Rabu, 25 September 2013

Review : Angels and Demons oleh Dan Brown




Judul : Angels and Demons
Terjemahan : Malaikat dan Iblis
Pengarang : Dan Brown

Penerjemah :  Isma B.Koesalamwardi
Penerbit : Serambi
Tebal : 656 halaman
Diterbitkan pertama kali : Februari 2005
Format : Paperback
Target : Dewasa
Genre : Thriller Suspense
Bahasa : Indonesia
Seri :  Robert Langdon, buku ke-1 (satu)
Web Pengarang : Click here
Order di : Bukukita

Sinopsis
 
SEORANG ILMUWAN TERBUNUH
SEBUAH BOM WAKTU BERDETAK MUNDUR
SEBUAH KOTA SUCI TERANCAM PUNAH

Robert Langdon, simbologis Harvard tersohor, tidak pernah menyangka kalau satu hari dalam hidupnya akan dipenuhi oleh terlalu banyak kejutan. Kalau hanya melihat ambigram yang bertuliskan nama kelompok persaudaraan Illuminati, mungkin itu bukan masalah besar. Tapi melihatnya tercap di dada lima lelaki yang terbunuh pada hari yang sama?Jauh sebelum memecahkan Kode Da Vinci, Robert Langdon diminta oleh sebuah institusi penelitian di Swiss untuk menganalisis simbol penuh teka-teki yang tercap di dada seorang ahli fisika yang tewas terbunuh.

Apa yang ditemukannya sungguh di luar dugaan: dendam mematikan terhadap Gereja Katolik dari sebuah persaudaraan kuno yang sudah berlangsung selama berabad-abadIlluminati. Terdorong untuk menyelamatkan Vatikan dari bom waktu yang berdaya ledak besar, Langdon membantu pasukan penjaga paling setia di dunia bersama dengan seorang ilmuwan misterius nan cantik bernama Vittoria Vetra. Berdua, mereka memulai perburuan yang menyeramkan ke ruang-ruang bawah tanah yang terkunci rapat, kuburan-kuburan berbahaya, katedral-katedral yang lengang, dan tempat yang paling misterius di dunia ... markas Illuminati yang lama terlupakan.Ditulis dengan gaya jenaka namun cerdas, Dan Brown membawa kita berpetualang di pusat kebudayaan tertua di Eropa, Roma. Pemahaman kita dibuat terkaget-kaget dengan penyingkapan berbagai rahasia di balik tempat-tempat bersejarah dan karya-karya seni terkenal yang terdapat di sana. Dengan plot cerita yang melingkar-lingkar dan alur yang cepat, Brown sekali lagi berhasil menyiksa kita dengan sebuah novel yang sulit dilepaskan begitu kita mulai membacanya!

Review

Saya ini penggemar berat Dan Brown, dan perkenalan saya yang pertama dengannya adalah melalui The Da Vinci Code yang sangat kontroversial itu bagi beberapa orang (kalau bagi saya sih ngga :P). Saya pun membaca buku itu, lalu baca The Lost Symbol  yang bagi beberapa pembaca biasa aja, tapi sukses bikin saya begadang sampai jam 5 pagi *0*! Buku - buku Dan Brown sebelum The Da Vinci Code, yaitu Digital Fortress dan Deception Point juga sudah habis saya lahap. Sayangnya, saya ngga sempat terus mau baca Angels and Demons. Bukunya habis dimana - mana, sampai akhirnya nemu yang edisi cover film dengan gambar om Tom Hanks di Leksika. Dan itu juga baru dibaca setahun yang lalu, tepatnya hari Sabtu kemaren setelah kedatangan Inferno ke rumah saya :P


And, like The Lost Symbol, Angels and Demons juga sukses bikin saya begadang sampai jam 2 pagi. Dan diteruskan baca sampai siang hari dan lupa makan!



Gara - gara buku ini juga, suami saya sempat ngambek dan ngga mau mengantar saya  ke blok M. Untunglah akhirnya dia mau.Sebenarnya sih, kurang tepat kalau dibilang prequel The Da Vinci Code, karena memang petualangan pertama Robert Langdon kan di Angels and Demons ini. Angels and Demons diterbitkan tahun 2000, sedangkan The Da Vinci Code lima tahun sesudahnya. Cuma karena yang kontroversisasi (halah ketularan Vicky X)), jadilah The Da Vinci Code yang terkenal duluan.Sama seperti penerusnya, di awal buku, Dan Brown mengungkapkan bahwa beberapa hal dalam bukunya adalah fakta, seperti organisasi CERN (Conseil European pour la Recherche Nucleaire), benda - benda seni di Vatikan, arsitektur, makam, terowongan rahasia di dalam Gereja, serta Perkumpulan Illuminati adalah nyata. Yah, saya mau ga mau percaya saja deh ya.

Chigi Chapel
Kalau ditelpon pas baru bangun pagi, kesal ngga? Robert Langdon, professor ahli simbologi di Harvard jelas kesal. Tapi tidak sekesal yang dia duga, saat mendapat faks dengan foto ilmuwan meninggal yang dicap dengan simbol ambigram "Illuminati". Kayaknya sejak novel Dan Brown, teori konspirasi tatanan dunia baru ini makin marak aja. Or is it just me? So, pergilah Robert ke Jenewa, Swiss tempat organisasi CERN berada. Setelah melihat mayat sang ilmuwan yang bernama Leonardo Vetra, Robert dan Maximilian Kohler, presiden CERN, mendapati hasil karya Leonardo yaitu anti-matter (anti materi) dicuri. Hal yang sangat berbahaya, karena jika baterai pelindung anti materi itu tidak dicharge ulang, maka anti materi itu akan meledak. Pernah nonton Star Trek karya J.J. Abram? Kira - kira seperti itulah. Ketika tahu bahwa sang pembunuh membawa anti materi itu ke Vatikan, maka Robert yang cuma ahli simbologi biasa pergi ke kota suci umat Katolik itu dengan Vittoria, anak angkat Leonardo yang juga partner sang ayah dalam membuat anti materi

Ternyata di Vatikan sedang ada pemilihan Paus, setelah Paus sebelumnya meninggal karena stroke. Sayangnya, keempat kardinal calon Paus diculik oleh seorang tak bernama yang menyebut dirinya "hassassins". Hassassins berkata kalau dia diutus oleh Janus, untuk merayakan kembalinya kekuasaan kelompok Illuminati dan runtuhnya kejayaan Gereja. Robert lantas mendapat petunjuk tentang lokasi keempat kardinal yang akan dibunuh setelah menyadari kalau Galileo Galilei, seorang astronom dan ilmuwan terkemuka yang terkenal dengan kontroversinya pada Gereja, adalah salah satu penggagas kelompok Illuminati. Setelah pergi ke ruang arsip Vatikan, dan membaca Diagramma karya Galileo, terdapatlah puisi yang menjadi petunjuk Robert dan Vittoria untuk mencegah Hasassins melakukan niat jahatnya. Keduanya lalu berpacu dengan waktu, sementara anti materi yang menjadi masalah, terus berjalan. Menuju detik - detik kehancuran Vatikan. Di sisi lain sang Kepala Rumah Tangga Paus, Carmelengo Carlo Ventresta dan Kardinal Paul Mortati sebagai ketua pemilih Paus gelisah karena jika Paus yang baru tak segera terpilih, dunia akan bertanya - tanya.

Castle Sant' Angelo
Daaaan.. bersukacitalah diri saya ini membaca kisah kasih.. eh petualangan Robert dan Vittoria menjelajahi Vatikan, demi menyelamatkan masa depan Vatikan :D.

Apa yang bikin saya suka novel - novel  Dan Brown? Cara menulis dia yang luarrrr biasa. Terlepas dari apakah semua yang dia tulis itu hanya fiktif, atau fiktif yang difaktakan, semua hal yang patut ada di novel thriller ada di Angels and Demons. Konspirasi? Check! Aksi yang memacu adrenalin? Check. Misteri yang harus dikupas perlahan - lahan untuk menemukan jawabannya? Check. Twist? Oh, double check! Dan itulah kenapa saya membaca Angel and Demons tanpa henti. Tanpa disambi  baca buku lain. Karena begitu mengasyikkannya tulisan Om Brown ini. Selain kita juga diajak menelusuri Vatikan dengan sejarahnya, Vatikan dengan seni rupanya, dan Vatikan dengan kemegahannya. Siapa yang jadi ngga penasaran pengen liat Basilika St Petros? Fontana Dei Quattro Fiumi (Air Mancur Empat Sungai)? Ecstasy of Saint Teresa (Ekstase Santa Theresa, yang menurut saya agak aneh juga karya itu diperagakan karena posisinya yang ga biasa) ? Castel San' Angelo? Karya - karya Raphael, Michaelangelo dan Bernini? Mengupas lebih dalam tentang karya Galileo dan kontroversinya dengan Gereja Katolik? Well, the nerd and adventurous soul in me is screaming yes, yes and yes! Hebatnya lagi, semua kejadian di Angels and Demons ini hanya terjadi selama satu hari. Kejar - kejaran mencari lokasi tempat para kardinal disandera sampai mencegah anti materi meledak hanya dalam waktu enam jam. Saya sampai dibuat menahan nafas mengikuti "petualangan" Robert dan Vittoria.

Dibalik semua suspense, konspirasi, dan penjabaran tentang sistem Gereja di Vatikan, sebenarnya ada tema khusus di semua novel Dan Brown. Mulai dari Angels&Demons ini, lalu The Da Vinci Code dan The Lost Symbol (Inferno sudah punya, tapi belum baca). Apa itu? Dan Brown seolah menyindir umat manusia saat ini, bahwa kita sudah sebegitu jauhnya dengan Tuhan. Dan ini berlaku untuk semua umat tanpa terkecuali. Manusia begitu mengagung- agungkan ilmu pengetahuan, sampai - sampai lupa sama Tuhannya sendiri. Apa- apa harus bisa diungkap dengan nalar dan akal. Manusia mungkin lupa, bahwa selain akal, kita juga diciptakan dengan hati. Dan hati inilah yang harusnya menguasai saat akal berkata tidak pada kebesaranNya. Karena, apa artinya kita jeniusnya sampai mengalahkan Einstein, kalau hati kita tidak beriman? Apa artinya kita hooh saja sama teori Darwin, kalau dalam hati kita tahu kalau manusia mana mungkin dari kera? Sebagai umat muslim, saya sering membaca artikel, bahwa di Al Qur'an saja ilmu pengetahuan juga dijelaskan. Well, saya bahkan suka baca penjelasan di Al Qur'an yang berhubungan dengan sejarah dan pengetahuan lho. Di alkitab saja ada, kenapa masih menyangkal kebesaranNya ya?

Fontana Dei Quattro Fiumi
Ah, manusia kan begitu. Mereka takut akan apa yang dia tak mengerti. Janus, sang pelaku sebenarnya yang menyuruh Hassassins membunuh Leonardo Vetra dan semua kardinal calon paus, tak mengerti dengan apa yang dia lakukan. Gereja pada jaman Galileo juga tak mengerti dan takut pada ilmu pengetahuan saat itu. Padahal toh keduanya, agama dan pengetahuan juga bisa berjalan berdampingan bukan? Menurut saya juga, ilmu pengetahuan sekarang berkembang sangat pesat juga karena campur tangan Tuhan. Well, siapa yang menciptakan manusia? Langsung muncul saja gitu ceritanya? Fakta yang sangat simpel ini, nyatanya ya bikin banyak orang masih ngga percaya  sama Tuhan ya. Sedih sekali :(. Walau begitu, saat membaca masa lalu Maximillian Kohler, kadang manusia juga punya alasannya tersendiri untuk tidak percaya Tuhan. Pada akhirnya memang kembali ke pribadi masing - masing untuk masalah iman ini.

Pesan yang kedua? Jangan fanatik. That's it. Kefanatikan yang buta lah yang membuat si Janus melakukan semuanya. Membunuh kardinal, mengebom Vatikan, karena dia percaya, something new must be build from the ruins. Menurut saya sih Janus ini egoisnyanya luar biasa. Kefanatikannya membuat dia jadi delusional dan ga mau dengar alasan apapun. Kolot dan tak mau membuka hati. Dan mungkin juga karena rasa cintanya yang begitu besar pada Gereja. When something you love the most seems betray you, it's hurt you so bad. Dan cinta kadang bisa membuat orang melakukan hal - hal yang mengerikan. Saya sih tidak mau spoiler siapa itu Janus, jadi pendapat saya tentang Janus ini saya taruh di kotak spoiler :

Spoiler for Janus :
Bagi yang sudah membaca Angels & Demons pasti tahu siapa identitas Janus, juga mungkin yang sudah nonton filmnya dulu baru baca bukunya. Ya, Janus adalah Carmelengo Carlo Ventresta. Mengapa memilih nama Janus? Janus adalah dewa Romawi yang bermuka dua. Wajah yang satu menghadap masa lalu, dan wajah yang satunya menghadap masa depan. Tapi menurut saya kenapa Carmelengo Carlo memilih nama Janus, karena sifatnya yang bertentangan. Ingatkan bahwa ambigram Illuminati, keempat elemen (bumi, air, api dan udara) punya dua sisi? Carmelengo juga punya dua sisi ini. Sisi yang seakan mendukung ilmu pengetahuan, demi kedok, dan sisi yang membenci ilmu pengetahuan. Carlo dengan pasrah mengakui kemenangan Illuminati tentunya supaya dia didukung untuk menjadi Paus selanjutnya. Agar simpati semua orang tertuju padanya. Namun di sisi lain dia juga membunuh Leonardo, keempat kardinal, dengan mengatas namakan Illuminati, hence come his hatred to science.

Ada yang menjadi pemikiran saya. Apakah benar Tuhan yang berbisik pada Carlo saat dia mendapati keyakinannya goyah setelah mendengar fakta bahwa Paus sebelumnya tidak suci? Is it angel? Or demons? Demi cintanya yang fanatik, pada akhirnya Carlo menjadi keduanya, Malaikat dan Iblis.



Basilika St Petros
Berhubung saya nonton filmnya dulu, terdapat beberapa perbedaan dengan filmnya yang cukup signifikan. Saya tidak terlalu ingat sih , jadi beberapa hal di bawah ini yang seingat saya adalah beda buku dengan film. Ada sedikit spoiler juga :

- Vittoria di buku pakai kemeja biasa dan celana pendek, sementara di film dia pakai blazer dan rok span. Lebih suka versi buku sih, kesannya lebih kickass aja gitu :D
- Nama Carmelengo Carlo Ventresta diganti di filmnya. Alih - alih orang Italia, jadi diperankan oleh Ewan McGregor yang seorang Irish dengan nama Patrick McKenna.
- Di bukunya semua kardinal tewas, yang terpilih jadi Paus adalah Kardinal Paul Morttati (di film jadi Strauss). Sementara di film , kardinal yang terakhir yaitu Kardinal Baggia selamat, dan dia yang menjadi Paus
- Maximilian Kohler menjadi Maximilian Richter, dan bukan presiden CERN melainkan komandan Swiss Guard


Terjemahannya sendiri bagus dan enak dibaca. Walau beberapa kata dalam bahasa Italia tidak diterjemahkan. Padahal menurut saya, akan lebih baik diberi catatan kaki. Karena ngga semua pembaca bisa bahasa Italia kan? Sayangnya banyak sekali kalimat - kalimat gaul yang membuat kenikmatan membaca ini jadi berkurang. Contohnya :
- "Masak, sih, tidak tahu?" 
- "Buku pendek geblek" 
- "Busyet"
Sangat disayangkan sekali ya, buku sebagus ini harus dinodai dengan terjemahan yang kurang pas walau hanya beberapa :(. Terjemahannya juga yang membuat saya mengurangi setengah dari rating lima mangkok untuk buku ini.

Verdict?

Penikmat novel thriller yang menyukai misteri dan aksi jelas tidak boleh melewatkan karya pertama Dan Brown sebelum The Da Vinci Code ini. Memang teori konspirasinya tidak terlalu rumit dan wah seperti pendahulunya, namun Angels and Demons tetap mempesona dengan caranya sendiri. Kalau ada penulis yang membuatmu tak bisa berhenti membaca, maka Dan Brown lah orangnya :)

Note : Novel ini bisa membuatmu pingin ke Vatican, Roma! Ya untuk berpetualang ala Robert Langdon tentunya :D


Favorite Quote


"Ilmu pengetahuan dapat menyembuhkan, dapat juga membunuh. Itu bergantung pada jiwa orang yang menggunakannya"


"Rasa sakit adalah bagian dari bertumbuh. Begitulah kita belajar"


Rating Cerita :




Sensualitas :



Dari semua buku di serial Robert Langdon, Angels and Demons ini yang paling kentara tensi seksualnya :D. Yang tentu saja semakin menipis di buku kedua dst, hihihi.

9 komentar:

  1. paling suka karya DB yang ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku suka semua buku DB Ka :D. Tapi memang Angels & Demons imo better than Da Vinci Code

      Hapus
  2. Kalau yang ini aku baru nonton filmnya. Kalau Da Vinci Code udah baca.
    Tapi setuju sama mbak Ren. Susah berhenti baca. Pemecahan kodenya itu lho. Lambang-lambang, anagram, kok ya bisa kepikiran sampe ke sana....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah.. aku juga nonton filmnya dulu :D. Tapi bukunya lebih bagus dan tegang ketimbang filmnya. Lagian banyak yang diganti. Iya, riset DB memang keren sekali. Jangan - jangan hobi dia bikin konspirasi tiap hari :))

      Hapus
  3. aku belum baca yang ini.... filmnya aja yang udah di tonton *nangis dipojokan*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, ayo baca kak Liliz. Bagus banget dan sayang lho dilewatkan :D

      Hapus
  4. aku baca ini beberapa minggu sebelum kematian Paus Johannes Paulus II. jadi pas ngeliat prosesi pemilihan Paus lengkap dengan asap dari cerobong itu berasa udah tau banget gimana tahapannya. padahal cuma tahu dari buku ini aja. hahahaha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Papal conclave itu rahasia atau ngga sih? :O Soalnya om DB bisa detail gitu menggambarkannya. Dan di filmnya pasti ijin buat syut adegan itu sulit ya kalau di Vatikan

      Hapus
  5. baru beres baca tadi pagi. keren parah. bener banget, ga bisa berenti kalo uda baca ini, karena terlalu seru buat dilewatin. penasaran next nya gimana. dari awal ampe akhir tegang. dan deskripsi dia tu jelas banget, sehingga sambil baca tu di kepala uda kebayang adegannya, kaya uda keplay movie nya di dalem otak.

    yg belom baca tinggal deception point dan lost symbol. dan so far, gada yg ngecewain. semuanya kerennn.

    secara action dan petualangan, angels and demons untuk saya lebih menegangkan dibanding the da vinci code.

    bener banget jd pengen ke eropa. deskripsi dia waow sekali, bener2 menggoda bikin pengen k sana...

    suka banget review kamu yg ngehide dan kasi warning spoiler. jadi yg belom baca ga ngelewatin serunya..hehe

    BalasHapus

Saya menghargai setiap komen/opini yang diberikan. Silakan untuk tidak setuju dengan review/opini saya tapi mohon disampaikan dengan sopan ya :)
Saya berhak menghapus komentar yang tidak nyambung dengan isi blog atau spamming (jangan sertakan link blog kamu/ link apapun di kolom komentar, kecuali untuk giveaway/reading challenge).
Karena banyaknya komen anonim tanpa identitas, maka opsi anonim saya tiadakan.
Terimakasih sudah mau mengunjungi dan meninggalkan komentar di blog saya :).


I value your comment/opinion. You can agree to disagree with my post/opinion, but please write your comment in good manners.
I have a right to delete your comment if its out of topic and/or spam (please do not include your blog/any link, except for giveaway/reading challenge).
Because of so many anonymous comment without identity, I disable the option.
Thank you for your visit and comment :).

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Just Curious Where U From ;)