Senin, 15 Februari 2016

Kenapa Saya Membaca Romance (dan masih sampai sekarang)

Dalam rangka ikutan Posting Bareng BBI 2016 (yang saya bertekad, pokoknya jangan sampai kayak tahun kemaren, tahun ini tiap bulan mesti ikut :P), bulan Februari ini divisi Event BBI memakai tema Valentine (ga heran, karena emang Februari identik dengan Valentine, walaupun ada Imlek :)) ). Banyak usulan untuk postingan menyambut Valentine Day yang sebenarnya sudah selesai kemaren, seperti top romantic books, film romantis, dll. Saya sendiri lebih memilih judul ini, kenapa saya membaca genre romance, karena sedikit banyak genre ini membentuk pribadi saya sebagai pembaca dan juga blogger.

Sejujurnya, saya dulu anti sama yang namanya romance, walau untuk komik bacanya ya komik shoujo yang ada romancenya. Bagi saya, romance identik dengan Harlequin (how I was wrong!) dan sebisa mungkin saya menghindari banget baca romance. Saya lebih memilih membaca novel fantasy, misteri atau genre lain yang pokoknya bukan romance. Hal ini berlangsung sampai saya kuliah, dimana buku - buku yang saya baca terbatas hanya pada genre yang sebut sebelumnya dan juga komik. 

Semua berubah ketika saya jatuh cinta.

Iya, seumur hidup, baru saat kuliah saya merasakan namanya jatuh cinta yang sesungguhnya alias pacaran :P. Cowo - cowo yang saya taksir sebelumnya hanyalah cinta monyet kalau dibandingkan dengan cinta saya pada mantan pacar saat itu (yang jadi suami saya saat ini ^^). Saat itu tahun 2007, saya sedang main ke rumah teman saya, yaitu Tata. Tata sendiri senang membaca novel tapi tidak terlalu kutu buku seperti saya. Iseng - iseng saya melihat buku yang dipinjam Tata, dan salah satunya adalah novel Harlequin dong! Oh, no, pikir saya, ngga deh, ngga akan baca. Tapi... setelah membaca sinopsisnya, saya jadi tertarik. Saya mikir, udah deh coba aja sekali ini baca Harlequin.


Buku itu judulnya White Lies, atau Dusta Putih, karangan Linda Howard terbitan GPU. Buku itu yang membuka jalan saya pada genre romance. Saya tidak menyangka, tema amnesia dan suspense dengan penulisan yang wow membuat saya benar - benar terdiam dan membaca semua halamannya sampai habis! Plus panas dingin membaca adegan sexnya. Saya sekarang berpikir, jangan - jangan jaman dulu saya menghindari romance karena kagok mau baca adegan ranjangnya. Membaca White Lies memang ibaratnya membuka Kotak Pandora, melepaskan monster bernama Ren yang setelah itu jadi mencari banyak buku - buku romance XD. Saya ga munafik sih, saya baca karena adegan ranjang, hohoho. Eh, itu artinya saat itu saya sehat dong ya, karena rasa penasaran saya begitu besar memang pada hal yang fundamental seperti olahraga tempat tidur :P.

Oke, sebelum pembaca menganggap saya mesum (tapi ya, saya emang mesum sih. Kayaknya ga perlu malu untuk itu :)) ), saya sudah mengatakan kalau genre romance membentuk pribadi saya sebagai pembaca. Itu memang benar. Sebelumnya saya hanya suka baca komik dan novel yang saya baca bisa dihitung dengan jari (itu juga nofan seperti Harry Potter, Eragon, Barty Trilogy, karya Dan Brown). Romance membuat saya membaca BANYAK sekali novel. Saya melahap semua karya Linda Howard, Sandra Brown, Nora Roberts, beberapa judul HQ, Lisa Kleypas, J.D.Robb (yang memulai obsesi tidak sehat saya pada Roarke), dan masih banyak lagi. Ketika GPU mengeluarkan lini Nocturne, saya senang karena novel - novel ini menggabungkan element fantasy, action dan romance. Lini Nocturne inilah yang nantinya mengantar saya untuk membaca banyak novel bahasa Inggris (bisa dibaca sejarahnya di Kenapa Saya Membaca Buku Bahasa Inggris) dan membuat saya jadi berkenalan dengan lebih banyak lagi karya pengarang lainnya.

Tidak hanya itu, romance membuat saya menyadari betapa terkucilnya saya dalam dunia literasi. Seperti banyak masalah yang dialami pembaca buku, lingkungan sekitar saya tidak terlalu mendukung hobi saya ini. Ya, orang tua saya masih mengijinkan saya baca novel, tapi bagi mereka novel sama saja dengan komik dan kedua hal itu dianggap tidak menguntungkan bagi saya. Genre romance membuat saya jadi melek teknologi, untuk pertama kalinya saya memberanikan diri masuk ke dalam forum - forum diskusi buku. Pada tahun 2010, smart phone belum booming seperti sekarang, saya masih tinggal sama orang tua dan tidak dibelikan Blackberry untuk komunikasi :'(. Jadi akses internet saya hanyalah di warnet dan untungnya Papa saya membelikan modem sehingga saya bisa berselancar di dunia maya. Saya banyak berkenalan dengan teman - teman di forum Lautan Indonesia (yang sayang udah sering karam) dan juga forum Elex Media Komputindo. Tak butuh waktu lama bagi saya untuk mengenal Goodreads pada tahun yang sama.

Romance, memang genre yang sangat besar jasanya pada saya. Jika tidak membaca romance, mungkin saya tidak akan membaca buku dalam jumlah sangat banyak, tidak akan berkenalan dengan teman - teman di forum buku, tidak juga mengenal Goodreads, dan mungkin juga tidak akan jadi blogger dan bergabung bersama BBI. Saya tahu genre romance banyak di-bully dan diremehkan. Saya sendiri sekarang juga makin jarang baca romance. Tapi saya akan selalu menganggap genre romance adalah pahlawan saya, genre yang membuat mata saya terbuka. Genre yang membuat saya menjadi saya yang sekarang ini!! :)

How about you? Kapan kamu mulai membaca romance? :D Share dong pengalaman pertama kamu membaca buku romance.

Happy Valentine Day, guys! ^_^

Postingan terkait romance:
# All About Romance: Part 1, Part 2, Part 3, Part 4, Part 5

13 komentar:

  1. Setiap buku punya pembacanya masing-masing, tidak perlu malu membaca suatu genre karena mau membaca itu sendiri sudah sebuah kehebatan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah...Dion.... *matalopelope* #plakk :))

      Iya, ga perlu malu karena menyukai genre tertentu ya

      Hapus
  2. Always been a huge fan of romance book. Walaupun suka genre lain, romance selalu jadi anchor yang narik balik aku ke jalan yang seharusnya. #pret

    Buku pertama yang membangkitkan gairah dan rasa haus akan HEA yang aku baca adalah The Winter Soldier-nya Diana Palmer. Harlequin juga. Muahaha, jangan-jangan Harlequin Romance udah jadi seri klasik yang bikin remaja kita terjebak di lautan penuh romansa?! #jengjeng

    Seperti tagline lawasnya Harlequin; A woman can never have too much romance (kalo gasalah), paling nggak buatku, aku nggak akan bosan dengan romance no matter how crappy it is. Baca romance jelek, tinggal move on ke romance selanjutnya. Abis mao gimana? Daku udah terlanjur naksir sama dramanya, sih..

    BalasHapus
    Balasan
    1. He eh..guilty pleasure banget emang. Kalau lagi mood, emang romance jadi pilihan :)

      Hapus
  3. dan karena romance itu ada Spank Club dan Cakrawala Gelinjang :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah...apa kabar blog kita yang satu itu lagi Mba Des? X)))

      Hapus
  4. duh belum cukup umur nih kakaaaa buat baca yang panas dingin menggelinjang :3 *padahal di kampus bahasnya tentang seks wkwk*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh gapapa...semua ada waktunya :). Omong - omong, waktu SMA aku juga baca komik illegal yang ada tandanya 17+ kok :P

      Hapus
  5. Awal baca Romens....Twilight Saga #diinjek
    Jadi dulu ceritanya aku ini nyewa Mbak. Mulanya sih baca Narnia, Spiderwick, dsb. Karena itulah aku jadi suka fantasy. Nah terus aku baca Twilight tahun 2008. And I found out I loved Romance of all other genres. Akhirnya keterusan baca Meg Cabot, Harlequin (romance dewasa pertamaku), dan sampai sekarang lanjut romance nya ke Kristen Ashley, Victoria Ashley, Nalini Singh, J.D. Robb, dll.

    Untuk #bukukipas, ya begitu deh :D mulai baca gara-gara Fifty Shades of Grey tahun 2011. I was seventeen X) Terus mulai suka buku yang nyerempet erotica. Sering diomelin Sasti karena bacaanku begitu semua haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Twilight justru baca karena dulu mau dijadiin film deh Nin.

      Duh, FSOG...another nightmare :P

      Hapus
  6. waaah aku malah sampe sekarang masih kurang sreg sama romans Ren hihi... mungkin karena kebanyakan romans itu happy ending dan aku agak males sama ending yang terlalu fairy tale. Biasanya akhirnya aku cari buku romance yang memang ngga terlalu pure romance (apeu sih).. kayak historical fiction atau fiksi drama keluarga gitu2 deh. jadi emang ada romance tapi diselip2in aja gitu XD kalau untuk pure romance aku menjura sama kamu deh Ren :D

    BalasHapus
  7. Sejak kapan ya? Tahun 2009 kayaknya pas kelas XII SMA, tapi novelnya minjem sama temen, sekarang udah mulai suka beli-beli sendiri novel romance-nya,,belum punya begitu banyak sih (keterbatasan dana), tapi paling suka genre romance ini, meskipun masih suka baca yang lain-lain juga kayak komedi atau buku tips...

    BalasHapus
  8. Oke, sebelum pembaca menganggap saya mesum (tapi ya, saya emang mesum sih. Kayaknya ga perlu malu untuk itu :))

    Ha ha...sisi menarik lain dari romance memang disini. Saya sebenanrya tidak terlalu suka dengan romance, tapi saya suka kalau romance tersebut menampilkan adegan panas. Saya juga mungkin mesum mbak Ren.
    *Yosh. Ada temennya he he :P

    BalasHapus

Saya menghargai setiap komen/opini yang diberikan. Silakan untuk tidak setuju dengan review/opini saya tapi mohon disampaikan dengan sopan ya :)
Saya berhak menghapus komentar yang tidak nyambung dengan isi blog atau spamming (jangan sertakan link blog kamu/ link apapun di kolom komentar, kecuali untuk giveaway/reading challenge).
Karena banyaknya komen anonim tanpa identitas, maka opsi anonim saya tiadakan.
Terimakasih sudah mau mengunjungi dan meninggalkan komentar di blog saya :).


I value your comment/opinion. You can agree to disagree with my post/opinion, but please write your comment in good manners.
I have a right to delete your comment if its out of topic and/or spam (please do not include your blog/any link, except for giveaway/reading challenge).
Because of so many anonymous comment without identity, I disable the option.
Thank you for your visit and comment :).

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Just Curious Where U From ;)