Tampilkan postingan dengan label j d robb. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label j d robb. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Desember 2013

Review : Celebrity in Death oleh J.D.Robb

Judul : Celebrity in Death
Pengarang : J.D.Robb
Bahasa : Inggris
Penerbit : Berkley

Tebal :  372 halaman
Diterbitkan pertama kali :Agustus 2012

Format : Mass Market Paperback
Target : Dewasa

Genre : Thriller Suspense, Futuristic, Romance
Serial : In Death, buku ke-34
Web pengarang : Click here
Beli di : Periplus ; BookDepository ;   Open Trolley


#1 New York Times bestselling author J.D. Robb knows that some roles are to die for… 

Lieutenant Eve Dallas is no party girl, but she’s managing to have a reasonably good time at the celebrity-packed bash celebrating The Icove Agenda , a film based on one of her famous cases. It’s a little spooky seeing the actress playing her, who looks as though she could be her long-lost twin. Not as unsettling, though, as seeing the actress who plays Peabody—drowned in the lap pool on the roof of the director’s luxury building.

 Talented but rude and widely disliked, K.T. Harris made an embarrassing scene during dinner. Now she’s at the center of a crime scene—and Eve is more than ready to get out of her high heels and strap on her holster to step into the role she was born to play: cop.

 Review

Kamis, 31 Januari 2013

Review : Time of Death oleh J.D.Robb

Judul : Time of Death
Pengarang : J.D. Robb
Penerbit :Jove
Tebal : 304 halaman
Diterbitkan pertama kali : 27 November 2012
Format : Mass Market Paperback
Target : Dewasa
Genre : Romantic Suspense
Seri : In Death
Buku ke : Anthology (novella ke 4, 5, dan 6)
Bahasa : Inggris

Status : Hadiah dari Secret Santa
Web Pengarang : Click here
Review di Goodreads : Click here
Beli di : Bookdepository
Baca juga:
Review Treachery in Death 
Review Big Jack
Review New York to Dallas 

Sinopsis

J. D. Robb’s In Death novels have been praised as “Law &Order: SVU—in the future” (Entertainment Weekly). Now, together in one volume, three stories that spotlight Lieutenant Eve Dallas doing what she does best: solving crime with skill, integrity, and passion… 

“Eternity in Death” 
 A seductive killer is luring in victims with a promise of the impossible—immortality. Eve Dallas must strip away the fantasy to catch the coldhearted madman.

“Ritual in Death” 
Eve is plunged into the violent aftermath of a ritualistic murder—and into the mind of an alleged witness who can’t remember a thing to save his life.

“Missing in Death”
 When a woman disappears from aboard a New York City ferry, it’s a case that only Eve Dallas can solve—because the woman didn’t jump and yet she’s not on board…

Review

Saya ini penggemar berat J.D.Robb. Dan saya pikir sebagian blogger BBI juga sudah tahu itu :)). Beberapa pengunjung blogger ini juga paling cuma geleng - geleng kepala kalau saya mulai memuja - muja Roarke X). Kali ini, saya akan mereview kumpulan cerita pendek di seri In Death. Time of Death memuat tiga cerpen In Death yang sebelumnya sudah pernah dimuat, baik di kumcernya J.D.Robb yang gabung sama penulis lain, maupun diterbitkan terpisah dalam bentuk e-book dan audio book. Karena ada tiga cerita, maka saya akan mereviewnya secara terpisah :)

Eternity in Death

Sebelumnya dipublikasikan di kumcer : Dead of Night
Setting waktu cerita : Setelah Innocent in Death (buku ke -24)

Seorang sosialita harus menemui ajalnya setelah dijanjikan keabadian oleh laki - laki yang dipujanya. Eve Dallas, dan rekannya Detektif Delia Peabody, menginvestigasi kasus tersebut. Peabody yang melihat luka bekas gigitan di leher korban, percaya kalau pelakunya vampir. Eve tentu saja ga percaya. Mana ada vampire di dunia nyata, apalagi di masa depan. Tapi Eve mulai mempertanyakan kewarasannya saat dia menyelidiki klub tempat korban terakhir terlihat, Bloodbath. Disana Eve bertemu Dorian Vadim, pemilik Bloodbath yang penampakannya mirip vampire dan tatapan matanya sangat menghipnotis. Eve terganggu karena Dorian mengingatkannya pada ayahnya yang psikopat. Sedangkan Roarke kesal, karena berani - beraninya Dorian menggoda Eve di depan matanya :)) (yang berujung pada adegan olahraga tempat tidur, karena Roarke cemburu X) ). Masalah semakin rumit saat salah satu bartender Bloodbath terbunuh. Eve yakin, Dorian lah pelakunya. Apakah Dorian asli drakula atau hanya akal - akalan pria itu saja? Eve mendapati bahwa kali ini dia harus membawa pasak kayu selain stunner yang biasa dibawanya, untuk menggiring Dorian ke penjara...

Favorite scene/quote :

As she bent to check her clutch piece, Baxter tapped her shoulder.
"What"
"Got something for you." He held it out as she straightened.
"You're a laugh a minute, Baxter."
"Yeah, you gotta admit." He gave the wooden stake an agile toss.
Because she was amused despite herself, she caught the stake in one hand. then stuck in her belt."Thanks."
He blinked, then roared with laughter. "Eve Dallas, Vampire Slayer. One for the books."

Ritual in Death

Sebelumnya dipublikasian di kumcer : Suite 606
Setting waktu cerita : Setelah Salvation in Death (buku ke-27)

Eve dan Roarke menghadiri pesta dengan Eve yang bolak - balik menggerutu karena sepatu hak tinggi yang dia pakai dan berharap tidak ada kasus pembunuhan. Sayang, doa Eve ga terkabul karena seorang pria telanjang yang berlumuran darah dan memegang pisau mendadak muncul dan membuat keributan dalam pesta. Pria bernama Jackson Pike itu tidak tahu kenapa dia bisa ada disitu dan kenapa dia berlumuran darah. Eve lalu pergi ke suite 606, tempat Jackson berada, dan mendapati pemandangan yang membuatnya mual. Seorang wanita yang dikorbankan dalam ritual satanis dengan luka iris di sekujur tubuhnya dan lehernya digorok. Ava Marsterson, sang korban, juga diperkosa. Ritual ini mengantarkan Eve ke sebuah klinik tempat Jackson dan Ava bekerja, dimana dia mencurigai beberapa karyawan disana adalah pelaku ritual keji itu . Sementara itu, di lain sisi Roarke merasa berhak untuk ikut menyelidiki kasus ini, karena pembunuhan itu terjadi di hotel miliknya. Apalagi satu dari karyawannya jadi korban. Disini juga nantinya pembaca akan bertemu kembali dengan Isis, penyihir Wicca yang pernah muncul di Ceremony in Death (Ritual Dalam Kematian), buku ke-5 seri ini. Eve sempat menemui jalan buntu, karena semua tersangkanya punya alibi. Tapi dengan bantuan Isis, dia akhirnya menemukan siapa pelakunya. Dan ternyata, tidak hanya satu orang...

Favorite scene/quote :

- He caught Eve's chin in his hand, skimmed his thumb down the dent, then kissed her. He handed her a mini memo cube. "Code's on it. Take care, Lieutenant. Good night, Peabody."

Peabody watched him walk away. "Boy, sometimes you just want to slurp him up without a straw." She wheeled her eyes to Eve. "Did I say that out loud?"

- Her feet were killing her. And it made her imagine traveling back in time, hunting down whoever had invented stiletto heels, and beating the crap out of him


Missing in Death

Sebelumnya dipublikasikan di kumcer : The Lost
Setting waktu cerita : Setelah Kindred in Death (buku ke-29)

Eve menyelidiki sebuah kasus orang hilang di kapal pesiar yang mengitari Manhattan, dan mendapati kalau Carolee Grogan (yang dikiranya meninggal karena di toilet tempat Carolee menghilang terdapat banyak darah) masih hidup. Lalu, siapa yang terbunuh? Bagaimana mayatnya bisa tidak ada dan cara apa yang digunakan pembunuhnya untuk melenyapkan mayat itu dari kapal pesiar yang notabene banyak penumpangnya. Peabody percaya kalau sang pembunuh menggunakan vortex atau semacam portal. Eve tentu saja mendengus tak percaya. Parahnya Carolee kehilangan ingatan temporer sehingga dia tidak bisa mengingat kenapa dirinya hilang, dan kalaupun ada kemungkinan kalau dia melihat mayat serta pembunuhnya, Carolee tentu saja lupa. Setelah diselidiki, darah itu adalah milik Dana Buckley, yang ternyata seorang corporate assassin, atau pembunuh bayaran. Siapa yang membunuh Dana, dan apa motifnya? Dengan dibantu Roarke, Eve mendapati bahwa Dana bertanggung jawab atas kematian keluarga seorang agen HSO (Homeland Security Organization). Roarke yang tahu apa yang dilakukan HSO pada Eve (spoiler : HSO dulu tahu saat ayah Eve memperkosanya, tapi mereka diam saja. Roarke sempat akan membocorkan masalah ini ke publik, tapi Eve melarangnya), geram tapi mereka berdua tak bisa apa - apa. Sang pelaku meninggalkan beberapa clue untuk Eve dan Roarke. Dan betapa terkejutnya mereka berdua saat tahu identitas sang pelaku, dimana Eve mengalami dilema. Melaporkan sang pelaku yang adalah pembunuh, atau membiarkannya karena apa yang dilakukannya atas nama balas dendam, sebenarnya adalah hal yang benar...

Favorite quote/scene :

She spotted Roarke before she parked, standing outside the drab edifice that housed the busy hive of the lab and forensics. The dark charcoal suit fit the lean length  of him perfectly, and showed a subtle flare with a tie nearly as bold a blue as his eyes. Black hair fell in a mane that around that striking face, shades shielded those stunning eyes as he slipped the PPC he'd been working on into a pocked and started toward her.

She thought he looked like some elegantly urban vid star with just hint of edge
.
.
. She watched Roarke's lips curve as they walked toward each other. She didn't need to see his eyes to know they mirrored that smile. And her heart gave a quick, giddy jump. She had to admit Peabody was right. It was nice to have a guy.


Overall

Saya menyukai semua cerita pendek di kumcer Time of Death ini :). Yang saya lihat, di semua cerpen In Death (kecuali Interlude in Death dan Midnight in Death) selalu ada unsur paranormalnya. Di Eternity ada vampir (walau jadi-jadian), di Ritual ada ritual satanis (yang ternyata dibikin orang fanatik) dan di Missing, ada teori Peabody tentang portal ke dimensi lain (yang sebenarnya sih, pelakunya emang pintar nge-blend dengan lingkungan dan perhitungan waktu yang tepat saja). Disinilah kita melihat, di balik semua unsur mistisnya, Eve dengan akal sehat dan logikanya bisa membuktikan bahwa manusia itu jauh lebih bahaya daripada setan, iblis dan makhluk mistis lainnya. Bahwa selalu ada penjelasan yang jelas di balik semua kasus yang kesannya ada campur tangan dari dunia lain.

Walaupun semuanya cerita pendek, J.D.Robb tetap memberikan kualitas tulisan yang baik. Kasusnya pun tetap rumit dan penyelidikannya tetap asyik dibaca serta diikuti. Dengan pengecualian untuk Missing in Death, pelaku dari dua cerpen pendahulunya sudah ketahuan sejak awal (untuk Ritual di tengah cerita). Hanya tetap saja dijabarkan bagaimana Eve menangkap pelakunya. J.D.Robb juga tak lupa melibatkan orang - orang divisi Pembunuhan seperti Peabody, detektif Ian McNab, kapten Ryan Feeney, Dokter Charlotte Mira, penyelidik forensik Li Morris, Detektif Baxter, Officer Trueheart, dan kepala lab Dick Berenski. Penggemar In Death bakalan nostalgia deh dengan munculnya karakter - karakter ini. Apalagi Peabody yang lucu banget, selalu menghubungkan semua kasus dengan unsur mistis :)). 

Bicara tentang dua tokoh sentral seri ini, Eve dan Roarke, mereka tetap memberikan dinamika yang sekali lagi membuat saya kagum. Ga salah kalau bagi saya, mereka ini pasangan nomer satu di dunia literatur (versi saya dong yak :)) ). Di kumcer ini, mereka sudah dua tahun menikah, jadinya sudah lumayan settle, walau masalah juga masih tetap ada. Terutama di Eternity, saat Roarke cemburu, dan di Ritual saat Eve mendapati Roarke melanggar wewenangnya dengan masuk ke tempat terjadinya pembunuhan. Mereka berdua juga saling bahu membahu dalam memecahkan kasus, dan porsi keduanya pun pas. Ga ada yang mengungguli satu sama lain. Bagi saya, mereka inilah pasangan paling ideal. Bukan karena sempurna banget, tapi karena sama - sama mengakui kekurangan masing - masing dan bagaimana cara mereka menerima kekurangan pasangan tersebut. Apalagi Roarke, yang bagi saya hero ideal. Saya tentunya pengen pasangan kayak Roarke. Bukan, bukan karena dia kaya raya, gantengnya ga karuan sampai bikin saya mimisan tiap baca adegan yang ada Roarke (mulai lebay deh :))), tapi karena dia mengerti Eve. Dan setia. Itu saja sudah cukup :').

Bagi penggemar seri In Death, kumcer ini jelas adalah bacaan wajib. Apalagi kemungkinan diterbitkan di Indonesia kecil banget yah. Bagi yang masih baru kenal, jangan keder lihat cerpen - cerpennya yang rata - rata seri nomer 20-an keatas. Tetap bisa dibaca terpisah dan dinikmati kok ;).

GUESS THE SANTA!!

Oke, sebelumnya saya pernah memposting tentang event Secret Santa di postingan Secret Santa 2012 . Dimana sang Santa memberikan buku ini dan clue tentang identitas dirinya yang misterius ini. Mau tahu apa riddlenya? Ini dia :





Dan, berkat bantuan salah seorang pengunjung blog yang ga sengaja kasih tau nama si Santa :)) (walau saya sih asli sudah tahu sebelum itu) inilah identitas Santa saya :

OKY SEPTYA

Hihihi, makasih ya Oky, buat bukunya. Tau aja sih kalau saya fans berat serial ini ;). (I wonder, kamu pasti ngikik - ngikik pas PM saya. Buat kasih tau siapa X saya :)) ).   Biar kamu (dan pengunjung blog ini) seneng, saya kasih salah satu aktor versi saya yang pas buat peranin Roarke deh X):



Yup, David Gandy emang cocok banget jadi Roarke. Apalagi kalau pakai coat gini. Elegan gitu kesannya ;)

Note : Saya ada board di Pinterest yang isinya semua cast for Roarke. Silakan cek disini ya :))
Pinterest


Rating Cerita :


Sensualitas :


Untuk adegan olahraga tempat tidur, tetap ada di semua cerpennya. Cuma sekali kok, dan seperti ciri khasnya J.D.Robb, ga eksplisit banget. Walau favorit saya sih di Ritual in Death, dimana Eve dan Roarke melakukannya di kamar mandi NYPD. Gimana coba kalau ketahuan? :)) Dan tetep deh adegan shower di In Death itu juara semua X). Sementara adegan Roarke yang saya suka adalah di Missing in Death, dimana ada adegan dia shirtless dan cuma pakai celana.. yang menggantung rendah di pinggang (tisu, mana tisu? X) )

Senin, 19 November 2012

Review : New York to Dallas oleh J.D.Robb

Judul : New York to Dallas
Pengarang : J.D.Robb
Penerbit : Berkley
Tebal : 400 halaman
Diterbitkan pertama kali : 6 Maret 2012
Format : Mass Market Paperback
Target : Dewasa
Genre : Thriller Suspense Romance
Bahasa : Inggris
 
Seri : In Death
Buku ke- : 33 (tiga puluh tiga)
Status : Punya sendiri

Web Pengarang
Order di : Bookdepository
English Review at Goodreads :
click here
Review buku no 17.5 : Big Jack
Review buku no 32 : Treachery in Death

Sinopsis


The new novel from the #1 New York Times-bestselling author, which takes readers deeper into the mind of Eve Dallas than ever before.

The number-one New York Times -bestselling author J. D. Robb presents an intense and terrifying new case for New York homicide cop Eve Dallas, one that will take her all the way to the city that gave her her name-and plunge her into the nightmares of her childhood.

When a monster named Isaac McQueen-taken down by Eve back in her uniform days-escapes from Rikers, he has two things in mind. One is to pick up where he left off, abducting young victims and leaving them scarred in both mind and body. The other is to get revenge on the woman who stopped him all those years ago.

Review



Baiklah. Pembaca dan pengunjung setia blog Ren's Little Corner, dan juga beberapa teman yang kenal saya pasti sudah paham betapa saya tergila - gila dengan serial In Death. Dan juga karakter utamanya, selain Eve Dallas sang polisi tangguh, juga ada Roarke yang Ya-Tuhan-Kenapa-Cowok-Ini-Hanya-Ada-Di-Dunia-Novel. Oke, saya akuin saya lebay, tapi Eve dan Roarke lah yang membuat saya setia membaca serial In Death. Dan tidak seperti kebanyakan seri yang setelah beberapa buku, kualitas ceritanya menurun, In Death justru sebaliknya. Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah penerbitan seri ini, tidak ada embel-embel "In Death" di judulnya. Kenapa bisa begitu?

Melanjutkan cerita setelah buku terakhir, Treachery in Death (yang sudah direview di blog ini, dan buku no 32. Jangan, jangan pingsan liat urutan keberapa buat buku ini), Eve Dallas dan Delia Peabody menghadiri upacara penghormatan dan pemberian medali atas jasa mereka meringkus polisi korup. Seperti biasa, Eve mendapat kasus kejahatan. Namun kali ini berbeda, karena pelakunya adalah orang yang Eve ringkus 12 tahun yang lalu. Saat Eve masih baru lulus dari Akademi Kepolisian. Sang pelaku, Isaac McQueen adalah seorang yang sadis dan juga pedofil. Hobinya menculik anak kecil, lalu memerkosa dan menyiksa mereka selama bertahun - tahun. Saat itulah Eve yang baru berusia 20 tahun tanpa sengaja menanyai Isaac yang dianggapnya saksi untuk kejahatan di tempat Isaac. Eve yang menyadari ada yang tidak beres dengan tempat tinggal Isaac, menggerebek tempat itu dan menemukan kurang lebih 20 gadis kecil yang semuanya diculik dan diperkosa Isaac. Isaac pun dipenjara, dan kabur 12 tahun setelahnya dengan menggorok leher perawat penjara serta menyusun rencana balas dendam untuk Eve.

Setelah mengirimkan "souvenir" yang berupa seorang wanita yang diperkosa Isaac dan mempunyai tato berbentuk hati dan bertuliskan no "27" sebagai peringatan untuk Eve, sang Letnan pun langsung bertindak. Penyelidikan selanjutnya mengarahkan Eve ke tempat tujuan Isaac selanjutnya, yaitu Dallas. Hati Eve mencelos. Bagi pembaca setia buku ini, pasti tahu bahwa Dallas menyimpan banyak kenangan pahit bagi Eve. Dallas juga nama akhir Eve yang saat ditemukan tidak ingat namanya sendiri. Namun demi menghentikan Isaac, Eve pun pergi ke Dallas bersama Roarke. Penyelidikan di New York pun diserahkan pada Peabody, McNab dan Feeney. Sesampainya di Dallas, Eve segera bekerja sama dengan kepolisian Dallas, dan menyadari bahwa korban baru Isaac, Melanie Jones adalah kembaran Bree Jones, salah satu polisi disana. Melanie dan Bree dulunya juga korban Isaac saat mereka masih muda tapi diselamatkan oleh Eve. 

Eve mendapati bahwa Isaac dibantu oleh seorang wanita paruh baya dan pecandu bernama Sarajo Whitehead. Sarajo dulunya adalah klien Melanie yang bekerja sebagai konseling pasca pemerkosaan. Eve dan Roarke berusaha menyelidiki dan menangkap Sarajo, yang suka berganti - ganti identitas, kali ini dengan nama Sylvia Prentiss. Mereka yakin Sylvia akan membawa mereka selangkah lebih dekat dengan Isaac. Betapa terkejutnya Eve saat menangkap Sarajo/Sylvia dan menyadari identitas asli wanita itu. Wanita yang ternyata memiliki hubungan yang sangat erat dengan Eve di masa lalu. Sayangnya, terjadi hal yang tidak diinginkan pada Sarajo dan Isaac kembali kabur. Eve harus berpacu dengan waktu, berusaha melawan mimpi buruknya yang kembali muncul, dan menghentikan Isaac. Karena target Isaac sekarang adalah Eve sendiri.

Saya benar - benar puas membaca New York to Dallas. Walaupun pelaku kejahatannya sudah diketahui sejak awal, sama seperti Treachery in Death, tapi penyelidikan dan kejar - kejaran antara polisi dan pelaku yang membuat buku ini beralur cepat dan juga seru. Ada beberapa momen yang bikin saya terenyuh. Seperti saat Eve lagi - lagi mengalami mimpi buruk, dimana dia diperkosa ayahnya sendiri saat masih 8 tahun dan lalu membunuh pria bejat itu. Dan Roarke yang ga bisa apa - apa saat Eve harus tenggelam dalam keputus -asaannya setelah bermimpi, karena walau Roarke ingin membunuh ayah Eve atas perbuatan pria itu, bagaimana dia bisa kembali ke masa lalu? Disinilah kita diperlihatkan bahwa Eve hanya manusia biasa. Dia memang biasanya terlihat kuat, cerdas, bahkan cenderung dingin. Tapi Eve juga punya masalahnya sendiri, dia masih belum bisa berdamai dengan masa lalunya yang pahit. Bersyukurlah Eve punya Roarke, dengan cinta, komitmen dan kepercayaan di antara mereka berdua, Eve bisa bertahan. Dan walau ingatan Eve akan ibu kandungnya selalu memperlihatkan Stella (nama ibu Eve) yang membencinya, Eve punya Dr Mira yang bagaikan figur ibu baginya.

Penggemar seri In Death bakalan bernostalgia dengan buku ini. Ada beberapa momen yang sudah pernah kejadian di buku - buku sebelumnya seperti adegan Galahad yang menyelamatkan Eve seperti di akhir buku Naked in Death. Sayangnya bagi mereka yang ngefans Peabody-McNab dan semua detektif NYPSD, keberadaan mereka disini sangat kurang. Apalagi mereka yang menunggu adegan Eve yang beradu mulut dengan Summerset. Cuma 1-2 dialog saja. Sebaliknya kita akan diperlihatkan bagaimana Eve bekerja sama dengan kepolisian Dallas yang menurutnya sih terlalu bersih gedungnya dan semua orangnya doyan ngobrol sama sopan banget! Menarik melihat Eve yang biasanya memimpin operasi penangkapan sekarang harus mengesampingkan egonya dan menyesuaikan diri dengan kepolisian lain. Tapi, bagi saya yang juara di buku ini ya hubungan Eve dan Roarke. Mereka benar - benar pasangan ideal favorite saya. Sama - sama punya masa lalu pahit tapi saling mendukung agar tidak tenggelam di masa lalu itu.

New York to Dallas sekali lagi membuktikan kemampuan Nora Roberts aka J.D.Robb dalam menulis cerita. Misteri pembunuhan yang mengasyikkan untuk dibaca, drama dan romansa diantara tokoh - tokohnya yang tidak selalu sempurna. Salut buat tante Nora yang sanggup nulis 2 buku untuk J.D.Robb dalam setahun dan 2 buku lagi dengan namanya sendiri. Dan kualitasnya nyaris ga berkurang. Saya tahu mungkin banyak yang masih ragu baca seri In Death. Tunggu apa lagi? Suka karakter cewe yang kuat? Suka karakter billionaire yang jaaaaauhhhhhhhh lebih oke dan keren daripada si Grey di Fifty?(yah saya ga bisa ga bandingin Grey sama Roarke). Suka sama cerita detektif yang bersetting di masa depan? Seri In Death (diterjemahkan jadi "Dalam Kematian") patut buat dicoba. ;)


Favorite Quote :

- "Oh thank you, Jesus."
"It's Roarke." He tapped a finger on Eve's head. 

"You really shouldn't forget your own husband's name

Rating Cerita



Sensualitas
 

 Seperti biasa adegan olahraga tempat tidurnya amat sangat mild :)). Tapi yah, karena ini Eve dan Roarke, mau semild dan sevanilla apapun tetap aja bikin hati saya deg - deg ser.

Kamis, 25 Oktober 2012

Review : Treachery in Death oleh J.D. Robb

Judul : Treachery in Death
Pengarang : J.D.Robb
Penerbit : Berkley
Tebal : 372 halaman
Diterbitkan pertama kali : 26 Juli 2011
Format : Mass Market Paperback
Target : Dewasa
Genre : Thriller Suspense Romance
Bahasa : Inggris
 
Seri : In Death
Buku ke- : 32 (tiga puluh dua)
Status : Punya sendiri

Web Pengarang
  Order di : Bookdepository
English Review at Goodreads :
click here


Sinopsis


In the latest from the #1  New York Times  bestselling phenomenon, Eve Dallas tracks down those who break the law—including the ones sworn to uphold it. 
Detective Eve Dallas and her partner, Peabody, are following up on a senseless crime—an elderly grocery owner killed by three stoned punks for nothing more than kicks and snacks. This is Peabody's first case as primary detective—good thing she learned from the master.
But Peabody soon stumbles upon a trickier situation. After a hard workout, she's all alone in the locker room when the gym door clatters open; and-while hiding inside a shower stall trying not to make a sound—she overhears two fellow officers, Garnet and Oberman, arguing. It doesn't take long to realize they're both crooked—guilty not just of corruption but of murder. Now Peabody, Eve, and Eve's husband, Roarke, are trying to get the hard evidence they need to bring the dirty cops down—knowing all the while that the two are willing to kill to keep their secret.

Review



Sudah tiga puluh lima buku (yang terbaru di Amrik adalah Delusion in Death) dan belum ada tanda seri favorit nomer 1 saya ini (dan juga hero favorit nomer 1 saya, Roarke, uhuk - uhuk :)) ) akan berakhir. J.D.Robb sendiri bilang seri In Death akan tamat setelah Eve dan Roarke punya anak. Sayangnya sepertinya mereka masih happy tanpa anak, dan walau saya kadang ngedumel nih seri kok ga tamat - tamat, sesungguhnya berat juga rasanya kalau suatu saat saya ga bisa baca cerita Eve dan Roarke lagi :'(. Treachery in Death adalah buku In Death yang ke 32 (!). Mengingat edisi terjemahan masih sampai buku 14 yaitu Reunion in Death, dan bukunya aja cuma keluar 3 kali setahun (dan kadang suka ga pasti keluarnya), yah tinggal dihitung berapa tahun lagi pembaca setia edisi terjemahan baru bisa baca ini :)). Iri sama saya yang udah baca? Iri aja gapapa #dijitak.

Treachery in Death dibuka dengan kasus pembunuhan seperti biasa yang melibatkan tiga anak berandalan yang tanpa sengaja membunuh orang tua pemilik toko. Berbeda dengan biasanya, kali ini Delia Peabody, yang sudah jadi detektif, menjadi penyelidik utama sementara Eve hanya membantu. Peabody berhasil menyelesaikan penyelidikan dengan baik, tapi menyadari bahwa dia masih banyak kekurangan. Terutama di fisiknya yang besar, dan menurutnya itu menghambat pergerakannya. Peabody lalu pergi ke gym Central yang sudah lama tak dipakai. Tak disangka, disana dia mendengarkan diskusi dari dua polisi, wanita dan pria, yang mendiskusikan rencana pembunuhan dan pemerasan. Peabody yang menyadari bahwa dua polisi itu adalah polisi kotor, terguncang namun dia melaporkan kejadian itu pada Eve.

Bukan masalah gampang untuk memperkarakan dua polisi korup, karena salah satunya, Renee Oberman adalah putri dari Komandan Oberman, pendahulu Komandan Whitney serta legenda dari NYPSD sampai dijuluki Saint Oberman. Hal yang sulit bagi Whitney dan juga Dr, Mira yang mengenal Oberman, karena tak menyangka sang putri akan melakukan hal yang memalukan kepolisian NYPSD. Tapi Eve tidak ambil pikir, kejahatan tetap kejahatan. Setelah menerima info seorang pecandu meninggal (dimana info ini sebenarnya didapat dari Roarke yang menyamar, tentunya setelah menyelidiki bahwa Renee dan anak buahnya yang membunuh pecandu itu), Eve membentuk team yang terdiri dari Peabody, McNab detektif EDD yang juga pacar Peabody, Feeney dan meminta bantuan detektif IAB, Don Webster. Yang sudah baca buku Judgment in Death dan Conspiracy in Death, pasti tahu Don Webster, yang dulunya mantan Eve. Lucunya, di buku ini juga Webster masih suka canggung saat bertemu Roarke :p. 

Eve berusaha memperkarakan Renee yang juga sama - sama berpangkat letnan di bagian Illegals (atau bagian yang mengurusi Narkoba). Eve menemukan fakta bahwa nyaris semua polisi di Illegals adalah polisi korup dan anak buah Renee. Renee sendiri tidak seperti Eve yang cuek dengan penampilan. Dia sadar akan kemampuan dirinya sebagai wanita untuk memanipulasi orang, terutama pria, dan memerintahkan semua anak buahnya untuk berpakaian rapi, teratur serta tidak membawa barang pribadi seperti foto keluarga di kantor. Renee juga ahli berkelit. Namun tidak semua anak buah Renee patuh padanya, dan ini menjadi salah satu kartu truf Eve.

Masalah semakin pelik, saat salah satu anak buah Renee yang merasa Eve memojokkan Renee menyerang Eve. Tidak hanya sekali, tapi dua kali. Dan keesokan harinya si polisi ditemukan tewas. Eve harus berpacu dengan waktu untuk memperkarakan Renee. Tidak hanya karena Renee bertanggung jawab atas kematian banyak orang (banyak polisi di bagian Illegals yang tidak patuh dengan Renee, akhirnya tewas di lapangan), namun juga Eve merasa Renee tidak punya kredibilitas sebagai polisi. Dibantu dengan teamnya dan juga suaminya Roarke (ih, kayaknya saya ga terlalu bahas Roarke kali ini ya X) ), Eve bertekad akan memasukkan Renee ke tempat yang paling cocok untuknya, yaitu penjara.

Treachery in Death adalah salah satu buku terbaik dari seri In Death. Bisa dibilang buku ini jauh lebih banyak aksi dan seru. Pelakunya sudah ketahuan dari awal, tapi proses yang dilakukan Eve untuk menjebak dan menangkap pelakunya ini yang menurut saya keren banget. Orang yang baru baca seri ini jelas akan bingung, karena itu memang harus baca dari awal. Jangan jiper lihat jumlahnya yang sudah tiga puluhan buku lebih, seri ini worth it banget kok! ;D. Banyak momen - momen menarik yang bikin saya tersenyum di buku ini. Seperti saat Mavis dan putrinya datang ke kantor Eve, lucu banget liat Eve yang ga tahu cara memperlakukan bayi itu seperti apa. Perseteruan Eve dan Renee juga sangat asyik dibaca. Keduanya sama - sama letnan yang berpengaruh, dan sama - sama wanita. Tapi begitu berbeda bagai langit dan bumi. Seperti banyak orang, Renee menuduh Eve menikah dengan Roarke karena uang, hal yang dilakukan Renee. Renee tidak tahu kalau Eve menikahi Roarke karena Roarke handal di tempat tidur, hihihihi :)).

Di buku ini juga kita akan membaca banyak perkembangan dari tokoh - tokoh di buku ini. Seperti kegalauan Dr. Mira untuk membantu kasus ini karena kenal dengan ayah Renee, lalu hubungan Peabody dan McNab yang semakin langgeng. Dan akhirnya, Don Webster dapat pacar juga di buku ini. Si gadis yang beruntung itu adalah Darcia Angelo, chief security di Olympus Resort milik Roarke. Kebetulan ga sih? Yang pasti Webster sekarang sudah bisa move on dari Eve :)). Lalu ada orang baru di divisi Pembunuhan, yaitu detektif Santiago yang doyan banget mengucapkan kata - kata kotor tapi sangat menghormati Eve. Seperti biasa juga di buku ini Eve dan Summerset masih belum baikan. Sepertinya sih dua orang ini ga akan pernah baikan sampai akhir hayat. Untuk Roarke sendiri? Ga banyak kata, he's perfecto as always! Di awal cerita sempat bertengkar dengan Eve, tapi akhirnya mereka baikan. Dan tahu dong cara mereka baikan kayak gimana ;). Roarke juga mendukung Eve dalam penyelidikan, kemampuannya sebagai eks kriminal juga sangat membantu. Yang pasti sih, dia tetep keren dan bikin saya mendamba tiap baca dialognya ;)).

Treachery in Death sendiri mempunyai pesan yang sangat dalam. Masalah korupsi di kepolisian (dan juga badan negara) adalah hal yang sangat fatal. Di buku ini, korupsi itu dalam bentuk penyalah gunaan jabatan yang dilakukan oleh Renee. Saya jadi berpikir, seandainya semua penegak kebenaran itu seperti Eve, berdedikasi tinggi, punya kredibilitas dan tanggung jawab, serta melakukan tugasnya dengan sepenuh hati (apalagi Eve menganggap pekerjaannya adalah hidupnya, masih ingat kan dengan adegan di Conspiracy in Death dimana Eve down karena badgenya diambil), maka dunia ini akan bebas dari korupsi. Memang seperti angan - angan di siang bolong, tapi bukan tidak mungkin. Saya sendiri berharap, mengesampingkan unsur romance dan suspense di buku ini, semoga banyak orang akan meniru sifat Eve yang sangat bagus itu :).

Note : Bagi yang penasaran sama seri ini dan bisa baca buku dalam bahasa Inggris, sekarang sudah banyak yang jual bukunya lho. Bahkan dalam bentuk seken. Yah, buat Roarke, saya musti punya bukunya dalam bentuk kertas kan :p





Favorite Quote :

- “I do love it when you get glassy-eyed over tech. Its not altogether dissimilar when you come" (Roarke) => uhuk, mimisan saya baca ini :))

- "Before you, there was no on I'd want to walk with. No one I'd want to sit by a little pond with. No one," she said again, easing back to look at his face, "before you" (Eve)

- "You were my hero" (Peabody)

- " Anyway, thanks for riding to the rescue. You need a white hat. Good guys wear white, right?
 " I look better in black" (Eve & Roarke)

Rating Cerita



Sensualitas
 

 Semakin lama adegan intim di seri In Death semakin mild atau tidak eksplisit. Hanya ada dua adegan intim di buku ini, yang dua-duanya bagi saya sih klasik banget, yaitu di shower sama di taman. Yah, cuma baca adegan yang ada Roarke aja saya sudah deg - degan dan mau mimisan :)).

Selasa, 24 Juli 2012

Fantasy Cast : Roarke - In Death series by J.D Robb (+ giveaway!)

Disaat orang - orang pada antusias sama castingnya film Fifty Shades of Grey, berhubung saya ga menikmati buku itu, jadinya ga terlalu perhatian. Walau dalam hati kebat - kebit juga menunggu hasilnya, sampai doa kenceng supaya aktor favorit saya ga kepilih, ha ha ha. Nah daripada ngikut orang, saya bikin semacam fantasy cast sendiri, dan kali ini "korban" saya adalah Roarke dari seri In Death (Dalam Kematian) karya J.D.Robb.

Mungkin bagi yang kenal saya atau sering baca - baca di blog, ngerti kalau Roarke itu salah satu hero novel favorite saya. Bahkan sampai sekarang masih jadi nomer 1 di daftar hero favorit, dan ga tergantikan. Sebegitu hebatkan pesona Roarke di mata (dan hati) Ren? Memang terdengar klise, bahwa saya menyukai Roarke karena kepribadiannya. Mantan kriminal yang menjadi miliuner, lalu "semacam" tobat setelah bertemu cinta seumur hidupnya, yaitu letnan Eve Dallas. Nah kali ini nih, seandainya serial In Death ini jadi difilmkan (walau dulu ada pembicaraan kesana, tapi ga jadi), saya ada semacam "fantasy cast" buat aktor - aktor yang pas buat meranin Roarke.

Sebelumnya, kita kenalan dulu sama (calon suami saya) Roarke.

Lahir di Irlandia, sekitar 33 tahun lalu pada waktu cerita buku pertama, Telanjang dalam Kematian dimulai. Tidak jelas nama kecilnya, hanya nama keluarga yang tertera di pencarian data, yaitu Roarke. Tinggi sekitar 188 cm, bermata biru bagaikan batu safir, wajah tampan bagaikan dipahat, dan rambut hitam lebat yang akan menarik wanita untuk membelainya (saya ga lebeh, emang di novel kek gini :)) ). Roarke, selain tampan, juga sangat cerdas dan licik. Mantan kriminal di Irlandia, sebelum akhirnya memutuskan pergi ke Amerika demi mengubah hidupnya dari penjahat kelas rendah menjadi milliuner di New York pada tahun 2058.

Kekayaannya tak terprediksi. Roarke bisa dikatakan adalah penguasa Manhattan, New York (menurut istrinya, Eve), dan menguasai hampir semua properti di kota itu. Bukan cuma menguasai bumi, angkasa raya juga dikuasainya, terbukti dengan pembangunan resort luar angkasa, Olympus. Ga heran setiap kasus yang ditangani Eve berhubungan sama Roarke, karena biasanya korban atau tempat pembunuhan itu punyanya Roarke. Roarke juga memiliki banyak mantan pacar, tapi begitu ketemu Eve langsung klepek - klepek. Oh, oh inikah namanya cinta, begitu kali soundtrack yang tepat untuk Roarke. Eve dan Roarke menikah di buku ke tiga, Abadi Dalam Kematian, dan tinggal di mansion Roarke yang "wow" itu. Ditemani dengan kepala pelayan Summerset yang hobinya cek cok dengan Eve dan kucing bernama Galahad, Roarke menjalani hari - harinya bersama Eve dalam menuntaskan kasus pembunuhan di New York.

Kunci memilih model/aktor yang pas untuk Roarke :
- mata berwarna biru
- rambut hitam lebat
- kharisma seorang millyuner
- badan seksi, enak dilihat pokoknya
- senyum menawan
- ada darah Irlandia (karena aksen bicara Roarke adalah Irlandia)


Dan inilah kandidat saya untuk pemeran Roarke :

Christian Bale



Alasan : Salahkan saya gara - gara abis nonton The Dark Knight Rises, tapi saat melihat Christian Bale memerankan Bruce Wayne, saya langsung teriak dalam hati "Roarke!". Yup, Bale punya kharisma seorang milliuner, senyumnya juga menawan, tinggi tegap, dan aktor dari Inggris (paling ga deket Irlandia kan :P)

Henry Cavill


Alasan : Saya sih baru nonton filmnya yang Immortal, tapi ouch menurut saya Henry Cavill cocok jadi Roarke. Bisa jadi bagi saya memilihnya untuk jadi Roarke lemah banget dan subjektif banget. Tapi, lihat senyumnya yang keren ini dong. Masa ga termehek - mehek sih? :))

Michael Fassbender

Alasan : Sama kayak Henry Cavill, saya cuma sekali nonton filmnya Fassy, yaitu X-Men First Class, tapi udah kepincut. Walau belum nonton Shame, perannya di Shame membuat dia cocok kalau jadi Roarke, mengingat masa lalu Roarke dipenuhi banyak wanita cantik, dan uhuk2, Roarke kan ahli banget di ranjang :)). Selain itu Fassy ini blasteran Jerman - Irlandia, jadi darah Irlandianya membuat dia diperhitungkan dong, selain aktingnya yang keren

David Gandy


Alasan : David Gandy memang bukan aktor, dan hanya model. Tapi di benak saya dialah yang paling dekat dengan deskripsi Roarke. Tinggi badannya sama, warna matanya juga hampir sama. Dan senyumnya yang menggoda itu lho, ihik :))


Empat pria tampan di atas adalah kandidat saya untuk memerankan Roarke. Okelah memang ga ada satupun yang rambutnya hitam banget diatas, tapi kan bisa dicat. Dan mata warna biru, bisa pake lensa :P. Menurut kalian yang sudah baca seri Dalam Kematian karya J.D.Robb, siapa yang paling pantas jadi Roarke dari keempat pria itu? :D

Oh, dan karena ada kata giveaway, kali ini selain voting buat milih siapa yang pas jadi Roarke, akan ada 2 (dua) buku dari seri Dalam Kematian bagi pem-voting! :D Rulesnya mudah saja :

1. Voting dari empat pria diatas siapa yang menurut kamu paling cocok jadi Roarke. Kalaupun belum pernah baca, bisa tetep milih kok. Cuma sebutin alasannya yah kenapa.
2. Jika memilih di luar 4 (empat ) pilihan di atas, sebutkan siapa dan alasannya. Tapi tetep harus milih dulu yang empat kandidat itu :D
3. Format votingnya :

Pilih (nama aktor) karena (alasan) . Dan sudah/belum baca seri Dalam Kematian karya J.D.Robb (pilih salah satu).

Kalau milih diluar 4 pilihan itu, format tetap sama, tinggal ditambah aktor pilihan kamu dan jangan lupa alasannya .

4. Jangan lupa cantumkan nama dan email. Komen anonim ga masuk hitungan lho, kan sayang :D
5. Dua pemenang diambil secara random, satu dari mereka yang sudah pernah baca seri Dalam Kematian, berhak memilih 1 (satu) buku secara bebas dari seri ini (boleh terjemahan/eng) ; dan satu dari mereka yang belum pernah baca, hadiahnya adalah buku pertama seri ini "Telanjang dalam Kematian" .

Giveaway ini dibuka sampai tanggal 2 Agustus 2012 pukul 12 malam teng, dan pengumuman siapa pemenang kuis dan aktor yang kepilih akan diumumkan hari Jum'at tanggal 3 Agustus 2012.

Kurang kerjaan emang saya, tapi kurang kerjaan yang fun dan pastinya tetep bagi - bagi buku. Ayooo, buruan nge-vote! ;D

Senin, 23 Juli 2012

Review : Big Jack oleh J.D.Robb

Judul : Big Jack
Pengarang : J.D.RobbPenerbit : Berkley
Tebal : 309 halaman
Diterbitkan pertama kali : Maret 2010
Format : Mass Market PaperbackTarget : Dewasa
Genre : Futuristic Thriller Suspense
Bahasa : Inggris
Status : Milik sendiri
Seri : In Death
Buku ke : 17.5 (Tujuh Belas (novella))
Website Pengarang: J.D.Robb

Sinopsis
In New York City in 2059, someone is pursuing missing gems from a decades-old heist...someone who's willing to kill for them.

Sharp-witted and sexy, NYPSD Lieutenant Eve Dallas is used to travelling in the shadowy corners outside the law. And in a future where crime meets cutting-edge technology, she will attempt to track down the diamonds once and for all-and stop the danger and death that have surrounded them for years.

Review
(Note : Mengandung beberapa spoiler)

Ah, In Death. Seri yang walau sudah sampai 35 buku dan bikin keder siapapun yang mau mulai baca seri ini (yah 30an lebih gitu loh!). Dan, bikin pembaca di Indonesia gregetan karena terjemahannya yang keluar ga teratur, dimana buku terakhirnya yang baru terbit adalah Seduction in Death (tapi bocoran dari yang nerjemahin, dia udah kasih terjemahan In Death yang terbaru, Reunion in Death ke penerbit kok). Kali ini saya pengen bahas tentang Big Jack, buku yang merupakan bagian kedua dari buku Remember When. Jadi nih ceritanya, tante Nora Roberts berkolaborasi sama alter egonya (atau nama pena lainnya) J.D.Robb buat bikin 1 buku dengan 2 cerita. Cerita yang pertama judulnya Hot Rocks, ditulis sama tante Nora, berkisah tentang pencurian berlian dengan settingan masa kini. Sementara yang kedua Big Jack, tentu saja J.D.Robb yang nulis, dan karena J.D.Robb identik sama seri In Death, maka dibuatlah ceritanya sekitar 60 an tahun kedepan. Dimana terjadi kasus pembunuhan karena berlian yang ditemukan pada cerita pertama dan melibatkan Eve Dallas sebagai penyidiknya.

Saya sendiri ga baca Hot Rocks, tapi tenang, Big Jack tetep bisa dinikmati sama penggemar In Death, walau untuk penggemar awam mungkin bingung bacanya. Jadi, suatu saat Eve mendapat kasus pembunuhan seorang sosialita di apartemen. Sosialita bernama Andrea Jacobs itu ternyata adalah teman Samantha Gannons yang merupakan penulis terkenal. Samantha sendiri adalah cucu dari dua karakter utama di cerita Hot Rocks. Pembunuh Andrea rupanya mengincar Samantha karena buku yang ditulisnya menceritakan tentang pencurian berlian yang melibatkan kakek-neneknya Samantha. Dan si pembunuh mengincar berlian yang diceritakan hilang tanpa jejak.

Belum selesai dengan kasus Andrea, kali ini Eve dipusingkan dengan satu lagi kasus kematian yang ternyata berhubungan. Korbannya adalah Tina Cobbs, petugas kebersihan di apartemen Samantha. Eve menemukan sedikit titik terang, karena Tina sebelumnya berkencan dengan si pembunuh. Dengan dibantu oleh partnernya Delia Peabody, kapten departemen EDD (eh terjemahannya apa yah), Ryan Feeney, Ian McNab, dan anggota kepolisian New York . Dan duh, gimana saya bisa lupa masukin nama cowok yang ga cuma bikin hati Eve kebat kebit, tapi saya juga, yaitu Roarke? Yah pokoknya juga dibantu Roarke yang kaya raya banget dan masih aja suka ngelakuin kegiatan illegal tapi ga disangkal juga membantu Eve, Eve berusaha mencari siapa pembunuhnya, sebelum dia merebut nyawa orang tak bersalah.

Karena di awal - awal saya ada kata sedikit spoiler, jadi bagi yang ga doyan spoiler bisa diskip bagian ini :D : Berikut spoiler yang juga menceritakan perkembangan cerita seri In Death setelah buku terjemahannya yang terakhir keluar (silakan di-bold jika ingin membaca spoiler) :

- Peabody sudah bukan opsir lagi. Sekarang jabatannya naik jadi detektif tingkat tiga atau tingkat paling dasar. Hubungannya dengan Ian McNab yang suka memanggilnya She-Body sudah official jadi pacar :D
- Roarke akhirnya tahu masa lalunya yang diceritakan di Portrait in Death (buku 16). Dimana ibunya yang asli (bukan ibu yang selama ini dikenalnya) tidak membuangnya, tapi justru dibunuh oleh sang ayah. Dan keluarga ibunya masih ada.
- Bagi yang kangen sama adegan cek -coknya Summerset dan Eve, sayangnya ga akan menemuinya disini. Karena Summerset lagi liburan. Jadi kurang garam ya kalo ga ada Summerset :))


Big Jack sendiri tidak ada bedanya dengan buku In Death yang lain, tapi tetap menarik untuk dibaca. Alurnya masih sama,ada pembunuhan, Eve menyelidiki kasus, tapi juga dibumbui dengan kehidupan pribadinya bersama Roarke dan juga orang - orang sekitarnya. Cuma, apa sih yang bikin In Death punya pembaca setia bahkan bukunya masih ditunggu aja walau sudah 30 lebih? Yang pasti kasus tiap bukunya selalu beragam, pelakunya juga jarang bisa ketebak, dan kalaupun sudah ketebak, pasti nangkepnya sulit. Lalu karakter - karakternya yang menarik untuk diikuti ceritanya. Seperti Eve yang masih dihantui mimpi masa lalunya, dirinya yang masih berusaha untuk menyeimbangkan kehidupan pribadi dan kerja. Lalu tentu ada Roarke, yang mungkin kata orang too perfect, tapi bagi saya, saya menyukai rasa cinta dan perhatiannya pada Eve. Roarke masih bossy di buku ini, tapi dia sudah bukan sekedar suami buat Eve. Mereka udah jadi partner sekarang, dan saling bantu saat ada kasus. Jika Eve adalah "the woman behind the badge", maka Roarke adalah "the man behind Eve". Dibalik wanita yang mandiri ada pria yang selalu siap menyokongnya ;D.

Ga cuma Eve dan Roarke daya tarik dari Big Jack, tapi juga tokoh -tokoh lain seperti partner polisi Eve, Peabody. Lalu polisi - polisi kepolisian New York, seperti Feeney, McNab, Baxter, Trueheart, Dr Mira,dan lain - lain. Tak lupa juga ada tokoh - tokoh dari seri pertama Remember When, Hot Rocks. Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, ga perlu baca Hot Rocks untuk mengerti Big Jack. Tapi siapa tau kalo penasaran,boleh lah baca Hot Rocks dulu biar lebih paham sama kasus di Big Jack. Penggemar serial In Death sudah pasti wajib baca yang satu ini, sementara pembaca yang masih awam bisa memulai baca buku nomer 1 yang judul terjemahannya "Telanjang Dalam Kematian". Saya denger bukunya sudah langka, tapi mungkin masih ada di beberapa tokbuk. Atau mau pinjem punya saya? ;D
Tautan
Favorite Quote :


- Blood didn't tell. DNA didn't make us. We made ourselves, if we had any guts we made ourselves.

- .... a look at Roarke in the morning was as delicious a jolt to the system as the strong black coffe sweetened with honest-to-God sugar. It was hardly a wonder the lieutenant was so slim. She had to burn up the calories just looking at him. Considering that, Peabody snatch a couple extra slices of bacon and calculated she might actually lose weight during the briefing.
(Dasar Peabody, udah punya McNab masih suka ngelirik Roarke. Dan lebay banget cuma ngelirik doang bisa kurus saking deg - degannya :)))

- Do you remember the first time we made love?" He touched his lips to hers as he said it. "We rode up in the elevator like this and couldn't keep our hands off each other, couldn't get to each other quick enough. I was mad for you. I wanted you more than I wanted to keep breathing. I still do." He deepened the kiss as the elevator doors opened. "It's never going to change."

(ada fansnya Roarke yang kipas - kipas disini X) )

Rating Cerita :

Sensualitas
Cuma ada dua adegan ranjang aja, tapi itu juga yang ga eksplisit. Juga ga berbunga - bunga banget. Tapi, karena ini Roarke sama Eve, yah bikin saya tetep deg-degan. Kayaknya Roarke berdiri ma senyum doang juga sudah bikin saya deg - degan #lebay.

Aman dibaca pada saat puasa? Aman - aman aja.Saya baca ini pas puasaan kok, hehehehe.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...