Selasa, 18 Desember 2012

Opini : Haruskah Karya Sendiri Dirating?

Seharusnya sih hari ini saya plan mau posting review film The Hobbit, tapi tadi malam saya baca - baca artikel di salah satu website buku favorite saya "Smart Bitches Trashy Books" dan mendapati satu artikel yang menarik. Artikel itu membahas tentang pengarang yang merating bukunya sendiri lima bintang di situs - situs sosial yang khusus buku seperti Goodreads atau Amazon. Saya membaca alasan dia lalu komentar - komentar orang di bawahnya. Ada yang menganggapnya boleh - boleh saja, ada yang bilang itu mempengaruhi sistem rating di Goodreads atau Amazon, ada yang bilang hal itu mempengaruhi kredibilitas sang pengarang, bahkan saya sampai dapat info bahwa pengarang ada yang membayar reviewer untuk menulis review 5 bintang bagi bukunya di Amazon. Nah yang terakhir ini agak bikin saya terkejut, karena review di Amazon ataupun Goodreads itu terkenal dengan subjektifitasnya. Kalau dibayar, berarti sampai dimana kesubjektifitasan review tersebut? Tapi, saya ga akan bahas lebih lanjut ini. Saya lebih menyoroti tentang pengarang yang merating bukunya dengan "sempurna".

Jujur, dulunya saya sering ngikik kalau lihat pengarang ngerating bukunya sendiri 5 bintang. Saya mikirnya "ugh, narsis banget","yakin, bukunya sebagus itu?" "ah, pasti bias nih reviewnya". Lalu saat saya ngetweet di Twitter, salah seorang blogger yang saya kagumi (dia juga seorang penulis) bilang "Emang ada yang salah dengan itu?". Dan saya pun tertegun. Lalu mikir, yah itu memang hak sang pengarang sebenarnya untuk merating bukunya sebagus mungkin. Saya lalu melihatnya sebagai bentuk kepercayaan diri sang pengarang. Kalaupun itu adalah salah satu bentuk marketing buku dari dia, ya ga masalah juga kan? Meskipun terlihat bias, saya mulai apresiasi para pengarang yang kasih 5 bintang untuk bukunya. 

Cuma nih, saya kadang bingung kalau ada pengarang yang rating bukunya cuma 4 atau 3 bintang di Goodreads. Saya ga tau kenapa, apakah itu tanda sang pengarang menganggap bukunya memang pantas dirating sekian, atau tidak terlalu percaya diri. Mungkin itu karya awalnya yang dulu yang membutuhkan banyak revisi. Walau begitu, ga semua pengarang ngerating bukunya sendiri. Ada juga yang di Goodreads cuma menulis "saya adalah penulis buku ini". Nah, lalu masalahnya apa Ren? Sejak saya baca artikel "Smart Bitches", saya jadi berpikir kembali tentang hal pengarang yang merating bukunya sendiri. Apakah itu tanda "kenarsisan" pengarangnya? Apakah itu sebenarnya hanya wujud dari salah satu marketing buku dari dia? Bagaimana kalau buku yang dia rating sempurna itu saya anggap biasa aja atau malah sebaliknya?

Pada akhirnya, saya tetap pada keputusan awal saya, yaitu saya anggap biasa saja. Its okay kalau pengarang mau ngerating buku karyanya sendiri. Tapi, saya jadi penasaran nih sama pendapat dari  teman - teman. Menurut kalian, saat melihat pengarang merating bukunya sendiri 5 bintang atau 4 atau tiga, atau pokoknya dia rating deh, bagaimana menurut kalian? Biasa aja? Atau merasa aneh? Jangan lupa share ya. :)

Oh ya, kalau ada yang penasaran dengan artikel yang saya maksud bisa dibaca disini : Giving Five Stars . Silakan juga dibaca komentar - komentarnya, karena ada banyak hal yang menarik yang bisa temukan disini.

Catatan : Saya tidak bermaksud menyinggung atau mendeskritkan siapapun, baik pihak pembaca ataupun pengarang. Ini hanyalah sekedar opini dari saya :).
Source pic : Click here

21 komentar:

  1. kalau menurutku sih nggak layak ngerating karya sendiri. Karena rating kan maksudnya menilai, masa seseorang menilai diri sendiri?

    BalasHapus
  2. pernah lihat juga sih, trus ada yang komen. Kata penulisnya : kalau saya sendiri saja tidak menghargai karya saya, apalagi orang lain. Jadi karena itu dia kasih bintang penuh bukunya sendiri.

    BalasHapus
  3. Ini kayaknya sempet dibahas pas IRF kemarin. Ehehe..

    Aku pribadi sih berpendapat sebaiknya pengarang nggak ikut2 kasih rating, karena toh kalo buat menunjukkan ke-pd-an diri, buktinya dia udah pd masukin karyanya ke penerbit. Rating itu seharusnya adalah penilaian pembaca atas suatu karya yang dibaca, berdasarkan selera dan pendapatnya. Aku setuju sama pendapat Mbak Leila S. Chudori (lagi2 dari IRF kemarin) yang bilang kalau setelah karyanya dipublikasikan dan dikonsumsi masyarakat, pengarang sebaiknya seperti mati alias udah nggak usah ngedebat atau berpendapat mengenai karyanya. Biarkan pembaca yang membentuk opini mereka sendiri. Nah, ini menurutku termasuk merating karyanya sendiri. Hwehehe.

    BalasHapus
  4. aku sih ngga akan judgemental soal itu, tapi kalau menurut aku pribadi mending biarkan pasar yang menilai dan merating, salah satunya untuk menghindari opini pede dan narsis :) macam mbak Poppy D Chusfani aku lihat ngga pernah merating bukunya sendiri. Kalau aku jadi pengarang juga aku tidak akan merating bukuku sendiri. Let's the reader judge the book.

    BalasHapus
  5. Aku pribadi awalnya lebih setuju kalau pengarang ga usah ikut ng-rating bukunya sendiri. Karna bukunya sendiri ujung2nya ngasih *5 ya masa karya sendiri dijelek2n. Siapa juga sih yg mau jelek2n karya sendiri,sm halnya kita suka ga ngaku kalau punya pribadi yg jelek. Jadi ya lebih enak kalau bukan diri sendiri yg menilai. Tapi setelah baca postingan opini Ren aku jg jd ikutan mikir iya jg sih boleh2 aja terserah pengarangnya mau ngasih rating atau ga
    Tp tetep aja aneh bagiku untuk pengarang yg ngasih rating buat karyanya.

    BalasHapus
  6. Kalo menurut pikiran cekakku, boleh2 saja pengarang me-rating karya sendiri. Apalagi di goodreads disediakan bintang yang tinggal ia contreng (berasa pemilu aja, contreng ;) ). Kalo kemudian dia memuji sendiri karyanya yang cocok di film kan kah, dll, itu yg aneh. Aku pernah liat penulis yang me-rating karya sendiri 5 bintang tapi terbuka dengan rating pembaca lain. Ada juga yang me-rating karya sendiri 3 bintang. Seperti kata Ren, mungkin kurang pede dianya ;)

    BalasHapus
  7. sebenernya sih.. boleh2 aja merating karya sendiri, baik yang setinggi2nya ataupun yang mungkin karena ngga pede (atau bisa jadi itu pendapat jujurnya dia?) jadi ngasih bintang di tengah2 ajaa.. cuman kalau buat gua pribadi kalau dalam posisi sebagai pengarangnya, rasanya sih ngga akan merating karya gua sendiri, haha :D

    *berasa rada aneh aja githu*

    BalasHapus
  8. Topik yang menarik, mbak ren.. Tdnya mikir sebel sm penulis yang nge rate karyanya sendiri. Soalnya pernah nemu penulis yg kaya gitu dengan 5 bintang, pdhl menurutku bukunya ga trlalu istimewa. Tapi bener apa kata mbak ren dan baca komen2 diatas, kalo kita aja ga menghargai/meniliai tinggi diri sendiri,gimana org lain menghargai kita? Kalau org itu/penulis itu hanya membiarkan org lain berpendapat, alias mematikan diri sendiri, rasanya jd kesannya egois dan sombong. Bagaimanapun saya suka org yg berani menilai dirinya sendiri dan juga mengapresiasi kelemahan/kekurangannya. Begitu pula dengan penulis dan karyanya.
    Toh, kalau dlm agama Islam, 'hisablah sblm kamu dihisab' kan? Jd kita hrs bs menilai diri sendiri dan menempatkan diri sendiri sejauh mana sih 'nilai' kita :) *hanya pendapat.

    BalasHapus
  9. pernah menemukan beberapa penulis yang ngerating bukunya sendiri. alasannya macam-macam: mulai dari apresiasi karya sendiri sampai penilaian diri dibalik karya tersebut. Ada yang bukunya bagus, tapi si penulis cuma kasih bintang 3 (Tere liye misalnya). Bukan karena gak pede, tapi kayaknya lebih karena dia belum merasa karya tersebut yang terbaik di antara karya2 lainnya. nah, yang repot tuh kalo penilaian si penulis udah sempurna tapi pada akhirnya pembaca kecewa karena bukunya itu gak se-wah yang dirating penulis.

    btw, saya pernah bikin buku indie trus dimasukin ke Goodreads. bukunya cuma saya rating 3 (alasannya karena ini buku perdana dan emang belum terasa maksimal aja penggarapannya) trus temen saya bilang "kok gak pede sih dengan karya sendiri?"

    Nah, serba salah, kan?

    Pada akhirnya saya sepakat sama Ren. Soal penulis mau ngerating bukunya sendiri atau nggak, ratingnya berapa, yah, anggap biasa aja lah. soalnya penilaian manusia terhadap sesuatu emang beragam sih.

    BalasHapus
  10. Nggak aa-apa sih kalau dia mau rating buku-nya sendiri. Tapi dia merating-nya sebagai pembaca dong (walaupun pasti tetap bias juga).
    Tapi jangan lantas kalau dia ngasih rating 5 misalnya, trus ada yang ngasih rating 2 atau 3 trus dia protes... :D

    BalasHapus
  11. Aku pribadi ngerasa agak aneh kalau ngeliat penulis merating karya sendiri di Goodreads atau melalui channel review lainnya.

    Bukan masalah menghargai karya sendiri tapi masalah tepat atau tidak medianya. Goodreads sendiri misalnya, sesuai definisinya "Goodreads is the largest site for readers and book recommendations in the world" yg berarti forum ini memang untuk pembaca yg me-rating dan merekomendasikan buku2 yg dia baca. Semisal seorang penulis ingin merating buku ya boleh, tapi buku yang dia baca, bukan buku yang dia tulis.
    Maka, setuju dengan mba Desty, penulis yang mereview buku yg dia tulis tetap harus memakai sudut pandang pembaca - dan tentu saja ini sulit.
    Karena sulit memakai sudut pandang pembaca utk menilai buku yg ditulisnya sendiri, yasudah jangan merating, serahkan saja pada orang lain (para pembaca) untuk melakukannya.

    Kalau ingin menghargai karya sendiri bisa dengan media lain, misalnya blog atau twitter atau acara launching; di sana penulis bisa menggambarkan betapa seru/sulit/haru proses penulisan, betapa buku yg ditulis sangat mengubah hidupnya dll dsb laah :D

    BalasHapus
  12. nggak masalah sih menurutku.
    Tapi kembali ke pertanyaan: Apa gunanya?
    Dan rating bicara masalah persepsi orang, dan tidak menggambarkan penilaian keseluruhan. Jadi, 5 bintang sekalipun nggak membuat saya langsung berburu untuk membacanya.

    BalasHapus
  13. Hahaha jujurnya, dua buku saya di Goodread saya kasih rating. Yg sumbangan2 Muslim itu saya kasih lima (sebodo dgn kata orang lain) soalnya saya merasakan sendiri penggarapan buku itu yang kudu riset dan cari bahan dan nerjemahin selama setahun lebih. Jadi, pas selesai dan diterbitin saya kasih lima bintang, bagi saya itu lima bintang karena saya tidak mengkopas bahannya dr internet. Data2nya saya cari dan terjemahkan sendiri. Nah kalo buku yg satunya, yg English itu saya kasih tiga karena saya akui buku itu sangat ecek-ecek. Demikian mohon maklum :p

    BalasHapus
  14. Kalau menurutku sih nggak masalah pengarang merating bukunya sendiri, karena seperti yang udah dibilang sebelumnya, kalau bukan pengarang itu sendiri, ya siapa juga orang pertama yang akan mengapresiasi bukunya. Cuma mungkin caranya bukan dengan memuji-muji karya sendiri, tapi lebih ke proses kreatif di balik penulisan itu kali ya. Seperti yang dilakukan Mbak Helvy Tiana Rosa ke buku-bukunya.

    Cuma ya, yang sebel itu sebenarnya pengarang yang ga bisa nerima kritikan dan menyerang pembaca yang merating jelek bukunya. Udah banyaklah contohnya di forum sebelah, tanpa harus dijelaskan disini.. :) Kalau dia merating bukunya secara sempurna, ya harusnya dia terima dong kalo ada orang-orang yang merating jelek bukunya.

    Lha pengarang-pengarang kelas dunia aja dikata-katain nggak bisa nulis, siapa dia yang nganggap karyanya setingkat kitab suci. Hehehe

    So, in my opinion, terserah kalau si pengarang mau ngerating bukunya atau nggak, asal dia melakukannya dengan sopan dan nggak provokatif ataupun manipulatif (apalagi sampe ngebayar orang buat ngerating sempurna bukunya sendiri. amit-amit deh...)

    BalasHapus
  15. Klo menurut saya boleh boleh saja pengarang merating tinggi bukunya sendiri, tapi harus tetap bersikap obyektif. Dia harus bisa mengungkapkan apa kekuatan di balik karyanya hingga layak dapat bintang 5.

    BalasHapus
  16. jujur, aku juga ngerasa aneh sih sama para pengarang yg nge-rate karya nya sendiri. kalo aku sendiri seorang penulis, rasanya aku gak akan berani nge-nilai buku ku sendiri di GR pake rating, paling cuman aku kasih koment doang *dan aku juga gak akan nyela orang yang ngasih koment pedas sama karya ku tentunya :D.

    BalasHapus
  17. Kalo aku jadi penulis sih, aku gak kepikiran kasi rating bukuku sendiri.
    Tapii...aku gak masalah dengan penulis yg kasi rating ke buku mereka. Sistem rating di goodreads iti kan hanya masalah selera. 5bintang bukan berarti buku itu sempurna, tapi artinya si perating suka banget banget sama buku itu.
    Dan adalah wajar kalo penulis suka banget sama karyanya sendiri bukan?

    Kalo penulis yg kasi rating gak sampai 5 ke bukunya sendiri, buat saya sih aneh. Artinya dia gak suka2 amat dengan bukunya sendiri dong? Ato bisa juga dia beranggapan bukunya gak bagus? Kurang sempurna?

    Sekarang untuk penulis kayak gitu saya mo nanya (yup tmsk ke dion) : kok udah tau karyanya kurang bagus dan kurang maksimal tapi masih nekat diterbitkan? Dan kok tega ngarepin orang keluar duit untuk beli buku anda yg anda tahu kurang bagua dan kurang maksimal?

    Demikianlah pendapat saya
    -asdewi- (lagi males signin ke blogger,ren)

    BalasHapus
  18. in my point of view, merating karya sendiri menurutku nggak aneh. terlepas dari buku tsb bagus atau nggak, kita (sebagai pembaca) kan nggak tahu jungkir balik si penulis kayak apa dalam menulis buku itu (setuju sm mas dion). so, sah2 aja ah, as long as dia juga berbesar hati menerima semua kritik (setuju sm mbak desty)

    nggak aneh juga kalau dia nggak merating 5 stars buat karyanya. antara dia rendah hati atau dia malu-malu, namanya juga manusia. kita nggak akan pernah tahu apa sebenernya alasan penulis melakukan itu (bisa jadi iseng, bisa jadi dia baca bukunya juga terus baru ngeh kalau bukunya ternyata ga bagus2 amat, bisa jadi untuk urusan komersil, dll, banyak faktor)

    *gatau ya, apa karena dasarnya aku tuh males mikirin hal2 kayak gini, jadinya ya menurutku sah2 aja tuh mo ngerate kek, mo nggak kek.*

    BalasHapus
  19. ada yang menarik di sini http://www.goodreads.com/review/show/149814923

    BalasHapus
  20. Memang hak setiap penulis mau ngasih rate ke bukunya.
    aku pernah liat di GR ada penulis yg rate bukunya 5 stars dengan alasan karena itu ialah hasil karyanya sendiri.
    tapi menurutku memang agak narsis sih kalau ada penulis yg me-rate bukunya sendiri.
    ya, selama si penulis yg me-rate bagus karyanya sendiri itu bisa nerima pendapat dan kritik org lain akan karyanya sih, mungkin ngga apa2 . :)

    BalasHapus
  21. Telat komentarnya, tapi kalau aku ngga suka sama authors yang ngerating bukunya sendiri. Aneh aja gitu. Kayak tepuk dada sendiri bilang nih, buku aku 5 bintang dong! Lebih sering ill-feel.

    BalasHapus

Saya menghargai setiap komen/opini yang diberikan. Silakan untuk tidak setuju dengan review/opini saya tapi mohon disampaikan dengan sopan ya :)
Saya berhak menghapus komentar yang tidak nyambung dengan isi blog atau spamming (jangan sertakan link blog kamu/ link apapun di kolom komentar, kecuali untuk giveaway/reading challenge).
Karena banyaknya komen anonim tanpa identitas, maka opsi anonim saya tiadakan.
Terimakasih sudah mau mengunjungi dan meninggalkan komentar di blog saya :).


I value your comment/opinion. You can agree to disagree with my post/opinion, but please write your comment in good manners.
I have a right to delete your comment if its out of topic and/or spam (please do not include your blog/any link, except for giveaway/reading challenge).
Because of so many anonymous comment without identity, I disable the option.
Thank you for your visit and comment :).

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Just Curious Where U From ;)