Rabu, 30 Oktober 2013

Surat untuk Mr Aravind Adiga Tentang.. The White Tiger Tentu Saja!


Kepada
Mister Aravind Adiga
Pengarang The White Tiger
Yang memenangkan Man Booker Prize tahun 2008
(ngomong - ngomong, selamat untuk Anda sebelumnya!)


Selamat pagi Mister Aravind ... atau Mister Adiga? Enaknya saya memanggil anda dengan nama depan atau nama belakang Anda? Kalau melihat budaya barat, kebanyakan orang memanggil dengan nama belakang. Demi kesopanan. Dan karena saya sopan, saya akan memanggil anda dengan nama Mister Adiga. Ya, kami orang Indonesia, terutama orang dari suku Jawa (walau saya yakin dari suku lain juga sama), diajarkan tata krama (atau unggah ungguh dalam bahasa Jawanya). Selain itu demi keringkasan surat saya ini untuk anda.


para entrepeneur dicetak dari tanah liat setengah matang...

Oh, ya, sangat kasar sekali saya bersikap begitu akrab pada Anda, namun lupa memperkenalkan diri sendiri. Nama saya Ren Puspita. Cukup panggil saya Ren. Saya mengirim surat ini pada anda karena ingin mengatakan apa pendapat saya tentang buku anda, The White Tiiger. Saya salah satu anggota Blogger Buku Indonesia, sekumpulan blogger yang kerjaannya membahas buku yang mereka baca, Mister. Tentu saja jika kami tidak sibuk dengan obralan atau menimbun buku. Iya, Mister Adiga, saya tahu ini kedengarannya tidak sopan. Apa boleh buat, Balram dalam buku anda membuat saya seperti ini. Kritis yang disampaikan dalam bahasa yang sarkastis. Anda akan terkejut kalau tahu beberapa hal dalam diri saya, sedikit banyak mirip Balram. Mengkritisi keadaan di sekitarnya, tapi hanya bisa diam. Bedanya dengan Balram, saya tidak ada keinginan untuk membunuh majikan saya. Dan saya bukan supir. Oh, dan saya juga tinggal di negara yang jauh dari India.

..bunuhlah seorang pria dan kau akan merasa bertanggung jawab atas hidupnya - bahkan posesif

Pernah dengar tentang Indonesia, Mister?  Saya merasa India dalam buku anda juga mirip dengan negara saya. Budaya korupsinya tinggi, Mister! Dan juga suap - menyuap. Karena itu saya tidak heran dan kaget membaca tentang penyuapan di negara Balram. Dan sama seperti Balram, saya juga tidak berdaya untuk menghentikannya. Balram bilang dirinya merasa seperti hidup di kandang ayam, Mister. Yah, saya pernah melihat kandang ayam yang dibawa di bak sebuah truk dan betapa tidak nyamannya ayam - ayam itu pasti, tapi mereka tidak punya pilihan. Seperti itu juga hidup di Indonesia, terutama di ibukotanya, Jakarta. Saya tinggal di Jakarta layaknya hidup di kandang ayam, tapi tidak mau pergi. Saya iri pada Balram yang di akhir buku anda bisa keluar kandang. Sungguh.

.. hanya ada dua nasib: makan atau dimakan.

Baiklah, saya sudah mulai melantur sepertinya. Anda akan berpikir jika mungkin Anda membaca surat ini, dan melihat surat ini di blog saya, Anda akan berpikir saya bukan tipe pembaca buku - buku berat. Ya, memang bukan Mister. Life is too short, itu salah satu alasannya. Alasan omong kosong mungkin menurut Balram - sembari dia mengutip apa kata Pinky Madam :"Omong Kosong Besar" -  karena hidup itu penuh resiko, dan membaca buku berat yang bukan tipikal saya juga resiko. Saya membaca kisah Balram, karena Blogger Buku Indonesia (saya singkat jadi BBI saja) memutuskan tema baca bersama bulan Oktober adalah finalis dan pemenang Man Booker Prize. Anda akan terkagum - kagum melihat kami, Mister Adiga. 

seandainya setiap orang bisa meludahkan masa lalu dengan mudahnya.

Jadi, saya memutuskan untuk membaca buku Anda. Itu juga karena cuma buku Anda yang ada di lemari buku saya. Terlihat menonjol dengan sampul putihnya.. lebih menonjol lagi karena sinopsisnya, Mister.  Di awal buku saja saya sudah dibuat bingung dengan Balram yang mengajak bicara PM China. Kenapa harus China? Dan pertanyaan saya pun terkuak sedikit demi sedikit. Kita berdua sama - sama tahu Mister kalau China sekarang memang sedang jaya - jayanya. Dan saya pun tahu, Balram ingin menyindir kehidupan di India. Kehidupan masa kecilnya di Kegelapan, sebagai supir majikannya, Mr Ashok di New Delhi dan akhirnya di Bangalore, tempat dia menjadi "Harimau Putih". Yah, setelah membunuh majikannya, Mr Ashok (saya rasa ini bukan spoiler Mister. Nyatanya di bagian belakang buku Anda memang tertulisnya seperti itu!).

.. 99,9 persen dari kami semua terjebak dalam Kandang Ayam seperti ayam - ayam malang di pasar ayam.

Jujur saya agak pusing membaca kisah Balram, Mister Adiga. Tapi mengasyikkan! Saya suka cara bercerita Balram. Semuanya disajikan dalam alur non linear, sepotong demi sepotong. Masa lalu bertabrakan dengan masa depan. Penuh bahasa sarkastis nan kritis, sesuatu yang saya sangat pahami (yah, karena saya sadar, saya ini juga suka nyinyir, Mister. Oh, itu kata lain dari "menyindir", jika Anda bingung.). Teman sesama blogger saya yang juga ikut membaca buku ini bilang, tidak tahan dengan keburukan - keburukan yang tiada henti dalam kisah Balram. Saya sendiri tidak akan bilang semuanya terasa buruk bagi Balram, bukannya dia akhirnya menjadi entrepeneur seperti yang dia inginkan? Walau caranya juga salah, Mister. Membunuh majikan sendiri, lalu akhirnya terjerumus dalam urusan sogok - menyogok ketika dia sukses. Lingkaran setan yang tiada henti. Tapi Balram jelas beda dari Mr Ashok 'kan? Mr Ashok tidak berdaya menghadapi suap dan tidak mau keluar dari kandang ayam. Balram sebaliknya.

.. apa yang diimpikan orang kaya? Menurunkan berat badan dan kelihatan seperti orang miskin.

Selama tujuh malam, Balram mengajak saya (dan juga pembaca lain yang baca buku Anda tentunya) menelusuri kisah hidupnya Dari orang polos menjadi orang licik penuh perhitungan. Kadang saya berpikir Mister, pernahkah Balram menganggap kecerdasan dan kekritisannya sebagai "kutukan"? Seandainya dia tidak cerdas, mungkin dia akan berakhir sama seperti kakaknya Kishan. Menjadi manusia laba - laba di warung teh. Mungkin dia akan berakhir sama seperti ayahnya, menjadi penarik rickshaw, dan lalu menikah karena paksaan si nenek, Khusum. Mungkin dia akan terus tinggal di Kegelapan. Mungkin dia tidak perlu jadi pembunuh majikannya sendiri, Mister. 

Buku revolusimu ada dalam perutmu, pemuda India. Keluarkan dan bacalah.

Lalu saya berpikir lagi Mister Adiga, kekritisan Balram adalah "anugerah"nya. Karena sebenarnya tiap orang punya pilihan, Mister. Saya rasa, kakak dan ayah Balram juga punya pilihan, dan mereka memilih untuk tetap hidup seperti apa yang sudah digariskan untuk mereka. Balram akan bernasib sama, seandainya tidak ada inspektur yang menyidak sekolahnya, dan lalu menjulukinya "Harimau Putih", membuka cakrawala pikirannya. Kadang, selain pilihan, orang juga membutuhkan sebuah titik balik. Sesuatu peristiwa yang membuat kita memilih apa yang terbaik untuk diri kita. Saya rasa, itu pesan yang ingin Anda sampaikan pada saya lewat Balram. Tentu saja, tak lupa Anda sisipkan realita kehidupan di India, Mister. Membuat saya merasa, Indonesia masih lebih baik daripada negara Anda.

Saya sudah terbangun sementara kalian semua masih tertidur dan itulah satu - satunya perbedaan diantara kita

Ah, saya rasa surat ini sudah terlalu panjang sepertinya Mister Adiga. Sekali lagi, saya ingin mengucapkan terimakasih pada Balram yang sudah berkisah pada saya. Saya harap hidupnya sebagai entrepeneur akan sukses, dan keberuntungan selalu menyertainya, jika para polisi itu tidak menemukan dia pada akhirnya dan mengadilinya karena membunuh Mr Ashok. Walau Anda menulis yang buruk - buruk tentang India, saya ingin suatu saat kesana Mister. Teman saya, A.s.Dewi bilang di Bangalore banyak buku - buku murah. Dan itu sudah membuat Bangalore naik pangkat menjadi surga di mata saya, melebihi Sungai Ganga dan Taj Mahal. Mungkin setelahnya saya bisa mampir ke tempat Anda di Mumbai, dan saling membandingkan - sembari makan samossa dan minum lassi- lebih "nyinyir" siapa? Saya? Atau Balram, Mister Adiga?

Salam,
Dari Ren
Seorang Blogger Buku
Yang Menulis Surat Ini di Kantor
(Saya tahu ini kebiasaan buruk, tapi menyenangkan!)

P.S : Anda mungkin mengira - ngira, berapa rating yang akan saya beri untuk buku Anda. Mari kita rinci Mister, dan sebelumnya, saya selalu menilai buku - buku yang saya baca dengan banyaknya mangkuk mie. Aneh memang. Jadi, satu mangkuk mie untuk Anda, karena tanpa Anda, Balram tak akan tercipta. Satu mangkuk mie untuk saya... hei, saya kan sudah meluangkan waktu untuk baca buku Anda! Satu mangkuk mie untuk Balram atas "pemikirannya" yang menghibur. Dan satu mangkuk mie untuk Jamal, salah satu teman saya yang berbaik hati mengirimkan buku Anda pada saya. Gratis.

P.S.S : Ada beberapa hal yang mengganggu saya, Mister. Dan itu penjabaran Balram mengenai kaum Muslim. Maaf Mister, Adiga saya tidak terima. Katakanlah saya oversensitif, tapi tingkah Balram pada Ram Persad, supir pertama Mr Ashok yang seorang Muslim, cukup bikin saya geram. Saya harap Anda akan mengerti.

P.S.S.S : Bagi pembaca surat saya yang ingin tahu lebih banyak tentang The White Tiger karangan Mister Aravind Adiga yang menyenangkan ini, bisa melihat ke website penerbit yang sudah berbaik hati menerbitkan kisah Balram, yaitu Penerbit Andi . Oh ya, saya lupa mengatakan pada Anda, Mister. Anda akan tersenyum saat saya bilang, jika sang penerjemah, Rosemary Kesauly dan editornya Benedicta Rini W. telah memberikan semua upaya terbaiknya dalam menceritakan ulang kisah Balram. Sebenarnya mereka juga layak mendapatkan semangkuk mie, sayangnya persediaan mangkuk saya sudah habis.

10 komentar:

  1. Ahahaha.. Suka banget dengan caramu menulis review ini Ren.. White Tiger ini salah satu pemenang Man Booker yang aku suka dan aku pahami tulisannya, mungkin karena humor sarkastisnya cocok kali ya.. Hehehe.. Great Review!!!

    BalasHapus
  2. pas selesai baca ini aku langsung berasa laper pengen makan mie ren! hahaha...kayaknya buku ini emang menarik ya...dan tiap baca buku tentang india, entah kenapa selalu membandingkan dengan indonesia :)

    BalasHapus
  3. kebetulan aku lagi baca bukunya inih.. so, maaf hanya membaca review mu sekilas, ren. soalnya takut ga mau baca lagi haha,,,

    BalasHapus
  4. Saya minta mie-nya doooong, kan pangsit mie kesukaan sayaa! #eh #salahfokus *dikepruk mangkuk mie sama Balram*. Terus terang kalo aku, lebih milih tetap miskin kayak kakak Balram daripada jadi kaya tapi dengan cara yg jahat. Tapi bisa dimengerti sih bahwa menghadapi kenyataan kadang sulit bagi orang yg dianugerahi kekritisan seperti Balram. Dalam diri Balram, anugera itu akhirnya malah membuatnya jadi penjahat. Kaya, sukses, tp tetap penjahat. :(

    BalasHapus
  5. baru kelar baca buku ini saat istirahat makan siang tadi. membaca buku ini... uhm. gimana ya. tersiksa. mungkin karena ceritanya yang berat, mungkin juga gaya berceritanya yang bisa dibilang bukan selera saya. tapi setelah selesai membacanya, ada perasaan lega, puas, dan juga rasa syukur, bahwa setidaknya indonesia jauh lebih baik dari india yang digambarkan dalam buku ini. review yang menarik, ren. :)

    BalasHapus
  6. Aku agak merasa kurang relate sama Balram, mungkin karena jalan yg dipilihnya, atau cara berbicaranya, entahlah.. Tapi secara detail, memang penggambarannya apa adanya banget, dan pasti ada Balram-Balram lain di luar sana, di Indonesia (bukan kamu, Ren, maksudnya yg benar2 spt Balram)

    BalasHapus
  7. Mendadak pengen mie rebus :)
    Pertama kali BW kemari mbak :)

    BalasHapus
  8. Hahaha...reviewnya keren, Ren.

    Aku belum baca buku ini sih, jadi belum tau India dalam gambaran Balram. tapi dari yang aku tahu tentang India (dan itu sangat sedikit), aku rasa Indonesia jauh jauuuuhhhh lebih baik.

    BalasHapus
  9. Komentarku kok ilang ya hihii suka sama sindiran Ren di paragraf pertama *uhuk* ...suka juga sama repiu ini, bikin ngakak dan hilang sudah rasa muram yg mendera saya setelah membaca buku ini

    BalasHapus
  10. Belum baca dan kayaknya kudu baca deh. penasaran dengan sarkasmenya XD

    BalasHapus

Saya menghargai setiap komen/opini yang diberikan. Silakan untuk tidak setuju dengan review/opini saya tapi mohon disampaikan dengan sopan ya :)
Saya berhak menghapus komentar yang tidak nyambung dengan isi blog atau spamming (jangan sertakan link blog kamu/ link apapun di kolom komentar, kecuali untuk giveaway/reading challenge).
Karena banyaknya komen anonim tanpa identitas, maka opsi anonim saya tiadakan.
Terimakasih sudah mau mengunjungi dan meninggalkan komentar di blog saya :).


I value your comment/opinion. You can agree to disagree with my post/opinion, but please write your comment in good manners.
I have a right to delete your comment if its out of topic and/or spam (please do not include your blog/any link, except for giveaway/reading challenge).
Because of so many anonymous comment without identity, I disable the option.
Thank you for your visit and comment :).

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Just Curious Where U From ;)