Rabu, 19 Desember 2012

Review Film : The Hobbit - An Unexpected Journey

Judul : The Hobbit - An Unexpected Journey
Adaptasi dari : The Hobbit oleh J.R.R.Tolkien
Durasi film : 150 menit
Pemain :Martin Freeman, Sir Ian McKellen, Richard Armitage, Hugo Weaving, Andy Serkis, Cate Blanchett, Adrian Turner
Sutradara : Peter Jackson
Genre : Epic fantasy

Rating : Remaja

Review :

Note : Mengandung beberapa Spoiler

Far over the misty mountains cold
To dungeons deep and caverns old
The pines were roaring on the height,
The winds were moaning in the night,
The fire was red, it flaming spread;
The trees like torches blazed with light.

Merinding. Itulah reaksi saya saat pertama kali nonton trailer The Hobbit - An Unexpected Journey setahun yang lalu. Yup, sang sutradara, Peter Jackson sudah menyiksa saya jauh - jauh hari dalam menunggu film pertama dari trilogy film The Hobbit yang premiere main tanggal 14 Desember kemaren. Jauh lebih merinding lagi saat mendengar para dwarf menyanyikan lagu yang liriknya saya kopi di atas. Tak bosan - bosannya saya melihat trailernya, walau dalam hati saya agak khawatir. Jangan - jangan nanti filmnya biasa aja. Ga sebagus Lord of The Rings.

Dan penantian itupun berakhir. Saya dan dua teman saya sepakat buat pulang lebih awal Jumat kemaren. Sok deh jam kerja belum selesai, kita justru kabur, hehehe. Apalagi saat itu hujan deras habis mengguyur Jakarta. Mati deh, pikir saya. Bakal macet parah nih apalagi kami berencana nonton di Epicentrum atau Kuningan City. Kami pun memutuskan naik taksi, dan nunggunya itu loh. Lamaaaaa, lebih dari setengah jam plus hujan rintik - rintik kami menunggu taksi. Akhirnya dapat, daaaan kami ga jadi ke Kuningan karena katanya banjir. Ya sudahlah kami akhirnya pergi ke Pejaten Village. Dan masih macet lagi. Saya jadi parno bakal kejadian kayak Breaking Dawn kemaren, jauh - jauh ke bioskop eh ga dapat tiket. Setelah hampir setengah jam, kami pun sampai. Dan saya langsung ngibrit ke bioskop. Ternyata adanya versi 3D. Saya sempat baca pre-review The Hobbit kalau 3Dnya bikin puyeng. Tapi saya ga ada pilihan. Selesai beli tiket, saya dan teman langsung sholat Magrib. Ngebut juga sholatnya (dosa nih X) ). Pas ke bioskop, ehhh udah gelap aja. Tak lupa ambil kacamata 3D dan duduk manis di kursi. Film pun dimulai.

Diawali dengan adegan Bilbo tua (Ian Holm) yang mengenang perjalanannya saat dia masih muda. Bilbo menceritakan tentang kerajaan Dwarf yang dipimpin oleh Thror. Dwarf dan Elf pun masih bersahabat saat itu. Sayangnya ketamakan Thror dalam menggali dan mengumpulkan harta membuat kerajaannya diserang oleh Smaug, sang Naga (yang suara groarrrrrnya diisi sama si seksi Benedict Cumberbatch :)) ). Parahnya, sang raja Elf, Thranduil (ayah Legolas, diperankan Lee Pace) hanya diam saja. Dan karena itulah Thorin Oakenshield (Richard Armitage), sang pangeran dwarf dan cucu Thror sejak saat itu tidak percaya oleh Elf. Para dwarf pun mengungsi dan pergi ke Moria. Thorin berjanji dalam hati, dia akan merebut kembali kerajaan kurcaci dan mengklaim tahta. Adegan pun berpindah ke Bilbo tua, dan kita akan bertemu Frodo (Elijah Wood) ! Ternyata adegan ini juga adalah adegan pembuka LOTR:Fellowship of The Ring. Lalu cerita pun beralih ke Bilbo lagi.

60 tahun sebelum Perang Cincin dimulai, Bilbo Baggins (Martin Freeman) hanyalah seorang Hobbit yang menginginkan hidup tenang. Kedatangan Gandalf (Ian McKellen) membuat ketenangan Bilbo buyar. Gandalf menawarinya sebuah petualangan yang menakjubkan, yang ditolak Bilbo mentah - mentah. Malamnya, Bilbo mendapat tamu kejutan. Dan kejutan itu adalah tiga belas kurcaci, mulai dari Fili, Kili, Oin, Gloin, Dwalin, Balin, Bifur, Bofur, Bombur, Dori, Nori, Ori dan pemimpin mereka, Thorin Oakenshield. Jujur saya cuma bisa tau Fili dan Kili, terutama Kili (Adrian Turner) karena dia yang paling ganteng :)). Para dwarf mengira Bilbo adalah pencuri handal yang bisa membantu mereka mencuri harta dwarf. Bilbo yang ogah - ogahan akhirnya pun mau membantu mereka.

I'm going on an adventure!! 

Dimulailah perjalanan Bilbo bersama tiga belas kurcaci ke Lonely Mountain. Kesergap troll, hampir dimakan juga, untung Gandalf datang menyelematkan. Diserang para Orc dengan piaraan mereka Warg sampai Bilbo dkk akhirnya pergi ke Rivendell (yang membuat Thorin jengkel) dan bertemu Lord Elrond (Hugo Weaving). Disinilah juga ada adegan White Council yang terdiri atas Elrond, Gandalf, Saruman (Christopher Lee) dan Galadriel (Cate Blanchett) yang membahas tentang seorang musuh di Dol Guldur, benteng yang terabaikan di Morgoth. Sayangnya para dwarf enggan berlama - lama di Rivendell dan kabur. Bilbo pun terpaksa ikut sama mereka. Saat beristirahat Thorin mengejek Bilbo yang menurutnya cuma sebagai beban. Bilbo pun memutuskan untuk pergi, namun mereka diserang oleh para Goblin! Bilbo terpisah dari para dwarf, dan disitulah dia bertemu dengan makhluk yang akan mengubah nasibnya dan nasib Middle Earth, yaitu Gollum (Andy Serkis).


Lalu, apakah petualangan Bilbo berakhir sampai situ? Oh, tentu saja tidak ,karena masih akan ada lagi cerita yang menarik setelah Bilbo ketemu Gollum. Bahkan di adegan -adegan selanjutnya Bilbo mendapat respek dari para dwarf dan terutama dari Thorin tentunya. Dan ini masih film pertama lho. Masih ada dua film lagi, The Desolation of Smaug dan Here, and Back Again.

K.E.R.E.N. Sepuluh jempol (tangan dan kaki digabung sekalian pinjam punya teman :)) ) buat The Hobbit. Memang The Hobbit tak akan bisa melampaui LOTR, tapi masih terlalu awal untuk menilainya seperti itu. Selama dua setengah jam menonton film, saya sama sekali tak bosan. Jika di LOTR saya sering skip - skip bagian Frodo (berhubung nontonnya di laptop) dan cuma suka bagian Aragornnya (ya, saya maniak Aragorn yang menurut saya seksi sama brewoknya itu :)) ), di The Hobbit saya anteng nontonnya. Tapi ya iyalah gimana mau skip - skip kalau di bioskop :)). Cuma nih format 3Dnya agak bikin pusing. Oke, saya baru nonton 2 kali untuk film 3D, hanya saya ga terlalu merasakan efek 3D film ini dan itu yang membuat kenikmatan menonton The Hobbit jadi agak sedikit berkurang :(

Dari segi cerita, tentunya saya heran kenapa The Hobbit dibagi 3, padahal saat baca bukunya ga banyak kok yang diceritain dan ceritanya cenderung lurus alurnya. Jawabannya ada di film ini. Peter Jackson memasukkan beberapa element dari LOTR  ke The Hobbit supaya beberapa bagian jadi lebih jelas. Beberapa adegan yang tidak ada di novelnya tapi ada di film adalah sebagai berikut :

- adegan awal yaitu saat Smaug menguasai kerajaan kurcaci dijelaskan jauh lebih terperinci. Kita akan bertemu Thranduil disini, sementara di novel tidak terlalu dijabarkan.
- adegan Bilbo dkk bertemu Radagast. Radagast the Brown, penyihir eksentrik yang adalah salah satu kawan Gandalf cuma disebut nama saja di buku.
- Aslinya tidak ada Saruman ataupun Galadriel dibukunya.

Dan ada lagi sepertinya untuk adegan tambahan yang ga ada di buku, cuma saya pas baca The Hobbit itu pakai sistem SKS, jadi mungkin beberapa jadi agak lupa X). Cuma nih, hebatnya Peter Jackson, dia bisa menggabungkan adegan yang ada di buku dan yang ga ada dengan mulus. Membuat saya bisa menikmati The Hobbit versi baru ini tanpa menggerutu kenapa filmnya kok ga kayak di buku.

Saya merasa Peter Jackson tak hanya memasukkan beberapa cerita LOTR tapi juga unsur - unsurnya. Saya merasa Thorin mirip Aragorn. Sama - sama pangeran dan pewaris tahta, sama - sama hidup dalam perasingan dan ingin mengklaim apa yang harusnya jadi hak mereka. Bedanya nih, kalau Aragorn sering ragu dan galau untuk menjadi raja, Thorin ga tanggung - tanggung. Thorin lebih mirip antihero, serius banget, gahar, tapi pas akhirnya tersenyum, aduuuuh saya melting X). Pantesan banyak yang suka Richard Armitage yaa. Para dwarf lain juga sama lucu dan membuat cerita jadi menarik. Oh iya, salah satu dwarf, yaitu Kili kayaknya diplot jadi Legolas nih. Karena si Kili ini ahli pemanah dan dia yang paling muda dan ganteng! Ya, saya merasa Middle Earth membuat kegantengan para pemainnya meningkat, walau brewokan dan keliatan kayak butuh mandi setiap saat :)). Ada kekhawatiran karena di film ini fokus utamanya adalah para dwarf, maka minim pria tampan kayak di LOTR. Beruntunglah kita karena ada Thorin dan Kili X). Dan tentu saja masih ada para Elf dong.

Banyaknya tokoh pria di film ini di"permanis" dengan satu tokoh wanita yang anggun, yaitu Lady Galadriel. Cate Blanchett tetap cantik, cuma umur emang ga bisa bohong yak walau sudah dimake-up sedemikian rupa. Galadriel kelihatan lebih tua, begitu juga dengan Frodo dan Gandalf. Penggemar Legolas mungkin akan kecewa kalau dia tak ada di film ini, tapi saya jamin pasti dia bakalan muncul di film kedua atau ketiga (dan saya berharap,semoga oh semoga ada Aragorn! )


Untuk musiknya, Howard Shore kembali lagi dan membuat musik di film The Hobbit tak kalah megah dengan LOTR. Ada musik di LOTR yang dipakai lagi ada juga yang baru. Sayang saya ga terlalu suka soundtracknya yang judulnya "Song of Lonely Mountain". Terlalu modern deh, bagusan May It Be atau Into The West. Bagi penggemar LOTR, pasti bakalan bernostalgia dengan film ini. Dan bagi yang baru saja mengenal karya masterpiece J.R.R. Tolkien,  film ini akan mengenalkan mereka dengan dunia fantastis di Middle Earth. Pemandangan Selandia Baru yang sangat kaya dan mengagumkan juga sangat memanjakan mata. The Hobbit adalah film wajib bagi semua penggemar film. Dan tentu saja, ga akan puas kalau cuma nonton sekali ;).

Nah, sekarang saya harus nunggu setahun lagi buat film keduanya :'(.

Source Pic: The Hobbit Facebook Page
Note : Saya pajang gambar Kili, karena saya ngefans banget sama dia X)

Rating : 


Selasa, 18 Desember 2012

Opini : Haruskah Karya Sendiri Dirating?

Seharusnya sih hari ini saya plan mau posting review film The Hobbit, tapi tadi malam saya baca - baca artikel di salah satu website buku favorite saya "Smart Bitches Trashy Books" dan mendapati satu artikel yang menarik. Artikel itu membahas tentang pengarang yang merating bukunya sendiri lima bintang di situs - situs sosial yang khusus buku seperti Goodreads atau Amazon. Saya membaca alasan dia lalu komentar - komentar orang di bawahnya. Ada yang menganggapnya boleh - boleh saja, ada yang bilang itu mempengaruhi sistem rating di Goodreads atau Amazon, ada yang bilang hal itu mempengaruhi kredibilitas sang pengarang, bahkan saya sampai dapat info bahwa pengarang ada yang membayar reviewer untuk menulis review 5 bintang bagi bukunya di Amazon. Nah yang terakhir ini agak bikin saya terkejut, karena review di Amazon ataupun Goodreads itu terkenal dengan subjektifitasnya. Kalau dibayar, berarti sampai dimana kesubjektifitasan review tersebut? Tapi, saya ga akan bahas lebih lanjut ini. Saya lebih menyoroti tentang pengarang yang merating bukunya dengan "sempurna".

Jujur, dulunya saya sering ngikik kalau lihat pengarang ngerating bukunya sendiri 5 bintang. Saya mikirnya "ugh, narsis banget","yakin, bukunya sebagus itu?" "ah, pasti bias nih reviewnya". Lalu saat saya ngetweet di Twitter, salah seorang blogger yang saya kagumi (dia juga seorang penulis) bilang "Emang ada yang salah dengan itu?". Dan saya pun tertegun. Lalu mikir, yah itu memang hak sang pengarang sebenarnya untuk merating bukunya sebagus mungkin. Saya lalu melihatnya sebagai bentuk kepercayaan diri sang pengarang. Kalaupun itu adalah salah satu bentuk marketing buku dari dia, ya ga masalah juga kan? Meskipun terlihat bias, saya mulai apresiasi para pengarang yang kasih 5 bintang untuk bukunya. 

Cuma nih, saya kadang bingung kalau ada pengarang yang rating bukunya cuma 4 atau 3 bintang di Goodreads. Saya ga tau kenapa, apakah itu tanda sang pengarang menganggap bukunya memang pantas dirating sekian, atau tidak terlalu percaya diri. Mungkin itu karya awalnya yang dulu yang membutuhkan banyak revisi. Walau begitu, ga semua pengarang ngerating bukunya sendiri. Ada juga yang di Goodreads cuma menulis "saya adalah penulis buku ini". Nah, lalu masalahnya apa Ren? Sejak saya baca artikel "Smart Bitches", saya jadi berpikir kembali tentang hal pengarang yang merating bukunya sendiri. Apakah itu tanda "kenarsisan" pengarangnya? Apakah itu sebenarnya hanya wujud dari salah satu marketing buku dari dia? Bagaimana kalau buku yang dia rating sempurna itu saya anggap biasa aja atau malah sebaliknya?

Pada akhirnya, saya tetap pada keputusan awal saya, yaitu saya anggap biasa saja. Its okay kalau pengarang mau ngerating buku karyanya sendiri. Tapi, saya jadi penasaran nih sama pendapat dari  teman - teman. Menurut kalian, saat melihat pengarang merating bukunya sendiri 5 bintang atau 4 atau tiga, atau pokoknya dia rating deh, bagaimana menurut kalian? Biasa aja? Atau merasa aneh? Jangan lupa share ya. :)

Oh ya, kalau ada yang penasaran dengan artikel yang saya maksud bisa dibaca disini : Giving Five Stars . Silakan juga dibaca komentar - komentarnya, karena ada banyak hal yang menarik yang bisa temukan disini.

Catatan : Saya tidak bermaksud menyinggung atau mendeskritkan siapapun, baik pihak pembaca ataupun pengarang. Ini hanyalah sekedar opini dari saya :).
Source pic : Click here

Senin, 17 Desember 2012

Review : Draf 1 (Taktik Menulis Fiksi Pertamamu ) oleh Winna Efendi

Judul : Draf 1 : Taktik Menulis Fiksi Pertamamu
Pengarang : Winna Efendi
Editor : Christian Simamora
Penerbit :Gagas Media
Tebal : 356 halaman
Diterbitkan pertama kali : October 2012
Format : Mass Market Paperback
Target : Semua umur
Genre : Non fiksi
Bahasa : Indonesia

Status : Punya sendiri
Beli di : Click here
Review di Goodreads : Click here


Sinopsis

Menulis itu susah? Banget.
Terutama kalau kita nggak punya komitmen kuat dan disiplin untuk itu.


Truth to be told, menulis itu gampang-gampang susah. Terkadang terasa mudah dan menyenangkan, apalagi jika ide mengalir selancar air. Namun, menulis juga dapat terasa sulit karena tanpa teknik yang benar dan loyalitas untuk kembali ke halaman-halaman yang belum rampung, tulisan kita akan terus tidak selesai atau menjadi sebaik yang kita inginkan.

Selama ini, banyak sekali teman yang bertanya kepada saya:

- Gimana sih, caranya menulis fiksi yang enak dibaca?
- Bagaimana caranya menciptakan konflik yang nggak klise?
- Gimana caranya menulis cerita dari awal sampai akhir?
- Ceritaku mandek dan nggak kelar-kelar, gimana ya supaya aku bisa menyelesaikannya?
- Bagaimana cara mengirimkan naskah ke penerbit, dan apa yang bisa kita lakukan supaya naskah tersebut 'dilirik'?
- Lalu, prosedur penerbitannya bagaimana?

Bagi kalian yang ingin tahu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas, well, this book might be the one for you.

Dan, mari bersama-sama menikmati proses menyenangkan menulis naskah fiksi pertamamu.

Review

Oke, ini kayaknya pertama kalinya saya mereview buku non-fiksi di blog ini :). Eh, ga juga ding. Benernya dulu pernah ngereview graphic novel Dua Hippo Dinamis dan itu kan sebenarnya juga termasuk non-fiksi, hehehe. Saya merasa perlu mereview buku Draf 1 karangan Winna Efendi, dengan sang editor Christian Simamora yang keduanya adalah sesama penulis Gagas, karena selain bukunya mau dipinjam teman saya merasa perlu berbagi info dan pemikiran tentang buku ini. Membaca sinopsis buku Draf 1, saya langsung menaikkan alis mata. Winna Efendi ga tanggung - tanggung bilang "menulis itu ga gampang!" . Jika pengarang buku serupa lain akan bilang "menulis itu gampang kok, semua orang pasti bisa", Winna berbicara kebalikannya dan menurut saya itu brilliant! Winna ga berusaha ngomong manis, dia berbicara tentang kenyataan secara sederhana. Menulis itu susah, apalagi kalau ga ada komitmen dan disiplin. Amin buat itu :).

Lalu isi buku ini apa? Simpel aja benernya, mulai dari pembahasan dasar tentang perbedaan fiksi dan non fiksi, penjelasan tentang apa itu genre, alur cerita, plot, dialog, pembuatan karakter, dan lain - lain. Lalu ada pembahasan tentang proses penulisan, proses self editing, proses pengiriman naskah, gimana cara menghadapi naskah yang ditolak, gimana juga kalau naskahnya diterima. Tak lupa ada informasi menarik tentang marketing buku yang bisa dilakukan oleh penulis. Semuanya digeber tuntas oleh Winna, tanpa tedeng aling - aling. Cara penyampaian Winna pun sangat enak dibaca. Winna ga menggurui, dia cuma berbagi pengalaman saja. Dan itu membuat tulisan dia masuk ke saya. Saya berulang kali bilang "oh gitu", manggut - manggut, membuat sedikit catatan di otak dan dapat banyak informasi baru. Winna juga tak lupa memberikan banyak contoh, yang kebanyakan diambil dari novel buatannya sendiri. Tapi tak lupa juga dia memberi referensi dari novel lain. Hal ini bikin saya jauh lebih paham dengan apa yang ingin dia sampaikan. Satu lagi yang saya suka adalah pembahasan dia tentang "show, don't tell" dalam penulisan buku. Saya suka kesulitan memahami tentang hal ini. Setelah membaca penjelasan Winna, akhirnya saya ngerti :D. Buku ini juga dihiasi illustrasi - illustrasi yang manis, membuat saya ga bosan bacanya.

Draf 1 jelas akan menjadi buku dalam rak keeper saya. Hahaha, bukan kiper yang penjaga gawang itu, tapi buku yang akan selamanya saya miliki. Ga akan saya kasih ke siapapun dan kalau dipinjem lalu ga dibalik - balikin, ya saya akan marah >:). Walau saya kasih buku ini rating lima mangkuk mie, bukan berarti buku ini ga ada kekurangan. Tetap ada, menurut saya. Pertama, saat pembahasan genre romance. Oke, saya ini fans romance garis keras, dan yang bikin saya malas saat Winna bikin contoh genre romance, kok cuma historical romance ajah? Kan banyak tuh, ada contemporary, romantic suspense, paranormal romance, fantasy romance dan lain - lain. Jujur ini bikin saya sepet, hehehe. Lalu, novel - novel yang dibuat contoh pembahasan disini banyakan novelnya Gagas. Oke, mungkin karena Winna adalah novelis dari Gagas, jadi maklum lah yang dijadikan referensi banyakan novelnya Gagas. Mungkin bisa jadi ajang promosi juga kali ya. Cuma akan lebih bagus kalau novel dari penerbit lain juga bisa dimasukkan contoh, kan juga bisa memperluas jangkauan (duh ga jelas nih maksud saya X) ). Oh, dan lalu ada kalimat yang aneh. Contohnya seperti ini, saat pembahasan pembuatan karakter antagonis :

" Juga, semua novel harus memiliki antagonis. Dalam novel Ai, saya nggak menggunakan karakter antagonis sama sekali. And that's okay."

Apakah ini maksudnya "Tidak semua novel harus memiliki antagonis"?. Selain itu Winna banyak memakai kata - kata dalam bahasa Inggris untuk menekankan maksudnya. Ga ada yang salah dengan itu, cuma lebih baik dia juga menyertakan artinya, terutama untuk quote - quote yang dia sampaikan di buku ini, karena ga semua orang yang baca ini paham sama bahasa Inggris! Okelah, ada Google Translate, ada kamus, ada alphalink, tapi ga semua orang serajin itu :)).

Draf 1 tidak hanya cocok dibaca oleh mereka yang ingin jadi penulis atau penulis-in-waiting (halah!) tapi juga pembaca umum. Mereka - mereka yang punya motto "I'm a reader not writer" juga akan mendapatkan informasi baru dan lebih memperdalam pengetahuan mereka tentang unsur- unsur novel. Hei, buku ini juga bisa membantu kita untuk mereview buku dengan lebih oke. Apalagi kalau kita orang yang memperhatikan plot novel, alurnnya, POV-nya dan karakterisasinya. Terimakasih untuk Winna Efendi yang sudah berbagi ilmunya. Buku ini memang tidak menjamin orang akan jadi penulis sukses, tidak menjamin saya akan jadi penulis nantinya, tapi seengganya ia membuat saya semangat untuk melanjutkan novel - novel  saya yang dulu sempat terbengkalai :).
Rating  :


Jumat, 14 Desember 2012

Friday's Recommendation #12


Selamat hari Jumat! :D. Dan ternyata kita masih hidup sampai saat ini,walau katanya tanggal 12-12-12 jam 12:12 bakal kiamat, toh ga ada apa - apa meskipun banyak bayi yang "dipaksa" lahir. Tapiiii, masih ada ramalan tanggal 21-12-12 dan saya pas itu mau pulang sowan ke rumah ortu. Semoga ga ada apa - apa, dan... Friday Recommendation (FR) selanjutnya tetap berjalan :D. Hari ini cukup mendung, tapi semoga semuanya tetap semangat. Daaan, film The Hobbit akan diputar hari ini! Entah saya bakal dapat tiket atau ngga, hihihi. Oke, sudah dulu OOTnya. Yuk kita lihat buku apa yang saya rekomendasikan hari ini untuk diterjemahkan :)

1. Pilih jenis rekomendasi buku. Ada dua jenis rekomendasi, yang pertama dan sifatnya mutlak adalah Rekomendasi Buku untuk Diterjemahkan . Jika tidak ada buku yang direkomendasikan untuk diterjemahkan, maka bisa memilih pilihan kedua, Rekomendasi Buku Pilihan. Disini rekomendasikan buku yang paling kamu suka baca dalam minggu ini.

2. Pilih hanya 1 (satu) buku untuk direkomendasikan. Tidak boleh lebih.

3. Beri sinopsis, genre buku dan alasan kenapa kamu merekomendasikan buku itu.

4. Posting button meme di bawah ini :



5. Blogger yang sudah membuat memenya, jangan lupa menaruh link ke blog di daftar linky di bagian paling bawah post ini, sehingga pembaca bisa blog walking.

6. Untuk pembaca blog yang tidak punya blog, bisa menulis rekomendasinya di kolom komen.

7. Bahasa yang dipergunakan terserah. Jika memang khusus blog yang menggunakan bahasa Inggris, dipersilakan menulis dengan bahasa Inggris. Begitu juga sebaliknya.


Untuk Friday's Recommendation kali ini, saya akan merekomendasikan buku ini untuk diterjemahkan :


HOW TO MARRY A MILLIONAIRE VAMPIRE
KERRELYN SPARKS
 

Genre : Paranormal Romance
Sinopsis :
Nobody said love was perfect...
 
Roman Draganesti is charming, handsome, rich...he's also a vampire. But this vampire just lost one of his fangs sinking his teeth into something he shouldn't have. Now he has one night to find a dentist before his natural healing abilities close the wound, leaving him a lop-sided eater for all eternity.

Things aren't going well for Shanna Whelan, either. After witnessing a gruesome murder, she's next on the mob's hit list. And her career as a dentist appears to be on a downward spiral, because she's afraid of blood. When Roman rescues her from an assassination attempt, she wonders if she's found the one man who can keep her alive. Though the attraction between them is immediate and hot, can Shanna conquer her fear of blood to fix Roman's fang? And if she does, what will prevent Roman from using his fangs on her?

Ups! Saya bahas buku tentang vampire lagi nih, setelah di FR kemaren saya juga rekomendasiin buku dengan karakter penguasa malam yang tentunya ga bling - bling kalau kena sinar matahari, ga kayak itu tuh si EdCul X). Saya akan mengkategorikan How to Marry a Millionaire Vampire sebagai cerita vampire yang penuh humor, ringan dan enak dibaca (silakan baca review saya di Goodreads :) ). Serialnya sendiri, Love at Stake, sih so far sampai saat ini ada 13 buku, dan entah kapan berakhir. Saya juga koleksi hampir semua bukunya lho :D. Mungkin bagi beberapa orang buku ini konyolnya kadang ga lucu atau boring. Bagi saya buku - buku seri Love at Stake emang kayak snack. Buat bacaan pas lagi bosan atau butuh yang lucu - lucu. Tapi bukan berarti ceritanya jadi dangkal. Penuh makna juga walau kadang temanya sama semua, hahahaha.

Saya pernah dengar kalau serial Love at Stake akan diterbitkan oleh salah satu penerbit di Indonesia. Sayangnya, sampai sekarang kok ga ada kabar yah? :/ Padahal dapat info itu dari pengarangnya sendiri, nyaris setahun yang lalu. Semoga aja jadi diterbitkan, karena cerita vampire yang penuh humor itu jarang banget. Banyakan kan yang serius - serius dan bikin parno ;D.
Bagi blogger yang sudah mengikuti meme Friday's Recommendation bisa membagi linknya di daftar linky di bawah ini. Jadi saya dan pembaca lain bisa blogwalking. Ditunggu partisipasinya dan semoga buku yang kita rekomendasikan suatu saat bisa diterjemahkan di Indonesia ya. :)


Kamis, 13 Desember 2012

Review : Stranded with Her Ex oleh Jill Sorenson

Judul : Stranded with Her Ex
Pengarang : Jill Sorenson
Penerbit : Harlequin
Tebal : 219 halaman
Diterbitkan pertama kali : 1 April 2011
Format : Mass Market Paperback
Target : Dewasa
Genre : Contemporary Romance, Romantic Suspense
Bahasa : Inggris

Status : Hadiah dari Pengarang
Web Pengarang : Click here
Review di Goodreads : Click here


Sinopsis

An exotic wildlife preserve is a dream come true for conservation biologist Daniela Flores. Until she finds out her ex-husband is leading the research team. World-famous shark expert Sean Carmichael has only grown more ruggedly appealing in the time they were apart...the passion between them more intense than ever. But how could Daniela forgive Sean for betraying her when she needed him most?

Sean had come to the remote Farallon Islands to study killer sharks. Now a real killer is on the loose, threatening the woman he's never stopped loving. And this time, he knows he can't walk away. Marooned together during a deadly storm, Sean vows to go to hell and back to save Daniela...and for the chance to begin again.

Review

Daniela Flores adalah seorang ahli biologi kelautan dan dirinya merasa dengan pergi ke Kepulauan Farallon di San Fransisco, Amerika, Daniela bisa mengatasi traumanya. Selain itu dia juga ingin mempelajari kehidupan tentang anjing laut dan singa laut disana. Kepulauan Farallon sendiri juga terkenal akan great white sharksnya. Betapa terkejutnya Daniela saat disana dia bertemu dengan mantan suaminya, Sean Carmichael. Sean adalah seorang ahli yang meneliti hiu, jadi wajar kalau dia ada di Kepulauan Farallon untuk memimpin ekspedisi penelitian. Dia tak menyangka akan bertemu dengan mantan istrinya Daniela dan luka lama pernikahan mereka dulu pun terbuka kembali. Lebih buruk lagi Daniela mendapati dirinya sedang bergumul dengan Taryn, anggota ekspedisi lain walau hanya dalam kapasitas bercanda. Daniela tidak bisa kembali ke daratan San Fransisco. Dan dia bersikeras mengikuti ekspedisi walau Sean menentang.

Suasana di penginapan tempat mereka berkumpul jadi menegangkan dan penuh drama. Taryn yang naksir Sean mengultimatum Daniela untuk tidak membuat drama dan dibalas dengan dingin oleh Daniela. Daniela berusaha keras menyembuhkan trauma akibat kegugurannya dulu. Dan tentu saja dia selalu teringat dengan masa lalunya bersama Sean. Baik Sean maupun Daniela saling menyalahkan satu sama lain tapi juga tak henti - hentinya menyalahkan diri sendiri akibat kegagalan pernikahan mereka. Sean merasa Daniela tidak mencintainya lagi dengan melarang Sean menyentuhnya, sementara Daniela yang penuh emosi menyalahkan dirinya berkali - kali. Belum lagi Taryn yang begitu perhatiannya dengan Sean seolah ingin membuat Daniela cemburu. Dan ada Jason, salah seorang teman Sean juga menggoda Daniela karena Jason ditolak mentah - mentah oleh Elizabeth, seorang ahli tentang burung yang juga ikut dalam ekspedisi . Sayangnya, ada seseorang yang dengan sengaja menguliti anjing laut, padahal hal itu jelas dilarang! Belum lagi saat Daniela, Sean, Jason dan Brent salah seorang kameramen yang tugasnya meliput ekspedisi itu, naik boat dan kapal mereka disabotase. Daniela sendiri sempat diincar dengan dirinya didorong sampai jatuh ke laut dan nyaris dimakan hiu. Puncaknya adalah saat Brent terluka, Jason dan Taryn harus membawanya kembali. Dengan hanya berduaan bersama Sean, Daniela bertekad untuk menyembuhkan luka hati mereka berdua, sementara di luar sang pembunuh masih berkeliaran.

Saya mendapatkan buku Stranded with Her Ex sebagai hadiah karena menang kuis Twitter dari Jill Sorenson. Saya sendiri sudah tahu tentang Jill, saat dia mengomentari review Dark Lover saya yang konyol abis itu, hehehe. Buku ini adalah karya pertama dia yang saya baca. Judulnya sih bikin saya ngikik. Karena terlalu menjelaskan isi cerita, dan ga cocok buat judul buku romantic suspense. Yah, saya tahu Harlequin, terutama yang dari line Present, Desire, atau SuperRomance punya judul konyol - konyol. Kayak "Protecting the Pregnant Witness", "Pregnant with Greek Billionaire's Baby" (kalau yang ini saya ngarang :)) ). Bikin saya kadang jadi ga pengen baca, hahaha. Terus, apakah Stranded with Her Ex ceritanya konyol dan sangat mudah ditebak? Jawabannya, ngga dong :D.

Tema tentang "kesempatan kedua" dan "pernikahan yang gagal" sebenarnya bukan favorit saya tapi si pengarang bisa membuat dua tema itu menjadi bacaan yang emosional dan nyaris membuat saya menangis. Oke, saya emang orangnya gampang nangis, tapi sedih aja pas baca tentang masa lalunya Daniela dan Sean. Sedih melihat mereka sebenarnya saling mencintainya tapi akhirnya malah saling menyakiti. Saya sendiri ga bisa menyalahkan siapapun. Daniela ga bisa disalahkan karena menutup diri dari semua orang yang disayanginya saat bayinya meninggal. Sean juga ga bisa disalahkan karena meninggalkan Daniela disaat terburuk wanita itu karena dia sudah melakukan berbagai cara agar Daniela bisa kembali seperti dulu. Perceraian mereka juga karena Sean merasa Daniela tidak mencintainya lagi sementara Daniela mengabulkan karena merasa dia telah menghancurkan hidup Sean. Menurut saya, yang kurang dari mereka sebenarnya adalah komunikasi. Sean terbiasa menutup masalahnya dan melampiaskan di ranjang karena waktu kecil orangtuanya bercerai. Dan Daniela juga membiarkan Sean yang seperti itu. 

Sang pengarang sendiri tidak memberikan jalan yang mudah bagi Sean dan Daniela untuk bersatu. Banyak rintangan dan semuanya emosional. Sayangnya aspek suspensenya kurang digali karena lebih fokus ke hubungan Sean dan Daniela. Oh ya, Jill Sorenson juga berhasil menggambarkan kehidupan fauna di Kepulauan Farallon terutama untuk hiu, anjing laut dan singa lautnya. Saya baru ngeh kalau anjing laut itu bahasa inggrisnya seal, dan singa laut adalah sea lions. Sampe sekarang saya ga ngerti bedanya dua hewan itu, hahaha. Stranded with Her Ex sendiri juga menang RITA Awards untuk kategori novel Category Romance (yang masuk kategori ini biasanya novel Harlequin), salah satu ajang penghargaan buku romance yang prestisius di Amerika. Dan apakah buku ini pantas dapat awardnya? Saya bisa bilang pantes banget! Buat kamu yang pengen baca novel Harlequin yang ga biasa, baca novel ini :)

Rating Cerita :



Sensualitas:


Standar Harlequin lah :D. Cukup panas juga, dan tensi teksualnya cukup banyak
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...