Tampilkan postingan dengan label film review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label film review. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Oktober 2016

Review Film: Miss Peregrine's Home for Peculiar Children


Judul : Miss Peregrine's Home for Peculiar Children
Adaptasi dari : Miss Peregrine's Home for Peculiar Children oleh Ransom Riggs
Durasi film : 132 menit
Pemain :Asa Butterfield, Eva Green, Ella Purnel, Judi Dench, Samuel L Jackson
Sutradara : Tim Burton
Genre : Fantasy
Rating : Remaja


Review:

Rasanya...seperti sudah lama saya tidak update blog, dan juga lama engga bikin film review XD. Film adaptasi buku yang terakhir saya ulas adalah The Maze Runner: Scorch Trial. Sebenarnya setelahnya pun ada beberapa judul film adaptasi buku yang saya tonton seperti The Jungle Book, namun seperti biasa, alasan "waktu kurang" jadi penyebabnya :P.  Cuma nih, kalau dipikir - pikir film adaptasi dari buku saya rasa kok rada berkurang ya. Yang saya ingat paling cuma The Jungle Book, BFG, Alice Through Looking Glass, dan beberapa judul yang mungkin saya kelewat aja ingatnya. Untungnya, di bulan Oktober ini ada film Miss Peregrine's Home for Peculiar Children. Film ini juga semacam ajang "comeback"nya Tim Burton, setelah di Alice Through Looking Glass, dia hanya menduduki peran produser saja.

Menonton Miss Peregrine's...rasanya fresh buat saya. Di tengah gempuran adaptasi novel dystopia yang lumayan bikin depresi (tapi pundi - pundi studio mengalir deras),  Miss Peregrine's hadir dengan menggabungkan unsur fantasy dan sedikit horror. Memang sih, kalau hanya melihat trailernya sekilas, beberapa penonton akan mengira ini film horror, dimana saya juga. Apalagi, ini Tim Burton gitu loh. Saya mikirnya ini bakal kayak Dark Shadow, dimana pemeran Miss Peregrine, Eva Green juga maen di dalamnya. Abis nonton, hmm, Miss Peregrine ini jadi semacam campuran antara Alice in Wonderland dan Dark Shadow. Gothic iya, colorful juga iya :D.

Senin, 14 September 2015

Review Film: The Maze Runner - The Scorch Trials

Judul : The Maze Runner - The Scorch Trials
Adaptasi dari : The Maze Runner karya James Dashner
Durasi film : 131 menit
Pemain :Dylan O'Brien, Kaya Scodelario, Thomas Brodie-Sangster, Ki Hong Lee, Rosa Salazar, Giancarlo Esposito, Aidan Gillen, Jacob Lofland
Sutradara : Wes Ball
Genre : Post Apocalypse
Rating : Remaja


Review:

Note: Mengandung sedikit spoiler dari film pertama The Maze Runner

Tahun lalu, tepat di bulan September ini juga, saya menonton adaptasi novel The Maze Runner karya James Dashner dan memuji ide ceritanya yang walau aslinya sih ga original amat, tapi terasa fresh di tengah gempuran banyak film YA dystopia-post apocalypse sejenis. Full aksi, zero romance dan juga banyak misteri. Jadi, wajar dong saat tahu di tahun ini lanjutannya yaitu The Scorch Trials (TST) ditayangkan, saya juga langsung capcus ke bioskop. Penonton Indonesia beruntung karena TST ditayangkan lebih cepat seminggu. Mungkin untuk menghindari pembajakan, tapi saya yakin, beberapa penonton pasti lebih milih nonton bajakannya :v

So, Sabtu kemaren saya bela - belain nonton di Pejaten Village ketimbang di mall tongkrongan saya, Kalibata, walau keduanya sama - sama memutar TST. Yah, jalan - jalan dikit gitu ceritanya :P. Kaget juga saya saat menunggu TST tayang, di sebelah saya ada anak SD. Atau SMP. Entahlah, anak SD ma SMP jaman sekarang nyaris ngga ada bedanya :)). Amazed karena nguping pembicaraan mereka yang terdengar bak bahasa alien di telinga saya, tampaknya anak - anak ini tidak nonton TMR sebelumnya. Terbukti dengan saat mereka melihat poster TST dan bilang "kayaknya ini menegangkan" (ini beneran anak SD yang ngomongggg :))) ) lalu temannya menimpali "ini petualangan gitu deh". Hmmm, awas ya dek kalau ntar jerit - jerit liat "penampakan" di film ini =)).

Oke, enough with the introduction. Sekarang, mari disimak review saya tentang film ini :D

Senin, 23 Maret 2015

Review Film: Insurgent


Judul : Insurgent
Adaptasi dari : Insurgent karya Veronica Roth
Durasi film : 119 menit
Pemain : Shailene Woodley, Theo James, Zoe Kravitz, Ashley Judd, Kate Winslet, Naomi Watts, Jai Courtney, Ansel Elgort, Maggie Q, Miles Teller
Sutradara : Robert Schwentke
Genre : Dystopia
Rating : Dewasa
 




Review:

Tahun 2015 lumayan adem ayem dalam hal nonton film bagi saya. Emang sih di Februari kemaren orang pada heboh nonton film yang ngga diputer di Indonesia (you know what movie that I mean), tapi saya mah baca bukunya aja ga suka ngapain pula nonton filmnya, hahaha. Saking butanya saya dengan perkembangan film Holiwud dan cuma ngeh kalau ntar Avengers baru bakal tayang di bulan Mei, saya sampai lupa kalau lanjutan dari film Divergent, yaitu Insurgent tayang bulan ini. Sama seperti Divergent, saya juga belum baca buku Insurgent (halah, Divergent aja belum kesampaian bacanya XD). Sebuah pengalaman nonton film yang menurut saya lebih oke ketimbang baca bukunya dulu, karena bisa jauh lebih menikmati film dan juga membuat penasaran baca bukunya :).

Aslinya sih, saya males nonton Insurgent dan memilih untuk menunggu donlodan :v. Apalagi saya dan suami saya, K, berencana nonton Insurgent pada malam minggu (kencan juga ceritanya :v :v), dimana saya kaget melihat harga tiket. Lima puluh ribu per orang! Makin tidak filmiawi aja ini harga tiket bioskop :|. Memang saya ga nonton di bioskop sekelas Senayan atau Pejaten Village yang merupakan mall terdekat. Tapi melihat harga tiket bioskop mahal di Kalibata Mall cukup bikin "disitu saya merasa swedih" :'(. Saya merutuk dalam hati, this movie better worth its expensive ticket!  Apalagi gara - gara saya telat ngantri, kami dapat tempat duduk barisan depan. Hadeuh -.-

But enough with the chit-chat, apa film ini emang worth it tiketnya yang mahal? Bagi saya sih...yah lumayan :v

Selasa, 23 Desember 2014

Review Film : The Hobbit - Battle of Five Armies

 Judul : The Hobbit - Battle of Five Armies
Adaptasi dari : The Hobbit by J.R.R. Tolkien
Durasi film : 144 menit
Pemain : Martin Freeman, Ian McKellen, Richard Armitage, Luke Evans, Lee Pace, Orlando Bloom, etc
Sutradara : Peter Jackson
Genre : High Fantasy

 
Review :

Note: Mengandung sedikit spoiler

Bittersweet...

Itulah perasaan saya sebelum menonton film terakhir dari trilogy The Hobbit yang dibesut oleh sutradara favorit saya, Peter Jackson. Saya tahu kalau Battle of Five Armies (BoFA) ini akan jadi film terakhir dari PJ yang bersetting di Middle Earth dan karena itulah apapun yang terjadi di film ini, saya bertekad untuk menikmatinya. Lebay ya? Tapi emang saya sentimentil sih orangnya, hahaha. Karena alasan itu jugalah, saya tidak ikutan event nonton bareng BoFA yang diadakan oleh Eorlingas, dimana tahun kemaren saat film Desolation of Smaug (DoS) saya dengan antusias ikutan acara mereka. Tidak untuk tahun ini. Tahun ini saya ingin menikmati film ini hanya berdua dengan suami saya :'). Di bioskop dengan orang lain sih, teteup, hahahaha XD.

Pengalaman ngga enak nonton versi 3D di IMAX tahun kemaren dan dapat posisi yang juga ngga kalah ngga enaknya, membuat saya pilih - pilih bioskop untuk nonton BoFA. Pilihan pun jatuh di bioskop XXI Epicentrum yang dilengkapi dengan Dolby Atmos dimana suara filmnya bisa terdengar menggelegar dan tampak alami. Saya dan suami, K, pun menonton BoFA pada hari Sabtu, tanggal 20 Desember kemaren. Jakarta yang diguyur hujan lebat pun tidak bisa mematahkan semangat saya (suami sih ngga :v) buat nonton BoFA. Kami sampai di Epiwalk dan menunggu film dimulai. Waktu menunjukkan pukul 15:35 dan akhirnya layar pun dibuka....memperlihatkan wilayah Dale yang kacau karena serangan Smaug.

Jumat, 21 November 2014

Review Film: The Hunger Games - Mockingjay Part I

Judul : The Hunger Games - Mockingjay Part I
Adaptasi dari : Mockingjay karya Suzanne Collins
Durasi film : 123 menit
Pemain :Jennifer Lawrence, Josh Hutcherson, Liam Hemsworth, Phillip Seymour Hoffman, Julianne Moore, Sam Claflin, Donald Sutherland
Sutradara : Francis Lawrence
Genre : Dystopia
Rating : Remaja


Review:

IF WE BURN, YOU BURN WITH US!!!

The Hunger Games adalah satu dari film yang menandakan kedatangan saya ke Jakarta (jyaaah X)) ). Maksudnya..saat pertama saya datang ke Jakarta, film pertama yang saya tonton adalah The Hunger Games, jadi film ini (selain The Hobbit) cukup berkesan bagi saya :'). Sama seperti pendahulunya, Catching Fire, saya juga tidak baca buku Mockingjay agar kenikmatan menonton film lebih maksimal dan saya ngga sibuk bandingin antara buku dan filmnya :P.  Semenjak Harry Potter and The Deathly Hallows, film pamungkas dari sebuah serial yang terkenal pasti dibagi dua. Pengikut pertama jejak si bocah yang ditakdirkan ini adalah film Breaking Dawn, yang menurut saya sih harusnya satu film saja sudah cukup. Lalu, apa film Mockingjay ini juga  cocok dibagi dua atau malah harusnya cukup dibuat satu film saja?

Senin, 29 September 2014

Review Film: The Maze Runner

Judul : The Maze Runner
Adaptasi dari : The Maze Runner karya James Dashner
Durasi film : 113 menit
Pemain :Dylan O'Brien, Kaya Scodelario, Thomas Brodie-Sangster, Will Poulter, Ki Hong Lee, Aml Ameen
Sutradara : Wes Ball
Genre : Post Apocalypse
Rating : Remaja


Review:

Biasanya, kalau ada film based on books yang saya ingin tonton, pas hari film itu diputer, atau 1-2 hari setelahnya saya selalu langsung capcus ke bioskop terdekat. Sayangnya, butuh waktu lebih dari 2 minggu bagi saya untuk nonton The Maze Runner (TMR), karena di Kalibata Mall, filmnya adalah film lokal semua. Ngga, bukannya saya ngga dukung film lokal, soalnya ini kan masalah selera. Tapiiii...please deh, masa di semua bioskop sudah mejeng poster TMR dan hanya Kalibata, bioskop yang setia menemani saya dalam menikmati film - film semasa saya di Jakarta tega mengkhianati saya sih? #hahalebay :)) Syukurlah hari Minggu kemaren akhirnya saya kesampaian juga nonton TMR di Hollywood XXI :'D.

Saya belum pernah baca buku TMR, sama seperti Percy Jackson : Sea of Monster, The Mortal Instrument : City of Bones The Hunger Games : Catching Fire, dan Divergent. Sebenarnya saya pun nonton TMR karena hype teman - teman di grup PNFI (Penggemar Novel Fantasy Indonesia), terutama Maryana yang kayaknya suka banget sama buku ini. Tanpa ekspektasi apa - apa, selain juga tidak baca spoiler maupun diskusi tentang film ini, saya pun mulai menonton adegan pertama TMR yang...gelap - gelapan. Oke, sumpah, adegan pertamanya emang gelap :v. Tapi, penonton lalu dikenalkan dengan tokoh utama kita yaitu Thomas (Dylan O'Brien). Thomas tidak tahu siapa dirinya dan kenapa dirinya ada di dalam sebuah kotak. Saat membuka mata, dia disambut dengan gerombolan pemuda tanggung nan kinyis (cuma satu aja sih :D) yang menyebut daerah mereka tinggal sebagai The Glade. Awalnya mereka menamai Thomas dengan panggilan "Greenie" alias "Buncis Hijau" karena Thomas belum ingat namanya.

Rabu, 26 Maret 2014

Review Film : Divergent



 Judul : Divergent
Adaptasi dari : Divergent karya Veronica Roth
Durasi film : 139 menit
Pemain : Shailene Woodley, Theo James, Zoe Kravitz, Ashley Judd, Kate Winslet, Jai Courtney, Ansel Elgort, Maggie Q
Sutradara : Neil Burger
Genre : Fantasy, Dystopia
Rating : Remaja

 


Review:

Sama seperti Percy Jackson : Sea of Monster, The Mortal Instrument : City of Bones dan The Hunger Games : Catching Fire, saya juga ngga baca bukunya Divergent. Saya sadar bahwa mending ngga baca bukunya dulu, biar bisa nikmatin film karena diri ini yang rada perfeksionis pasti bakalan banding-bandingkan terus antara versi film dan buku. Tapi, ternyata ada baiknya juga kalau saya baca Divergent dulu, karena abis nonton film ini saya malah bertanya - tanya karena banyak hal yang bikin saya jadi garuk - garuk kepala saat nontonnya :P.

Senin, 16 Desember 2013

Review Film : The Hobbit - Desolation of Smaug


Judul : The Hobbit - Desolation of Smaug
Adaptasi dari : The Hobbit by J.R.R. Tolkien
Durasi film : 161 menit
Pemain : Martin Freeman, Ian McKellen, Richard Armitage, Luke Evans, Lee Pace, Orlando Bloom, etc
Sutradara : Peter Jackson
Genre : High Fantasy
Rating : Remaja
Review : The Hobbit - An Unexpected Journey  

Review :


Mungkin The Hobbit - Desolation of Smaug (aka DoS) adalah film yang paling saya tunggu - tunggu tahun ini. Cinta saya pada Middle Earth buatan om Peter Jackson (aka PJ) itu tiada batasnya. Saya dengan malu mengakui kalau hanya baca The Hobbit saja, sementara karya JRR Tolkien yang lainnya masih di timbunan. Tapi saya nonton Lords of The Ring itu seperti minum obat. Sudah berkali - kali sampai hapal sequencenya, tapi ga bosan juga XD. Makanya, saat tahu Eorlingas, komunitas pecinta karya Tolkien di Indonesia membuat acara nonton bareng DoS, saya ga ragu - ragu mendaftar. Bahkan walau waktunya masih ga jelas, dan saya khawatir bakal bentrok dengan event IRF atau pas saya harus pulang ke Malang minggu ini. Syukurlah acara nonton barengnya di tanggal 15 Desember 2013, tepatnya hari Minggu kemaren pukul 12:30, dimana jadwal saya kosong :D.

Senin, 02 Desember 2013

Review Film : The Hunger Games - Catching Fire



 
Judul : The Hunger Games - Catching Fire
Adaptasi dari : Catching Fire karya Suzanne Collins
Durasi film : 146 menit
Pemain : Jennifer Lawrence, Josh Hutcherson, Liam Hemsworth, Sam Claflin, Jena Malone, Elizabeth Banks, Donald Sutherland
Sutradara : Francis Lawrence
Genre : Fantasy, Dystopia
Rating : Remaja

Review :

Tidak seperti saat saya nonton The Hunger Games, kali ini untuk Catching Fire saya memutuskan untuk tidak membaca bukunya terlebih dahulu. Bukan karena sok - sokan tidak ingin ekspekstasi tinggi, cuma saya ngga sempat baca bukunya aja #gubrak X) . Saya lumayan telat nonton filmnya, karena biasanya habis film premiere, 1-2 hari sesudahnya saya sudah nonton. Tapi karena kesibukan kantor dan kegalauan hati (hasyah!), saya baru bisa nonton Catching Fire hari Jum'at kemaren seusai jam kantor. Sebelumnya saya baca - baca review dan tanggapan akan film ini di sosmed kayak FB, Twitter maupun di Kaskus, dan rata - rata bilang bagus. Salah satu teman, yaitu Ibutio bilang Finnicknya ganteng. Okelaaah kalau begitu....

Selasa, 10 September 2013

Review Film : The Mortal Instruments - City of Bones



Judul : The Mortal Instruments - City of Bones
Adaptasi dari : City of Bones karya Cassandra Clare
Durasi film : 130 menit
Pemain : Lily Collins, Jamie Campbell Bower, Rob Sheehan, Jemima West, Kevin Zegers, Lena Headey, Jonathan Rhys-Meyers
Sutradara : Harald Zwart
Genre : Fantasy
Rating : Remaja

Review :

Sama seperti Percy Jackson - Sea of Monsters, saya belum punya kesempatan baca buku pertama seri Mortal Instruments karya Cassandra Clare yang fenomenal itu. Maka, pengalaman nonton City of Bones ini murni hasil nonton, dan juga saya g ngeliat sinopsisnya di wiki atau review filmnya di blog manapun. Walau memang sudah lihat - lihat berita dari Twitter kalau City of Bones ini belum apa - apa udah flop di Amrik sono. Bahkan sampai Cassandra Clarenya klarifikasi kalau dia g punya kuasa atas skrip filmnya (yah, emang penulis mana yang punya?), teman sejawatnya bikin bete calon penonton (tweet Ally Carter yang bilang kalau yang g nonton City of Bones itu berarti sexist), isu plagiarism dari jaman City of Bones masih berupa fanfic yang bikin filmnya gagal, dsb, dst, dll. Walau sudah tahu itu semua, saya masih berpendapat kalau film ini bagus. At last, better than Percy.

Guess I'm wrong :( . City of Bones, is indeed city of mess. Penasaran ma review saya? Akan ada beberapa spoiler lho, walau saya g akan bocorin twist-twistnya. Beware, you've been warned ;)

Kamis, 29 Agustus 2013

Review Film : Percy Jackson - Sea of Monsters

Judul : Percy Jackson - Sea of Monsters
Adaptasi dari : Percy Jackson and The Olympians:The Sea of Monsters karya Rick Riordan
Durasi film : 107 menit
Pemain :Logan Lerman, Alexandra Daddario, Douglas Smith, Brandon T Jackson, Luke Abel, Leven Rambin
Sutradara : Thor Freudenthal
Genre : Fantasy
Rating : Remaja

Review :

Saya sudah agak lupa dengan cerita pertama Percy Jackson, The Lightning Thief yang dirilis tahun 2010 . Itu juga saya nontonnya di TV :P. Digawangi oleh Christoper Columbus yang ternyata sutradara film Harry Potter yang pertama (Philosoper Stone) dan kedua (Chamber of Secret), filmnya ya biasa aja. Tapi toh bagi saya film Percy ga akan pernah bisa sebagus Harry Potter, dan itu juga saya masih menganggap film Harry Potter tidak termasuk adaptasi yang bagus. Walau masih enak ditonton. Itulah kenapa saya g banyak ekspektasi nonton film sekuel The Lightning Thief, Sea of Monsters.Film ini kabarnya cukup setia pada bukunya. Nah, karena saya juga belum baca bukunya, maka saya g tau bedanya dimana. Maka pendapat saya tentang film ini ya murni dari hasil nonton saya.

Rabu, 19 Desember 2012

Review Film : The Hobbit - An Unexpected Journey

Judul : The Hobbit - An Unexpected Journey
Adaptasi dari : The Hobbit oleh J.R.R.Tolkien
Durasi film : 150 menit
Pemain :Martin Freeman, Sir Ian McKellen, Richard Armitage, Hugo Weaving, Andy Serkis, Cate Blanchett, Adrian Turner
Sutradara : Peter Jackson
Genre : Epic fantasy

Rating : Remaja

Review :

Note : Mengandung beberapa Spoiler

Far over the misty mountains cold
To dungeons deep and caverns old
The pines were roaring on the height,
The winds were moaning in the night,
The fire was red, it flaming spread;
The trees like torches blazed with light.

Merinding. Itulah reaksi saya saat pertama kali nonton trailer The Hobbit - An Unexpected Journey setahun yang lalu. Yup, sang sutradara, Peter Jackson sudah menyiksa saya jauh - jauh hari dalam menunggu film pertama dari trilogy film The Hobbit yang premiere main tanggal 14 Desember kemaren. Jauh lebih merinding lagi saat mendengar para dwarf menyanyikan lagu yang liriknya saya kopi di atas. Tak bosan - bosannya saya melihat trailernya, walau dalam hati saya agak khawatir. Jangan - jangan nanti filmnya biasa aja. Ga sebagus Lord of The Rings.

Dan penantian itupun berakhir. Saya dan dua teman saya sepakat buat pulang lebih awal Jumat kemaren. Sok deh jam kerja belum selesai, kita justru kabur, hehehe. Apalagi saat itu hujan deras habis mengguyur Jakarta. Mati deh, pikir saya. Bakal macet parah nih apalagi kami berencana nonton di Epicentrum atau Kuningan City. Kami pun memutuskan naik taksi, dan nunggunya itu loh. Lamaaaaa, lebih dari setengah jam plus hujan rintik - rintik kami menunggu taksi. Akhirnya dapat, daaaan kami ga jadi ke Kuningan karena katanya banjir. Ya sudahlah kami akhirnya pergi ke Pejaten Village. Dan masih macet lagi. Saya jadi parno bakal kejadian kayak Breaking Dawn kemaren, jauh - jauh ke bioskop eh ga dapat tiket. Setelah hampir setengah jam, kami pun sampai. Dan saya langsung ngibrit ke bioskop. Ternyata adanya versi 3D. Saya sempat baca pre-review The Hobbit kalau 3Dnya bikin puyeng. Tapi saya ga ada pilihan. Selesai beli tiket, saya dan teman langsung sholat Magrib. Ngebut juga sholatnya (dosa nih X) ). Pas ke bioskop, ehhh udah gelap aja. Tak lupa ambil kacamata 3D dan duduk manis di kursi. Film pun dimulai.

Diawali dengan adegan Bilbo tua (Ian Holm) yang mengenang perjalanannya saat dia masih muda. Bilbo menceritakan tentang kerajaan Dwarf yang dipimpin oleh Thror. Dwarf dan Elf pun masih bersahabat saat itu. Sayangnya ketamakan Thror dalam menggali dan mengumpulkan harta membuat kerajaannya diserang oleh Smaug, sang Naga (yang suara groarrrrrnya diisi sama si seksi Benedict Cumberbatch :)) ). Parahnya, sang raja Elf, Thranduil (ayah Legolas, diperankan Lee Pace) hanya diam saja. Dan karena itulah Thorin Oakenshield (Richard Armitage), sang pangeran dwarf dan cucu Thror sejak saat itu tidak percaya oleh Elf. Para dwarf pun mengungsi dan pergi ke Moria. Thorin berjanji dalam hati, dia akan merebut kembali kerajaan kurcaci dan mengklaim tahta. Adegan pun berpindah ke Bilbo tua, dan kita akan bertemu Frodo (Elijah Wood) ! Ternyata adegan ini juga adalah adegan pembuka LOTR:Fellowship of The Ring. Lalu cerita pun beralih ke Bilbo lagi.

60 tahun sebelum Perang Cincin dimulai, Bilbo Baggins (Martin Freeman) hanyalah seorang Hobbit yang menginginkan hidup tenang. Kedatangan Gandalf (Ian McKellen) membuat ketenangan Bilbo buyar. Gandalf menawarinya sebuah petualangan yang menakjubkan, yang ditolak Bilbo mentah - mentah. Malamnya, Bilbo mendapat tamu kejutan. Dan kejutan itu adalah tiga belas kurcaci, mulai dari Fili, Kili, Oin, Gloin, Dwalin, Balin, Bifur, Bofur, Bombur, Dori, Nori, Ori dan pemimpin mereka, Thorin Oakenshield. Jujur saya cuma bisa tau Fili dan Kili, terutama Kili (Adrian Turner) karena dia yang paling ganteng :)). Para dwarf mengira Bilbo adalah pencuri handal yang bisa membantu mereka mencuri harta dwarf. Bilbo yang ogah - ogahan akhirnya pun mau membantu mereka.

I'm going on an adventure!! 

Dimulailah perjalanan Bilbo bersama tiga belas kurcaci ke Lonely Mountain. Kesergap troll, hampir dimakan juga, untung Gandalf datang menyelematkan. Diserang para Orc dengan piaraan mereka Warg sampai Bilbo dkk akhirnya pergi ke Rivendell (yang membuat Thorin jengkel) dan bertemu Lord Elrond (Hugo Weaving). Disinilah juga ada adegan White Council yang terdiri atas Elrond, Gandalf, Saruman (Christopher Lee) dan Galadriel (Cate Blanchett) yang membahas tentang seorang musuh di Dol Guldur, benteng yang terabaikan di Morgoth. Sayangnya para dwarf enggan berlama - lama di Rivendell dan kabur. Bilbo pun terpaksa ikut sama mereka. Saat beristirahat Thorin mengejek Bilbo yang menurutnya cuma sebagai beban. Bilbo pun memutuskan untuk pergi, namun mereka diserang oleh para Goblin! Bilbo terpisah dari para dwarf, dan disitulah dia bertemu dengan makhluk yang akan mengubah nasibnya dan nasib Middle Earth, yaitu Gollum (Andy Serkis).


Lalu, apakah petualangan Bilbo berakhir sampai situ? Oh, tentu saja tidak ,karena masih akan ada lagi cerita yang menarik setelah Bilbo ketemu Gollum. Bahkan di adegan -adegan selanjutnya Bilbo mendapat respek dari para dwarf dan terutama dari Thorin tentunya. Dan ini masih film pertama lho. Masih ada dua film lagi, The Desolation of Smaug dan Here, and Back Again.

K.E.R.E.N. Sepuluh jempol (tangan dan kaki digabung sekalian pinjam punya teman :)) ) buat The Hobbit. Memang The Hobbit tak akan bisa melampaui LOTR, tapi masih terlalu awal untuk menilainya seperti itu. Selama dua setengah jam menonton film, saya sama sekali tak bosan. Jika di LOTR saya sering skip - skip bagian Frodo (berhubung nontonnya di laptop) dan cuma suka bagian Aragornnya (ya, saya maniak Aragorn yang menurut saya seksi sama brewoknya itu :)) ), di The Hobbit saya anteng nontonnya. Tapi ya iyalah gimana mau skip - skip kalau di bioskop :)). Cuma nih format 3Dnya agak bikin pusing. Oke, saya baru nonton 2 kali untuk film 3D, hanya saya ga terlalu merasakan efek 3D film ini dan itu yang membuat kenikmatan menonton The Hobbit jadi agak sedikit berkurang :(

Dari segi cerita, tentunya saya heran kenapa The Hobbit dibagi 3, padahal saat baca bukunya ga banyak kok yang diceritain dan ceritanya cenderung lurus alurnya. Jawabannya ada di film ini. Peter Jackson memasukkan beberapa element dari LOTR  ke The Hobbit supaya beberapa bagian jadi lebih jelas. Beberapa adegan yang tidak ada di novelnya tapi ada di film adalah sebagai berikut :

- adegan awal yaitu saat Smaug menguasai kerajaan kurcaci dijelaskan jauh lebih terperinci. Kita akan bertemu Thranduil disini, sementara di novel tidak terlalu dijabarkan.
- adegan Bilbo dkk bertemu Radagast. Radagast the Brown, penyihir eksentrik yang adalah salah satu kawan Gandalf cuma disebut nama saja di buku.
- Aslinya tidak ada Saruman ataupun Galadriel dibukunya.

Dan ada lagi sepertinya untuk adegan tambahan yang ga ada di buku, cuma saya pas baca The Hobbit itu pakai sistem SKS, jadi mungkin beberapa jadi agak lupa X). Cuma nih, hebatnya Peter Jackson, dia bisa menggabungkan adegan yang ada di buku dan yang ga ada dengan mulus. Membuat saya bisa menikmati The Hobbit versi baru ini tanpa menggerutu kenapa filmnya kok ga kayak di buku.

Saya merasa Peter Jackson tak hanya memasukkan beberapa cerita LOTR tapi juga unsur - unsurnya. Saya merasa Thorin mirip Aragorn. Sama - sama pangeran dan pewaris tahta, sama - sama hidup dalam perasingan dan ingin mengklaim apa yang harusnya jadi hak mereka. Bedanya nih, kalau Aragorn sering ragu dan galau untuk menjadi raja, Thorin ga tanggung - tanggung. Thorin lebih mirip antihero, serius banget, gahar, tapi pas akhirnya tersenyum, aduuuuh saya melting X). Pantesan banyak yang suka Richard Armitage yaa. Para dwarf lain juga sama lucu dan membuat cerita jadi menarik. Oh iya, salah satu dwarf, yaitu Kili kayaknya diplot jadi Legolas nih. Karena si Kili ini ahli pemanah dan dia yang paling muda dan ganteng! Ya, saya merasa Middle Earth membuat kegantengan para pemainnya meningkat, walau brewokan dan keliatan kayak butuh mandi setiap saat :)). Ada kekhawatiran karena di film ini fokus utamanya adalah para dwarf, maka minim pria tampan kayak di LOTR. Beruntunglah kita karena ada Thorin dan Kili X). Dan tentu saja masih ada para Elf dong.

Banyaknya tokoh pria di film ini di"permanis" dengan satu tokoh wanita yang anggun, yaitu Lady Galadriel. Cate Blanchett tetap cantik, cuma umur emang ga bisa bohong yak walau sudah dimake-up sedemikian rupa. Galadriel kelihatan lebih tua, begitu juga dengan Frodo dan Gandalf. Penggemar Legolas mungkin akan kecewa kalau dia tak ada di film ini, tapi saya jamin pasti dia bakalan muncul di film kedua atau ketiga (dan saya berharap,semoga oh semoga ada Aragorn! )


Untuk musiknya, Howard Shore kembali lagi dan membuat musik di film The Hobbit tak kalah megah dengan LOTR. Ada musik di LOTR yang dipakai lagi ada juga yang baru. Sayang saya ga terlalu suka soundtracknya yang judulnya "Song of Lonely Mountain". Terlalu modern deh, bagusan May It Be atau Into The West. Bagi penggemar LOTR, pasti bakalan bernostalgia dengan film ini. Dan bagi yang baru saja mengenal karya masterpiece J.R.R. Tolkien,  film ini akan mengenalkan mereka dengan dunia fantastis di Middle Earth. Pemandangan Selandia Baru yang sangat kaya dan mengagumkan juga sangat memanjakan mata. The Hobbit adalah film wajib bagi semua penggemar film. Dan tentu saja, ga akan puas kalau cuma nonton sekali ;).

Nah, sekarang saya harus nunggu setahun lagi buat film keduanya :'(.

Source Pic: The Hobbit Facebook Page
Note : Saya pajang gambar Kili, karena saya ngefans banget sama dia X)

Rating : 


Selasa, 20 November 2012

Review Film : Breaking Dawn Part 2

Judul : Breaking Dawn Part 2
Adaptasi dari : Breaking Dawn oleh Stephenie Meyer
Durasi film : 115 menit
Pemain : Kristen Stewart, Robert Pattinson, Taylor Lautner, Mackenzie Foy
Rating : Dewasa 

Review :

Note : Mengandung Spoiler

Duluuu sekali, waktu awal mendaftarkan blog ini ke BBI, sempat ada halangan buat saya, karena isi blog harus murni tentang buku. Padahal saya juga ada niat mau masukin review film - film yang saya tonton. Walau akhirnya ada kesepakatan, untuk review film, hanya yang ada hubungannya dengan buku. Nah, kali ini pas banget eventnya dimana saya abis nonton Breaking Dawn part 2 hari Minggu sore kemaren. Karena diadaptasi dari novel terkenal yang digilai banyak orang (tapi sayangnya tidak oleh saya :)) ) Twilight, jadi direview disini gapapa dong ;)

Perjuangan saya nonton Breaking Dawn part 2 (BDPt2) ini cukup pelik. Awalnya ingin nonton hari Jum'at, sayangnya saya pas itu lagi bete jadinya dibatalkan. Saya dan cowok saya si K, memutuskan nonton hari Sabtu waktu midnite. Kami datang setengah jam sebelum film mulai, dan saya terkejut lihat tiket sudah habis! Padahal di Kalibata 21, BDPt2 ini diputer di dua studio. Tapi tetap saja karcis semua ludes tak tersisa. Saya dan K cuma bisa ngakak aja, dan berhubung saya ngotot, pokoknya sebelum kerja kudu nonton BDPt2! K cuma bisa angguk - angguk aja walau dalam hati saya tahu dia tidak rela mau nonton film itu :)). Akhirnya Minggu sore kami kembali ke Kalibata 21, dan dapat tiket nonton yang jam 5 (kami datang jam 2). Itu juga dapat barisan 4 dari depan. Saya akhirnya maklum. BDPt2 ini film terakhir Twilight Saga, dan waktu itu liburan panjang. Jadi wajar aja kalau penuh terus.

Setelah menunggu sambil baca komik di Gramedia, pukul 17.15 kami masuk ke studio. Saya perhatiin banyak banget pasangan yang nonton BDPt2. Kalau gerombolan cewek saya sih ga heran, paling juga pengen liat si RobPatzz atau Taylor Lautner buka baju. Nah ini kalau pasangan? Entah yg cowok juga fans Twilight, entah dia fans Kristen Stewart, entah mungkin pengen liat si Taylor buka baju (upss!), atau sama kayak si K, dipaksa ceweknya (aka saya) nemenin nonton, padahal aslinya ga ngerti Twilight itu cerita tentang apa :)). Film pun dimulai. Jujur saya suka opening BDPt2 ini. Terlihat berbeda, menggambarkan Forks yang bersalju, didominasi oleh warna merah, putih, hitam dan abu - abu. Adegan lalu berganti pada Bella Swan yang terbangun. Bagi yang sudah nonton Part 1-nya, pasti ngeh kalau Bella diubah menjadi vampire oleh sang suami, Edward Cullen. Disini Bella yang sudah menjadi vampire, berubah jadi mirip boneka barbie. Kulit putih pucat (bedaknya pas lho, ga berlebihan!), warna mata yang merah menyala dan rambut berkilau megar - megar seperti abis keluar dari iklan sampoo. Bella sudah tak lagi sama dengan Bella yang dulunya manusia. Dia jadi jauh lebih cantik kali ini.

Bella yang menyadari kekuatannya sebagai vampir lalu dibimbing oleh Edward untuk mencari mangsa. Bella sudah menunjukkan ketangguhan dirinya dengan menolak minum darah manusia. Tapi dia masih belum aman untuk menggendong putrinya yang baru lahir, Renesmee. Betapa terkejutnya Bella saat tahu Jacob Black, cem - cemannya dulu sebelum nikah sama Edward, menjadikan Renesmee yang belum ada seminggu umurnya untuk jadi pasangan hidup Jacob. Pedofil banget ternyata Jacob ini :)). Tapi masalahnya ga panjang kok, Bella pun bisa nerima Jacob bakal jadi menantunya nanti. Bella dan Edward dapat hadiah kejutan dari Alice Cullen, saudara angkat Edward, yaitu sebuah rumah. Dan masa bulan madu yang tertunda pun dimulai. Jujur saya senang liat adegan intimnya, karena artistik walau bikin bosan juga. Bulan madu selesai, Bella mendapati sang putri Renesmee bertumbuh dengan cepat, tidak seperti anak biasa. Saat mengajak anaknya bermain di luar, Irina salah satu vampir Denali teman keluarga Cullen memergoki Renesmee yang memakai kekuatannya. Irina pergi melapor ke Volturi, klan pemimpin Vampire di Italia. Sementara Alice mendapat penglihatan kalau Volturi akan menyerang keluarga Cullen.

Keluarga Cullen pun mengumpulkan banyak saksi untuk membuktikan kalau Renesmee tidak berbahaya, sementara Alice dan Jasper menghilang. Carlisle Cullen, ayah angkat Edward berhasil mengumpulkan semua temannya, mulai dari para vampire Denali, dari Mesir, Irlandia, Amazon, Inggris bahkan sampai Rusia. Alice masih belum kembali dan Bella mendapati kalau gadis itu sudah menyiapkan paspor dan uang untuk Renesmee dan Jacob, kalau - kalau keadaan menjadi buruk. Keluarga Cullen dan sekutunya menyiapkan diri untuk menghadapi Volturi dan Bella menyadari kekuatannya sebagai pelindung. Hari yang dinantikan pun tiba, Volturi datang ke Forks dengan begitu banyak vampire. Sementara dari keluarga Cullen hanya beberapa saja, walau banyak dari mereka yang punya kekuatan khusus. Alice pun datang dan meyakinkan Aro, pemimpin Volturi kalau Renesmee bukan anak Abadi dan tidak berbahaya. Bisakah Aro diyakinkan? Atau perang antara Volturi dan keluarga Cullen harus terjadi?

Persis sis sis dengan bukunya. Itulah pendapat saya setelah selesai liat BDPt2. Sebelumnya, jika kamu belum pernah nonton film - film Twilight, kemungkinan bakal bingung liat film ini. Dan jangan sampai belum nonton Part 1-nya, kalau pengen ngerti isi BDPt2. Saya sampai sekarang ga paham kenapa Breaking Dawn yang sebenarnya ceritanya sangat simpel tapi gaya ceritanya tante Meyers yang bertele - tele itu membuat bukunya jadi tebel banget kayak bantal, dibagi jadi dua bagian. Aih, ikut - ikutan Harry Potter dong yak. Walau kalau HarPot itu make sense kalau dibagi dua, Breaking Dawn? Oh, pfft. Jalinan cerita di film ini sama persis dan tidak melenceng sedikitpun dari buku. Ada sedikit perubahan, tapi tidak signifikan. Sebelumnya ada kabar kalau bakalan ada adegan tambahan di film ini, yang tidak ada di bukunya. Apakah itu, cek bagian spoiler di bawah ini ya (dibold dulu jika ingin membacanya):

Adegan tambahan itu adalah perang antara Volturi dan keluarga Cullen. Setelah Alice berusaha meyakinkan Aro kalau Renesmee tidak berbahaya, sayangnya Aro tidak mempercayai Alice. Terjadilah pertempuran, dimana Aro membunuh Carlisle. Jujur saya kaget waktu liat adegan ini, dan sangat excited! Akhirnya pertempuran yang ga ada di buku, diadain juga disini! Perangnya sendiri sangat sadis, dan seharusnya BDPt2 ini dirating dewasa aja. Banyak yang mati, seperti Jasper, Seth dan Leah Clearwater. Bagian yang menurut saya keren adalah saat Benjamin, vampir dari Mesir yang bisa menguasai element, meretakkan bumi untuk membalik keadaan. Jane pun akhirnya menemui ajal di tangan Alice. Aro dibunuh bersamaan oleh Bella dan Edward. Dan ternyata... itu semua cuma masa depan yang diperlihatkan Alice pada Aro, jika Aro bersikeras mengadakan perang. Lucunya, setelah adegan itu semua penonton di bioskop berteriak kecewa. Semuanya sama ketipunya dengan saya :)).

Dan adegan tambahan itulah yang membuat saya jadi "heh, sudah kuduga". Ditilik dari segi filmnya, spesial efeknya adalah yang terburuk. Okelah, bagian serigalanya sudah smooth banget. Sayang Jacob cuma buka baju sekali :)). tapi spesial effect untuk pertumbuhan Renesmee kasar! Heran juga, karena film ini terkesan jadi kayak pelit budget. Selain itu effect buat para vampir yang bergerak cepat juga bikin saya meringis. Jauh lebih halus di film - film terdahulu. Untuk urusan make up, saya angkat tangan deh. Walau sebenarnya bedak untuk para vampir sudah oke, entah kenapa untuk make up Emmett berasa aneh. Abis mukanya putih pucat, tapi badannya ngga! Dari segi akting, Kristen Stewart tetap bisa memerankan Bella yang ga ada ekspresi, walau saya akui dia cukup oke aktingnya kali ini. Robert Pattinson sebagai Edward, duh, kayak lemes, letoy ga ada gairah sama sekali. Saat adegan intim Ed dan Bella, saya sempat mikir "si Rob ini, apa bakal kebayang kalau Kristen bakalan selingkuh dari dia ya, hehee". Taylor Lautner sebagai Jacob sudah lumayan. Dan saya suka banget ma Mackenzie Foy yang imuuuuut sebagai Renesmee. Michael Sheen sebagai Aro lebay aktingnya. Saya heran kenapa aktor kelas atas kayak dia dan Dakota Fanning mau main di film Twilight. Keluarga Cullen sih yah biasa aja. Yang kasihan tuh Jackson Rathbone, karena peran dia sebagai Jasper kayak jadi pajangan aja :)). Karakter favorit saya disini adalah para vampire Denali (Kate dan Tanya), para vampir dari Amazon, Benjamin, dan Garreth yang diperankan oleh Lee Pace (pemeran Thranduil di The Hobbit) ! Bagi saya Garreth ini jauuuh lebih ganteng daripada Edward, mungkin karena brewokan :)). Adegan endingnya ditutup dengan indah dimana menceritakan pertemuan Edward dan Bella sampai saat menikah. Bagian penutupnya menampilkan semua pemain yang pernah muncul di Twilight Saga.

Bagi kamu yang penggemar Twilight, maka wajib nonton BDPt2. Bagi kamu yang ga suka Twilight, tapi terlanjur nonton filmnya dari awal, atau kayak saya hanya menganggapnya sebagai hiburan, sayang rasanya kalau ga dilanjutkan toh ini yang terakhir. Bagi saya sih Twilight ini ga akan pernah jadi film terbagus sepanjang masa, apalagi masuk Oscar. Kelas dia yah bakalan cuma sampai MTV Movie Awards yang bagi saya penghargaan film terkonyol sepanjang masa. Tapi ga memungkiri kalau film Twilight ini membuka jalan bagi film - film remaja, utamanya yang diadaptasi dari novel. Dan menangiskah saya saat melihat ending scene film ini sama kayak pas saya nonton Harry Potter? Ngga tuh, saya malah lega ^-^. Mungkin yang bikin saya agak kecewa adalah kurangnya adegan buka baju dari para werewolf di film ini :)).

Rating : 
 


 Sensualitas :
 
Saya menyarankan agar kalian yang dibawah 17 tahun, seengganya tutup mata liat adegan ranjang. Dan jangan bawa anak kalau nonton ini! Saya jadi geleng - geleng kepala kalau ada orang yang bawa anak kecil buat nonton film yang dirating remaja/dewasa.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...