Kamis, 17 Oktober 2013

Random Thought : Series vs Standalone

 
Selamat datang di Random Thought :D. Sebuah artikel (atau postingan, atau apapun istilahnya deh) yang bersifat non opini (itu karena saya sudah ada feature Opini sendiri) yang akan menanyakan pada pembaca blog tentang topik tertentu. Topiknya random, tapi masih berhubungan dengan buku dong :D. Dan waktu postingannya sendiri juga random. Yah, when the mood strikes, kayak sekarang ini ;). Nah, pengen tahu apa tema "Random Thought" hari ini ? Yuk, mari :


Series vs Standalone

Ketika melihat rak buku virtual saya di Goodreads, saya menyadari kalau nyaris 90% (ini hitungan kasar :P) dari bacaan saya semuanya adalah serial. Yang pasti sih komik ngga masuk hitungan. Sejak awal saya mulai membaca novel, novel yang saya baca adalah Harry Potter and the Sorcerer Stone. Dan kita semua tahu kalau buku itu adalah buku pertama dari serial Harry Potter kan? Sejak saat itu, nyaris semua buku yang saya baca adalah serial.

Kenapa serial? Kebanyakan karena dunia dan setting dari buku itu begitu luas dan karakternya begitu kompleks, sehingga saya ingin tahu lebih banyak. Selain itu ada rasa "familiar" saat membaca buku serial. Seperti bagaimana nasib tokoh A selanjutnya, apakah nanti dia bertemu dengan tokoh B yang akan mengubah jalan hidupnya dan lain - lain. Oh ya, serial disini juga bisa saya kategorikan dua macam yaitu, serial yang tokoh utamanya sama terus, dan yang tokoh utamanya ganti - ganti. Kalau yang pertama kebanyakan di genre fantasy atau suspense. Sementara yang kedua, biasanya sih di genre paranormal romance (yang dewasa, kalau YA biasanya tokohnya sama terus) dan contemporer romance. Saya sih lebih suka yang tokohnya sama terus, karena menarik sekali melihat perkembangan tokoh itu :D. Kalau tokohnya ganti - ganti, kadang tokoh di buku sebelumnya hanya jadi sampingan saja, padahal saya kan juga cukup penasaran sama kisahnya yang selanjutnya.

Lalu.. gimana dengan standalone, alias buku yang bukan serial? Umm, saya baca juga kok, dan beberapa juga menjadi favorite saya. Saya memilih standalone biasanya kalau lagi bosan baca serial, atau ingin mencoba sesuatu yang baru. Atau bahkan kalau kejar setoran reading challenge, kan lumayan baca stand alone yang pendek - pendek, heheh XD. Tapi kalau disuruh memilih, saya lebih suka baca buku serial ketimbang yang stand alone :)

Bagaimana dengan teman - teman? 
Mana yang teman suka, baca buku serial atau yang standalone ? 
Terus kalau suka baca serial, serial terpanjang apa yang pernah kamu baca? (Kalau saya sih, juaranya masih serial In Death karya J.D.Robb dimana saya sudah baca 37 buku! (beberapa diantaranya novella). Memang nagih sih :P)
Sama, menurut kalian dalam serial itu idealnya ada berapa banyak buku sih? Tiga? Lima? Atau lebih dari sepuluh?
 
Spill your random thought! :D

12 komentar:

  1. Aduh sama, baca stand alone buat kejar RC :)) Tapi memang kalau lagi pengen baca yang sekali lahap langsung selesai lebih enak baca stand alone. Apalagi kalo sekuel seri favorit kita baru rilis tahun depan. Dan lanjutannya lagi baru rilis 2 tahun mendatang. Kalo kelamaan nunggu kan kasihan pembacanya :(
    Atau kasus kayak lanjutan The Host-nya Stephenie Meyer yang entah hingga sekarang (dari 2010) sepertinya masih berupa wacana belaka.
    So, I prefer Stand alone, walaupun tidak menutup kemungkinan untuk menyukai serial juga :)

    BalasHapus
  2. sebenernya lebih suka stand alone tapi dipikir2 emang benar banyakan baca yang serial, hahahaha :)) ga masalah juga sih serial asal lepas semacam lima sekawan-nya enid blyton githu, bisa baca secara random, ga perlu berurutan :D

    BalasHapus
  3. Aduh aku suka keduanya deh .____. Gak bisa milih lah buku serial ku dan yang tidak serial hampir sama banyaknya ._. Jadi ya both deh ^^

    Serial terpanjang yang ku baca? Ia si sebentara masih Eve Dallas dan Roarke yang berjaya >.< Eh Hercule Poirot juga deh dan serial Little House-nya Laura Ingllas Wilder

    BalasHapus
  4. wahahah. Kita kebalikan, Mbak Ren. Saya cenderung penyuka standalone--makanya sensi banget ketika novel sekarang kebanyakan series. Bukannya saya nggak suka series. Saya punya series yg saya suka, tapi kelemahan series itu menurut saya adalah masalah konfliknya. Seringkali, di series-series panjang, konfliknya jadi gali-tutup lubang, hal yang nggak jadi masalah dijadiin masalah di buku berikutnya, dan plotnya punya kecenderungan sinetron-ish. Kembali lagi, beberapa nggak seperti itu, terutama series yang jumlahnya dikit dan fungsinya murni hanya untuk solve masalah-masalah utama dan besar dari ceritanya. Saya biasanya suka seri-seri macam itu (Harry Potter, LoTR, dll). Tapi kecuali saya dapat penegasan bahwa sebuah series itu masalah komprehensif (tsaaaaah) dan memang sesuai tujuan awal cerita, saya lebih pilih standalone. :)

    BalasHapus
  5. Aku suka series yg standalone! #dijitak
    Hehehe, aku suka series macem Lima Sekawan gitu..
    Karena, apa ya, bener sih, bisa tau karakter mereka taoi gak harus ngikutin dari awal karena tiap judul bisa berdiri sendiri.
    Meski begitu, aku tetep lebih suka yang emang standalone. Walau kadang ada sih novel yg bikin aku, "Eh ini ada lanjutannya enggak ya?"
    Males aja soalnya kalau harus cari2 lanjutannya, udah semacam nonton Daniel Mananta, (setelah hening panjang) "Sesaat lagi...!" Meh.. #curcol

    BalasHapus
  6. Lebih suka standalone.
    Serial ribet mesti nyari lanjutannya. Apalagi kalau udah penasaran...
    Tapi masih tetap baca sih kalau ada serial, hanya kalau udah lebih dari 3 buku udah suka malas bacanya.

    BalasHapus
  7. Suka serial sih Mbak. Emang lebih asik aja baca kelanjutan cerita suatu tokoh, dan biasanya ada sisi unik yang baru tereksplor di buku-buku selanjutnya. Yang bikin males kalo nunggunya kelamaan -__- sedangkan kita udah nggak sabar pengen ngebaca lanjutannya. Masalah berapa banyak buku 'serial ideal' itu, rasanya tergantung deh. Kalau model kontemporer, 3/4 aja cukup. YA yang bukan PN, 2 juga bagus. Kalau kayak Guild Hunter, 10 juga nggak bakal cukup XD
    Stand alone kalau cuma 'baca sekali duduk' sih nggak masalah buatku (misal Hearts in Darkness). Yang penting nggak stand alone tebel aja kayak Angels and Demons
    Serial terpanjang sampai saat ini, In Death. Habisnya kan kejar setoran RC Mbak, hehe :D nyentuh buku 29, Kindred, plus novellanya jadi total 33. Rata2 serialku bukunya antara 2 sampai lima aja tiap serinya.

    BalasHapus
  8. Kalo aku sih lebih suka yang model companion novel gitu Ren. *eh si companion ini termasuk series apa ga ya? Hahah* Abis, aku kan sukanya contemporary young adult. Aku lebih milih baca satu buku tamat, soalnya kalo dibuat series malah jadi manjang-manjangin cerita. Tapi aku suka baca novel companionnya di mana yang jadi tokoh utama tuh orang lain tapi masih ada hubungannya sama tokoh utama novel sebelumnya. Jadi aku dapet cerita baru, tapi tetep tau perkembangan cerita si tokoh utama novel sebelumnya. Ini misalnya seri Hundred Oaks-nya Miranda Kenneally, yang sama-sama nyeritain tentang murid-murid Hundred Oaks High School. Atau novel-novelnya Julie James yang tokohnya saling kenal. Kalo series rasanya lebih cocok ke genre fantasi, yang memang ceritanya panjang dan ga muat dibikin dalam satu buku. Tapi kalo ini sih aku mending tunggu semua bukunya keluar baru deh borong semuanya, biar ga penasaran lama-lama. Hahaha..

    BalasHapus
  9. Aku sih sama saja Ren, tergantung kebutuhan cerita. Koleksi buku2 aku juga rata2 90% series. Macam fantasy kayak Harry Potter, itu kan emang sejak awal JKR sudah rencana buat 7 buku. Karena Harry perlu banyak waktu untuk bisa siap melawan voldie, makanya dia ditempa selama 7 buku. Macam fantasy juga kayak Ther Melian dan Daughter of Smoke and Bone dibuat series, karena penulis harus menjelaskan dulu background dan world buildingnya. Makanya kadang ada buku 1 yg ceritanya lebih terasa sebagai permulaan alih-alih masuk ke konflik utama dari story-arc.

    Nah yg aku gak suka tuh series yg dipanjang-panjangin macam The Mortal Instrument. Cuma pemborosan kertas (IMO). Atau Twilight yg pake plot cinta segitiga juga lebih karena faktor permintaan fans. Jadi intinya balik di masalah kebutuhan cerita.

    BalasHapus
  10. halo ren... ikut komen ya... hehe

    kalo aku malah baisanya baca buku standalone, jarang banget baca series. tp sebenernya series ga masalah sih, asalkan ga kepanjangan terus "nggeladrah" ampe ke mana2 dan membosankan. sejauh ini paling panjang ya Harry Potter, belum pernah baca yg lebih panjang dari itu.

    BalasHapus
  11. Buku series dan standalone aku kayaknya 50:50. Kalau dipilih mana yang lebih suka, aku sebenernya lebih suka series karena detailnya lebih dapet, terus jadi lebih kenal juga sama karakternya. Salah satu kelebihan buku seri adalah kita bisa inget terus cerita dan karakternya dan itu lebih bagus dari cuma buku yang sekedar lewat. Buku standalone juga banyak yang bagus dan aku suka. Tapi jika ceritanya hanya ala kadarnya, kadang cerita itu cuma sekedar lewat dan gak aku inget lagi. Maklum... gampang lupa XD

    Untuk banyaknya buku seri yang harus ada itu cukup 3-4 buku aja untuk fantasi. Untuk seri seperti buku kriminal aku justru lebih suka yang serinya banyak, soalnya biasanya tiap bukunya pasti kasusnya beda.

    Buku seri yang disuka sih banyak. Tapi kalo untuk yang ga disuka, aku sama dengan Mbak Lina. Gak terlalu suka The Mortal Instruments. Buku 1 masih oke, buku 2 dan 3 udah gak seoke yang pertama, terus berenti sampe di situ deh. Gak mau ngelanjutin lagi.

    BalasHapus
  12. Kalau aku sih lebih suka series, karena kalau buku standalone kadang-kadang ceritanya dangkal, penggambarannya juga nggak sebaik buku series (rata-rata). Alasan lain udah disebutin di atas :)

    BalasHapus

Saya menghargai setiap komen/opini yang diberikan. Silakan untuk tidak setuju dengan review/opini saya tapi mohon disampaikan dengan sopan ya :)
Saya berhak menghapus komentar yang tidak nyambung dengan isi blog atau spamming (jangan sertakan link blog kamu/ link apapun di kolom komentar, kecuali untuk giveaway/reading challenge).
Karena banyaknya komen anonim tanpa identitas, maka opsi anonim saya tiadakan.
Terimakasih sudah mau mengunjungi dan meninggalkan komentar di blog saya :).


I value your comment/opinion. You can agree to disagree with my post/opinion, but please write your comment in good manners.
I have a right to delete your comment if its out of topic and/or spam (please do not include your blog/any link, except for giveaway/reading challenge).
Because of so many anonymous comment without identity, I disable the option.
Thank you for your visit and comment :).

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Just Curious Where U From ;)