Rabu, 05 Maret 2014

Review : Born in Blood oleh Alexandra Ivy

Judul  : Born in Blood
Pengarang : Alexandra Ivy
Bahasa : Inggris
Penerbit : Kensington

Tebal :  352  halaman
Diterbitkan pertama kali : 31 Desember 2013

Format : Mass Market Paperback
Serial : The Sentinels
Target Pembaca: Dewasa


Genre : Paranormal Romance
Web : Click Here
Buy Links : Bookdepository, Periplus, Open Trolley


Sinopsis


In a stunning new series, Alexandra Ivy lures readers into the dark, seductive world of the Sentinels--humans outcast by their hidden abilities, treading the line between life and death, good and evil, pleasure and pain. . .

In The Heart Of Darkness

Sergeant Duncan O'Conner has seen it all before. Beautiful erotic dancer, murdered at home, no suspect, no motive. But there's one clue: she's missing her heart. It's enough to make the hard-bitten Kansas City cop enlist the help of a necro--one of the dead-channelling freaks who live in the domed city of nearby Valhalla. It's a long shot, but desperate crimes call for desparate measures.


Lies The Kiss Of Death

Unlike the other "high-bloods" in Valhalla, Callie Brown considers her abilities a gift, not a curse. But when she reads the dancer's final thoughts, she senses a powerful presence blocking her vision. This is no ordinary homicide. This is the work of a legendary necromancer who controls souls. A ravenous force that will put Callie's skills to the test, O'Conner's career at risk, and both their hearts on the line. . .literally.


Review 

Born in Blood adalah buku pertama dari serial terbaru karya Alexandra Ivy, The Sentinels. Nah, para pembaca romance, terutama yang ngikutin terjemahan, pasti tahu lah ya kalau bukunya Alexandra Ivy sudah diterbitkan disini. Dastan sudah berbaik hati ngenalin seri Guardians of Eternity yang lumayan banyak fansnya, dan untuk sebuah novel pararom cukup bagus lah. Hehe, saya emang rada picky buat genre satu ini, maklum genre favorit :P. Di serialnya yang terbaru ini, syukurlah tidak ada yang namanya vampire atau werewolf. Udah bosan saya! #bohongsebenarnya :P . The Sentinels sendiri memiliki cerita yang rada - rada mirip X-Men. Jadi cukup unik, tentunya ditambah dengan beberapa cliche genre pararom.


Di dunia The Sentinels, manusia terbagi menjadi dua kategori. Mereka yang hidup secara normal (alias Norms) dan mereka yang dikarunia kemampuan special, dikenal dengan nama "high bloods". Sayangnya, banyak yang tidak menyukai high bloods, dan bahkan kebencian terhadap high bloods ini suka kelewatan. Tema yang diangkat sebenarnya sudah ngga baru lagi, tapi relevan dengan keadaan di dunia nyata. We fear what we can't understand. Tokoh utama Born in Blood adalah Duncan O'Conner, seorang polisi yang sedang bad mood karena mantan istrinya selingkuh dan barusan menikah. Saat sedang mabuk, Duncan harus pergi ke sebuah tempat dan menyelidiki kasus yang aneh. Si korban kehilangan jantungnya. 

Dalam menyelidiki kasus itu, Duncan mendapat bantuan dari Valhalla, yaitu tempat para high bloods tinggal. Seorang diviners bernama Callie Brown, mempunyai kemampuan untuk berbicara dengan orang mati. Layaknya para Norms, Duncan juga berburuk sangka pada Callie, dan Fane, pria yang menjadi Sentinel (aka bodyguard) Callie. Tapi, namanya juga cowok normal yang ngelihat cewe cantik, Duncan juga sebenarnya suka deg-degan kalau melihat Callie. Saya sempat khawatir Duncan ini bakal jadi cowo nyebelin, yang bertingkah kasar sama cewenya.

Untungnya sih, Duncan ini tipikal cowo charming. Ngga butuh waktu lama buat Duncan untuk mengesampingkan kebenciannya pada high blood, dan terutama Callie. Malah dia ngaku kalau dirinya bener - bener butuh Callie Hubungan Duncan ma Callie emang based on lust sih pertamanya. Salah satu cliche pararom lagi, hehehe. Tapi ngeliat Duncan ngga sungkan - sungkan membujuk Callie biar mau pacaran dengan pria itu, bikin saya seneng. Karena malas aja akhir - akhir ini kalau baca romance, selalu cowonya yang pura - pura ngga mau, tapi aslinya cinta. Bener - bener typical -__-"!!

Nah, karena romance ngga lengkap tanpa cowo brengsek, kali ini penjahatnya lah yang beneran brengsek. Sayangnya sih, karakterisasinya cukup dua dimensional, alias gampang dilupakan. Ini sih semacam spoiler, karena penjahatnya ternyata ada hubungan sama Callie. Cuma, saya merasa kayak dipaksakan aja hubungan antara keduanya :(. Dan, satu lagi cliche pararom, kudu ada gerombolan cowok - cowok super macho macam Black Dagger Brotherhood, yang di buku ini disebut The Sentinels. Ini salah satu cliche yang jujur sih, udah kebanyakan dipake, tapi anehnya, fansnya masih cukup banyak. Duncan sendiri bukan bagian dari The Sentinels, jadi cukup fresh juga ngelihat ada cowo lain yaitu Fane, yang peduli sama Callie. Tapi tenang aja, ngga ada cinta segitiganya :D. Karena hubungan Fane sama Callie itu semacam platonic, kayak cinta seorang kakak ke adiknya.

Karakter - karakter lainnya cukup menarik. Beberapa karakter kayaknya bakal dibikin ceritanya sendiri, kayak si Fane. Di buku ini dijelasin kalau Fane dan teman Callie, yaitu Serra sama - sama saling tertarik. Ini bisa jadi dasar yang bagus buat buku selanjutnya, karena saya tuh suka kalau karakter - karakternya udah kenal lama dan proses untuk jatuh cintanya ngga instan. Lalu ada juga The Mave, pemimpin Valhalla yang kayaknya punya sejarah dengan Tagos. Tagos ini bukan nama orang, tapi gelar buat para pemimpin The Sentinels, dan namanya adalah Wolfe. Saya jadi ngga sabar buat tahu hubungan antara Mave dan Wolfe (dan nama mereka juga berima, hahaha XD)

Penggambaran dunianya sendiri cukup gampang dimengerti, walau ada bagian - bagian yang saya kurang paham. Mungkin karena saya ngga baca novella yang jadi prequel serial ini. Gaya penulisannya juga gampang dicerna, pokoknya ngga yang harus buka kamus setiap saat deh :P. Sayangnya sih, saya ngerasa Alexandra Ivy nulis adegan ranjang di buku ini tuh, nanggung banget!! Yang pertama sih, okelah ya, bikin kipas - kipas X). Tapi yang selanjutnya, selalu deh, udah mau panas, langsung ganti ke adegan lain. Beneran bikin bete =.= . Selain itu, dalam satu bab suka ganti - ganti sudut pandang cerita. Bisa aja awalnya cerita dari sudut pandang Duncan, lalu dalam beberapa halaman ganti ke sudut pandang penjahatnya, terus nanti ganti ke sudut pandang yang lain. Ini semua dalam satu bab aja.

Terus, dari segi cover. Yeah, saya ini ngga malu buat ngakuin kalau saya adalah fans Paul Marron. Dan alasan saya request di Netgalley dan baca ini karena ada Paul Marron di kavernya X)). Sayang sih, penggambaran model ceweknya tuh salah. Karena di buku Callie tuh dideskripsikan berbadan mungil dan model rambutnya spiky. Sementara di cover, malah kayak supermodel dengan baju sexy dan rambut megar - megar :|. Saya sih berharap agar penerbit tuh seengganya baca dulu lah ya ceritanya biar dapat gambaran karakter yang pas. Apalagi salah satu penerbit di Indonesia yang suka asal covernya (uhuk, Dastan, uhuk)

Walau begitu, saya tetap bakal baca kelanjutan serial ini kok. Karena kan ada beberapa karakter yang bakal diceritain, dan pastinya bakal banyak yang bisa dieksplorasi dari dunia para high bloods. Kalau kamu fans genre pararom dan juga udah pernah baca bukunya Alexandra Ivy, serial ini ngga kalah serunya dengan Guardians of Eternity, apalagi kalau udah bosan baca tentang vampire dan werewolf. Mari berharap agar Born in Blood ini akan diterjemahkan dan diterbitkan disini ya :)


Note : e-ARC copy disediakan oleh Kensington dan NetGalley

Story & Sensuality Rate

Rating saya untuk Born in Blood adalah :



Untuk kadar sensualitasnya :


 adegan olahraga tempat tidurnya sendiri cukup eksplisit, walau ga terlalu banyak sih :D (ples, suka dipotong seenak jidat sama pengarangnya :| )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Saya menghargai setiap komen/opini yang diberikan. Silakan untuk tidak setuju dengan review/opini saya tapi mohon disampaikan dengan sopan ya :)
Saya berhak menghapus komentar yang tidak nyambung dengan isi blog atau spamming (jangan sertakan link blog kamu/ link apapun di kolom komentar, kecuali untuk giveaway/reading challenge).
Karena banyaknya komen anonim tanpa identitas, maka opsi anonim saya tiadakan.
Terimakasih sudah mau mengunjungi dan meninggalkan komentar di blog saya :).


I value your comment/opinion. You can agree to disagree with my post/opinion, but please write your comment in good manners.
I have a right to delete your comment if its out of topic and/or spam (please do not include your blog/any link, except for giveaway/reading challenge).
Because of so many anonymous comment without identity, I disable the option.
Thank you for your visit and comment :).

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Just Curious Where U From ;)