sini mah ngga ada salahnya toh?

    Lagi pula, yang kita posting kan tulisan, jadi masih bisa diperbaiki, beda lagi kalau speaking, nah kalo yang itu aku pasrah. Salah benernya cuma bisa berdoa. Dosen ku juga bilang "jangan terlalu mikirin grammar kalo lagi ngomong bahasa Inggris, ceplas ceplos aja, tok native ngga akan mempermasalahkan. Kalau mikirin grammar sebelum ngomong, nanti malah ngga jadi ngomong."

    Terus jangan nunggu dibenerin, selama kita mampu memperbaiki, diperbaiki aja. Kalau pasif nunggu orang ngoreksi, gimana jadinya kalau ngga ada sama sekali orang yang ngoreksi? Selain ngga akan ada kemajuan, nanti malah bisa berpikiran, "oh, berarti grammar ku udah afdol dong, ngga ada yg protes" Padahal mah. Beh. Terus, kalau kita udah cek dan yakin bener tapi masih ada yg ngoreksi, bisa jadi ilmu tambahan kan? kan males kalo yg dikoreksi yang udah kita tahu.

    Tapi yah, aku setuju sama kak Ren, jangan takut menulis bahasa Inggris. Selain bisa mengasah kemampuan, bisa punya banyak temen juga loh. Siapa tahu ada bule yg mampir di blog kita. Dan itu loh kata-kata itu yang bikin orang males belajar bahasa Inggris tuh yang itu #tunjukQuoteditengah "Ngga usah ngomong kalau grammarnya masih error". Orang yang kayak gini nih yg minta dibully rame-rame. Songongnya! Ih! minta dibejek-bejek!

    BalasHapus
  13. kalo menurutku bahasa asing itu ilmu, jadi mo gimanapun juga harus terus belajar dan gimanapun juga kita akan tetap sulit (walo bukannya tidak memungkinkan) fasih dan benar-benar paham makna budayanya. dan jangan malu menunjukkan hasil belajar kita juga (misal: ngomong ato nulis pake bahasa Inggris). Terus-terang, aku sendiri kadang gatel kalo ada yg salah-salah ngomong ato nulis Inggris, tapi bukannya terus ga boleh. Karena gatel maka harus membantu memperbaiki. yah, tetep semangat aja deh. kapan nih Ren nulis review di sini pake bahasa Inggris lagi??? ayo dong :)))

    BalasHapus
  14. "if u can't say things gramatically correct in english please don't make your comment publically in english it will just show how stupid you are".

    wuah, sakitnya tuh di sini._. Biasanya, kalo mau posting blog pake bahasa inggris aku suka minta maaf dulu kalo grammernya salah-salah. Bahasa inggris yang dipake juga pas-pasan-_- Tapi bukannya lebih bagus dilakuin daripada gak sama sekali? untuk ngelatih juga kan yaa. Setuju deh sama Mba Ren! :D

    BalasHapus
  15. Namanya juga belajar ya mbak.. Hohoo, ternyata si bule doyan ngejek juga.. Sabar aja mbak, belajar atau mencoba sesuatu tanpa berbuat kesalahan gak ada sense-nya..

    BalasHapus

Saya menghargai setiap komen/opini yang diberikan. Silakan untuk tidak setuju dengan review/opini saya tapi mohon disampaikan dengan sopan ya :)
Saya berhak menghapus komentar yang tidak nyambung dengan isi blog atau spamming (jangan sertakan link blog kamu/ link apapun di kolom komentar, kecuali untuk giveaway/reading challenge).
Karena banyaknya komen anonim tanpa identitas, maka opsi anonim saya tiadakan.
Terimakasih sudah mau mengunjungi dan meninggalkan komentar di blog saya :).


I value your comment/opinion. You can agree to disagree with my post/opinion, but please write your comment in good manners.
I have a right to delete your comment if its out of topic and/or spam (please do not include your blog/any link, except for giveaway/reading challenge).
Because of so many anonymous comment without identity, I disable the option.
Thank you for your visit and comment :).

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Just Curious Where U From ;)