Senin, 03 Februari 2014

Review : The Beekeeper's Apprentice oleh Laurie R. King




Judul : Gadis Sherlock Holmes
Judul Asli : The Beekeper's Apprentice
Pengarang : Laurie R. King
Penerjemah : Ingrid Djiwani Nimpoeno
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Qanita

Tebal :  428 halaman
Diterbitkan pertama kali : Desember 2011

Format : Paperback
Target Pembaca: Remaja

Serial : Mary Russell and Sherlock Holmes, buku ke-1
Genre : Misteri
Web Pengarang : Click Here
Beli di :  Bukabuku


Sinopsis :

"Astaga, makhluk ini ternyata bisa berpikir," seru Sherlock Holmes setelah mengamati profil Mary Russell. Gadis itu begitu cerdas dan pandai. Membuat seorang Sherlock Holmes ternganga. Mulailah Holmes menjadikan Mary muridnya, dan bersama-sama mereka menangani berbagai kasus rumit. Mulai dari penculikan putri senator, usaha peledakan bom, dan pembunuhan.

Namun, di saat perasaan antara guru dan murid itu berkembang, bahaya mengancam. Seorang kriminal kelas kakap mengincar nyawa semua yang dicintai Holmes. Termasuk Mary.

Holmes mati-matian berusaha melindungi gadis itu, sembari terus melakukan penyelidikan untuk menemukan si kriminal. Siapa orang itu sebenarnya? Mungkinkah dia punya hubungan dengan masa lalu Holmes, dan berkaitan dengan semua orang yang pernah dikalahkannya?

 Review



...dengan bebas kuakui bahwa Holmes-ku bukanlah Holmes-nya Watson. Untuk melanjutkan analoginya, perspektifku, teknik sapuan kuasku, penggunaan warna dan nuansaku, berbeda total dengan Watson. Subjeknya pada dasarnya sama, tapi mata dan tangan senimannyalah yang mengubahnya.
- M.R.H


Saya akui, saya belum pernah baca sama sekali kisah Sherlock Holmes karya Sir Arthur Conan Doyle. Saya mengenal Sherlock lewat Detektif Conan karya Aoyama Gosho, komik yang mewarnai masa SD sampai saat ini (fyuuh bayangin berapa lama itu XD?) . Lalu semakin tertarik setelah menonton Sherlock versi BBC, yang ah, kalau kalian tahu saya, pasti tahu siapa pemerannya. Apa? Ngga tahu? Baiklaah, diperankan oleh Benedict Cumberbatch dengan suara super semriwingnyanya. Dan walau wajahnya jelas kalah ganteng dengan Tom Cruise dan Brad Pitt, bagi saya dia tetap tampan dan mempesona. 


Oke, cukuplah fangirling saya terhadap Ben (yang dengan kejamnya dijuluki Timun Inggris. Ah, mereka yang tidak tahu pesona Bang Ben #kibasponi). Perkenalan saya dengan Sherlock Holmes kali ini dilanjutkan lagi bukan melalui Conan Doyle, tapi oleh Laurie R King, yang mengarang The Beekeeper's Apprentice (diterjemahkan disini menjadi Gadis Sherlock Holmes) , kisah Mary Russell yang ceritanya adalah lawan Holmes yang seimbang. Mungkin Sherlockian sejati (mungkin loh yaaa) berpikir jika Irene Adler adalah satu - satunya wanita, "The Woman" yang bisa membuat Sherlock mengaguminya (seperti yang tentu terjadi di versi BBCnya). Namun King berpikir lain, karena 12 tahun setelah pensiun, Holmes mengangkat Mary Russell yang baru berusia 15 tahun sebagai muridnya.

Tentu saja ada faktor "ewwww" disini, saat mengetahui beda umur Sherlock dan Mary adalah 39 tahun. Apalagi saat membaca ini, saya juga barusan baca "open letter"nya Dylan Farrow terhadap Woody Allen. Oh, tidak tidaaaak, saya berusaha menyingkirkan pemikiran "Sherlock is pedophile" ketika baca buku ini.  Sungguh >_> . Jadi, walau ada ketidak nyamanan itu, saya mengikuti kisah Mary Russell yang dilatih oleh Holmes, mulai dari pelatihan deduksi, percobaan kimia, sampai dengan bagaimana cara menyamar yang ahli. Awalnya kasus yang ditangani Sherlock dan Mary terlihat acak dan tidak berhubungan, dimulai dari pencurian putri sang senator Amerika. Namun saat sebuah bom melukai Sherlock dan Mary mendapat ancaman serupa, mereka sadar bahwa kasus - kasus yang mereka tangani didalangi oleh seseorang yang rupanya ingin balas dendam pada Sherlock.

Saya entah merasa, jika The Beekeeper's Apprentice adalah "surat cinta" King terhadap Sherlock Holmes. Sebenarnya banyak hal yang lumayan mengganggu saya saat membaca buku ini. Yang pertama, tentu beda usia Sherlock dan Mary yang sangat besar itu. Bukannya hubungan itu tidak boleh sih, dan yah "cinta itu tidak pandang usia", cuma rasanya tetap saja aneh jika dibaca oleh pembaca modern. Mary sendiri terlalu dewasa untuk ukuran orang sepertinya, seperti wanita umur 20an alih - alih masih 18an . Ketika membaca buku in, seolah bukan suara Mary yang saya dengar, tapi suara King sendiri. Seolah King memposisikan dirinya sebagai Mary. Kalau begitu, kenapa juga harus membuat Mary amat sangat muda? Menurut saya sih ya, mungkin disengaja supaya pas dengan setting waktunya, yaitu era Perang Dunia ke-1. Dimana saat itu sepertinya sih beda usia cukup besar tidak dipermasalahkan. Hanya, membayangkan Sherlock yang sudah 60an dengan Mary yang masih muda kinyis- kinyis. Ow, ow, ow -.- .

Yang kedua adalah, betapa Mary sangat meremehkan John Watson! Bahkan Sherlock juga ditulis mengejek Watson. Oke, saya nonton versi BBC, dan tahu betapa ngebeteinnya perlakuan Sherlock ke John kadang - kadang. Tapi saya bisa menangkap kalau John adalah sahabat Sherlock yang paling dekat. Saya merasa King mengganti peran Watson dengan Mary. Sekali lagi, buku ini memang ditulis dari sudut pandang Mary, tapi jujur saya tidak menyukai sikap merendahkan Watson yang ada di buku ini. Seolah King selama ini tidak puas dengan penggambaran Watson di karya - karya Doyle.

Lalu, ini sebenarnya cuma dari saya aja, saya kurang suka dengan aspek agamisnya yang lumayan banyak di buku ini. Ada bagian yang menceritakan Mary dan Sherlock yang kabur ke Palestina, Jerussalem untuk memulihkan diri dan juga Mary yang mengutip kalimat - kalimat dari kitab sucinya. Jujur sih, saya lebih memilih kalau buku ini tidak terlalu religius, terutama Mary ini sangat taat pada agamanya. Bukan berarti saya ngga suka orang Yahudi (Mary is jewish, anyway), tapi saya lebih suka baca buku yang netral - netral saja ^-^.

Eh, tapi bagi saya buku ini tetap menarik kok, makanya saat Mbak Maria dan Mbak Fanda menghelat ajang Laurie R King Read-a-Long, saya ikutan :D. Misterinya sendiri cukup pelik dan enak buat diikuti. Walau pelakunya sendiri sebenarnya kalau kita mau mikir, ngga sulit - sulit amat untuk menebaknya. Apalagi King sendiri sebenarnya sudah memberi clue di awal - awal. Tapi sama kayak Mary, dan seperti kata Sherlock " we see but not observe". Disini perjuangan Mary untuk memecahkan kasus juga ngga mudah, dan walau saya kurang bisa simpati ke dia, ada saat - saat dimana Mary mempertanyakan apakah dirinya "worth it" buat Sherlock yang membuat saya merenung.  

Terjemahannya sendiri sangat enak dibaca, dan syukurlah minim typo :D. Tidak ada penggunaan kata - kata yang aneh dan bikin saya mesti cek KBBI hanya untuk tahu apakah kata yang dipakai eksis. Tulisannya terasa mengalir, walau bagi saya alurnya kadang bisa sangat lambat dan cenderung bikin bosan. Saya aja sampai ketiduran dua kali saat membaca buku ini :P. Oh ya, saya sendiri sempat dimention oleh pengarangnya di Twitter , bahwa beliau juga menulis The Beekepeer's Apprentice ini dari sudut pandang Sherlock Holmes, yaitu Beekeeping for Beginners yang mengisahkan pertemuan pertama Sherlock dengan Mary. Sayang sih adanya cuma ebook saja, semoga nanti bisa diterjemahkan ya disini :D




Verdict

The Beekeper's Apprentice memang bagi saya lumayan banyak kekurangannya, tapi secara overall adalah bacaan yang cukup memuaskan. Sherlockian atau bukan, menurut saya rugi rasanya kalau dilewatkan. Apalagi seri Mary Russell ini juga sudah diterbitkan di Indonesia oleh Qanita sampai buku ke-4nya (The Moor). Dan animo fansnya Mary kayaknya sih masih besar aja, terbukti dengan serial ini sudah mencapai buku ke-12 (Garment of Shadows) dan buku ke-13 akan terbit tahun 2015.

Oh ya, jangan lupa juga main - main ke websitenya Laurie R.King, karena beliau ini tampaknya sangat suka berinteraksi dengan pembacanya. Dan, ada pendahuluan di buku ini yang menyiratkan bahwa beliau itu "mengedit" jurnal seseorang untuk kemudian diterbitkan jadi The Beekeeper's Apprentice. Nah, siapa hayo seseorang itu? ;)


Buku ini dibaca dan direview dalam rangka "Laurie R King Read A Long" dan Mystery Books Club yang diadakan oleh Mbak Fanda dan Mbak Maria :)




Favorite Quote
Madam tidak ada pengkhianatan dalam kebenaran. Mungkin ada rasa sakit. Tapi jalan termulia bagi manusia adalah bila dia mau menghadapi dengan jujur semua kemungkinan kesimpulan yang dibentuk oleh serangkaian fakta

Rating Cerita



6 komentar:

  1. Hihii.. aku lebih suka buku ini dibanding Sherlock Holmes versi Conan Doyle. Aneh sih emang, tapi di versi Conan Doyle, Watson keliatan memuja Holmes banget sedangkan si Mary di versinya Laurie R. King lebih blak-blakan ngomongin Holmes. Cuma ya itu, aku jg terganggu sedikit sih dengan aspek agamanya. Di buku kedua, aspek agamanya kental banget. Tapi di buku ketiga, walau judulnya ada Maria Magdalenanya, isinya justru nggak terlalu berbau agama. Yang seterusnya tau deh.. Nggak yakin bisa baca lanjutannya karena sepertinya Qanita ogah-ogahan nerbitin dan masarinnya. Hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Widiiih, bayanganku akan Sherlock emang cuma dari BBC sih, dan keliatan kalau John suka jengkel sama Sherlock XD.

      Mungkin karena Mary ambil teologi yah, sama dari nama dia saja sudah "Mary".

      Semoga nanti lanjut deh, kayaknya juga fansnya disini ngga banyak :'0

      Hapus
  2. Eh, serius, buku no. 4-nya udah terbit yah?
    King memang suka tiba2 mention ya? hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Loh, aku kira udah, soalnya di buku ini ada tulisan serial bukunya sampe "The Moor"
      Kudu diedit nih :P

      Iya, aku kaget dimention gitu, lagian dia aktif juga di Goodreadsnya

      Hapus
  3. aku nggak tamat waktu baca buku ini Ren. Sayang :(
    Menurutku terlalu lamban ceritanya

    BalasHapus
  4. Huh aku juga nggak suka Watson diremehkan banget di buku ini. Jadi pengen coba baca House of Silk, semoga lebih bagus.

    BalasHapus

Saya menghargai setiap komen/opini yang diberikan. Silakan untuk tidak setuju dengan review/opini saya tapi mohon disampaikan dengan sopan ya :)
Saya berhak menghapus komentar yang tidak nyambung dengan isi blog atau spamming (jangan sertakan link blog kamu/ link apapun di kolom komentar, kecuali untuk giveaway/reading challenge).
Karena banyaknya komen anonim tanpa identitas, maka opsi anonim saya tiadakan.
Terimakasih sudah mau mengunjungi dan meninggalkan komentar di blog saya :).


I value your comment/opinion. You can agree to disagree with my post/opinion, but please write your comment in good manners.
I have a right to delete your comment if its out of topic and/or spam (please do not include your blog/any link, except for giveaway/reading challenge).
Because of so many anonymous comment without identity, I disable the option.
Thank you for your visit and comment :).

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Just Curious Where U From ;)